Pure Love 2

Pure Love

 

Author: Bella Eka.

..


.

“Shin Soojung-ssi! Jangan terlalu berharap!”

 

Kepala Myungsoo menoleh cepat ke belakang, menemukan seorang gadis berjalan keluar dari kafe ini dengan tergesa. Shin Soojung? Apa dia Shin Soojung-ku?

“Ada apa, Yeobo? Kau mengenalnya?” Gadis di depan Myungsoo menatap suaminya itu curiga.

Eo? Tidak, mungkin hanya namanya saja yang sama.”

 

***

 

Duduk di kursi halte, Soojung mendengus kasar. Berharap mendapat harapan baru dengan bertemu Choi Minho tapi malah terjerumus dalam mimpi buruk Kim Myungsoo. Melihat pria itu bersama istrinya tadi rasanya, astaga, untuk apa memikirkannya? Kim Myungsoo tidak lagi penting, dia hanya terus menggiringnya ke situasi-situasi genting. Seperti saat pria itu mengajaknya meneruskan hubungan diam-diam walau jelas dia dijodohkan dengan gadis kaya lain. Hanya gadis idiot yang mau dibodohi dan gila harta saja yang akan menyetujui, bukan Shin Soojung, walau sampai kekuasaan Myungsoo setinggi presiden juga ia tak akan mau.

Namun bagaimanapun, Soojung jugalah gadis biasa yang hanya bermodal ketulusan cinta, yang masih tak baik-baik saja melihat pria yang ia cintai bersanding dengan gadis selain dirinya. Usia hubungannya dengan Myungsoo tidaklah sebentar, empat tahun, butuh waktu bagi Soojung melupakan semuanya.

Soojung menghela napas dalam. Semua orang tahu melupakan tak semudah membalik tangan, berusaha menyembuhkan luka tak semudah jatuh cinta, karena itu ia harus bisa menghindari Myungsoo semampu mungkin untuk mendorong perasaan dan pikirannya agar segera terbebas dari jeratan kenangan pria itu.

 

BIP BIP!

 

Suara klakson yang berasal dari mobil hitam berhenti di depan halte Soojung membuat gadis itu penasaran, sama sekali Soojung tak mengenal mobil itu, kedua mata gadis itu menyipit menunggu kaca mobil perlahan terbuka.

Ya! Kau tidak bawa kendaraan? Butuh tumpangan?”

Ternyata Choi Minho. Soojung menggeleng menanggapi, “Tidak.”

“Kenapa? Lagipula mobilku kosong.”

“Aku tidak ingin mendapatkan bantuan darimu selain yang kita bicarakan tadi. Tolong pertimbangkan baik-baik, aku tidak meminta apapun selain itu darimu.”

Minho tertawa pendek, Soojung yang sangat perhitungan membuatnya percaya tidak percaya akan adanya gadis macam itu di dunia. “Jadi kau tidak akan menerima kebaikanku selain menerima permintaanmu? Baiklah, terserah kau saja.” Minho menutup kaca mobilnya kembali namun sesaat masih terbuka separuh, “Hati-hati gadis di halte sendirian biasanya jadi mangsa para penculik.”

“YA!”

“Jaga jantungmu baik-baik! Harganya sangat mahal!”

“Kemari kau pria sialan!”

Minho lekas menutup sempurna kaca mobilnya lantas melaju kencang ketika Soojung berdiri kesal dengan kepalan tangan terangkat di udara.

“Menyebalkan! Bagaimana bisa ada eksekutif muda kekanakan seperti dia? Sulit dipercaya!” Soojung memejam frustasi. “Dan aku meminta bantuan pada orang sepertinya? Ya Tuhan, apa tindakanku memang benar?”

“Noona!”

Mendengar suara teriakan, Soojung menoleh ke kanan lalu kiri, terheran tak ada siapapun.

“Di depanmu, Noona!”

“Kim Hanbin!” Soojung melambaikan tangan pada Hanbin yang ia temukan di seberang jalan besar tanpa zebra cross ini.

