EVANESCE | TRAVELER

stock-photo-28225537

 

EVANESCE | TRAVELER

 

Author : Tsalza Shabrina

 

***

 

 

1995.


Rinhyo berlari membelah hutan, kedua bola mata hitamnya seketika berubah menjadi warna kuning saat indera penciumannya mengendus bau makanan. Membuat tenggorokkannya semakin kering, perutnya juga seakan mencengkeram tubuh. Ia butuh makan, sekarang juga.

Kepalanya  bergerak cepat kearah kanan, mendengar suara gesrekan dedaunan. Tempo larinya yang tadi secepat kilat kini berubah menjadi mengendap – endap. Kedua matanya memaku pada seekor rusa yang kini sedang meminum air disebuah kubangan kecil.

Rinhyo bersembunyi dibelakang pohon, melangkah tanpa suara mendekati Rusa kemudian melompat. Mencengkeram leher rusa yang ingin dilepaskan itu dengan sekuat tenaga, tanpa menunggu lama ia menancapkan giginya disana. Menyedot habis darah rusa malang itu hingga tubuh hewan berbulu coklat itu melemah.

Tubuh rusa tergeletak, Rinhyo duduk menekuk lutut seraya memandangi tubuh ringkih hewan tak bersalah itu dengan nanar. Setelah berdiam diri sejenak, Rinhyo berdiri. Membuat sebuah lubang disamping tubuh rusa itu kemudian mengubur rusa didalam sana. Meninggalkan tempat itu setelah berdoa sejenak.

Jujur saja, membunuh hewan tak bersalah adalah beban terberat dalam hidupnya. Tapi ia melakukan ini untuk bertahan hidup. Ia tak punya pilihan dan kesempatan kedua.

 

***

 

Rinhyo kembali kerumah, tersenyum kecil mendapati Shin Soojung dan Choi Minho yang sedang berlatih dihalaman.

“Cepat sekali.” Komentar Soojung tanpa menatap Rinhyo yang kini sudah duduk dikursi halaman untuk menonton latihan Soojung dan Minho.

“Tak sulit mendapatkan seekor rusa ditengah cuaca sebagus ini.” jawab Rinhyo seadanya. Sedangkan Soojung hanya mengangguk, mulai mengatur posisi ancang – ancangnya untuk menyerang Minho.

Soojung menajamkan kedua mata, berlari kencang menuju Minho yang berdiri sekitar 15 meter didepan Soojung. Ia melayangkan lengan kanannya untuk meretakkan tulang tengkorak Minho, namun dengan cepat Minho menahan lengan Soojung. Mengulas senyuman miringnya, mengejek Soojung.

“Aish.” Soojung mengumpat, salto kedepan hingga kini ia berada tepat dibelakang tubuh Minho. Mengeluarkan sepotong kayu yang sudah menggantung dibelakang celana, lalu memutar tubuh hendak menusuk perut  Minho.

“Akh.” Soojung menatap kebawah, mendapati Minho telah menusuk perutnya terlebih dahulu. Namun tentu saja, ia tidak benar – benar menusuknya.

Minho mengangkat kedua alisnya seraya mengulas senyuman bocah. Melangkah mundur satu langkah ketika merasa jarak mereka terlalu dekat. “Sudah kubilang untuk fokus pada satu titik kelemahan lawan, bukan?” ujar Minho ringan.

Soojung memasang wajah kesalnya. Entah sudah berapa puluh kali ia selalu kalah dari kekasihnya ini. “Bisakah kau tidak tersenyum menjengkelkan ketika latihan berlangsung? Membuat kesal saja!”

Minho tertawa kecil, “Ah, jadi senyuman indahku ini yang membuatmu tak fokus?”

“Senyuman indah kepalamu! Aish, sudahlah. Latihan hari ini selesai saja!”         Minho mengangguk dua kali. “Arasseo, mianhe. Kita lanjutkan saja, kau perlu melatih kecepatanmu juga.” Soojung tak menjawab, mundur kebelakang dengan cepat kemudian kembali berlari kencang untuk menyerang Minho. Dan lagi – lagi dengan mudah Minho menangkisnya. Namun kini tangan kiri Soojung bergerak untuk memukul perut  pria itu hingga Minho melayang kebelakang. Terhenti karena sebuah pohon besar yang menabrak punggungnya.

“Woah, Shin Soojung keren sekali!” Rinhyo berkomentar seraya mengeleng pelan. Sedangkan Soojung tersenyum puas, meniup kedua tangannya dengan gerakan arogan.

“Apa ini masih kurang cepat, tuan Choi Minho?” Minho merintih kesakitan dibawah pohon, ingin berdiri tapi sudah kedua kalinya kembali terjatuh lagi.

“Soojung-ah, sepertinya kau memukul terlalu keras.” Rinhyo berlari kecil mendekati Minho. “Kau tidak apa – apa?”

Minho masih memegangi perutnya. “Apa aku masih terlihat baik  – baik saja?”

