Ace-X (I)

IMG-20160123-WA003

Author: Bella Eka.

.

ACE-X (Introduction)

.

11369

Sam Rinhyo / Shabryna Caprice

.

20140223124155_zrBes.thumb.600_0

Shin Soojung / Bella Keyl

.

bcf93cd5d330d46945cb08b599101f142

Addison / Cho Kyuhyun

.

tumblr_mqj0a3O3EM1qethuqo1_5402

Choi Minho

.


.

ACE-X

 

Ace, 13:03

 

Beberapa Aceries—anggota perempuan dan laki-laki, berseragam abu-abu bertopi putih dalam sebuah ruang kelas berdominasi warna biru begitu hening dan tenang. Semua duduk tegap di atas bangku dengan pandangan searah lurus ke depan, kedua tangan berpangku pada lutut disertai hembusan napas dan detak jantung normal.

Lain tempat, keadaan dalam sebuah kelas berdominasi warna merah tak sedikitpun berbeda. Semua Aceries dalam kelas ini juga mengenakan seragam dan topi sama. Tak ada yang berbicara, tak ada yang berbisik, tak ada yang membuat kegaduhan sekecil apapun karena dalam hati semua penghuni planet ini, Planet Ace, hanya dipenuhi naluri menciptakan visi dunia yang disebut…

Kedamaian.

Dalam waktu bersamaan pintu kedua kelas terbuka. Meski berbeda ruangan, gerakan semua siswa serentak sama, dengan cepat berdiri dan melepas topi mereka sebagai tanda hormat ketika seorang pria memasuki kelas, kemudian kembali duduk setelah pria terhormat yang mereka sebut Master itu mengangguk singkat. Keheningan kembali mengikat.

Sang Master dalam ruangan biru berkata,  “Acers Shabryna Caprice.”

Sang Master dalam ruangan merah berseru, “Acers Bella Keyl.”

“Keluar sekarang juga dan ikuti saya.”

 

***

 

Acers—sebutan khusus anggota perempuan, bersurai cokelat tua dari kelas biru Shabryna Caprice, dan Acers bersurai merah dari kelas merah Bella Keyl, berpapasan begitu sampai di lorong utama. Berjalan beriringan menuju satu arah tanpa interaksi maupun reaksi. Kedua gadis itu mengikuti langkah sang Master penuh kepatuhan tanpa bertanya apapun tentang alasan. Karena telah jelas semua hal yang dilakukan di planet termasuk akademi khusus ini hanya bertujuan untuk mencapai visi puncak mereka yang disebut…

Kedamaian.

Di depan sebuah pintu berlapis baja bertuliskan Earth Division mereka berhenti. Masing-masing Master mendongak menunjukkan wajah mereka pada sebuah kamera di atas pintu. Berselang sedetik terdengar suara robot.

 

Identity recognition… Pass.

 

Pintu baja mulai bergerak ke atas hingga terbuka sempurna, menampakkan lorong pendek dimana berujung sebuah lapisan bercahaya. Dengan hati berdebar kedua Acers mengikuti langkah sang Master. Semakin dekat dan mendekati cahaya terang menyilaukan mata kedua Acers yang baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat khusus itu, tempat yang seharusnya hanya boleh dimasuki petinggi-petinggi planet ini.

Sosok kedua Master berlalu menghilang ditelan cahaya. Melihat itu, Keyl menghentikan langkah merasakan jantung berdegup kencang, meragukan sesuatu yang akan terjadi setelah melewati cahaya terang itu.

Ditepuknya bahu Keyl oleh Caprice, membuat mereka bertatapan dengan wajah datar masing-masing.

Melalui sentuhan Caprice, Keyl mampu merasakan aliran darah dalam tubuhnya dikendalikan. Hanya butuh beberapa detik jantung gadis itu berdetak normal, “Rupanya kau dari kelas air. Terimakasih.”

“Ya, sama-sama.”

Percakapan tanpa ekspresi mereka berakhir seiring kedua gadis tak saling kenal itu bersama-sama menembus ambang cahaya. Keyl melaluinya dengan menutup mata sedang Caprice melakukannya seolah tak merasa apa-apa.

“Hebat.” Pujian Caprice menarik Keyl membuka mata.

Kedua Acers memandang keadaan sibuk dalam ruangan super luas ini dengan wajah dingin. Mengamati para pemilik Six Eyes—kekuatan super berupa kemampuan melihat fokus ke segala arah dalam waktu bersamaan, yang tengah bekerja mengawasi milyaran aktivitas Bumi yang terpampang pada ratusan layar hologram memenuhi ruangan ini. Caprice dan Keyl dapat melihat setiap layar menampilkan gambar yang terus berganti per detik, begitu cepat namun puluhan Six Eyes terpilih yang berada disini mampu menangkap semua informasi dalam gambar itu.

