Officially Missing You 4

omy2

Author: Bella Eka.

.

.

“Bagaimana perasaan kalian berperan sebagai sepasang kekasih?”

 

Kyuhyun tersenyum mengangkat mikrofon. “Sungguh suatu kehormatan bagiku bisa beradu akting dengan aktris yang telah dikenal karena keahliannya seperti Sam Rinhyo, sebelum bertemu secara langsung dengannya saja aku sudah sering mendengar jika lawan mainku ini memang seorang aktris yang patut diacungi jempol bakatnya, dan sekarang aku membuktikannya sendiri setelah bekerjasama dengannya langsung. Apalagi ini adalah drama pertamaku jadi tolong berikan cinta dan dukungan pada kami semua.”

Tampaknya Rinhyo wajib memberikan tepuk tangan untuk Kyuhyun yang benar-benar pandai mengatur lidah, senyuman miring gadis itu terulas samar.

 

“Bagaimana denganmu, Sam Rinhyo?”

 

Datang gilirannya, Rinhyo berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan dari salah satu jurnalis. “Aku juga merupakan kehormatan bagiku bisa bekerjasama dengan idol yang ternyata juga berbakat di bidang akting seperti Cho Kyuhyun.” Gadis tak pintar berbicara itu hanya berucap singkat.

 

“Lalu berkaitan dengan rumor-rumor yang menimpa kalian, apakah hubunganmu dengan Shin Soojung baik-baik saja karena kau bertemu lagi dengan Sam Rinhyo yang juga pernah terlibat rumor denganmu, Cho Kyuhyun?”

 

Pertanyaan itu, Kyuhyun telah menduga akan ditanyakan oleh jurnalis konferensi pers ini. Wajah tenang Kyuhyun kembali tersenyum ketika semua orang tampak tegang menunggu jawabannya. “Tentu saja, hubungan kami baik-baik saja.”

 

***

 

Melewati ruang latihan tari, gerak kaki Minho berhenti. Langkahnya yang kelebihan beberapa jangkah kembali mundur, tatapannya menembus pintu berkaca bening memandang Soojung yang tengah menghafalkan koreo sendirian di dalam. Hendak meraih gagang pintu dan membukanya, Minho mengurungkan niat, pikirnya bukan waktu yang tepat bila mengganggu Soojung sekarang, disamping itu juga terdapat kamera cctv yang tentu akan merekam segala interaksi mereka. Bukan saat yang tepat.

“Apa yang kau lakukan berdiri disana, Oppa?”

Minho menoleh mendapati wajah keheranan Kang Seulgi, “Tidak ada. Melihat Soojung sepertinya kelelahan, aku mau mengajaknya membeli minuman tapi karena ada kau sebaiknya kau saja ajak dia beristirahat sebentar.”

“Soojung ada disana?” Seulgi yang lama tak mendapat kabar Soojung menjadi antusias, berjalan cepat membuka pintu ruang latihan, “Ya! Kemana saja kau selama ini?!”

Detik itu juga Minho melangkah, menjauh.

Pekikkan Seulgi membuat Soojung menghentikan gerakan tarinya, tersenyum tipis dengan napas terengah-engah. “Hei, kau mengganggu latihanku.”

Seulgi tak berniat menghiraukan Soojung dan malah menekan tombol speaker untuk menghentikan dentuman musik keras yang memenuhi ruangan, “Minho Oppa bilang kau lebih baik istirahat sebentar.”

“Minho? Kau bertemu Minho Oppa dimana?”

“Disana.” Telunjuk Seulgi mengarah ambang pintu.

Segera Soojung melesat memeriksa, menoleh ke kanan kiri namun tak ada seorangpun, “Kau bercanda denganku?”

“Apa sudah tidak ada?” Seulgi mengangkat bahu tak acuh membalas tatapan tajam Soojung, “Berarti dia sudah pergi.”

“Huh,” desah Soojung kesal. “Tidak seharusnya aku mudah percaya padamu.”