Shin Soojung menatap Minho dengan tatapan malas. Mendekati tubuh kekasihnya dengan langkah enggan. “Tinggalkan saja dia, Rinhyo-ah.”

Alis Rinhyo terangkat bingung, “Wae?”

Soojung berdiri tepat disamping tubuh Minho. Bersendekap angkuh dengan wajah kesalnya, “Kau pikir aku tidak tahu jika kau hanya pura – pura? Bangunlah, bodoh!”

“Ck, sialan kau Choi Minho!” Rinhyo mendorong kepala Minho pelan. Sedangkan Minho sudah tertawa kecil, berdiri kemudian mengacak rambut Soojung penuh sayang.

Rinhyo tersenyum kecil, Soojung bisa membaca pikiran dan mempunyai feeling yang sangat kuat. berbeda dengan Minho yang hanya mengandalkan kekuatan dan kecepatan saja. Tak ingin menganggu, Rinhyo memilih meninggalkan pasangan itu. memasuki rumah untuk memeriksa kakak perempuannya yang pasti sedang sibuk di lab.

 

***

 

Sekarang.

 

 

Rinhyo menaruh satu mug berisi coklat hangat diatas meja. Menatap Kyuhyun yang masih tertegun disofa rumahnya sebentar, kemudian memejamkan kedua mata frustasi setelah duduk didepan pria itu.

“Minumlah.” Tubuh Kyuhyun berjengit  mendengar suara Rinhyo.  Menatap Rinhyo kemudian coklat hangat didepannya dengan linglung. “Aku tidak tahu kau suka coklat hangat atau tidak. Tapi yang kutahu, coklat bisa menenangkan orang yang sedang terguncang.” Lanjut Rinhyo karena Kyuhyun masih saja menatap kepulan asap coklat hangat itu. Mungkin masih belum sadar sepenuhnya.

Perlahan Kyuhyun mengambil mug itu dengan kedua tangan. Merasakan kehangatan yang menjalar dari telapak tangan. Membuat ia sedikit demi sedikit merasa tenang. “Gomawo.” Singkat Kyuhyun, hampir tak terdengar.

Rinhyo menyandarkan punggungnya. Gila memang ia membawa Kyuhyun masuk kedalam rumahnya, bahkan juga membuatkannya segelas coklat hangat. Sungguh, kini ia sangat kesal karena Kyuhyun tidak mendengarkan ucapannya. Masuk kedalam gedung seperti orang bodoh dan melihat hal – hal yang seharusnya tidak boleh ia lihat.

Kesadaran Kyuhyun sedikit demi sedikit terkumpul kembali. Perasaannya juga lebih tenang dari sebelumnya. Coklat hangat ternyata bisa menimbulkan efek yang sangat signifikan. “Kau…” Kyuhyun menghela napasnya panjang, bingung harus memakai kalimat seperti apa untuk menyatakan ketidak tahuannya. “Jin Seyeon, siapa? Sebenarnya kalian apa?” lanjut Kyuhyun. Menggunakan kalimat tidak efektif, namun tentu saja Rinhyo langsung mengerti apa yang dibingungkan pria itu.

“Apapun yang kau lihat digedung tadi tidak pernah kau lihat. bisakah kau bersikap seperti itu?”

“Bagaimana bisa aku tidak melihat apa yang sudah kulihat tadi?”

“Maka itu, sudah kubilang padamu untuk tidak ikut campur! Bukankah aku sudah memperingatkan?!” Rinhyo membentak kesal.

Tatapan Kyuhyun turun kearah leher Rinhyo yang masih dililiti kain putih. Kain itu sudah dikotori oleh bercak – bercak darah. “Kau tidak apa – apa? Tidak ingin pergi kerumah sakit?”

Rinhyo melepas kain putih itu, menarik tisu basah yang berada diatas meja kemudian membersihkan kulit lehernya. Tak ada bekas luka sama sekali, bahkan kulit leher itu benar – benar bersih. “Sudah puas?”

Bibir Kyuhyun terbuka kemudian tertutup lagi. terlalu terkejut. “Bagaimana bisa?” Dahi Kyuhyun mengernyit, “Mungkinkah kau… vampir? Jin Seyeon juga? Ya Tuhan, apa benar ada mahkluk seperti itu didunia ini?! aku pasti sedang bermimpi.” Tawa hambar Kyuhyun keluar seiring dengan tubuhnya yang mundur, bersandar pada kursi dengan perasaan tidak nyaman.

Rinhyo menatap Kyuhyun malas, mengangguk sekadar. “Banyak orang yang menyebutnya seperti itu. Tapi sebenarnya kami tetap manusia.”

Kedua mata Kyuhyun melebar sempurna, tak bisa menyembunyikan ketakutannya dengan bersikap sok keren. Sungguh, dari banyak kasus yang pernah ia pelajari dan teliti ini adalah yang terburuk dan ter- tidak masuk akal. “Astaga, ternyata vampir benar – benar ada?”

“Sudah kubilang kami manusia.”