“Aku akan ke sana!” Hanbin menyeberang jalan setelah memastikan sepinya kendaraan, menghampiri Soojung yang berdiri di halte. “Kulihat tadi kau berbicara sendiri, ada apa?”

“Benarkah?” Soojung tersenyum tipis menyentuh tengkuknya canggung. Benar-benar memalukan. “Aku tidak bicara sendiri, aku hanya…” Soojung mengalihkan pandangan ketika Hanbin mendekatkan tatapannya. “Sedikit bergumam.”

“Bergumam? Sepertinya tidak.”

“Sudahlah, tidak penting juga.” Telunjuk kanan Soojung mendorong dahi Hanbin menjauh. “Kau sendiri untuk apa disini?”

“Apartemenku di daerah ini, kan?”

Soojung mengernyit memastikan sekitar. Benar juga, Distrik Songpa memang area tempat tinggal Hanbin. “Oh, iya aku ingat.”

“Aku sedang menuju kedai tteokbokki, ikut denganku?”

“Apa? Tidak, lain kali saja.” Soojung melihat sebuah bus mulai nampak dari kejauhan. “Busnya sudah datang.”

 

***

 

Soojung sibuk di depan laptop miliknya yang terbuka. Seraya meminum jus mangga dalam kotak melalui sedotan, gadis itu mencermati setiap halaman website dimana terpampang lowongan kerja. Meski telah meminta bantuan Choi Minho bukan berarti Soojung begitu saja mengandalkan pria itu sepenuhnya, apalagi Choi Minho tampaknya tak bisa terlalu diharapkan.

 

Dicari lulusan akuntansi…

Dicari lulusan psikologi…

Dicari lulusan ekonomi…

Dicari lulusan teknik mesin…

 

Soojung membanting kotak kardus minumannya yang telah kosong di atas meja. Helaan napas menyedihkannya semakin lama terdengar merengek hampir menangis. Selama tiga jam dirinya duduk disini tak satupun menyebutkan lulusan jurusan seni pada lowongan kerja.

Kenapa ia tidak mendaftar sebagai penyanyi saja? Atau menulis lirik lalu mengaransemen musiknya hingga menjadi sebuah lagu? Atau membentuk band bersama teman-teman satu jurusan kuliahnya dulu? Atau melukis sesuatu yang hebat seperti milik Pablo Picasso? Atau…

Soojung mengacak rambutnya kasar. Gadis itu telah mencoba semuanya dulu, satu per satu bidang seni pernah dijajalnya namun sebelum semua itu selesai dan tercapai selalu saja ucapan-ucapan seperti…

 

“Soojung-ah, berhentilah mencoba sesuatu yang tidak pasti.”

“Soojung­-ah, pekerjaan seperti itu tidak akan bertahan lama.”

“Soojung-ah, lebih baik kau bergabung dengan sebuah perusahaan.”

“Soojung-ah, ayah dan ibu hanya ingin kau mendapatkan kehidupan yang lebih terjamin, bergabunglah dengan perusahaan Myungsoo.”

 

Atau yang baru-baru ini…

 

“Soojung-ah, sebaiknya terima saja tawaran Myungsoo.”

 

Rambut Soojung yang semakin diacak-acak oleh tangannya yang frustasi kini mengembang layaknya singa. Gadis itu tak mampu lagi berpikir, keinginan pribadinya sungguh bertentangan dengan harapan ibu dan ayah. Dan gadis itu, sejatinya adalah seorang gadis penurut yang takut akan karma membantah orang tua. Perbedaan itulah yang membuat nasib gadis itu terus saja terombang-ambing tak tentu arah.

 

Ting!

 

Dering samar ponselnya menandakan sebuah pesan. Orang macam apa yang mengirimi pesan tengah malam seperti ini? Bahkan biasanya operator lebih sopan dengan tidak mengganggu tidur penggunanya. Seraya menggerutu dalam hati Soojung meraba ranjang mencari ponsel yang ternyata tersembunyi di bawah salah satu bantal.