Tak lama kedua Master kembali menghampiri Keyl dan Caprice, menggiring mereka menghadap pria bertubuh kekar yang berdiri tepat di tengah luasnya ruangan.

“Kami telah membawa mereka, Logan.”

Logan Switchler, pria pemegang kendali utama atau singkatnya biasa disebut Brain Master dari Earth Division. Memiliki kekuatan super level Ace pada Mind Control—mengendalikan pikiran, Vision—melihat segala hal dalam mata seseorang, dan Six Eyes. Keyl mampu mengetahui informasi tersebut kala kedua matanya bertatapan langsung dengan pria itu.

Logan mengangguk beberapa kali setelah menenggelami bola mata Keyl, lalu menatap Master dari kelas api, “Kau membawa Acers yang tepat.”

“Terimakasih.”

Beralih pada Caprice, Logan bertanya, “Apa warna auraku saat ini?”

“Putih.”

“Kau mampu merubahnya?”

Sedetik, dua detik, menjelang lima detik Caprice menatap lekat Logan, wajah pria itu berubah merah padam, emosinya sontak meningkat. “Atur ulang!” titah suara berwibawa Logan. Segera wajahnya kembali putih normal. “Kalian benar-benar menuruni bakat nenek moyang dengan sempurna.”

“Terimakasih.” Caprice dan Keyl mengangguk singkat dan tegas.

“Karena itu kalian terpilih untuk melakukan misi yang berhasil dilaksanakan nenek moyang kalian lima ratus tahun lalu, kami yakin keberhasilan akan terulang di tangan kalian.”

“Maksud Anda, kami akan diberikan misi untuk mengembalikan kekuatan serenity stone di Bumi?” tanya Caprice memperjelas, wajahnya tetap datar dan dingin begitupun semua orang.

“Ya, karena kalian adalah keturunan nenek moyang dari klan air dan api yang membuat serenity stone, hanya keturunan terbaik mereka yang mampu mengembalikan kekuatan batu kedamaian itu. Aku mampu melihatnya dari kedua mata kalian karena aku juga memiliki penguasaan Vision.” Logan menatap Keyl ketika melanjutkan, “Sepertimu. Sekarang giliranmu, apa saja yang bisa kau lihat dariku? Aku tahu kau mengerti semua sejak menatap mataku.”

Keyl mengangguk, berucap cepat setelah menarik napas panjang, “Logan Switchler. Keturunan klan petir. Memiliki kekuatan tingkat superior dalam Vision, Mind Control, dan Six Eyes. Hanya dalam kurun waktu sepuluh tahun memperoleh kedudukan dari Acern—sebutan Aceries laki-laki, menjadi Master, lalu diangkat menjadi Brain Master lima tahun lalu tanpa melalui tahap Bold Master. Kecepatan penguasaan pengendalian yang dimiliki atas Mind Control berimbas pada Vision dan Six Eyes, hal itu membuat kesemua super power Anda terkuasai sangat maksimal.”

“Cukup, tidak diragukan lagi kalian sangat memenuhi standar kelayakan Acers.” Kini Logan menunjuk layar-layar hologram yang terpampang dengan sorot mata, “Sekarang lihat semua ini, perhatikan baik-baik apa yang sedang terjadi di Bumi.”

Kedua mata Caprice dan Keyl menyipit ngeri begitu menatap layar hologram dari dekat. Dalam jarak kisaran satu meter, mereka mampu melihat bahwa ternyata bukan sekadar gambar yang terpampang pada layar tersebut, melainkan video, karena gambar-gambar itu bergerak meski hanya sedetik.

“Semua ini adalah hasil pantauan seluruh spy Aceries dari berbagai klan yang tersebar di Bumi.” Logan memaparkan sementara Keyl dan Caprice sibuk mengamati keadaan Bumi. “Penduduk Bumi telah mengalami kelengahan parah, berjuta ketidak adilan terjadi per detiknya. Tak terhitung jumlah penguasa memanfaatkan kekuasaan untuk mempertinggi kedudukan mereka, dan orang-orang yang dimanfaatkan telah dibutakan oleh benda yang biasa penduduk Bumi sebut uang. Kalian tahu apa guna uang?”

“Sesuatu yang digunakan manusia Bumi untuk menukar barang dan jasa,” jawab Caprice.

Keyl menyahut, “Aku juga pernah mendengarnya dari Master.”

“Benar, itu kegunaan uang sebenarnya, untuk menukar atau istilah penduduk Bumi disebut membeli. Kelengahan manusia Bumi yang tak terkendali ini semakin menyalah gunakan uang, bukan hanya barang dan jasa lagi yang bisa mereka beli tapi juga kehormatan.”