“Manusia mana yang mengeluarkan taring dan juga sembuh dari luka seperti itu dengan cepat, huh?” Kyuhyun masih menatap kearah leher Rinhyo dengan ngeri, tadi ia benar – benar jelas melihat leher itu berlubang dan mengucurkan darah. Bagaimana bisa luka itu dengan cepat sembuh tak berbekas hanya karena dililiti kain kemeja sekolah dalam waktu kurang dari 15 menit? Tak ada manusia yang memiliki kekuatan untuk memukul seseorang hingga terlempar 10 meter seperti tadi juga, kan?

Rinhyo menghela napas kasar, sebenarnya begitu malas untuk menjelaskan pada Kyuhyun. Tapi ia tidak suka jika disebut bukan manusia. “Porphyria. Pernah dengar?” Alis Kyuhyun terangkat, otaknya berputar keras. Merasa pernah mendengar istilah itu di kelas medis saat tahun ketiga kuliah.

“Virus Porphyria, maksudmu?”

“Tch, tak kusangka seorang Jang Jaehyun tahu apa itu Porphyria.”

“Aku hanya tahu namanya, bukankah itu virus yang sangat langka? Hanya ada beberapa orang didunia ini yang terinfeksi.” Kyuhyun memasang wajah bodoh khas seorang Jang Jaehyun. untuk sejenak, tadi ia lupa jika ia masih seorang Jang Jaehyun, entah akan bagaimana jika Rinhyo tidak mengingatkannya.

Senyuman miring Rinhyo terulas. “Sejak tahun 2000, sudah tak ada lagi orang – orang terinfeksi yang bisa diidentifikasi. Hans sudah membuat sebuah panti untuk pasien – pasien pengidap Porphyria.”

“Hans?” Rinhyo mengangguk.

“Seorang profesor dari Hungaria, masih keturunan Elizabeth.” Alis Kyuhyun bertautan, semakin tak mengerti dengan penjelasan Rinhyo.

“Tunggu, bisakah kau jelaskan dengan runtut? Mulai dari apa itu Porphyria, apa hubungannya dengan Hans dan Elizabeth. Juga bagaimana itu semua bisa dikaitkan dengan keadaanmu sekarang?”

“Ini akan menjadi cerita yang sangat panjang.”

“Kau tidak punya pilihan lain. Aku sudah melihat hal – hal aneh seperti tadi, jadi kau harus menjelaskan padaku agar aku bisa benar – benar menutup mulut.”

Rinhyo menutup kedua matanya frustasi,  memang tak ada pilihan lain selain menceritakan segalanya pada Kyuhyun. Agar ia bisa mendapat pengertian pria itu untuk menutup mulutnya.

 

***

 

1990.

 

20 tahun. Umur dimana Sam Rinhyo benar – benar mengerti apa itu rasa haus yang sangat mengikis tenggorokkan. Juga apa itu rasa lapar yang terasa menyakitkan. Tubuhnya terasa begitu berbeda, sangat ringan. Jarak fokus pandangannya pun juga sudah berubah. Lebih menakjubkan dari apa yang selama ini ia bayangkan. Pendengarannya lebih tajam, bahkan ia bisa mendengar suara ulat yang sedang asyik melubangi dedaunan.

Segala hal – hal luar biasa yang ia rasakan ketika umur 20 tahun, memang sudah diingatkan sebelumnya oleh kakak perempuannya. Saat umur 20 tahun datang, masa pertumbuhan akan berhenti karena senyawa telomerase yang mempengaruhi proses penuaan manusia. Dimana ia mungkin untuk hidup 300 kali lebih lama dari kehidupan normal. Segala kehidupan normalnya akan langsung berubah secepat membalikkan tangan. Namun ini adalah awal dari mimpi buruknya. Dimana satu orang yang sangat menakutkan untuknya akan selalu ada selamanya. Dirinya sendiri. Mulai sekarang ia akan menjadi pemeran utama dalam mimpi buruk abadi ini.

Rinhyo menatap kosong kearah langit mendung. Berdiri diujung jurang yang dibawahnya terdapat lautan lepas, berkali – kali menyemburkan ombak pasang. Mengangkat kedua telapak tangan yang bersimbah darah, ia benar – benar seperti monster.

Porphyria-01 (PRY-01). Itulah nama virus yang menggerogoti tubuhnya. Pada dasarnya virus Porphyria dapat menyebabkan  kekurangan enzim glisin yang berfungsi membentuk Heme(read: komponen hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen didalam garah). Maka dari itu, penderita akan terlihat sangat pucat dan tentu, musuh dari penderita virus ini adalah sinar matahari yang bisa membakar kulit. Itulah alasan mengapa Rinhyo dan keluarganya tinggal dikawasan non-pariwisata pulau jeju. Ditengah hutan, terlindung oleh pepohonan – pepohonan tinggi.

Porphyria menyebabkan kualitas darah menjadi rendah karena kurang sirkulasi oksigen, maka penderita harus mengkonsumsi darah setiap harinya. Kualitas darah juga ditentukan oleh kadar lemak dalam darah, dan bawang putih mengandung zat yang dapat menyebabkan kadar lemak darah berkurang. Maka itu, bawang putih juga musuh kedua oleh penderita Porphyria.

Namun apa yang dideritanya sekarang merupakan perkembangan dari virus Porphyria. Mereka menyebutnya virus porphyria-01. Penyebab adanya virus porphyria-01 belum diketahui, yang Rinhyo tahu awal dari penyebaran virus ini adalah dari seorang wanita kelahiran Hungaria tahun 1560 silam. Elizabeth Bathory.

Virus Porphyria tak berbeda jauh dari virus porphyria-01. Mereka sama, hanya saja virus PRY-01 memiliki indikasi yang lebih kompleks. Virus ini akan terlihat ketika penderita mencapai umur 20 tahun, selama itu virus PRY-01  yang awalnya kecil akan meluas. Membekukan pembuluh darah, juga jantung. Menyebabkan jantung berhenti beraktivitas. Sangat tidak masuk akal memang, tapi begitulah adanya. Ia seperti berada diantara hidup dan mati.

Gigi taring dan kuku – kukunya akan menajam ketika ia menemukan makanan atau pun emosinya memuncak. Bola matanya juga menguning. Tubuhnya bisa menyembuhkan diri dengan sendirinya, dan ia merasa memiliki kekuatan lebih. Dan benar saja, ia bisa meminum darah rusa berbadan besar setelah menyerangnya dengan kedua tangannya sendiri.

Rinhyo memejamkan kedua mata. Menaruh telapak tangan kanan didepan dada, ia tidak bisa lagi mendengar detak jantungnya sekarang. Kehidupannya sebagai manusia normal sudah berhenti. Vampir, begitulah biasa manusia menyebutnya. Dan ia benci dengan sebutan itu.

 

***

 

Sekarang.

 

“Jadi, virus ini hanya bisa ditularkan melalui gen?”

Rinhyo menggeleng. “Bisa juga melalui gigitan.”

“Woah,  jadi apa yang ditayangkan difilm – film itu benar? Sekali digigit vampir kau juga akan menjadi vampir.” Rinhyo memutar bola matanya malas, berbicara dengan Kyuhyun seperti berbicara dengan siswa sekolah dasar.

“Itu tergantung, terinfeksi bisa saja menghisap semua darah pada manusia itu. atau malah memberinya racun.”

 

Drrt drrt

 

Rinhyo melirik kearah ponselnya yang berada diatas meja. Satu notifikasi pesan dari ‘Hyuk oppa’ muncul, membuat rahangnya seketika mengeras. Beranjak dari tempat duduknya, membereskan cangkir coklat hangat diatas meja kemudian mencucinya dalam hitungan detik. Ia mengambil sobekan kain  kemeja Kyuhyun yang masih bersimbah darah, memberikannya pada Kyuhyun.

“Kau harus pergi sekarang.”

Kyuhyun mengangkat alisnya bingung. “Shireo! Kau belum selesai menjelaskan semuanya.” Rinhyo menggeram tertahan, menatap Kyuhyun dengan kedua mata melotot.

“Kali ini dengarkan ucapanku, atau kau akan benar – benar mati.”

Kyuhyun terdiam, merasa peringatan Rinhyo kali ini tidak main – main. Dengan cepat Kyuhyun menyahut kain itu dari tangan Rinhyo, kemudian keluar dari rumah Rinhyo  tanpa berucap apapun.

 

***

 

 

Rinhyo kembali menaruh pantatnya diatas sofa, gerakannya terlihat lebih lemas. Kedua matanya masih menatap lurus kedepan dalam diam. Jika jantungnya masih berfungsi dengan baik, dapat ia pastikan kini jantungnya sudah berdegup keras dan cepat. Jika saja Kyuhyun tidak masuk gedung tadi, semuanya akan berjalan lancar seperti biasa.

Suara derapan langkah kaki terdengar dipenjuru rumah sederhana ini. Hembusan angin kencang masuk dari pintu balkon yang terbuka. Rinhyo menyandarkan punggungnya disandaran sofa, tak ingin peduli dengan siapa yang baru saja memasuki rumahnya dari pintu balkon.

“Seseorang baru saja kesini, kan?” Pria itu menyentuh sofa didepan Rinhyo dengan jari telunjuk, indera penciumannya dapat dengan mudah menyadari jika ada manusia normal yang baru saja duduk disana.

“Tidak usah berbasa – basi, katakan apa yang ingin kau katakan.”

Kedua bola mata pria itu berubah warna menjadi merah sekilas, senyuman miringnya terulas. Duduk disofa seraya menatap Rinhyo tajam. “Untuk apa Jang Jaehyun datang kesini? Kurasa hubungan kalian tidak sebaik itu sampai dia bisa masuk kerumahmu.”

“Lee Donghae!” Rinhyo menatap pria itu, Donghae. Tak kalah tajam, bahkan kini Rinhyo merapatkan kedua bibirnya.