 

From: Eksekutif Muda Choi.

Hei, gadis gila!

 

“Mwoya?!” Panggilan menyebalkan itu membuat Soojung mendesis kesal, mengernyit sebal. “Siapa sebenarnya yang gila?!”

Tak lama kemudian datang sebuah pesan baru lagi dalam ruang obrolan yang sama.

 

Oh, kau membaca pesanku! Jadi belum tidur? Benar-benar menungguku sampai begadang, ya? Hahaha bersemangat sekali.

 

“Bersemangat pantatmu?! Tck!” Soojung menggerakkan tangannya cepat membalas pesan itu dengan wajah merengut geram.

 

Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, Tuan Choi?

 

Drrt drrt drrt

 

Tiba-tiba ponsel Soojung bergetar, menampakkan Choi Minho tengah menelepon. Kenapa tiba-tiba sekali? Soojung berdehem pelan sebelum menjawab telepon itu, mengubah raut wajah lebih ramah meski jelas Choi Minho tak mampu melihatnya, terlalu mendalami peran.

“Yeoboseyo?”  Soojung mengatur suara sesopan mungkin karena bisa saja Minho akan memberitahu sesuatu yang dapat mengubah hidupnya.

Kenapa jadi selembut ini? Sedang berakting?

“Apa yang kau bicarakan? Mungkin karena kau membangunkan tidurku jadi suaraku menjadi lebih pelan.”

Jadi maksudmu kau terganggu karena teleponku? Baiklah kututup sekarang. Padahal aku berniat menyampaikan sesuatu yang penting.

Panik. Soojung menggeleng-gelengkan kepala berusaha mencegah Minho agar tidak menutup sambungan telepon. Gadis bodoh, harus berapa kali ia harus mengingat bahwa Minho tidak bisa melihatnya sekarang?

“Jangan, tidak, bukan itu maksudku, kau sama sekali tidak mengganggu. Jadi apa yang ingin kau sampaikan, Minho-ssi?”

Aku sudah mendiskusikannya dengan ayahku, kau ditolak, perusahaan kami tidak sedang membutuhkan tambahan karyawan. Itu saja. Kututup sekarang, lanjutkan tidurmu.”

 

PIP

 

Tangan Soojung meremas ponselnya kuat begitu mendengar sambungan telepon terputus. Bahkan Minho tak memberikan kesempatan untuknya berbicara setelah menyampaikan kata-kata dingin tak berperasaan itu. “Sial!”

 

***

 

“Menghubungi siapa?”

“Gadis gila yang waktu itu.” Minho berucap datar seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku menanggapi pertanyaan Woobin yang tengah menyetir.

“Gadis yang kau siram minuman itu?”

“Aku tidak bermaksud, jangan berkata seolah aku sengaja.”

“Jadi kau sudah berhasil mendapatkan nomornya? Wah, kau memang hebat, Minho-ya”

“Tck!” Minho menoleh menatap Woobin jengah. “Sudah kubilang aku tidak bermaksud begitu padanya!”

Woobin terkekeh ringan. “Lalu untuk apa kau menghubunginya? Tadi kau bilang dia ditolak? Dia melamar pekerjaan di perusahaanmu?”

“Tidak melamar secara resmi, hanya meminta bantuanku.”

“Jadi sudah sejauh itu hubungan kalian? Saling membantu satu sama lain?” Woobin kembali tertawa jahil melihat Minho menatapnya kesal.

“Susah sekali berbicara dengan orang berpikiran pendek sepertimu.”

“Bukankah kau memang sudah biasa mendekati banyak gadis? Kenapa tidak dengan gadis itu? Kau pesimis?”

“Mwo?” Minho membelalak tak tahan. “Bicaramu sudah kelewatan!”

“Lalu apa? Kau hanya berani mendekati gadis yang sudah pasti menyukaimu? Kau tidak berani dengan gadis pemberontak seperti dia?”