Mwo? Wae? Hanya karena ini kau akan sulit percaya padaku? Jangan konyol, lagipula itu hanya Minho Oppa, untuk apa kau sangat ingin mencarinya?”

Soojung bernapas berat mendekati Seulgi, “Baiklah, kau benar.”

Seulgi mulai merasakan keanehan dalam diri Soojung. Setelah menemukan kejanggalan Choi Minho yang entah untuk apa berdiri di depan ruang latihan tadi dan kini Soojung yang tampak begitu ingin menemui Choi Minho, Seulgi mengernyit, “Apa ada sesuatu diantara kalian?”

“Kau tidak membelikanku minuman? Sia-sia saja kau kesini.” Soojung mengelak dibalik wajah datarnya. Postur wajah tegasnya selalu mendukung gadis itu menyembunyikan perasaan.

“Kau menghindariku.”

“Sesuatu apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti.”

“Karena aku melihat Minho Oppa berdiri aneh disana, kukira dia akan bergabung tapi tiba-tiba dia pergi.”

Bola mata Soojung bergerak pelan menatap ambang pintu itu lagi. Benarkah? Benarkah dia mengamatiku dari sana? Untuk apa?

“Aku tidak bohong,” tukas Seulgi yang membaca tatapan Soojung nampak tak percaya. “Tapi lupakan saja, aku lebih penasaran dengan ini.”

Soojung masih tak bergeming menatapi pintu yang tak bergerak itu. Mengapa hanya mengamatiku dalam diam? Mengapa terus menghindariku? Choi Minho, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku?

“Kau benar-benar berkencan dengan Kyuhyun Oppa?”

Pecah. Suasana hati Soojung berubah jengkel hingga menyalur pada syaraf matanya menatap Seulgi tak suka. Pantas ia merasa janggal ketika Seulgi tiba-tiba begitu semangat menemuinya. Soojung berseru tegas, “Aku tidak akan membahasnya!”

Tapi balasan tanpa jawaban Soojung tak akan membuat gadis penuh rasa ingin tahu itu puas, “Kenapa kau jadi misterius? Oh ayolah, sejak kapan Shin Soojung mulai bermain rahasia dengan Kang Seulgi?”

“Kau saja yang tidak tahu.” Soojung melirik malas seringaian jahil Seulgi, membiarkan teman terdekatnya itu mengira ucapannya sekadar lelucon. Soojung tahu benar watak Seulgi yang kurang lebih mirip dengannya. Terdapat beberapa alasan yang mengawali mereka sampai sebegini dekat. Pertama, golongan darah yang sama. Kedua, selera fashion senada. Dan yang ketiga dan paling penting, sifat mereka yang tak jauh berbeda. Maka itu Soojung tahu persis bahwa Seulgi tak mungkin cukup peka dengan apa yang ia katakan.

“Jadi siapa yang mulai duluan? Tidak mungkin kau jadi pasti Kyuhyun Oppa, kan? Kau bukan tipe gadis yang mudah berkencan jadi aku yakin pasti kalian sudah lama dekat, tapi bagaimana bisa kau tidak pernah bercerita padaku sekalipun, huh? Dasar!” Seulgi mengikuti pergerakan Soojung duduk di atas lantai dengan sandaran dinding berlapis cermin, “Kukira selama ini kau membenci Kyuhyun sunbae karena selalu menghindarinya, ternyata kau hanya membodohiku, ya?” Seulgi mencubiti lengan Soojung kesal.

“Ya! Ya! Hentikan!” Soojung berusaha menangkis serangan Seulgi yang semakin gencar hingga berteriak.

“Ini hukuman untukmu karena tidak mau jujur padaku!”

“Itu hanya rumor, kau jangan percaya.” Soojung mendesah lega begitu Seulgi menghentikan aksi tangannya, “Akhirnya.”

“Jika hanya rumor tidak mungkin agensi mengonfirmasi, kau ingin terus membodohiku?” Kini Seulgi beralih merangkul tengkuk Soojung erat, sangat kuat hingga Soojung kembali memekik.

“Lepaskan! Aku akan menjelaskannya jika kau melepasku!”

“Tidak percaya.”