“Kehormatan?” gumam Caprice.

“Apa dia tidak waras?” Keyl menunjuk layar hologram yang menampakkan pria bertubuh besar memukuli seorang wanita di malam hari. Namun saat Logan menoleh, gambar yang selurus ujung telunjuk Keyl telah berubah.

“Apa yang kau lihat?”

“Seorang pria memukuli wanita tepat di wajahnya. Apakah pria Bumi tidak punya otak? Apa mereka lupa jika mereka adalah manusia dan melupakan naluri kemanusiaan yang seharusnya ada?” Keyl berucap sinis hingga Logan mampu melihat sepercik api dalam matanya.

Sebentar Logan memandang Keyl dan Caprice bergantian. Berbeda dengan Caprice yang tetap tenang, emosi Keyl mulai meluap. “Klan api memang cepat bereaksi.”

“Maaf, saya benar-benar tidak berniat membuat kekacauan karena emosi saya disini, saya mohon maaf.” Keyl menjulurkan tangan kanannya pada Logan sembari membungkuk, cara sopan meminta maaf di Planet Ace. Meski mudah tersulut emosi karena sifat bawaan klan api, Keyl memang sangat hebat dalam mengendalikannya.

“Tidak apa-apa, kau dimaklumi.” Logan menyambut jabatan tangan Keyl. “Apa yang kau pikirkan itu benar, terlalu banyak hal perusak kedamaian dalam Bumi yang semakin lengah, dan itu menandakan bahwa kekuatan serenity stone sudah mencapai titik dasar kelemahan, kalian harus menyalurkan kekuatan segera sebab Planet X tidak akan tinggal diam melihat kesempatan besar ini.”

Caprice tampak berpikir sejenak kemudian bertanya, “Apakah serenity stone sudah berada di tempat yang telah ditetapkan atau kami harus mencarinya sendiri karena sudah berlampau lima ratus tahun?”

“Untuk saat ini, hanya diketahui bahwa serenity stone berada di Benua Asia, Korea Selatan, lebih tepatnya di Kota Seoul. Kalian akan diberi waktu tiga hari untuk mempelajari budaya dan bahasa daerah itu sebelum kalian diberangkatkan. Tentang informasi lebih detail di lokasi nanti akan dijelaskan oleh Acern Bryan Key dari klan api, dia yang akan membimbing kalian setelah sampai disana.”

“Key?” ulang Keyl samar menatap Logan ragu, “Dia masih hidup?”

“Ya, kau akan bertemu lagi dengannya di Seoul.”

 

***

 

Earth, Seoul—South Korea, 05:21

 

Sebuah bola batu keramik abu-abu berdiameter sepuluh senti berada dalam genggaman seorang pria. Pria itu mengamati batu keramik tersebut menggunakan kaca pembesar khusus di atas meja kerja, mengamati tulisan berhuruf aneh berukuran super kecil yang terdapat di antara urat-urat berwarna merah dan biru yang terlihat seperti pembuluh darah manusia dalam batu itu. Ruang antar alis pria itu mengerut, berusaha keras mencari petunjuk melalui batu itu yang tak kunjung ia temukan.

 

Tok tok tok

 

“Masuk.” Pria itu menyerukan suara baritone miliknya tanpa melepas fokus. Suara pintu berderit terbuka juga tak membuatnya bergeming.

“Minho hyung! Astaga, apa tidak ada sesuatu yang lebih kau cintai selain batu itu, Ilmuwan Choi?” interupsi pria yang baru datang sembari meletakkan tas dan kopernya membuat perhatian Minho beralih menatapnya.

“Ya! Lee Taemin!” Minho menaruh batu keramiknya di dalam kotak yang terdapat spons berbentuk cekungan khusus untuk batu itu, lantas beranjak menyambut Taemin dengan pelukan hangat, wajah Minho yang semula kaku kini mengulas senyuman lebar, “Tidak terasa sudah empat tahun sejak kau pergi.”

“Empat tahun?” Taemin melepas pelukan Minho, mengernyit tak percaya menatap pria itu, “Batu itu benar-benar sudah mengkontaminasi pikiranmu, hyung.”

“Bicara apa kau?” Minho berbalik kembali duduk di kursi kerjanya, mengambil kaca pembesar dan bola keramik, melanjutkan kegiatannya yang terhenti.

Taemin menghela napas kasar lalu berjongkok membuka koper, “Sudah saatnya kau berhenti mencari-cari sesuatu yang memang tidak pernah ada, hyung.

“Pasti ada, hanya belum menemukannya.”

Tukasan Minho membuat Taemin mendengus. Taemin mengepalkan tangannya, “Lihat ini.”