“Sudah kukatakan aku tidak berniat mendekatinya, lagipula dia di luar tipeku.”

“Lalu tipemu sebenarnya hanyalah gadis murahan yang dengan mudah kau dapatkan?”

“YA! Kau benar-benar kelewatan, Kim Woobin!” Minho membuang tatapannya ke jendela samping. “Aku tidak pernah berniat mempermainkan gadis baik-baik sepertinya.”

“Gadis baik-baik? Menurutmu begitu?”

Minho terdiam. Pertanyaan Woobin membuat pandangannya menerawang kembali mengingat pertemuannya dengan Soojung tadi malam, mengingat Soojung yang berpenampilan seadanya, mengingat gadis itu yang datang tanpa riasan berlebihan bahkan kurang. “Ya, dia polos, aku yakin dia bukan gadis seperti yang biasa kita temui di klab. Dia juga menghubungiku hanya karena sedang berkebutuhan mendesak untuk mencari pekerjaan. Hanya saja…”

“Hm? Hanya saja apa?”

Minho mendesah kasar. “Hanya saja dia benar-benar tidak sopan! Dia sama sekali tidak memohon agar aku menerimanya bekerja dengan senang hati, bahkan dia mengancamku dengan mengatakan jika aku berhutang padanya karena minuman yang kutumpahkan itu. Bagaimana bisa ada gadis seperti itu di zaman seperti ini? Dia itu benar-benar.”

“Karena itu kau menolaknya? Memangnya kau sudah benar-benar mendiskusikannya dengan ayahmu?”

“Tidak, aku tidak akan memberinya kesempatan. Tidak-akan.”

“Jadi kau hanya mengarang cerita?” Lagi-lagi Woobin tertawa. “Sudah kuduga, Choi Minho, kau memang seperti ini.”

Minho menghela napas singkat. Sebenarnya ia masih meragukan keputusannya, haruskah ia menerima gadis itu atau memang tindakannya telah benar? Tapi bagaimana jika gadis itu benar-benar sangat membutuhkan bantuan darinya? Meski tak mengerti makna hutang yang Soojung tekankan, namun kini hutang itu mulai menjadi beban dalam hatinya.

“Waktunya bersenang-senang.” Woobin memberhentikan mobil di lahan parkir sebuah klab.

Setelah membuka pintu, Minho mulai melangkah berat keluar. Wajah Soojung yang nampak lelah ketika menemuinya tadi terus melekat dalam pikiran Minho. Minho menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, ini tidak boleh terjadi, ia tidak boleh merasa kasihan pada gadis yang memperlakukannya semena-mena seperti Soojung. Woobin telah membawanya ke tempat ini, klab, bagaimanapun sekarang adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang, bukan terus memikirkan kehidupan Shin Soojung.

 

***

 

Hari masih pagi tapi Soojung yang berada di balik meja kasir toko bunga sudah berulang kali menjatuhkan kepala di atas meja, menghasilkan bunyi benturan-benturan kecil yang membuat perhatian Seulgi dan Hanbin teralih menatapnya.

“Soojung noona tidak tidur semalaman?” Bisik Hanbin yang bertugas sebagai penyambut pengunjung di ambang pintu pada Seulgi yang berdiri di tengah lajur jajaran bunga.

Seulgi menggedik bahu. “Aku juga tidak tahu,” bisiknya lantas melanjutkan kegiatan mengelap daun-daun lebar agar tampak bersih berkilauan.

 

Duk!

 

“Aish! Tck!” Desisan disertai decakan Soojung kembali membuat Seulgi dan Hanbin menatapnya heran. Soojung mengusap kepalanya yang baru saja terbentur—lagi,  lalu kembali menyanggah kepala dengan kedua mata terpejam.

“Soojung.”

Soojung membuka mata mendengar panggilan Seulgi, mengernyit menatap kedua temannya yang kini memandang aneh dirinya itu. “Astaga, aku tidak boleh seperti ini!” Soojung menepuk-nepuk keras pipinya berusaha menyadarkan diri agar tak tertidur lagi.