“Aku janji!” Soojung mendorong Seulgi setelah berhasil menghentikan kebiasaan kekanakan gadis bermata asli pribumi Korea itu, “Kau hampir membunuhku, tahu!”

“Jangan berlebihan, sekarang ceritakan padaku, kau sudah berjanji.”

“Kemarikan telingamu.” Begitu saja Seulgi menuruti Soojung memajukan telinga kanan yang tak terhalang apapun karena rambutnya dikuncir kuda. Soojung berbisik, “Bagaimana ini? Aku juga tidak tahu.”

“Mwoya?! Kau menyebalkan!”

“Itu yang harus kau katakan jika orang lain bertanya tentangku padamu,” sela Soojung cepat saat Seulgi hampir mendaratkan pukulan padanya. “Dengar baik-baik, sebenarnya ini hanyalah…” Soojung sengaja menggantung kalimatnya ketika tiba-tiba pintu sedikit terbuka dan terkejut melihat tangan seseorang meletakkan satu cup jus mangga di atas lantai dekat ambang pintu. “Siapa itu? Tapi terimakasih!”

“Hng? Kau bicara dengan siapa?”

“Entah.” Soojung beranjak mengambil minuman itu dengan wajah berpikir. Jus mangga? Siapa yang tahu aku suka jus mangga selain Choi Minho? Bodoh! Berarti itu Choi Minho! Soojung membuka pintu cepat berharap menemukan Choi Minho disana. Namun lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas kecewa, nihil tak ada siapapun.

“Siapa?” tanya Seulgi mendapat gedikkan bahu Soojung. “Jangan-jangan kau punya penggemar rahasia disini?”

“Kau bicara apa?”

 

***

 

“Hei, Sam Rinhyo! Bisakah kau berhenti membuat sensasi?! Kau mendekati Cho Kyuhyun hanya untuk numpang tenar, kan? Iya, kan?!”

“Awas saja kau mengganggu hubungan Soojung dan Kyuhyun Oppa! Awas kau berulah lagi!”

“Kami tidak akan membiarkanmu tenang!”

 

Suara lantang beberapa gadis dari arah sekumpulan orang yang menonton proses syuting drama mengejutkan Kyuhyun hingga menoleh kearah mereka. Namun di tengah kerumunan tersebut tentu Kyuhyun tak bisa mengetahui siapa tepatnya sang pemilik suara. Lebih dari itu, terdapat hal yang jauh lebih mengejutkan Kyuhyun, Sam Rinhyo sama sekali tak bereaksi bahkan seolah tak merasakan apapun atas segala caci maki yang ditujukan padanya. Di titik ini terbesit rasa asing dalam hati Kyuhyun pada gadis itu, perasaan yang membuatnya tak nyaman.

“Kau tidak mendengarnya?”

“Eo? Mendengar apa?” Rinhyo sekadar menatap Kyuhyun sekilas lalu kembali berfokus pada naskah, menyiapkan diri untuk adegannya bersama Kyuhyun sebentar lagi.

Benar dia tidak mendengarnya? Ini tidak mungkin, tapi memang lebih baik dia tidak mendengar.

“Tidak, bukan apa-apa. Seharusnya kau sudah menghafalkan naskah itu di luar kepala, kalau bisa baca terus walau di rumah atau dimana saja, kau kira aku senang terus mengulang adegan bersamamu?” Kyuhyun sengaja mengalihkan pembicaraan walau tanpa sadar membuatnya terlihat menyebalkan. Pria itu hanya berusaha membuat telinga Rinhyo benar-benar tak punya celah untuk mendengar umpatan-umpatan tak bertanggung jawab itu.

“Iya, iya, aku mengerti. Padahal siapa yang lebih sering membuat NG? Itu kau, kan? Aish!” Rinhyo mendengus.

“Tapi tetap saja, tak masalah jika aku yang salah lagipula kau senang, kan?”

“Senang kepalamu?!”

“Seharian syuting adegan bersamaku pasti kau sangat berbunga-bunga sampai tidak bisa tidur.” Kyuhyun tertawa lepas ketika berhasil membuat Rinhyo mendelik garang.