 

Tuk tuk

 

Taemin mengetuk lantai dua kali, “Seperti kotak keramik yang dijadikan lantai ini, bola itu hanya batu keramik biasa, hanya bentuknya saja berbeda.”

“Kau hanya belum tahu, karena itu kau berpikir begitu.”

“Memangnya kau sudah tahu jika usahamu sudah pasti akan membuahkan hasil?” Taemin mendekati Minho setelah mengambil sebuah kubus hitam dari dalam kopernya, “Ini, oleh-oleh untukmu.”

“Letakkan saja di situ.” Minho yang sedang serius hanya menggedikkan kepala sebagai tanda agar Taemin meletakkan oleh-oleh itu di atas meja.

Taemin mengulum bibirnya, tak tahu lagi bagaimana cara agar Minho tersadar dari usahanya yang sudah pasti sia-sia. Taemin meletakkan kotak yang ia bawa di atas meja, menuruti ucapan Minho. Kemudian menduduki kursi di depan meja kerja Minho. “Kubawakan untukmu jam tangan keluaran terbaru dari London, tidak ingin membukanya?”

“Nanti saja, lagipula kau sudah memberitahuku apa isinya.”

Taemin menghela napas, tampaknya Minho benar-benar tidak tertarik pada apapun selain batu itu. Taemin kembali membuka pembicaraan, “Hyung, sudah berapa lama kita tidak bertemu?”

“Tentu saja empat tahun, sejak kau pergi melanjutkan studimu di Inggris empat tahun lalu.”

Jawaban Minho membuat Taemin memejam frustasi, “Hanya karena rencana awal kepergianku adalah empat tahun, jadi saat aku kembali itu berarti empat tahun kemudian? Astaga, hyung, keadaanmu benar-benar memprihatinkan.”

Minho mendesah kasar meletakkan kaca pembesar, menatap Taemin dengan kedua mata lelahnya, “Apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan?”

“Hanya dua tahun, hyung, hanya dua tahun aku pergi, terakhir kita bertemu dua tahun lalu. Bagaimana bisa kau hidup tanpa menyadari berjalannya waktu? Pikiranmu benar-benar sudah dikacaukan batu keramik itu.”

“Ah, benarkah? Hahaha.” Minho menertawakan kebodohannya sendiri, “Mungkin karena aku pergi ke rumah sakit saat matahari terbit dan meneliti batu ini di malam hari jadi waktu terasa berlalu dua kali lebih lama.”

“Lihat, bahkan kau tidak punya waktu untuk memikirkan dirimu sendiri. Hyung, haruskah aku memeriksakanmu ke tempat kerjamu sendiri? Kau terlalu sibuk mengurusi masalah kejiwaan orang lain padahal kau sendiri juga mengalami gangguan jiwa.”

“Taemin-ah.” Minho memasukkan bola batu keramik pada cekungan spons dalam kotak dan menutupnya, “Aku yakin ayahku mengetahui sesuatu sebelum memberikan batu ini padaku,” ucap Minho seraya meletakkan kotak berisi batu ke dalam loker meja, tak lupa Minho mengunci loker setelahnya, “Karenanya aku berusaha mencari tahu, disamping itu Ayah juga mewasiatkan padaku untuk meneruskan penelitiannya tentang batu ini dan dua planet yang masih tersembunyi di galaksi Bimasakti.” Minho beranjak membuka korden ruang kerjanya, “Oh, ternyata sudah pagi,” gumam Minho mendapati langit mulai berwarna biru lantas mematikan seluruh saklar lampu ruangan.

“Kau masih mempercayai dua planet tersembunyi itu? Berhentilah mengkhayal, hyung. Mengenai batu itu, mungkin ayahmu memang mengetahui sesuatu, tapi itu bukan berarti kau harus mengorbankan hidupmu sendiri hanya untuk batu itu.”

“Aku tidak mengorbankan hidupku, aku hanya berusaha memenuhi rasa penasaranku sekaligus menjalankan wasiat ayahku.” Minho membuka pintu yang menyambungkan ruang kerja dengan kamar tidurnya, membanting tubuh di kasur empuk ranjangnya, “Rasanya mataku berat sekali.”

“Kenapa tidak kau pecah saja batu itu? Jadikan partikel kecil lalu amati dengan mikroskop, dengan begitu kau bisa mendapatkan informasi lebih akurat tentang bahan yang terkandung dalam batu itu. Jika kau teliti dengan kaca pembesar saja tak akan cukup, buktinya kau sudah bertahun-tahun melakukannya dan tidak menghasilkan apapun.” Taemin menambah volume suaranya agar Minho yang berada di ruang sebelah dapat mendengar jelas.