“Apa yang kau lakukan semalaman? Kau tidak tidur?” tanya Seulgi.

“Hmm aku…” Soojung menguap singkat ditutupi tangan kanannya. “Sedang mencari pekerjaan sejak kemarin tahu-tahu sudah pagi.”

“Pekerjaan? Kau ‘kan sudah punya dua?”

“Maksudku pekerjaan resmi.”

“Mencari perusahaan? Seperti yang diinginkan kedua orang tuamu?”

“Eo.” Soojung mengangguk lemas. “Dimana kira-kira perusahaan yang mau mempekerjakan lulusan seni sepertiku?”

“Sudahlah, bekerja keraslah di bidangmu saja, Soojung.”

“Inginnya aku juga begitu.” Soojung menguap lagi lalu beranjak. “Seandainya bisa.”

“Mau kemana?”

“Mencuci muka, aku kesal mengantuk terus.”

 

Kring kring.

 

“Selamat datang,” ucap Hanbin dan Seulgi bersamaan menyambut seorang pria yang baru saja masuk.

Namun Soojung, kedua matanya melebar terkesiap melihat siapa yang datang. Pria itu tersenyum tipis dengan tatapan menyedihkan padanya, membuat kedua tangan gadis itu mengepal muak.

“Akhirnya aku berhasil menemukanmu.”

Soojung mengatupkan bibirnya rapat. Sia-sia sudah. Usahanya menghindari Kim Myungsoo dari jauhnya Busan menuju Seoul dan berakhir tertangkap benar-benar tak berguna.

“Bolehkah aku membawa Soojung keluar sebentar? Ada sesuatu yang harus kubicarakan dengannya.”

“Tidak!” sahut Soojung membuat Seulgi yang hendak menjawab kembali menutup mulutnya cepat. “Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Silakan jika kau kemari untuk membeli bunga tapi kami tidak akan melayani tujuan lainnya.”

Menatap Soojung, sorot mata Myungsoo tersirat penuh harap. “Hanya sebentar, tidak akan lama.”

“Tidak untuk alasan apapun!” Soojung duduk kembali di balik meja kasir, melupakan keinginan sebelumnya untuk mencuci muka. Kedatangan Myungsoo merusak segalanya.

Soojung begitu menolak kedatangannya, Myungsoo menghela napas. Ia benar-benar butuh bicara dengan gadis itu. Myungsoo beralih menatap Seulgi dengan mata elangnya hingga gadis itu sedikit berjengit. “Bagaimana? Boleh, kan?”

“Tapi.. Soojung…” Tanpa sadar Seulgi menggigit bibir bawahnya, entah mengapa merasa terintimidasi akibat tatapan tajam pria yang tak dikenalnya itu.

Myungsoo tak bisa menunggu jawaban Seulgi lebih lama, segera ia beranjak ke balik meja kasir menarik Soojung keluar. Gadis itu meronta-ronta tapi tak Myungsoo lepaskan, alhasil semakin membuat Myungsoo mencekat lebih erat tangannya.

Tangan Soojung berhasil terlepas dari cengkeraman Myungsoo begitu berada di luar toko. Sejenak Soojung mengusap pergelangan tangannya yang memerah, sangat nyeri hingga membuatnya sedikit meringis sakit. Inilah sikap Myungsoo yang selama ini ia benci, selalu berubah kasar ketika tak mendapat apa yang ia inginkan. Dulu Soojung akan mencoba bersabar memaklumi karena dialah kekasihnya tapi sekarang, Soojung tak sudi lagi.

“Apa sangat sakit?”

Soojung menghempaskan tangan Myungsoo ketika pria itu menyentuh pergelangan tangannya yang memar. “Cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan.” Soojung berujar dingin.

“Maafkan aku dan jangan menghindariku lagi, ya?”