“Hentikan!”

 

***

 

Kau dimana? Jika sudah pulang beritahu aku akan menjemputmu.

 

Lee Jongsuk berkata akan menjemputnya maka itu Soojung menunggu di lobi gedung agensi sembari meminum cokelat dingin yang baru ia beli di Coffee Corner. Sebelumnya gadis itu telah memberitahu Manajer Park apabila akan bertemu seorang teman dan alhasil gadis itu tertinggal disini sendirian, karena Soojung tidak suka orang lain mencampuri urusan pribadinya dan Manajer Park tahu betul tentang itu.

Soojung mengeluarkan ponsel mengirimi Jongsuk pesan supaya pria itu datang segera. Gadis itu sangat benci menunggu terlebih menunggu seorang diri, jika saja Jongsuk tak memaksanya, Soojung tak akan mau melakukan hal membosankan ini.

Pandangan Soojung yang menunduk terpusat pada ponsel menyadari sepasang kaki bersepatu model pria berhenti di depannya. Soojung mendongak membuat tatapan antara dirinya dan Choi Minho bertemu.

“Ternyata kau masih disini.”

“Kau juga.” Sedikit terkejut, Soojung membalas singkat ucapan datar Minho. Rasanya aneh bertemu Minho secara langsung setelah semua yang terjadi, padahal sebelumnya Soojung begitu ingin bertemu kekasihnya ini.

Napas Soojung tertahan otomatis ketika Minho duduk di sampingnya. Siapapun yang melihat pasti mengira mereka tengah terlibat masalah, karena di sofa panjang ini, Soojung duduk di tepi dan Minho berada di tepi lainnya, jarak mereka terpaut jauh dengan pandangan tak saling menatap. Soojung menyadari terciptanya suasana tak biasa antara mereka namun gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. Hal-hal yang terpikir hendak ia jelaskan sontak buyar begitu Minho berada di depan mata.

“Jadwalmu selesai?”

“Eung.” Soojung melirik sedikit Minho yang terus memandang lurus ke depan, sepertinya pria itu benar-benar tak ingin menatapnya. “Kau?”

“Aku juga.

Lantas hening.

Masih hening.

Beberapa menit hanya terdengar deru napas masing-masing dan sapaan beberapa orang yang kebetulan berada di lobi.

Hingga akhirnya…

“Terimakasih atas jus mangganya, Homin Oppa.” Soojung membuka pembicaraan dengan mengubah panggilan Minho dengan nama yang ia buat sendiri.

Mendengar sebutan baru yang terdengar lebih cocok untuk seorang gadis itu membuat Minho menahan tawa. Bagaimanapun Soojung selalu memiliki cara tersendiri untuk memecah suasana tanpa gadis itu sadari, yang selalu mampu meluluhkan Choi Minho dalam keadaan apapun. “Sama-sama, Jungshin.”

“Jungshin? Soojung Shin?” Soojung tersenyum lega mendapati Minho membalas celetukannya, dengan mudah tawa manis pria itu mengubah berwarna hatinya yang akhir-akhir ini kelabu.

Minho memeriksa arlojinya sejenak, “Sudah semakin malam kau tidak pulang?”

“Oh, itu… Ada yang harus kulakukan.”

“Apa?”

Oppa.” Soojung tak merasa harus menjawab pertanyaan Minho karena terdapat sesuatu lebih penting yang harus mereka bahas, mengenai hubungan mereka. Soojung meneguk ludah berat menatap Minho menoleh padanya, “Kau tidak ingin bertanya apapun padaku?” Sesuatu terasa mengalir cepat dalam tubuh Soojung saat Minho tak langsung menjawab, menatapnya lama dan senyuman tipis penuh artinya menghentikan detak Soojung sekejap.

 

Drrt drrt drrt drrt

 

Ponsel Soojung bergetar tapi tak gadis itu hiraukan, perhatiannya terpusat penuh pada Choi Minho sekarang, menunggu jawaban pria itu.

“Kau sudah siap menjelaskan semuanya?”