“Tidak ada yang boleh memecahnya, dalam batu itu ada kode yang belum kutemukan artinya, memecahnya hanya mempersulit semua. Lagipula bukan bertahun-tahun, hanya tiga tahun.” Minho membalas dengan kedua mata tertutup, tubuhnya benar-benar butuh tidur.

Taemin bangun dari duduknya, beralih posisi berdiri di ambang pintu menatap Minho simpati sembari melipat kedua tangan di depan dada, “Tetap saja kau menyia-nyiakan tiga tahunmu hanya untuk batu itu. Coba pikirkan jika kau menggunakan waktu luangmu selama itu untuk bertemu gadis-gadis, dengan wajahmu yang tidak buruk dan profesimu sebagai psikiater ditambah keahlianmu sebagai ilmuwan, tidak mungkin kau masih sendiri sekarang dan hidupmu pasti lebih menyenangkan.”

Minho tersenyum singkat, terdapat ucapan Taemin menarik perhatiannya, “Bicara tentang solusimu agar memecah batu tadi, apa itu artinya kau mulai tertarik bergabung denganku?”

“Apa? Tidak akan.”

“Bergabung saja, tidak apa-apa. Aku akan mengajukanmu sebagai asistenku di rumah sakit lalu tinggallah disini. Kau belum dapat pekerjaan, kan?” Minho yang berbaring mengubah posisi duduk, menatap Taemin menunggu jawaban pria dua tahun lebih muda darinya itu. “Bagaimana? Tertarik? Bukankah impianmu bekerja di rumah sakit negeri tersohor Korea Selatan?”

“Aku baru saja lulus dari universitas di Inggris, dengan ijazahku itu kupikir aku bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah tanpa membantumu meneliti batu yang tidak jelas dari mana asalnya itu.“ Taemin melepas tautan tangannya yang bersendekap, hendak berbalik berniat mengambil kopernya sebelum pulang.

“Kau yakin itu?” tanya Minho dengan nada menyudutkan, membuat Taemin mengurungkan niatnya untuk pulang lalu kembali menatap Minho.

“Tentu,” jawab Taemin yakin.

“Kau tidak tahu seberapa besar kekuatan relasi?”

Taemin terdiam, mendengar kata relasi membuatnya meneguk ludah berat.

“Kau kira lulusan luar negeri di Korea hanya kau saja? Banyak yang lebih hebat darimu tapi tidak semua dari mereka mendapat kesempatan sepertimu, dan tak sedikit orang lebih payah darimu tapi berhasil mendapatkan pekerjaan yang belum tentu bisa kau dapatkan.”

Taemin mengulum bibirnya rapat-rapat. Minho seolah mencuci otaknya hingga tak mampu berpikir selain menyetujui ucapan pria itu.

“Kau mengerti maksudku, kan?”

“Aku datang ke sini bukan untuk bergabung denganmu, sebenarnya aku hanya sekadar mampir karena melihat jendelamu memancarkan cahaya lampu.”

“Tapi?” pancing Minho dengan tatapan meyakinkan.

Taemin mendesah kasar lalu berbalik menuju koper dan tasnya yang masih tergeletak di ruang kerja.

Ya!” Minho berdiri hendak menyusul Taemin tapi tak lama Taemin kembali tampak di ambang pintu dengan membawa tas dan kopernya. “Kau akan pulang sekarang?”

Dengan wajah menyerah Taemin berucap lemas, “Dimana aku bisa tidur di rumah ini? Aku sangat lelah.”

“Keputusan bagus, anak pintar.” Minho tersenyum lega, beranjak beberapa langkah mengusap kepala Taemin.

“Aku bukan anak kecil! Jangan perlakukan aku seperti itu!”

 

***

 

X, 21:43

 

“Waktu yang selama ini Anda tunggu sudah datang, Prince. Kejayaan Planet X akan segera tercapai.”

“Ya, aku tahu.”

“Langkah apa yang ingin Prince Addison ambil untuk sekarang?”

Pria yang duduk di kursi tahta kerajaan dengan panggilan Prince Addison itu menatap tajam apel merah di tangannya seraya tersenyum miring, “Tak perlu melakukan apapun untuk sementara.” Addison beralih menatap pria paruh baya yang membungkuk sopan di bawah tangga tahtanya, “Aku akan memulai semua setelah para budak yang tersebar di Bumi mengirimkan informasi tentang agen khusus dari Planet Ace. Setelah mereka menginjakkan kaki di Bumi, aku sendiri yang akan menggali informasi tentang keberadaan serenity stone, setelah itu aku akan mendapatkannya lebih dulu dari mereka.”

“Lalu langkah apa lagi yang akan Anda tempuh, Prince?” tanya pria paruh baya yang terus membungkuk itu membuat tatapan Addison bengis kearahnya.

“Tegakkan tubuhmu!” titah Addison.