Seringaian Soojung terulas bersamaan Myungsoo meraih kedua tangannya, membalas genggaman Myungsoo membuat pria itu tersenyum lega sebelum kemudian berucap lembut, “Kau kira aku senang bertemu denganmu?”

Terkejut, senyuman Myungsoo menghilang berganti kerutan di dahinya terbentuk. “Apa?”

Menatap tajam Myungsoo, Soojung melempar tangan pria itu kasar. “Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!” pekiknya lantas bergegas kembali memasuki toko. Mendesah kasar menemukan Seulgi dan Hanbin yang salah tingkah begitu tertangkap basah tengah mengintip. “Apa yang sedang kalian lihat? Ayo kembali bekerja.”

 

***

 

“Ada apa Presdir memintaku kemari?” Minho yang baru saja memasuki ruang Presdir, menutup pintu lantas mengambil tempat di depan meja Presdir sekaligus ayahnya itu.

“Sekretaris Park mengundurkan diri dari pekerjaannya.”

Minho melebarkan mata. Sekretaris Park adalah pria terpercaya yang telah menemani ayahnya selama berpuluh tahun. “Kenapa tiba-tiba?”

“Dia didiagnosis kanker dan harus segera menjalani operasi, usianya juga sudah mencapai pensiun,” jelas Presdir Choi sedih.

“Sayang sekali.” Minho turut merasa kehilangan, sebab Sekretaris Park merupakan salah satu orang yang terlama ia kenal di perusahaan ini selain sekretarisnya sendiri—Sekretaris Baek. Kehilangan salah satu dari kedua pria itu sama saja seperti kehilangan anggota keluarganya sendiri bagi Minho.

“Karena itu kau harus mencari sekretaris baru.”

Minho mengangguk-angguk mengerti. “Baiklah aku akan memberitahu Sekretaris Baek agar menyebarkan pengumuman lowongan kerja untuk mengisi sekretaris Presdir yang baru.”

“Bukan untukku, tapi untukmu.”

“Nde?” Kelopak mata Minho membesar sempurna. “Kenapa aku? Sekretaris Baek tidak mengundurkan diri juga, bukan?”

“Tentu tidak, tapi Sekretaris Baek yang akan menggantikan Sekretaris Park, dan kau carilah sekretaris baru untukmu.”

“Tapi…”

“Bukan sembarang orang yang bisa menjadi sekretaris, karena itu aku memutuskan memilih Sekretaris Baek sebagai pengganti Sekretaris Park. Sejauh ini mereka berdua lah orang-orang luar yang paling kupercaya. Karena itu, kau, segera temukan orang lain untuk mendampingimu di posisi sekretaris, adakan perekrutan resmi atau pilih seseorang untuk kau jadikan pegangan.”

“Tapi Sekretaris Baek juga orang yang paling kupercaya di perusahaan ini, Abeoji.”

“Aku bersama Sekretaris Baek sedang mempersiapkan untuk menghadiri rapat kerjasama di Thailand lusa, tentukan siapa sekretaris penggantimu secepatnya jika tidak ingin bekerja sendirian.”

“Kalau begitu apakah…” Minho berucap ragu, sesuatu mendadak menghinggapi pikirannya. Shin Soojung, wajah gadis itu tiba-tiba terlintas. “Lebih penting seseorang yang kupercaya atau seseorang yang kompeten?”

“Hmm.” Presdir Choi nampak berpikir seraya memandang sekeliling sejenak. “Dia yang kau percaya.”

”Bagaimana bisa?” Minho tertegun.

“Kau belum mengerti juga peran sekretaris sebenarnya? Posisi sekretaris jauh berbeda dengan jabatan lainnya. Sekretaris lah yang akan menemanimu kapan pun diperlukan, yang bisa memengaruhi pemikiranmu untuk mengambil keputusan terbaik dan mampu menjaga rahasia, karena itu haruslah seseorang yang kau percaya. Untuk tingkat kompetensi semua bisa diajarkan pada siapa pun. Tapi…” Presdir Choi menatap penuh telisik Minho yang terlihat sedikit melamun. “Kau sudah menemukan seseorang itu, Choi Minho?”

“Nde?” Minho spontan menggeleng. “Bukan seperti itu. Hanya saja, ada seseorang yang menjadi kandidat di pikiranku tapi aku tidak yakin dengan orang itu.”

“Bawa orang itu menghadap padaku, tidak ada waktu menunggu.”

Minho terperangah terkejut. “Haruskah secepat ini? Sebentar, aku akan mempertimbangkannya dulu.”

“Pastikan sekarang jika memang baik datangkan kemari, jika tidak cepat cari yang lain.”

 

***

 

Soojung meletakkan cangkir berisi cokelat ke atas meja setelah menyeruput sedikit, menatap Myungsoo yang terus membungkam selama tiga puluh menit. Pada akhirnya mereka duduk berhadapan di sini, setelah Myungsoo menghabiskan waktu menunggu Soojung selesai bekerja di toko bunga tadi, Myungsoo berhasil membuat Soojung menyerah dan membawanya ke kafe ini.

“Aku hanya punya waktu tersisa lima belas menit.”

Myungsoo menyesap coffee latte miliknya, memandang Soojung sekadar. “Sebelum berpindah ke minimarket?”

“Ya.” Tak berguna lagi memaksa sembunyi, toh Myungsoo sudah tahu bagaimana keseharian Soojung kini. “Aku sudah menurutimu bertemu sekarang, jadi sehabis ini giliranmu, jangan ganggu aku lagi.”

“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi mendatang, jangan menutup kesempatan.”

“Kau tidak pantas berkata begitu.” Genggaman Soojung pada cangkir mengerat. “Kau harus sadar apa statusmu.”

“Status?” Myungsoo tersenyum remeh berbentuk miring yang menjengkelkan. “Status hanyalah formalitas tapi hati siapa yang duga.”

“Pecundang!” Tangan Soojung yang gatal ingin melempar wajah Myungsoo dengan secangkir cokelat ia tahan, membuat tangan gadis itu bergetar. “Melihatmu sekarang membuatku merasa diriku sendiri menyedihkan. Seharusnya aku sadar sejak dulu jika selama empat tahun aku hanya terjebak bersama pecundang.”

“Kau tidak harusnya berpikir begitu, ingatlah kita terikat karena cinta dulu.”

“Cinta? Omong kosong.” Soojung mengangkat tas selempang kecil warna hitam di kursi samping, berdiri menatap Myungsoo dengan mata memicing. “Jangan lagi membahas cinta di hadapanku, aku tidak mempercayai lagi istilah fana yang mustahil ada di dunia itu.” Soojung menarik muka masam dengan tatapan jijik. “Apalagi keluar dari mulut pria pecundang tak berperasaan seperti kau, kedengarannya semakin tolol.”

 

Drrt drrt drrt

 

Soojung tak memedulikan wajah geram Myungsoo, mengambil ponsel yang dirasa bergetar dalam tas. Terpampang kontak Choi Minho menelepon, tanpa pikir panjang Soojung mengangkatnya mengarahkan benda itu ke cuping telinga kanan. “Apa lagi? Kau ingin lebih memperjelas jika aku ditolak?”

Kau dimana?

“Kafe.”

Kafe kemarin?

“Ya.”

Bagus. Aku baru saja sampai, tunggu aku.

“Mwo? Apa maksud…”

 

PIP

 

Lagi-lagi Minho menutup sambungan sebelum pembicaraan selesai. Tapi sudahlah, lagipula Soojung tak mengerti maksud Minho jadi tak sedikit pun gadis itu memikirkan, jika Minho perlu dengannya pastilah dia akan menghubunginya lagi. Walau enggan, Soojung memandang Myungsoo yang mengepalkan tangan, berpamitan. “Selamat tinggal.”

“Shin Soojung-ssi!” Choi Minho lantas bergegas menuju Soojung begitu menemukannya setelah membuka pintu kafe. