DOLL 3

dolljiwon

 

DOLL 3

 

Author : Tsalza Shabrina

 

 

Kemarilah untuk tinggal.

***

 

“Changmin-ah, maaf sekali ada hal yang sangat penting. Dan ini mendadak.”

Shim Changmin memejamkan kedua mata frustasi, entah ada apa dengan Cho Kyuhyun akhir – akhir ini. yang pasti sudah lebih dari dua kali ia dipusingkan oleh ketuanya sendiri.

Mwo? apanya yang sangat penting?” Changmin membalas dengan kesal.

Kyuhyun mendesah malas, mengerti jika berpura – pura menyedihkan hanya untuk mengharapkan belas kasih Changmin akan berakhir sia – sia. Wajah Kyuhyun kini terlihat begitu serius, tangan kanan mengangkat sedikit tas ranselnya agar dapat menggantung dengan nyaman.

“Sudahlah, lebih baik sekarang kau masuk kedalam sana. Kau tidak pernah menjadi juri, dan juga aku butuh istirahat karena musikal yang terus menerus kulakukan sampai 3 hari kemarin.”

“A—aku?” Changmin menaruh tangannya didada. Pria itu memang seringkali menggerakkan kedua tangannya ketika berbicara, apalagi jika ia menemukan sesuatu yang menarik atau terkejut akan sesuatu.

Kyuhyun mengangguk tanpa dosa. “Aku tidak mau suaraku serak karena banyak bicara didalam. Sejak kemarin yang kau lakukan kan hanyalah memerintah kami, dan jujur saja aku lebih banyak bekerja keras daripada kau. jadi sekarang kau masuk kedalam sana.” Ucapan lancar Kyuhyun itu membuat Changmin memiringkan kepalanya, seperti tertimpuk palu. Ia bahkan tidak tahu harus berucap apa ketika Kyuhyun menggerakkan sebelah tangannya. “Cepat masuklah, memang kemarin kau bisa memerintahku karena kau produser. Tapi sekarang aku adalah ketuamu, jadi cepat masuk. Ini perintah.”

“C-cho Kyuhyun, kau…”

Kyuhyun melambai asal seraya tersenyum kecil. “Semangat!”

 

***

 

“Aku pasti sudah gila.”

Rinhyo menutup wajahnya dengan kedua tangan. Merasa datang kesini adalah suatu kesalahan. Entah kenapa rasanya banyak hal yang mengganjal ketika Kyuhyun menyuruhnya menunggu disini. Ini pertama kalinya ia dengan terang – terangan menemui seorang pria terlebih dahulu.

“Rinhyo-ssi.” Tubuh Rinhyo berjengit terkejut, dengan cepat kedua tangannya berada diatas paha. Kepalanya mendongak keatas, mendapati Kyuhyun yang sedikit membungkuk. Menatapnya dengan tatapan khawatir. “Kau pusing?”

Rinhyo menggeleng, perlahan berdiri dari tempatnya. “Kau kembali lebih cepat dari yang kukira, Cho Kyuhyun-ssi. Ah, apa lebih baik aku memanggilmu sunbaenim?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Lebih baik jangan. aku sudah lelah dengan kata sunbaenim.” Rinhyo juga ikut tersenyum, meski masih terlihat sedikit canggung. “Jadi, apa yang membuatmu datang kesini?”

Telapak tangan kiri Rinhyo menggosok tengkuknya. Sedikit ragu untuk menjawab ucapan Kyuhyun, “Saat itu, ketika dijembatan sungai han… aku…”

“Lebih baik kita bicarakan ini ditempat lain, bagaimana?” Kyuhyun memotong, menatap kesekeliling. Merasa membicarakan hal itu ditengah keramaian seperti ini bisa saja didengar oleh orang lain. Mengingat meski banyak orang yang menyukai Rinhyo, tapi juga banyak orang dikampus yang membenci gadis ini. Kyuhyun sudah mempelajari itu semua dari Jonghyun, pria itu selalu update jika ditanyai tentang gadis – gadis populer dikampus.

“Ah, ya.” Singkat Rinhyo. Mengikuti Kyuhyun keluar dari basecamp.

 

***

 

Dua cangkir kopi baru saja diletakkan diatas meja. Kepulan asap dari caffe latte mereka seolah menggoda untuk segera diminum. Lantunan lagu Up&Down milik EXID terdengar disegala penjuru kafe, namun kedua orang itu masih saja diam. Tak tahu harus memulai dari mana.

Rinhyo menatap Kyuhyun, tubuhnya berjengit terkejut ketika mendapati Kyuhyun yang tengah menatapnya. Cepat – cepat Rinhyo mengalihkan pandangan kearah cangkir, mengambil cangkir itu dengan kedua tangan. Menyeruputnya sedikit. Jika biasanya ia bisa dengan cepat membuat percakapan basa – basi tapi entah kenapa sekarang otaknya kosong.

“Kau terlihat lebih baik dari sebelumnya.” Kyuhyun mulai membuka pembicaraan, bagaimana pun ia lebih tua dari Rinhyo. Jadi akan sulit untuk Rinhyo memulai terlebih dahulu.

Sedikit lega karena Kyuhyun melontarkan kalimat, Rinhyo tersenyum kecil. “Kurasa begitu.”

Kyuhyun berdehem, menyesakkan cairan caffe latte kedalam tenggorokkan keringnya. Sesekali mencuri pandang pada Sam Rinhyo yang masih mempertahankan raut tak terbacanya. Jujur saja, ia merasa Rinhyo tidak begitu baik meski lidahnya berucap sebaliknya. Banyak rentetan pertanyaan yang ingin ia suarakan, khususnya seperti apakah kehidupan Sam Rinhyo hingga membuat ia berencana mengakhiri hidupnya.

Sam Rinhyo adalah gadis yang terkenal oleh kebaikan dan senyuman malaikatnya. Tak terhitung berapa kali ia dan keluarganya melakukan acara amal dan juga menyumbang dengan nominal cukup besar. Kehidupannya terlihat super normal, dan tentunya kebutuhan finansial gadis itu selalu berada diatas taraf teman – teman kampusnya. Kyuhyun tahu semua itu dari Jonghyun, meski ia tidak sepenuhnya percaya pada pria itu.

“Aku ingin berterima kasih padamu.” Suara pelan Rinhyo memecah lamunan Kyuhyun. Alis pria itu terangkat, antara baru saja tersadar dan menanyakan apa dibalik kata terima kasih Rinhyo.

Rinhyo menyentuh badan cangkir minumannya, seperti menimang untuk melanjutkan ucapannya atau tidak. “Saat itu… Aku benar – benar kacau. Terima kasih telah membuatku tersadar dan sedikit lebih menghargai kehidupan.”

Kyuhyun terdiam sejenak, mendengar kalimat Rinhyo membuat ia sangat yakin jika ada hal lain dibalik kehidupan sempurna yang sudah Jonghyun katakan padanya. Sekitar 3 detik ia terdiam, kemudian tersenyum tipis. “Sudah seharusnya aku melakukan hal itu daripada melihat seorang gadis melompat didepanku sendiri.”

Rinhyo tertawa kecil. Mengangguk menyetujui ucapan Kyuhyun, “Jika aku benar – benar melompat, pasti akan berakhir mengerikan.”

“Maksudmu, seperti, kau yang menjelma menjadi hantu bergaun merah muda? Hantu yang selalu mengganggu pengendara yang melintasi jembatan saat pukul 12 keatas, begitu?”

Kedua bahu Rinhyo terangkat sekadar. Berusaha menahan ekspresi gelinya sembari menikmati raut wajah konyol Cho Kyuhyun. “Mungkin jika itu terjadi akan sangat keren.”

Kyuhyun ikut tertawa, tak ia sangka membicarakan hal sesensitif itu bisa berakhir dengan candaan ringan seperti ini. Sam Rinhyo tak buruk juga, pikirnya.

“Ah, kau jurusan politik, bukan? Apa rencanamu selanjutnya? Kudengar kau baru saja melepaskan masa jabatanmu sebagai ketua badan eksekutif mahasiswa?” Kyuhyun mulai melontarkan pertanyaan – pertanyaan ringan yang mungkin dapat menjadi media agar mereka semakin lebih dekat.

Tak ia sangka, Rinhyo malah mengulas senyuman enggannya. Menggunakan satu kata singkat, “Begitulah.” Sebagai jawaban.

“Kenapa? Tidak menikmati itu semua?” Pertanyaan tanpa rencana itu keluar begitu saja dari bibir Kyuhyun.

Lagi – lagi Rinhyo hanya mengulas senyuman enggan, meminum caffe latte-nya dalam diam. Sedangkan Kyuhyun diam, menunggu sampai Rinhyo berucap sesuatu. Ia tidak ingin terlihat mengesalkan dengan mencekoki Rinhyo banyak pertanyaan.

Menghela napas panjang, Rinhyo menerawang melalui kedua bola mata kearah jendela kaca kafe. Tak benar – benar memperhatikan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. “Jika dipikir – pikir,” Rinhyo tersenyum miring, menatap Kyuhyun dengan kedua mata tenang meski bibirnya mengulas senyuman seperti itu. “Kurasa aku tidak tahu ingin menjadi seperti apa.”