Bibir Soojung mengatup ragu. Semuanya?

Tak perlu Soojung katakan, Minho tahu jawabannya. Reaksi Soojung tampak menandakan gadis itu belum siap mengungkap semua. Rahasia dibalik Soojung dan Kyuhyun semakin lama membuatnya geram sebenarnya, namun Minho masih berusaha meredam emosinya, “Sudahlah, kau jawab saja teleponmu.”

Menatap Minho membuat Soojung menghembus naas panjang, kemudian beralih pada ponselnya yang terus bergetar karena panggilan telepon Jongsuk. “Aku akan segera keluar,” ucapnya begitu suara Jongsuk terdengar di telinga.

“Oppa!”

Soojung merasa aneh ketika Choi Jinri—aktris yang lebih dikenal dengan nama Sulli, tiba-tiba datang berlari kecil menghampiri Minho. Dan Minho menjadi seperti menghindari tatapan Soojung. Apa yang terjadi?

“Kau juga disini, Soojung?”

“Ya, sebentar lagi juga akan pergi,” tukas Soojung masih sedikit bingung. Terlebih sekarang Jinri tersenyum manis pada Minho, Minho pun membalasnya kaku, entah kaku karena terpaksa atau karena keberadaan Soojung disini, hal itu membuat Soojung semakin tak mengerti.

“Kajja, Oppa.”

“Kalian…” Ucapan terputus Soojung menarik Minho dan Jinri menatapnya, menunggu sambungan kalimatnya, Soojung mampu melihat ketegangan samar dalam wajah Minho. “Malam-malam begini kalian mau kemana?”

“Ah, Minho Oppa hanya akan mengantarku pulang, kami hanya pulang bersama.”

“Pulang bersama?”

“Eo.” Jinri mengangguk mantap tersenyum kecil, “Mungkin terkadang mampir ke suatu tempat sebentar. iya ‘kan, Oppa?”

Paparan Jinri menandakan bahwa bukan pertama kali mereka pulang bersama, kerutan diantara kedua alis Soojung terbentuk, “Kalian tidak takut tertangkap kamera?”

“Untuk apa takut?”

Soojung terkesiap mendapat jawaban berupa pertanyaan Jinri, begitu mudah dikatakan namun mengapa dirinya tak pernah mampu mengucapkan hal seperti itu atas hubungannya dengan Minho selama ini? Andai saja ia bisa sebab banyak hal yang menahannya tak bisa.

“Jika ketahuan bilang saja tidak ada hubungan apapun diantara kami, begitu saja selesai, kan?”

“Begitu, ya? Mungkin benar juga.”

“Sudahlah kami pergi dulu, Soojung.”

Soojung tersenyum hambar melihat Jinri menarik tangan Minho pergi. Seharusnya ia yang melakukan hal itu, bukan? Soojung tertawa kecil nan miris, gadis itu sadar selama ini egois.

Tapi tunggu, sebentar, untuk apa Jinri sampai menggandeng tangan Minho jika tak ada hubungan apapun diantara mereka? Minho tidak sedang terjatuh atau membutuhkan uluran tangan Jinri jadi untuk apa? Meski Soojung sempat melihat Minho berusaha melepas tangannya namun tetap saja Soojung merasakan adanya sesuatu yang tak ia tahu dibalik mereka. Soojung menggeleng cepat mengusir pemikiran buruknya. Tidak mungkin Minho mengkhianatinya di belakang, bukan?

 

Drrt drrt drrt

 

“Astaga, aku lupa Jongsuk Oppa.”

 

***

 

Berada dalam kamar mandi khusus wanita, genggaman ponsel tangan kanan Rinhyo bergetar. Menatapi berbagai komentar negatif tentang dirinya membuat gadis itu terasa terasingkan. Seharusnya ia mampu bertahan, seharusnya ia tak merasa sesakit ini mengingat pembenci akan selalu ada mengiringi profesinya.

Rinhyo mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku mantel. Memandang pantulan wajah lelahnya di cermin wastafel. Mengerahkan kekuatan guna menarik kedua ujung bibirnya membentuk senyum. Seperti inilah public figure yang benar, seperti inilah aktris harus bekerja.

Namun dorongan panas di kedua matanya tak tertahankan lagi membuat cairan bening jatuh mengaliri pipinya, isakan-isakan kecil akibat sesak dalam dadanya mulai keluar. Setidaknya disini tak ada orang melihatnya. Berhenti berakting sesaat saja tidak apa-apa, bukan? Gadis itu mengangguk dan berakhir menunduk dalam. Ya, aktris tak harus setiap saat berakting, bersikap baik-baik saja saat semua jelas sebaliknya bukan perkara mudah. Rinhyo butuh ruang bernapas, Rinhyo butuh waktu untuk berhenti menipu diri sendiri.

Sebelum seseorang menemukan keadaan menyedihkan dirinya, dengan gerak cepat Rinhyo memutar kran lantas membasuh wajah, make-up tak lagi dibutuhkan sebab proses syuting usai sudah. Rinhyo mengusap wajah dengan tisu yang ia ambil dari dalam tas jinjing, kemudian menyemprotkan cairan oksigen beberapa kali pada wajahnya agar kembali tampak segar sebelum bergegas. Pasti Manajer Jang telah lama menunggunya untuk pulang.

 

Duk!

 

Terdengar benturan sesuatu saat Rinhyo membuka pintu.

“Aish!”

Mendengar desisan seorang pria, Rinhyo segera menutup pintu dan mengucap maaf seraya membungkuk dalam, “Jusunghamnida.” Tampaknya orang itulah yang terbentur pintu Rinhyo tanpa sengaja.

“Kau lagi, kau lagi.”

Rinhyo yang masih dalam keadaan membungkuk, sontak melebarkan mata mendengar suara menyebalkan Cho Kyuhyun. Bodohnya ia tak memastikan siapakah pria itu terlebih dulu, karena Cho Kyuhyun tak seharusnya diperlakukan seperti itu.

Rinhyo menegakkan badan, menatap malas Kyuhyun yang masih mengusap kepalanya. “Oh, ternyata hanya kau.”

Kyuhyun membelalak tak terima. “Hanya aku? Maksudmu?”

“Tidak ada, aku hanya lega bukan seseorang yang penting.”

“Mwo? Tch!” Kyuhyun mendecih ketika Rinhyo melewatinya begitu saja, namun sesuatu aneh di wajah Rinhyo membuatnya tertegun. Kedua mata gadis itu, membengkak. “Ya! Berhenti disana!”

Rinhyo semakin mempercepat langkah menghindari Kyuhyun sebisa mungkin.

“Sam Rinhyo! Berhenti kataku!” Kyuhyun menahan tangan Rinhyo menghentikan gadis itu. “Apa yang terjadi?”

Rinhyo sengaja membungkam, membuang muka ke arah lain setiap Kyuhyun berusaha menatapnya.

“Seseorang mengganggumu lagi?”

“Apa urusanmu?” Rinhyo berujar pelan namun tegas.

Kyuhyun menghela napas, dugaannya benar. “Jangan dengar semua omong kosong tentangmu, jangan melihat apa yang tidak perlu kau lihat.”

Senyuman miring Rinhyo terulas, Kyuhyun berbicara seolah dia lah seseorang paling bijak di dunia. “Kau merasa punya hak berkata begitu?”

“Ya.”

“Apa?” sinis Rinhyo.

“Aku berhak untuk bertanggung jawab padamu.”

“Bertanggung jawab?” Rinhyo melepas tangannya dari genggaman Kyuhyun, menengadah mengarahkan tatapan remehnya tepat di kedua mata pria itu. “Dalam hal apa?”

Dalam hal apa? Pertanyaan itu terlalu sulit bagi Kyuhyun yang tentu harus membuktikan ucapannya. Kyuhyun memejam frustasi memikirkan apa yang bisa ia lakukan sebagai pertanggung jawaban atas semua ini pada Sam Rinhyo. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana ia harus menjawab? Otak Kyuhyun kini berputar keras.