Pria paruh baya itu sontak menegakkan tubuhnya cepat, kedua matanya melebar terkejut menemukan tatapan kejam Addison lalu menunduk dalam.

“Apa? Kau berani membelalak padaku, hm?”

“Tidak, Prince.”

“Apa kau bodoh? Setelah menemukan serenity stone, tentu aku akan memecahnya dan memberikan urat nadi di dalamnya pada Ayah.”

“Benarkah? Kau tidak akan berkhianat?”

King Hedson,” hormat pria paruh baya yang tadinya menegakkan badan, kini bersujud kala Hedson yang merupakan raja Planet X berlalu di depannya, menaiki tangga menuju kursi tahta Addison.

“Kau menjadikanku Special Prince karena misi yang telah lama ditunggu ini, dan aku tahu konsekuensiku jika berkhianat.”

Hedson menyeringai mendengar jawaban Addison yang membuatnya puas, “Bagus, kau harus ingat apa konsekuensimu jadi lakukan dengan baik.”

Di luar ruang tahta Addison, seorang pria berpakaian terhormat seperti Addison mengepalkan kedua tangan mendengar pembicaraan mereka, napasnya berhembus kasar seiring bibirnya bergumam geram, “Special Prince? Tch! Tidak penting.”

Prince Anthony, kami baru saja menyiapkan buah-buahan tambahan untuk Prince Addison, apakah Anda ingin?” Dua orang pelayan perempuan mempersilakan pria yang sedang menguping itu, Prince Anthony, untuk mengambil buah di atas nampan yang mereka bawa.

“Kalian pikir buah-buah ini bisa membuat kekuasaan yang Addison pegang beralih padaku, hah?!”

 

Prang!

 

Anthony menyabet nampan kedua pelayan itu terjatuh luluh lantak, kemudian berjalan meninggalkan mereka dengan langkah penuh emosi.

 

***

 

Ace, 09:29

 

“Waktu habis, kalian akan segera diberangkatkan.”

“Apa aku boleh meminta satu permintaan sebelum kami pergi dari Planet ini, Tuan?”

“Katakan saja, Keyl.”

“Bolehkah kami keluar dari akademi ini sebentar? Karena kami tidak tahu akan kembali ke planet ini atau berakhir selamanya di Bumi seperti nenek moyang kami yang kabarnya tak pernah kembali.”

“Baiklah, tapi jangan terlalu lama.”

 

Kini Keyl dan Caprice telah sampai di depan bangunan supermarket. Kedua Acers itu mendongak memandang langit gelap di atas mereka, terdiam mengerjap-ngerjap hingga seorang wanita tua buta menabrak Caprice tanpa sengaja dari belakang.

“Maafkan aku, maafkan aku,” ujar wanita tua itu mengulurkan tangan namun meleset ke samping Caprice.

“Iya, tidak apa-apa.” Caprice meraih uluran tangan wanita itu, berjabat tangan sebagai tanda memaafkan.

“Terimakasih.”

“Nenek!” Seorang pria tiba-tiba menghampiri wanita itu, “Sebaiknya kau masuk berbelanja bersamaku.”

“Ah, apa kau kerabatnya?” Keyl bertanya pada pria yang sedang berusaha menaikkan tubuh nenek ke punggungnya, berusaha menggendongnya.

“Bukan, aku hanya tidak sengaja melihatnya menabrak Nona ini tadi,” jawab pria itu tanpa ekspresi sembari menunjuk Caprice, “Lebih baik aku menemaninya daripada nenek menimbulkan ketidaknyamanan dalam supermarket nanti. Kalau begitu aku dan nenek pergi dulu.”

“Baiklah, selamat berbelanja.”

Benar-benar, dalam Planet Ace, kedamaian adalah nomor satu dan seluruh penghuninya dipenuhi kemurnian hati. Sayangnya ekspresi tak pernah tercipta dalam planet penuh kedamaian ini.

Caprice dan Keyl kembali menengadah menghadap langit, menghela napas panjang.

“Aku ingat Master mengatakan jika Bumi adalah tempat yang tersinari matahari.”

“Kau benar, El.” Caprice menanggapi ucapan Keyl. Selama tiga hari penuh bersama membuat hubungan mereka menjadi dekat.

“Aku penasaran bagaimana rasanya terkena sinar matahari, Cap.”

“Aku juga, kata Master itu hangat.”

Keyl mengangguk, membayangkan bagaimana wujud sinar matahari yang sesungguhnya mengingat Planet Ace hanya terjangkau matahari setiap seribu tahun sekali. Merasa lapar, Keyl memegangi perutnya, “Sudahlah, ayo cari makanan.”

Memasuki supermarket, Keyl dan Caprice disambut oleh dua pria berbadan bodyguard berdiri di kedua sisi pintu. Benar Planet Ace adalah planet penuh kedamaian, maka kedua bodyguard itu berada disini bukan sebagai penjaga, melainkan sebagai penanggung jawab habisnya persediaan supermarket, merekalah yang mengangkut segala apapun dengan memanfaatkan kelebihan mereka memiliki tubuh yang besar dan kuat.

Dalam Planet Ace tidak ada yang namanya hutang budi, keserakahan, dan keinginan dibalas budi. Semua dilakukan atas kesadaran sendiri.

Seperti pengunjung supermarket lainnya yang tak memiliki ekspresi wajah sama sekali, Caprice dan Keyl mengambil barang-barang sesuka mereka ke dalam keranjang, lebih tepatnya makanan dan minuman.

“Roti, susu, sereal, cokelat, hmm apa lagi?” gumam Caprice.

“Aku ingin yoghurt!” Keyl membuka kulkas dan mengambil kotak besar yoghurt dimasukkan dalam keranjang.

Keranjang mereka sudah hampir penuh meski hanya terdiri atas beberapa makanan dan minuman yang disebutkan itu, karena kemasan yang mereka ambil sungguh besarnya minta ampun.

“Kau tidak ingin sayur? Bagaimana kalau kita butuh vitamin di Bumi nanti?” Keyl menunjuk arah yang menampakkan berbagai sayur berwarna keabu-abuan. Meski berbeda-beda macam namun sayuran tersebut memiliki warna yang sama, karena teknologi yang diciptakan Planet Ace untuk menumbuhkan sayuran tentu tak sebaik sinar alami matahari.

“Tidak perlu, lagipula aku tidak bisa memasak. Memangnya kau bisa?”

“Sudahlah lupakan saja, kalau begitu ayo kembali,” tukas Keyl lantas membantu Caprice membawakan keranjang belanjaan mereka keluar, tanpa membayar, tentu saja. Memang tidak ada pemberlakuan uang disini, semua pekerjaan didasarkan ketulusan, tidak seperti di Bumi.

 

***

 

“Astaga, apa ini?” Logan menatap tak percaya bahan-bahan makanan yang Caprice dan Keyl bawa di tangan mereka.

“Kami akan membawanya ke Bumi untuk bertahan hidup sementara, karena tentu saja kami butuh waktu untuk menyesuaikan diri disana,” ujar Caprice.

“Tidak! Tidak boleh membawanya, kalian hanya perlu ini.” Logan memberikan sebuah tas jinjing merah pada Keyl, “Di dalamnya ada sejumlah uang yang bisa kalian gunakan di sana.”

“Tapi kenapa tidak boleh membawa makanan-makanan ini?” tanya Keyl penasaran.

“Kalian akan tahu sendiri nanti. Sekarang masuklah ke ruang teleportasi.”

Caprice dan Keyl mendesah panjang menatap satu sama lain, bergerak lemas meletakkan keranjang makanan di tangan mereka, tak ada pilihan lagi selain menuruti ucapan Logan. Kemudian mengikuti dua pria mengantar mereka memasuki sebuah ruangan luas nan kosong, di tengah ruang kosong itu terdapat sebuah tabung yang tak kedua Acers tahu apa isinya.

Ukhfrischehoulaude.” Logan berseru aneh membuat Keyl dan Caprice mengernyit menatap pria itu. Namun tak lama perhatian kedua Acers teralih pada tabung besar di tengah ruangan yang bergerak ke atas, menampakkan dua kursi tersinari cahaya biru berdiri di dalamnya dengan kabel-kabel mengelilingi.

“Hebat sekali,” puji Caprice terpukau. Berbeda dengan Keyl nampak khawatir.

“Kami tidak akan mati tersetrum listrik karena kabel-kabel itu, kan?”

Logan terperangah hingga ingin mengeluarkan emosi dalam dirinya ketika mendengar pertanyaan bodoh Keyl. Bukan emosi berupa amarah, melainkan tawa, sayangnya penghuni Ace tidak tahu bagaimana cara tersenyum, terlebih tertawa. “Tentu saja tidak, tenang saja kalian tidak akan merasa apa-apa.”

“El,” panggil Caprice disela detik mengendalikan aura Keyl. Aura abu-abu Keyl yang tampak di mata Caprice segera diubah putih olehnya, agar kecemasan dan keragu-raguan Keyl sontak menghilang.

“Baiklah ayo berangkat,” yakin Keyl setelah merasa suasana hatinya berubah.

Logan mengangguk dua kali, “Kalian benar-benar perpaduan kekuatan yang tepat.”

Keyl dan Caprice mulai melangkah mendekati dua kursi dalam tabung.

“Mulai sekarang tak ada lagi Keyl dan Caprice, tapi Shin Soojung dan Sam Rinhyo.”

“Shin Soojung?”

“Sam Rinhyo?”

Kedua Acers berbalik menatap Logan tak mengerti.

“Ya, Shin Soojung untuk Keyl, dan Sam Rinhyo untuk Caprice.”

“Baik,” ucap Keyl dan Caprice bersamaan lantas kembali melanjutkan langkah menduduki masing-masing kursi.

Sensor menangkap keberadaan mereka yang telah duduk, membuat kabel-kabel bekerja sendirinya menempeli bagian tulang ubun-ubun, tulang baji, dada kiri dimana letak jantung, juga kedua pergelangan tangan tepat di pembuluh nadi dan vena mereka.

“Aku merasa tersetrum.” Keyl sedikit meringis perih.

“Tidak apa-apa, pasti tidak lama,” timpal Caprice yang juga menahan sakit.

Tiba-tiba sebuah alat terbuat dari alumunium turun dari atas mengenai bahu kanan bagian belakang Caprice dan Keyl membuat kedua gadis itu berteriak. “Aaaaaakh!” Namun tak lama alat itu kembali naik ke atas.

“Apa-apaan tadi? Panas sekali! Sial!” Keyl tak kuasa mengumpat.

“Alat itu memberi tanda bahwa kalian adalah agen dari Planet Ace,” tutur Logan.

Dengan cepat Keyl dan Caprice memastikan tanda apa yang dibuat oleh alat itu di bahu kanan bagian belakang mereka, yang membuat seragam mereka berlubang karena terbakar alat panas tadi. Simbol infinity berwarna biru.

“Simbol itu akan berubah hitam ketika jarak kalian dekat dengan agen dari Planet X, jadi waspadalah dimana-mana karena keserakahan Planet X akan melakukan apa saja untuk menguasai alam semesta lalu menghancurkan kita. Dan juga jangan khawatirkan penampilan kalian, pakaian kalian nanti akan otomatis berubah menyesuaikan normalnya penampilan di sana.”

“Ah, jadi begitu.” Caprice mengangguk mengerti sementara Keyl masih membuang muka kesalnya ke samping.

“Kalian siap?”

“Ya,” jawab Caprice tegas.

“Bagaimana denganmu, Keyl?”

Keyl memejam sebentar menunggu emosinya menurun kemudian menatap Logan, “Baiklah.”

“Siapa nama kalian?”

“Sam Rinhyo.”

“Shin Soojung.”

 

ZERT!

 

***

 

Earth, Seoul—South Korea, 08:52

 

ZERT!

 

Kedua kaki Keyl dan Caprice terhempas di tengah-tengah kesibukan pejalan kaki Hongdae. Keberadaan mereka yang seolah jatuh dari langit tak disadari satupun orang-orang yang tengah berlalu lalang membuat kedua gadis itu mengernyit dengan tatapan aneh.

“Benar-benar tidak ada kepedulian sedikitpun.” Caprice bergumam dalam wajah datarnya.

“Mengerikan!” sahut Keyl.

 

BRAK!

 

Seorang pria tak dikenal menabrak Keyl dari belakang, Keyl menatap pria itu dengan sorot matanya yang selalu dingin, “Aku tidak apa-apa, sebaiknya kau lebih—“ Ucapan Keyl terputus karena pria itu terlebih dulu pergi begitu saja. Dengan kedua mata melebar kesal, Keyl mendesis, “Berhati-hati.”

Caprice menggeleng tak percaya, “Bahkan tidak ada kata maaf.”

Karena turunan kecerdasan klan mereka, kedua gadis itu kini mahir berbahasa Korea.

“Planet ini benar-benar tidak beres! Kita harus segera menemukan serenity stone,” gumam Keyl geram.

“Tapi, lihat itu, El.” Caprice yang kini menengadahkan kepala, menatap langit penuh ketidak percayaan. “Langitnya berwarna biru muda, terang sekali.”

Dengan cepat Keyl mendongak pula, binar kedua matanya terpancar. “Ya, rasanya seperti mimpi, dan matahari ternyata tidak sepanas yang kukira.”

.

.

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Ace-X (I)

  1. Waaw keren kakak berdua, critanya beda dari yg lain, mungkinkh serenity stone itu bola kramik yg dimiliki minho..?
    Penasarn, ditunggu next partnya ^^

  2. Menarik thor ceritanya… pasti mereka berdua bingung y karna manusia bumi udh g salaing peduli atau individu banget.. berhasilkah mereka?? Wah kyu jd jahat nich.. d tunggu kelanjutanya thor

  3. Drmna ya ayah Minho dpt bola keramik itu???
    Jd kdua gdis itu agen Ace yg d utus utk,,mmprbaiki keadaan bumi…
    Sdgkn agen X kblikannya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s