“Bagaimana bisa? Bahkan seorang anak yang masih duduk ditaman kanak – kanak punya setidaknya 3 impian setiap harinya. Pagi ia bilang ingin jadi guru, saat siang ia bilang ingin jadi dokter, dan ketika malam ia ingin jadi presiden.”

Rinhyo tersenyum kecil mendengar penjelasan Kyuhyun yang begitu sederhana namun memiliki arti yang tak sederhana. Ia tahu, tak memiliki tujuan untuk masa depan diusia 23-nya ini memang benar – benar buruk. “Masa depanku sudah ditentukan. Berakhir seperti apa aku nantinya, bagaimana kehidupanku nantinya, semua itu sudah diatur.”

Dahi Kyuhyun mengerut. Tak bisa menangkap secara keseluruhan makna yang berada dibalik kalimat Rinhyo. “Diatur oleh siapa?”

“Keluarga.”

Kerutan didahi Kyuhyun hilang seketika. Duduk berhadapan dan mengobrol seperti ini dengan Rinhyo membuat ia bisa menyambung kembali benang – benang merah yang sebelumnya terpisah. Pada intinya, kenapa Rinhyo sampai ia temukan berdiri diatas pagar pembatas jembatan saat itu adalah karena ia terperangkap dalam sebuah penjara yang tak bisa ia hindari. Rumahnya sendiri.

 

Drrt Drrt

 

Rinhyo menatap sebentar kearah layar ponselnya yang menampakkan tulisan ‘Ji Changwook calling’. Hela napas panjang Rinhyo keluar, membiarkan ponsel yang berada diatas meja itu bergetar hingga akhirnya berhenti sendiri.

“Angkat saja.” Kyuhyun berucap ringan. Meski ada dorongan besar yang membuatnya ingin bertanya, kenapa Rinhyo mengabaikan telepon itu.

“Tak apa, lagipula getarannya sudah ber-”

 

Drrt Drrt

 

Rinhyo mendesah frustasi, “Permisi.” Ucapnya sopan pada Kyuhyun kemudian menyambar ponselnya. Mengangkat telepon Ji Changwook seraya berjalan cepat menjauh dari Kyuhyun.

Cho Kyuhyun menatap kepergian Rinhyo tanpa ekspresi. Dalam diam ia mengangkat lagi cangkir kafe latte-nya, sembari menelisik raut wajah Rinhyo yang terlihat malas saat bercakap via telepon dengan pria yang bernama Ji Changwook itu.

Ngomong – ngomong tentang Changwook, Kyuhyun sepertinya tidak asing lagi dengan nama itu.

“Maaf membuatmu menunggu.”

Kyuhyun mengangguk sekadar, melepaskan senyuman samar seraya berucap “Tidak masalah.”

Rinhyo duduk diatas kursi dengan perasaan tidak nyaman yang begitu kentara. Ia mengetuk – ketuk jari telunjuknya diatas meja kayu kafe dengan gusar. Kemudian menatap Kyuhyun dengan ekspresi tidak enak.

“Ada masalah?” Kyuhyun bertanya, menyadari kegusaran Rinhyo.

Gadis itu menghela napas berat, “Maaf lagi, karena aku harus pergi sekarang, Kyuhyun-ssi.”

“Oh, benarkah? Apa tadi telepon penting?”

“Tidak juga.” Rinhyo menggigit bibir, bingung harus menjelaskannya seperti apa. “Tapi tetap saja aku harus pergi.”

Rinhyo beranjak, hendak mengambil tasnya yang terletak diatas kursi. Namun, tiba – tiba ucapan Kyuhyun menghentikkannya. “Tidak bisa begitu.”

Alis Rinhyo terangkat, menggantungkan tas dipundak dengan gerakan hampir seperti slow-motion. “Ya?”

“Kau yang membawaku kesini dan membuatku melepaskan tugasku untuk mengatur audisi. Dan kau pergi begitu saja? Bahkan kita disini tidak sampai 30 menit.”

Rinhyo semakin ditimpuk oleh perasaan bersalah. Baru kali ini ada pria yang sangat terang – terangan seperti Kyuhyun. Jujur saja, ia lebih suka orang yang terang – terangan daripada berbicara dibelakang. “Maaf.” Suaranya semakin lirih dimakan oleh rasa bersalah.

“Kalau kau menyesal, sabtu malam minggu ini traktir aku makan jajjangmyeon.” Jari telunjuk Kyuhyun terangkat. Menatap Rinhyo dengan begitu serius.

Senyuman lega bercampur senang Rinhyo terulas, kepalanya mengangguk 2 kali dengan semangat. “Kyuhyun-ssi, kau yang memilih tempatnya.”

Kyuhyun ikut tersenyum kecil, meski ia pernah sesekali melihat senyuman Rinhyo pada orang lain ketika tak sengaja bertemu dikampus. Tapi sungguh, senyuman kali ini yang terbaik, menurutnya.

“Aku tahu tempat yang sangat sempurna.”

“Aku menantikannya.” Rinhyo membungkuk sekadar pada Kyuhyun. “Sampai jumpa sabtu malam nanti.” Lanjutnya sebelum berjalan keluar kafe dengan langkah yang lebih ringan dari sebelumnya.

Bahu Kyuhyun turun seiring dengan senyumannya yang masih belum luntur. Menatap punggung Rinhyo yang hilang dibalik pintu kafe, kemudian meminum kafe latte-nya lagi dengan tenang.

 

***

 

Sam Rinhyo menggenggam erat ponselnya, sebelah tangannya segera menyetop taksi saat ia baru saja berdiri dipinggir jalan. Depan kafe.

“Cheondamdong, 157, pak.” Sopir itu mengangguk, mulai menjalankan mobilnya dengan tenang.

Rinhyo bersandar, memejamkan kedua mata. Sampai kapan ia bisa bersenang – senang dengan perasaan ringan tanpa beban?

 

“Wae, oppa?”

“Kau dimana?”

“Aku dikafe, bersama seorang teman. Ada apa memangnya? Apa ada masalah?”

“Teman siapa?”

“Teman kampus. Ada apa, oppa? bisakah kau menjawab pertanyaanku terlebih dahulu?”

“Tadi aku menghubungi kantor badan eksekutif mahasiswa, tapi katanya kau tidak ada disana. Aku juga menghubungi organisasi sosialmu yang lain, tapi juga tak ada hasil. Katanya kau ada urusan, tapi ternyata urusanmu hanyalah mengunjungi kafe bersama temanmu.”

“…. Memangnya aku tidak boleh pergi kekafe bersama temanku?”

“…”

“Kenapa oppa jadi seperti ini? Untuk apa mencariku sampai menghubungi seluruh organisasi kampus seperti itu?”

“Aku hanya khawatir! Untuk pertama kalinya kau memiliki urusan penting yang tak bisa kau beritahukan padaku.”

“Rasa khawatirmu tidak perlu, oppa.”

“Sekarang masih dikafe? Apa perlu dijemput? Aku dirumahmu sekarang.”

“Apa?!”

“Aku dirumahmu. Ibumu juga disini, disampingku. Ia juga khawatir.”

“Oh, Ya Tuhan… Tidak usah dijemput. Aku akan pulang sekarang, sendiri.”

 

Rinhyo menyandarkan samping kepalanya pada jendela taksi. Sifat Ji Changwook ternyata begitu mengerikan dibalik sikap tenang dan dewasanya itu. Bagaimana bisa ia sampai se-khawatir itu saat Rinhyo pergi tidak sampai dua jam? Bahkan sampai kerumahnya. Ia pulang, karena ia takut ibunya marah. Apalagi hari ini ayahnya juga berada dirumah setelah kunjungannya dari Switchzerland.

“Wah, rumahmu menakjubkan sekali nona. Banyak pelangganku yang membicarakan rumahmu ketika melewati jalan ini.”

Rinhyo tersenyum kecil, “Itu bukan milikku, pak. Rumah itu milik orang tuaku.” Selalu itu yang menjadi jawabannya ketika seseorang memuji kekayaannya. Lagipula memang benar, kan? Jika Rinhyo hanyalah gadis yang menumpang disana selama 18 tahun. Tak ada yang dimilikinya disana, dan juga tak ada yang bisa ia lakukan selain balas budi dirumah itu.

“Rumah orang tua dan anak itu sama saja, nona. Ah ya, semuanya 34000 won.”

Rinhyo memberi selembar 50 ribu won, “Ambil saja kembaliannya, pak. Terima kasih.” Menunduk kecil kemudian segera keluar dari taksi. Ia harus segera pulang agar tak ada yang khawatir. Tak ada pula kemarahan orang tuanya. Jika saja Changwook tidak datang kerumah, pasti ia tidak akan mengkhawatirkan apapun. Karena Changwook ada disana, terlebih karena mengkhawatirkannya. Pasti orang tuanya bakal marah karena sudah membuat Changwook kerepotan.

 

***

 

Rinhyo berjalan tergesa menaiki anak – anak tangga rumahnya. Tak terlalu tertarik dengan para pelayan yang membukakan pintu untuknya, hanya berterima kasih melalui sedikit bungkukkan.

Menyusuri lorong yang pendek namun lebar, kemudian berbelok. Napasnya seketika tercekat saat ketakutannya benar – benar terjadi. Ayahnya berada disana dengan ibunya, untuk sesaat ia tak menyadari jika Ji Changwook tak berada diruang tamu.

“Apa sekarang kau sering keluyuran tidak jelas seperti ini?” Suara rendah nan tajam milik ayahnya terdengar dibalik lembaran koran yang dipegangnya. Rinhyo meneguk ludah berat, langkah tergesanya berubah menjadi pelan.

“Maaf, aboji.”

“Sudahlah, lebih baik kau segera kekamarmu! Changwook ada disana.” Ibunya memecah percakapan yang canggung itu dengan wajah yang terlihat kesal. Begitu pun dengan nada bicaranya yang sedikit malas.

“Iya, aku akan kekamar.” Rinhyo membungkuk sopan kearah orang tuanya sebelum kembali menaiki anak – anak tangga agar sampai pada kamarnya yang berada dilantai dua.

 

***

 

Terpaksa, Kyuhyun harus kembali kebasecamp untuk menjalani kewajibannya. Padahal sudah banyak rencana yang ingin ia lakukan dengan Rinhyo, juga puluhan pertanyaan yang ingin ia suarakan. Tapi sepertinya semua itu harus ditunda. Sungguh, ia merasa Rinhyo memiliki kehidupan yang menyedihkan. Maka itu, ia menaruh simpati lebih pada gadis itu.

“Sial.” Umpatan itu keluar begitu saja ketika kedua matanya bertemu dengan kedua mata Kim Hyera. Lagi – lagi gadis itu datang untuk mencarinya, menemuinya, dan berakhir menjadi satu – satunya alasan kekesalan Cho Kyuhyun.

Kali ini Hyera memakai gaun sependek lutut warna merah maroon, lehernya dililiti oleh syal bulu yang terlihat begitu mahal. Stoking hitam yang membalut kedua kaki jenjangnya, dan sepatu hak tinggi menambah kesan elegan pada gadis yang luar biasa cantik itu. Ya, siapa yang bisa mengelak kecantikan seorang Kim Hyera.

Kyuhyun hanya terdiam, berdiri sejauh 5 meter dari pintu basecamp-nya. Menunggu Hyera berjalan kearahnya, ia tidak sudih untuk berjalan menuju kearah gadis itu. Tidak lagi.

“Jika kau masih bersikeras untuk menyeretku kembali kerumah, pulanglah! Tak ada gunanya!” tukas Kyuhyun tajam, ekspresinya lebih dingin dari sebelumnya. Hyera yang sudah berada dihadapan Kyuhyun hanya bisa menghela napas beratnya, menatap Kyuhyun dengan nanar.

“Sekarang aku datang sebagai Kim Hyera. Benar – benar Kim Hyera yang selalu kau beri senyuman hangat. Aku disini bukan untuk menyuruhmu kembali kerumah.”

Seringaian Kyuhyun muncul, meski ada sedikit desakan dihatinya yang mulai limbung karena tatapan Hyera. Tak bisa ia pungkiri jika terkadang, ia masih membutuhkan sosok Kim Hyera. “Tutup mulutmu, dan pergilah. Kim Hyera yang kukenal sudah mati.” Kedua mata Kyuhyun menelisik penampilan Hyera dengan tatapan remeh. “Kim Hyera yang kukenal tidak pernah memakai pakaian seperti ini. Kim Hyera yang sangat kurindukan, selalu tampil sederhana. Ia jarang memakai make up tebal sepertimu, karena ia selalu cantik apa adanya.”

Ditengah semilir angin yang terasa semakin dingin, tubuh Hyera sedikit menghangat karena ucapan Cho  Kyuhyun. Kedua mata yang dipolesi eyeliner dan maskara itu sedikit basah oleh air mata. Rasanya hangat, tapi sakit disaat bersamaan.

“Kyuhyun-ah…”

Kepalan tangan Kyuhyun menguat dibalik saku jaket musim dinginnya, menahan hasratnya untuk tidak memeluk tubuh gadis dihadapannya ini dengan erat. Ia juga lelah jika harus berpura – pura tidak peduli saat  melihat air mata Hyera.

Mengalihkan pandangan, Kyuhyun berusaha tak menatap keadaan Hyera dengan cara berjalan melewati gadis itu. Namun langkahnya terhenti saat Hyera menahan lengannya. “Jangan pergi, Kyuhyun-ah.”

 

***

 

BAP

 

            Rinhyo menutup pintu kamarnya, menatap Ji Changwook yang tengah duduk disofa kamarnya dengan kedua tangan berpangku paha. Kesepuluh jemari yang tadinya bergelut tak tentu arah seketika berhenti saat ia mendengar suara pintu tertutup.

Keduanya bertatapan dalam diam. Rinhyo menghela napas panjang, duduk disamping Changwook yang masih betah memaku tatapannya pada Rinhyo.

“Aku tidak tahu jika ternyata oppa memiliki sifat posesif seperti ini.” Ujar Rinhyo, mencoba menyuarakan kekesalannya dengan bahasa yang baik.

“Bagaimana aku tidak berubah menjadi posesif setelah kau hilang dan malah ditemukan di sungai han, Hyo?!” Tukas Changwook  tak bisa menyembunyikan emosinya. Terlihat dari cara bicaranya yang terdengar meninggi.

Rinhyo membalas tatapan Changwook lelah. “Aku sudah berjanji padamu tidak akan pernah melakukan itu lagi. Kurasa, oppa masih belum bisa percaya padaku.”

Changwook mengalihkan pandangan dari Rinhyo, melepaskan hela napas panjang dan beratnya. Pria itu terdiam, banyak pikiran yang mengganggu otaknya saat ini. “ Bagaimana jika aku merasa belum percaya padamu sepenuhnya?” Changwook berucap dengan kedua mata menatap lurus kedepan, kemudian kembali menatap Rinhyo. betapa terkejutnya ia ketika mendapati wajah Rinhyo yang menegang, membuat spekulasinya semakin menguat. “Bagaimana jika aku merasa jika kau yang sekarang, bukanlah kau yang sebenarnya?”

Diam – diam Rinhyo meneguk ludahnya berat. Memang ia tidak pernah menceritakan bahkan mengatakan pada Changwook jika ia hanyalah anak pungut. Orang tuanya yang melarang, karena hal itu adalah kelemahannya. Ia tidak boleh mengatakannya pada siapapun.

“Jika seperti itu, apa yang akan kau lakukan?” Kembali Changwook melanjutkan rentetan kalimatnya. Menatap Rinhyo dengan begitu serius.

Mereka bertatapan dalam diam selama beberapa detik, hingga Rinhyo berucap, “Percayalah padaku.” Menjadikan dua kata itu sebagai jawaban paling tepat dan aman.

Ekspresi Changwook masih sama, pria itu tak tersenyum seperti biasanya. Membuat Rinhyo gusar, takut jika pria itu semakin mencurigainya dan melepaskan pertanyaan – pertanyaan  kritis khas seorang dokter.

Tanpa suara dan ekspresi, Changwook menyelipkan anak – anak rambut Rinhyo yang berantakan kedalam lekukan belakang telinga. Menahan tengkuk gadis itu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memegang  sebelah lengan Rinhyo. Wajahnya semakin mendekat dengan gerakan sangat pelan.

Rinhyo benar – benar bingung harus melakukan apa. Spontan ia menoleh kesamping, menghindari bibir Changwook yang hampir menyentuh bibirnya. Tubuhnya membeku, bahkan ia menahan napas.

Tubuh Changwook juga membeku. Masih memposisikan wajah sedekat itu hingga ia bisa meniupkan napasnya disana. Senyuman miring Changwook terulas, dari sini ia tahu jika Rinhyo benar – benar tidak menginginkannya. Perlahan ia menjauh dari tubuh Rinhyo yang masih membeku.

“Seharusnya kau tidak perlu berbohong. Seharusnya aku tahu jika alasan utama kau kacau hingga berakhir dijembatan sungai han adalah pertunangan ini.”

Rinhyo tak berani menatap Changwook. Ia benar – benar bodoh, segala usahanya mengatur raut wajah agar Changwook selalu mempercayainya tak ada artinya. Bibirnya terlalu kelu untuk menyangkal ucapan Changwook.

“Aku pergi.” Nada bicara Changwook sangat dingin. begitu berbeda.

 

BRAK

 

Tubuh Rinhyo berjengit ketika Changwook menutup pintu sekeras itu. Menatap pintu kamarnya dengan nanar, ia tidak tahu hal apa yang akan terjadi padanya   setelah ini.

 

***

 

Kim Hyera tak henti – hentinya mengulas senyuman. Berjalan berdampingan dengan Cho Kyuhyun ditepi sungai han adalah satu dari ratusan keinginannya. Sesekali ia menatap Kyuhyun yang masih memasang wajah datarnya.

“Tidak bisakah kau tersenyum sedikit? Aku disini!” Hyera melambaikan kedua tangannya. Membuat Kyuhyun mengulas senyuman samar. Namun Hyera sudah cukup puas dengan itu. “Kau semakin kurus.” Lanjutnya tiba – tiba.

“Kau tidak perlu peduli.”

“Tapi aku ingin.”

Kyuhyun mendesah malas, segera mengistirahatkan kedua kakinya ketika menemukan sebuah kursi panjang. Hyera ikut duduk disamping Kyuhyun, memandangi hamparan sungai han dalam diam.

“Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun tak menyahut. Bahkan seperti tidak mendengar jika Hyera baru saja memanggil namanya.

“Aku tahu kau benar – benar marah padaku. Ya, kau memang pantas untuk membenciku. Tapi… sungguh, aku masih sangat mencintaimu.”

Seringaian Kyuhyun terulas untuk kesekian kali, ia menatap Hyera tajam. “Kau masih bisa menggunakan  kata cinta dalam masalah ini? Wah, kau benar – benar egois, Kim Hyera.”

Hyera menutup bibirnya rapat – rapat, katakanlah memang ia  sangat egois. Meski begitu, meski ia tahu ia sangat egois, tidak bisakah Kyuhyun kembali menatapnya seperti dulu?

“Maaf.”

Kyuhyun menggeleng. “Kau bahkan tidak pantas untuk mengatakan maaf. Itu adalah pilihanmu, kau yang memilih itu jadi rasakan resiko itu sendiri.”

Hyera mengangguk – angguk mengerti. Kedua matanya kembali memanas untuk alasan yang tak pasti. “Keure, ini adalah pilihanku.”

Kyuhyun membuang pandangannya kearah sungai han. Sungguh, ia kesal. Benar – benar kesal pada Kim Hyera, ayahnya, bahkan dirinya sendiri. Meski ia kesal, ia tidak ingin men-kambing hitamkan siapapun. Karena pada dasarnya, tak ada yang melakukan kesalahan. Namun Kyuhyun benar – benar tidak bisa menerima itu.

“3 hari lagi pernikahan berlangsung, aku harap kau datang.”

“Aku pergi meninggalkan rumah karena pernikahan sialan ini, dan kau masih mengharapkan kedatanganku?!” Kyuhyun menatap Hyera murka. Kali ini, Hyera benar – benar keterlaluan. Sangat egois.

Hyera tersenyum tipis, “Aku ingin kau berada disana, saat hari bahagiaku.”

“Kau benar – benar membingungkan, Kim Hyera.” Kyuhyun menarik napas dalam, mencoba mengatur emosinya yang  tanpa sadar meningkat. Berusaha tidak mengeluarkan bentakan pada Hyera. “Kau mengatakan dengan terang – terangan jika masih mencintaiku. Tapi kau malah memberiku kesakitan yang tak berarti, apa begini caramu mencintai seseorang?”

Dengan tenang Hyera mengangguk, membenarkan. “Aku ingin pria yang kucintai selalu berada disisiku apapun situasi dan kondisinya.”

Wajah Kyuhyun berubah begitu dingin. “Kau sangat egois.” Desisnya sebelum beranjak dari kursi, melenggang pergi dengan langkah besar – besar untuk meninggalkan Kim Hyera.

 

***

 

Makan malam didalam istana keluarga Sam berlangsung dengan  begitu hening. Bahkan suara perdentingan alat  – alat makan hanya terdengar sesekali. Rinhyo duduk ditempat biasanya dengan suasana hati yang begitu buruk dan khawatir.

Rinhyo tak memberatkan ketertarikannya pada makanan yang berada dihadapan. Gerakannya terlihat begitu enggan dan pelan. Ia tahu, setelah makan malam berlangsung pasti ayah atau ibunya akan menyampaikan beberapa pengumuman yang mungkin mengejutkan atau tidak penting untuk Rinhyo sama sekali.

Entah apa yang terjadi sebelumnya dikeluarga ini, namun yang ia rasakan selama 18 tahun hidup dirumah ini hanyalah keheningan dan kesepian. Tak ada percakapan basa – basi atau sekadar menceritakan hal – hal yang telah dilalui selama diluar rumah. Sangat kontras dari keadaan pantinya dulu, ia dan teman – temannya selalu berebut untuk bercerita terlebih dahulu pada ibu panti.

 

Disaat seperti ini, Rinhyo  ingin sekali mengunjungi panti.

 

Terakhir ia mengunjungi tempat itu adalah ketika ia berada ditahun pertama junior high school. Setelah itu, orang tuanya melarang. Karena takut ada  awak media yang mungkin membuntutinya dan akhirnya mengungkap bahwa Sam Rinhyo adalah anak pungut. Bukan putri keluarga Sam yang sejak lahir tinggal di London.

“Ji Changwook memundurkan tanggal pertunangannya.”

Suara ayahnya itu membuat tubuh Rinhyo membeku, dengan kaku ia menaruh sendok dan garpunya diatas piring. Menatap ayahnya yang tengah meminum air mineral.

NDE?! Bagaimana bisa?” Reaksi ibunya juga sangat berlebihan. Wanita itu melirik Rinhyo tajam, “Katakan! Apa yang sudah kau lakukan hingga ia memundurkan tanggal pertunangannya? Kau bilang pertunangan ini tidak masalah!”

Dua pasang mata itu fokus pada Sam Rinhyo yang hanya bisa menghela napas panjang. Bahkan beberapa pelayan yang sedang sibuk membereskan piring kotor juga ikut terkejut dengan ucapan Tuan rumahnya itu.

Jusung hamnida.” Rinhyo menundukkan kepalanya dengan tulus, lagi pula ia tidak memiliki pembelaan apapun atas apa yang sudah ia perbuat.

“Aku tidak membutuhkan kata maafmu. Berikan alasan mengapa Changwook sampai memutuskan hal seperti itu.” Kini ayahnya yang bersuara.

Rinhyo meneguk ludahnya yang rasanya seperti tersendat dikerongkongan. Jantungnya berdegup dengan kencang, sedangkan otaknya berputar keras mencari alasan yang tepat. “Aku… tidak tahu.”

“Bagaimana bisa kau tidak tahu? Ini pasti ada hubungannya dengan apa yang kalian bicarakan ketika dikamar, iya kan?” Shim Jung Ah menelisik Rinhyo dengan tatapan curiga.

“Mungkin… karena aku menghindarinya saat itu.”

“Menghindari yang seperti apa? Untuk apa kau menghindarinya?”

Rinhyo menggigit bibir bagian bawahnya  gusar, tak nyaman jika mengatakan hal ini diruang makan. “Saat itu Changwook oppa tiba –  tiba mendekat, dan dengan spontan aku menghindarinya.”

Dahi Shim Jung Ah mengernyit, “Untuk apa kau menghindarinya? Kau tidak menyukainya?”

Alis Rinhyo terangkat bingung, ia tak menyangka reaksi ibunya akan seperti ini. “Nde?”

“Changwook seperti itu karena ia memang mencintaimu. Seharusnya kau tidak menghindarinya seperti itu, aish, masalah kecil seperti ini saja kau tidak mengerti.” Tukas tuan Sam tajam, lalu beranjak untuk pergi dari ruang makan.

“Lain kali kau tidak perlu menghindarinya, jika memang kau tidak suka tahanlah untuk sebentar saja. Nanti lama – lama kau juga akan menyukainya. Jangan ulangi kejadian memalukan ini lagi!”  Nyonya Shim Jung Ah menimpali sebelum mengekori suaminya.

Sam Rinhyo masih tertegun ditempat duduknya, otaknya tak bisa menangkap dengan cepat apa yang dikatakan orang tuanya itu. Apa baru saja orang tuanya menyuruh ia untuk mau – mau saja jika Changwook menyentuhnya?

Menaruh kepalanya diatas meja, Rinhyo sudah lelah untuk menangis. Ia lelah hidup seperti ini, namun ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Melawan orang tuanya yang selama ini sudah membiayainya segala hal? Ia tidak mau menjadi putri yang tak tahu balas budi, meski mereka hanya orang tua angkatnya.

“Aku harus bagaimana?”

 

 

TBC-

 

 

Advertisements

14 thoughts on “DOLL 3

  1. kebayang gak sih klo kita jd rinhyo hidup tertekan dan nggak nyaman. dia sprti kehilangan hak nya. smoga di part selanjutnya dia punya keberanian untuk melawan. mungkinkah kim hyera itu dulunya pacar kyuhyun dan sekarang dia mau nikah sama ayahnya kyuhyun?

  2. kasian rin hyo , malang bgt nasibnya..
    Smoga rin hyo cepet2 lepas dari jeratan orang tuanya..
    Smoga saja kyuhyun bsa membantunya..

  3. kan aku senyum senyum sendiri asli ngeliat rinhyo kyuhun moment hahaha padahal gitu doang tapi sukaaaaa aaakkkk ini gimana ini jd kyuhyun hyera ya begitu(?) trs changwook yg marah dan mundurin tgl petunangan dan rinhyo yg sebenernya gamau tunangan dan hidup diatur dan kyuhyun yg yaaaaaa begitu………… bakal gimana kisah mereka ini kyuhyun rinhyo gimana apa nanti kyuhyun yg bantu rinhyo biar keluar dari kehidupannya aaakkk banyak nebak ditunggu selalu pokoknya lanjutannya hihi

  4. Jd bnr Kyu mantan pacarnya Hyera,,, huh bnr2 egois tu Hyera…
    Sam,, hrus sbar…itu resikonya tnggl dklrga Kaya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s