“Tch, bukankah aku sudah memperingatkanmu?”

Rinhyo mengangkat sebelah alis. Tersenyum remeh kearah Donghae. “Atas dasar apa aku harus mematuhi ucapanmu?”

Kepalan  tangan Donghae menggenggam erat. Kurang dari satu detik ia sudah berada didepan Rinhyo, menarik kerah jas almamater gadis itu dengan kedua bola mata yang sudah memerah hingga tubuh gadis yang tadinya duduk disofa itu kini terangkat. Rinhyo membalas tatapan Donghae tanpa ekspresi, tak ada rasa takut sama sekali dikedua mata gadis itu.

“Lepaskan tanganmu dari pakaianku, Lee Donghae.”

“Akan kulakukan jika kau berjanji untuk tidak berurusan dengan pria  bernama Jang Jaehyun lagi!”

Kedua mata Rinhyo mulai berwarna kuning, sebelah lengannya ia gunakan untuk mendorong dada Donghae meski tak membuahkan hasil. Kekuatan  Lee Donghae jauh lebih besar daripada Rinhyo.

Gerakan tangan Rinhyo berhenti ketika hidungnya mengendus bau menyengat darah manusia dari tubuh Donghae. “Kau masih meminum darah manusia?” tanya Rinhyo datar.

Donghae terkesiap, tak menyangka Rinhyo bisa  mengetahuinya. Sontak ia menarik lepas tangannya dari jas Rinhyo, berjalan mundur selangkah. Sedangkan Rinhyo tertawa pendek, menatap Donghae dengan tatapan rendah “Kau sama saja. kalian sama saja.” lanjut Rinhyo.

“Rinhyo-ah…”

“Tutup mulutmu dan pergi dari sini. kita tidak memiliki hubungan yang begitu baik hingga kau bisa datang kesini semaumu.”

Mwo?”

“Sadarlah klan kita berbeda. Seharusnya aku membunuhmu lebih cepat dari sebelumnya, selama ini aku menahannya karena kau berjanji untuk berubah. Tapi apa? Ternyata kau sama saja.”

Tatapan  Donghae berubah nanar, rasa panas dan perih seperti meremas dadanya ketika mendapat perlakuan seperti ini dari Rinhyo. Bukan masalah Rinhyo yang mungkin saja akan membunuhnya sekarang juga. Ia tidak ingin Rinhyo kehilangan kepercayaannya.

“Aku benar – benar ingin kau keluar dari sini.” lanjut Rinhyo, tak mempedulikan tatapan Donghae yang seolah minta untuk dikasihani.

Donghae mengepalkan kedua tangan. Memejamkan kedua mata sejenak untuk sekadar mengatur emosi. “Aku kemari setelah mendengar kabar jika Jin Seyeon sudah musnah.”

“Lantas?”

Aboji mungkin akan melakukan serangan mendadak kapan saja.”

Senyuman miring Rinhyo terulas, “Lalu?”

Lee Donghae mengalihkan wajahnya kesamping, membuang kekesalannya karena sikap Rinhyo yang begitu kurang waspada. Setelah kembali menenangkan diri untuk yang kedua kalinya, Donghae kembali menatap Rinhyo. kini tak ada rasa marah ataupun kesal sama sekali. Pria itu menatap tepat kedalam kedua mata Rinhyo, tanpa membuang keseriusannya ia berucap

“Mulai sekarang aku akan berjaga disini, dan aku tidak butuh persetujuanmu.”

 

***

 

Mengkombinasikan password apartemennya dengan lemas. Bahkan sesekali Kyuhyun memencet angka yang salah sebelum akhirnya berhasil membuka pintu. Helaan napas dalam dan panjangnya keluar, ingin sekali membuang segala beban dari gas karbondioksida itu meski mustahil.

Alis Kyuhyun terangkat ketika menemukan sepasang sepatu fantovel pria bersol tebal. Lampu ruang tengah apartemennya pun sudah menyala terang. Dengan tenang Kyuhyun memasukkan kain bersimbah darah yang sejak tadi ada ditangannya kesaku dalam jas almamater. Memasuki rumah setelah mengganti sepatu sneakers-nya dengan sandal rumah. Hanya dengan melihat sepatu itu, ia bisa tahu jika Im Joohwan berada disini. Sepatu itu benar – benar selera Joohwan sekali.

“Bagaimana? Lelah?” Joohwan menaruh koran harian diatas meja ruang tengah, kedua matanya menatap Kyuhyun seraya bersandar pada sofa. Bersendekap, mengulas senyuman.

Kyuhyun membalas senyuman Joohwan samar, mengambil tempat disamping Joohwan. Ikut bersandar hingga mengistirahatkan tulang belakang leher diatas pinggiran sofa. “Tidak selelah itu. menjadi siswa bermasalah seperti Jang Jaehyun sangat menguntungkan.”

Wae?  kau sudah memiliki gambaran orang yang mencurigakan?” Pertanyaan Joohwan itu membuat Kyuhyun menatap kedepan dengan tatapan menerawang. Sudah banyak orang yang berada diotaknya saat ini, khususnya Sam Rinhyo. Tapi ia sedikit ragu untuk mengatakannya karena peringatan Rinhyo. Lagipula ini adalah kasus unik yang  akan sangat aneh jika dibicarakan sekarang, sebelum ia memiliki banyak bukti yang kuat. “Kyuhyun-ah? Gwenchana?” Joohwan kembali bertanya karena tak ada jawaban.

“Entahlah, hanya saja… aku belum menemukan orang yang mencurigakan.”

Joohwan mengangguk mengerti. “ Lagipula ini masih hari ke-4 kau bekerja. Biasanya akan lebih jelas setelah memasuki hari ke-7.”

Kyuhyun mendecih, “Aku berharap seperti itu.” ujarnya pelan.

“Lalu apa yang membuatmu merasa sangat beruntung?”

Kyuhyun menoleh kearah Joohwan, tersenyum bocah. “Dengan image Jang Jaehyun aku tak perlu belajar, dapat keluar kelas semauku, bahkan ada yang mengambilkanku makan siang tanpa kusuruh.”

Joohwan  mendecih, pria bertubuh tegap dan tinggi itu menyadari jika tak ada tas ransel yang tergantung dipunggung Kyuhyun. “Dan lupa kembali kesekolah untuk mengambil ransel setelah membolos?”

“Tadi aku membolos karena mengikuti Sam Rinhyo.”

“Ah, salah satu siswa yang kau minta datanya? Lalu? Apa yang kau dapatkan?”

Kyuhyun mengangkat bahu sekadar. “Tidak ada, semuanya sangat normal. Malah ia menuduhku menyukainya.” Tawa kecil Joohwan terdengar. Sedangkan Kyuhyun sudah beranjak dari sofa, “Mau minum apa, hyeong?”

            “Ada apa denganmu?”

“Seorang junior bersikap yang seharusnya pada seorang senior. Malah kau bertanya ‘ada apa denganmu?’”

Joohwan menyeringai, beranjak dari sofanya pula. “Hanya saja itu seperti bukan Cho  Kyuhyun sekali. Sudahlah, aku juga harus kembali kekantor setelah ini. kau bisa menyimpan minumannya lain kali.”

Kyuhyun mengangguk dua kali, mengantar Joohwan kepintu demi menciptakan manner yang seharusnya seorang junior miliki.  “Deadline laporanmu hanya dua minggu, jadi manfaatkan waktu dengan baik. Sudah banyak teman satu angkatanmu yang menyerah  dan gugur, kuharap kau lebih kuat dari mereka.”

Nasihat Joohwan itu membuat Kyuhyun tersenyum kecil, mengangguk pasti.

“Tentu saja.”

 

***

 

1996.

 

Rinhyo menata buku – buku yang tadi baru ia beli bersama Soojung dirak khusus. Semua ini titipan kakak perempuannya, Sam Junghee. Kakak satu – satunya milik Rinhyo adalah seorang ilmuwan, sejak lulus dari universitas harvard 30 tahun yang lalu Junghee berusaha keras untuk menciptakan vaksin penawar virus PRY-01. Namun tak ada apapun yang bisa ia hasilkan selama 30 tahun ini.

“Junghee eonnie seharusnya tidak menghabiskan waktu dilab setiap waktu.”

Soojung menatap Rinhyo sebentar seraya tersenyum tipis. “Kau tahu kan jika  Junghee eonnie itu sangat berusaha keras agar para terinfeksi bisa kembali normal? Kurasa kakakmu keren sekali, suatu hari ia akan menjadi pahlawan.”

Rinhyo menaruh buku terakhir dirak paling bawah. Mengubah posisi menjadi duduk meluruskan kaki seraya bersandar dirak itu. Kedua matanya menerawang kedepan. “Nanti… saat waktu itu tiba, aku ingin mengajak eonnie pergi ke tempat ramai. Aku dengar di Seoul, ada sungai yang namanya sungai han. Katanya disana sangat indah.”

Soojung mengambil tempat disamping Rinhyo. Terkikik kecil ketika membayangkan jika mereka benar – benar pergi kesana. “Pasti akan sangat menyenangkan.” Gumamnya pelan.

Rinhyo juga ikut tersenyum, memang akan sangat menyenangkan jika mereka benar – benar pergi kesana. Selama ini yang ia lihat hanyalah hewan – hewan liar, pepohonan tinggi, dan lautan. Sangat membosankan dan begitu memuakkan. Untuk pergi kekota saja, ia hanya bisa pergi sesekali.

“Oh, tidak.” Sontak Rinhyo menoleh kearah Soojung. Senyuman gadis yang memiliki rambut putih itu hilang, kedua matanya menatap kedepan dengan wajah menegang.

“Sesuatu terjadi?” tanya Rinhyo, sedikit takut dengan sikap Soojung yang tiba – tiba berubah. Ia tahu, jika Soojung seperti itu berarti ia sedang diliputi feeling buruk.