“Kurasa tak ada yang bisa kuharapkan dari pertanggung jawabanmu.” Kaki Rinhyo bergerak hendak berbalik namun terhenti oleh Kyuhyun yang kembali meraih pergelangan tangannya.

“Apa yang kau inginkan? Apapun. Akan kulakukan semua untukmu sebagai pertanggung jawabanku.”

Rinhyo tak terkejut sedikitpun. Lebih tepatnya, gadis itu tak akan menaruh kepercayaannya pada janji manis Kyuhyun dengan mudah. “Sudahlah, tidak perlu berusaha menghiburku, aku tak butuh.”

“Menghibur? Terserah kau menyebutnya apa.” Kyuhyun menajamkan tatapannya, sedikit kesal dengan sorot mata Rinhyo yang terus datar. “Tapi pria sejati tak akan main-main dengan ucapannya, sebaliknya dia adalah pecundang. Kau pikir aku sudi menyebut diriku sendiri seorang pecundang?”

Tubuh Rinhyo dibuatnya tersentak, kedua matanya melebar sejenak. Kyuhyun bertutur semacam itu padanya benar-benar sulit dipercaya. Ini adalah kali pertama Rinhyo menemukan tatapan berambisi Kyuhyun setelah sekian lama semenjak masa sekolah mereka, semenjak Kyuhyun menganggapnya sebagai rival dalam bidang akademik sekolah.

 

Gwangju Junior High School, 1995

 

“Bagaimana bisa kau…” Kyuhyun sontak menatap sebal Rinhyo begitu menemukan dirinya dikalahkan oleh gadis itu, meski nilai mereka tak jauh berbeda namun tetap saja Kyuhyun benci berada di posisi nomor dua semester itu.

“Aku benar-benar tidak menyangka, aku tidak pernah terpikirkan bisa terjadi seperti ini.” Rinhyo tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya, senyuman gadis polos itu terulas lebar. “Pasti ibu akan sangat senang.”

“Bagus sekali.” Kyuhyun tersenyum miring. “Selamat atas kemenanganmu.”

“Terimakasih.”

“Terimakasih? Ya, aku sangat tulus memberimu selamat.” Tatapan Kyuhyun melirik Rinhyo tajam. “Selamat kau telah berhasil menghambat mimpiku.”

 Rinhyo meneguk ludah berat. Ucapan Kyuhyun membuat perasaannya dipenuhi rasa bersalah. Sebenarnya Rinhyo tak ingin menjadi penghambat, Rinhyo hanya ingin Kyuhyun tetap berada di sini dan tidak pergi untuk menjadi seorang trainee di Seoul.

“Bagaimana perasaanmu? Sebesar itukah rasa sukamu padaku? Kau sengaja melakukan ini agar ayahku tidak mengijinkanku pergi tahun ini dan menyuruhku memperbaiki nilai di tahun depan, kan?”

Rinhyo masih terdiam mendengar segala tuduhan Kyuhyun. Kyuhyun benar, tapi juga tidak. Benar bahwa ia mengalahkannya untuk menahan Kyuhyun pergi namun tidak benar ia berusaha menghambat mimpi Kyuhyun. Lalu bagaimana ia harus membela dirinya sekarang?

“Kau sudah mendengarnya saat aku berada di ruang Bimbingan Konseling, kan? Saat aku menemukanmu di luar begitu aku membuka pintu. Aku tahu kau dengar semuanya, jika ayahku akan membolehkanku pergi ke Seoul setelah semester ini selesai dengan syarat mempertahankan posisi nomor satuku. Tapi tiba-tiba kau… Aku tahu kau sengaja, kan?”

“Terserah!” Kedua tangan Rinhyo mengepal tak tahan. “Kau kira duniaku hanya dipenuhi dirimu? Kau kira semua alasanku melakukan sesuatu hanya karenamu? Aku juga punya ayah dan ibu, kau kira hanya kau yang boleh membanggakan orangtua?!”