Dengan cepat Soojung beranjak, mengemasi barang – barang penting yang berada diruangan ini kedalam koper. Rinhyo mengernyit bingung, “Soojung-ah.”

 

BRAK

 

Choi Minho terlihat ketika pintu terbuka. Wajah pria itu sama gusarnya dengan Soojung. “Junghee…”

“Aku tahu, kau sudah mengemasi semuanya?” sahut Soojung.

“Situasi apa ini? ada apa dengan Junghee eonnie?” Rinhyo mulai berteriak tak mengerti.

Minho meneguk ludah berat, “Kita tidak punya banyak waktu. hari ini juga kita harus sampai di Seattle.”

 

***

 

Sekarang.

 

 

Rinhyo menatap sampah – sampah yang menumpuk itu dengan malas. Karena kemarin Kyuhyun datang mengacaukan segalanya, ia jadi terlambat mengambil tasnya kembali sebelum guru tata tertib menemukannya.

Mulanya Rinhyo memeriksa kesekeliling, menelisik kesetiap sudut. Apakah ada cctv yang bisa mengawasinya atau tidak. Setelah dirasa tidak ada cctv sama sekali, gadis itu segera mengerjakan hukumannya. Meremukkan kardus susu sebelum dibuang, dan membuang semua sampah sesuai dengan jenisnya dalam waktu tidak lebih dari 5 menit.

Tak ada peluh sama sekali. Ekspresinya berubah jijik ketika melihat sarung tangannya yang kotor, dan juga baunya benar – benar busuk. Rinhyo membalikkan badan, tubuhnya sedikit berjengit ketika melihat Kyuhyun yang tiba – tiba berada tepat didepannya.

“Oh, kau tidak menyadari jika aku baru saja datang kesini? Tumben sekali. Biasanya aku selalu ketahuan.” Rinhyo memutar bola matanya malas, memilih untuk melepas sarung tangan. Melemparnya ketempat sampah sebelum menghampiri keran terdekat untuk mencuci tangan.

“Padahal baru saja Kim Byung Gun menyuruhku untuk membantu. Tapi kurasa tak ada yang perlu bantuan disini.” Kyuhyun tersenyum kecil, menghampiri Rinhyo yang masih mengibas – kibaskan tangannya agar segera kering. “Kenapa kau tidak mengibaskan tanganmu dengan cepat saja agar cepat kering? Kau bisa melakukannya, kan? Seperti ini.” Kyuhyun menggerakkan tangannya secepat yang ia bisa. Meski kecepatannya tidak apa – apanya dibanding kecepatan Rinhyo. membuat pria itu semakin terlihat bodoh, dilihat dari sisi manapun.

“Sudah kubilang untuk menutup mulutmu, kan?” Rinhyo berucap tajam.

Kyuhyun menyeringai, menghentikkan gerakannya. “Arasseo.” Rinhyo membuang muka, berjalan meninggalkan Kyuhyun tanpa berucap apapun. “Sebentar.”

Rinhyo sudah hampir mengumpat ketika Kyuhyun menahan tangannya. Kembali menatap Kyuhyun dengan kesal. “Mwo? apa yang kau inginkan sekarang, huh?”

Wajah Kyuhyun masih serius. “Jika kau kembali sekarang akan mencurigakan.” Alis Rinhyo terangkat, ucapan Kyuhyun benar juga. Perlahan Kyuhyun melepas genggamannya, kepalanya menggedik kearah kanan. “Ikut aku.”

Rinhyo menatap punggung Kyuhyun dalam diam. Meski masih ada sedikit ragu, tapi kedua kakinya tetap berjalan mengikuti pria yang ia tahu bodoh dan sangat menyebalkan,  Jang Jaehyun.

 

***

 

“Untuk apa kita kesini?”

Rinhyo menghentikkan langkahnya ketika Kyuhyun sudah berada diambang pintu yang menghubungkan halaman belakang dengan kolam budidaya lele sekolah. Wajah gadis itu menegang, pun tubuhnya yang memilih untuk tidak bergerak.

Kyuhyun  berbalik, “Kurasa ini tempat yang sangat tepat untuk bersembunyi. Kau tidak berniat untuk pergi keruang guru, kan?” jawab Kyuhyun ringan. Diam – diam memeriksa ekspresi Rinhyo.

Sam Rinhyo meneguk ludah berat. Sejenak mengatur ekspresi sebelum berucap, “Kau tidak pernah dengar rumor sekolah ini?”

Kyuhyun mengangkat alis. “Rumor apa?”

“Banyak mayat yang ditemukan disana. kau tidak takut?”

“Tch, maksudmu mungkin saja ada hantu didalam sini, begitu?”

Rinhyo mengangkat bahu asal. “Mungkin saja.”

“Seharusnya yang kutakutkan disini adalah kau, sadarlah jika kau juga tidak cocok disebut manusia.” Seru Kyuhyun asal bicara. Pria itu berjalan kedalam areal kolam, meninggalkan Rinhyo yang kini mengepalkan kedua tangan kesal.

Mwo? tidak cocok disebut manusia?” gumamnya pelan. Berjalan  dengan langkah besar – besar mengekori Kyuhyun. “Kurasa kau punya nyali yang sangat besar, Jang Jaehyun.” Rinhyo menatap tajam kearah Kyuhyun yang sudah duduk dikursi panjang tepi kolam.

Kyuhyun hanya menatap Rinhyo datar. “Kurasa seperti itu.”

“Aku bisa saja membunuhmu sekarang juga dan melemparkanmu kedalam kolam itu agar kau bergabung bersama hantu – hantu yang berada disini. Jadi kusarankan untuk menjaga ucapanmu.”

“Memang aku salah bicara?” Balasan Kyuhyun membuat Rinhyo mengeratkan giginya. Pria ini sungguh mengesalkan.

“Apa kau selalu sebodoh ini?”

Kyuhyun memejamkan kedua mata frustasi. Menepuk tempat kosong disampingnya, “Arasseo. Aku bodoh, jadi duduklah.” Ujar pria itu mengalah.

Rinhyo duduk diujung kursi, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin dari Cho  Kyuhyun. Entah kenapa, Kyuhyun tidak merasakan bahaya apapun ketika bersama Rinhyo. meski seharusnya ia menaikkan waspadanya, bahkan sangat masuk logika jika ia segera melaporkan ini pada Joohwan dan menyuruh Joohwan untuk mengganti dengan kasus lain yang lebih masuk akal. Tapi rasa penasaran mengalahkan segalanya.

“Kemarin aku mendengar percakapanmu dengan Jin Seyeon.” Kyuhyun menoleh kearah Rinhyo yang masih menatap kedepan. “Memang tak semuanya yang kudengar, tapi aku mendengar percakapan kalian mulai dari pembicaraan mengenai pembunuh Jung Nara.”

“Jangan menanyakan apapun. Kau tidak perlu tahu.”

Kyuhyun menghela napas pelan, ia sudah mengantisipasi jika ia akan menemukan kesulitan untuk mengorek informasi dari Rinhyo . “Aku tahu pembunuhnya adalah Jin Seyeon. Tapi, aku hanya penasaran kenapa kau membunuhnya?”

“Oh, apa kau penasaran mengapa aku membunuh Seyeon dan tidak membunuhmu? Jika kau merasa itu aneh dan tidak adil, aku bisa menghabisimu sekarang juga.” Rinhyo berucap ringan, menoleh kearah Kyuhyun yang sudah menahan rasa sebalnya.

“Sepertinya kau sangat ingin mencicipi darahku, ya? aku tahu golongan darah A memang rasanya manis.”

Rinhyo menyeringai, “Kau pikir aku sudih mengotori bibirku dengan darahmu? Aku hanya ingin menghabisimu. Kurasa otakmu berputar terlalu pelan untuk mencerna ucapanku.”

Tawa kasar Kyuhyun terdengar, ia membuang muka tak kuasa menahan emosinya. Berbicara dengan gadis ini benar – benar menguji tempramennya, bagaimana ia bisa dengan lancar mengorek informasi jika terus seperti ini?

“Apa yang kalian lakukan disini?”

Kedua orang yang menghentikkan perdebatannya beberapa menit yang lalu itu menoleh kearah ambang pintu. Kyuhyun mengernyit ketika mendapati seorang pria  yang berdiri disana dengan ekspresi dingin.

Sedangkan Rinhyo tak menoleh, hanya berucap “Kami sedang menatap indahnya kolam ini bersama.” Perlahan ia menoleh kearah pria itu, “Kau tidak bisa melihat, Lee Donghae?”

 

To Be Continued – EVANESCE|EMPTY

Hai, disini sudah jelas semua, kan sebenernya Rinhyo itu mahkluk apaan?

Fyi, Elizabeth Bathory itu bener2 ada loh guys. kalian bisa cari di google dan baca di wikipedia. terus porphyria itu juga sebenarnya ada, tapi bukan virus. porphyria itu kayak penyakit bawaan, dan indikasinya emang kayak vampir.

Saya saranin kalian searching Elizabeth Bathory biar lebih jelas haha, baca infonya diwikipedia pelan – pelan. jangan kaget yaa wkwk

Dont be  silent readers, please ^^

Advertisements

5 thoughts on “EVANESCE | TRAVELER

  1. sumpah aku kira sam rin hyo vampire.ternyata krna terkena virus porphyria…
    Kyuhyun2, lama lama kamu bkal mencintai rin hyo..
    Jdi pengin tahu lbh dalam tentang rin hyo

  2. Dlunya Rinhyo mnusia,,tp skrg jd vampire gara2 trkena virus…sngguh malang skli nasibnya…tp kkk prmpuannya brusaha utk mnymbuhkan… Tp smpe kpn ya???
    Lanjutttttt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s