“Bukankah memang begitu? Bukankah kau memang selalu mengikutiku kemana pun? Tentu saja siapapun boleh membahagiakan orang tua, kau juga, tapi berhentilah menjadi stalker dan cari jalanmu sendiri!”

 

“Kau benar-benar akan melakukan apapun yang kuminta?” Rinhyo mendesis penuh emosi mengingat perlakuan Kyuhyun di masa lalu yang membuatnya selalu membenci pria itu.

“Selama aku mampu melakukannya.” Kyuhyun terdengar ragu. Sedikit khawatir tak mampu.

“Berhentilah menganggapku stalker dan berhentilah menanyakan keadaanku, aku sama sekali tak butuh bantuanmu. Itu permintaanku.”

 

***

 

“Terimakasih atas tumpangannya.” Soojung yang hendak membuka sabuk pengaman, ditahan tangannya oleh Jongsuk. Kedua alis gadis itu terangkat menatap Jongsuk. “Hm?”

“Sebentar saja.”

Wae? Ada yang ingin kau bicarakan denganku?”

Jongsuk menghela napas panjang. “Tinggallah sebentar.”

Soojung mengernyit, merasa aneh karena Jongsuk tak melepas genggamannya. Tatapan Jongsuk padanya juga tak biasa, seperti ada yang disembunyikan, seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi juga terdapat kekosongan di sana. Ah, entahlah, Soojung tak mampu mengartikannya. “Ada apa denganmu, Oppa?”

“Tentang hubunganmu dan Kyuhyun…” Kedua mata Jongsuk menyendu. “Apakah benar?”

“Oh, jadi karena itu?” Soojung menarik tangannya dari Jongsuk lantas melepas sabuk pengaman. Tentu saja, di saat seperti ini semua orang pasti penasaran tentang hubungannya dengan Kyuhyun, tak terkecuali Jongsuk. “Maaf tapi aku tidak ingin membahasnya. Aku pulang dulu.”

Jongsuk kembali meraih tangan Soojung saat gadis itu hendak membuka pintu. “Tunggu, tinggallah sebentar lagi.”

 

Tuk tuk.

 

Seorang pria bermasker mengetuk jendela samping Soojung, sontak Soojung bergegas memakai maskernya sebelum orang asing itu mengenalinya. “Sepertinya dia wartawan, bagaimana ini?”

“Kita pergi saja dari sini.” Jongsuk bersiap melajukan mobil.

“Tidak! Jika begitu akan semakin mencurigakan, aku keluar saja.”

“Tapi—“

Soojung membuka pintunya cepat, melangkah keluar tanpa memerhatikan pria itu sedikit pun, ia harus memasuki gedung apartemen segera. Namun seseorang menarik tangannya, pria asing itu, membuat Soojung berusaha melepas genggaman pria itu paksa. “Ya! Apa yang kau lakukan?! Siapa saja tolong aku!” Soojung berteriak keras.

“Tenanglah, ini aku.”

Suara itu membuat Soojung tertegun, suara Choi Minho. Dia bukan pria asing tapi Choi Minho.

Tapi Jongsuk terlanjur keluar dari mobil, rasa cemasnya membuat Jongsuk tak mampu berpikir. “Lepaskan Soojung!”

Dengan cepat Minho mengarahkan Soojung berpindah memasuki mobil hitam miliknya, berputar menuju kursi kemudi dan segera melaju kencang.

“Sial!” Jongsuk mengeluarkan ponselnya, tampak menelepon seseorang. “Yeoboseyo? Baru saja terjadi penculikan di depan gedung apartemen daerah Gangnam, korban dibawa pergi oleh mobil berplat nomor…”

.

.

-TBC-

Advertisements

7 thoughts on “Officially Missing You 4

  1. Aaaaa… bakal ketahuan dong hub mereka?? Tp g pa2 sich tp koq harus ketahuan saat minhi menculik soojung?? D tunggu kelanjutannya thor

  2. haduh2 knpa jadi kyak gini..
    Kalo jongsuk sampai tahu plat no.nya bsa gawat nih, bsa2 hubungan mereka ketahuan publik.. Haduh bsa jdi berita terpanas nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s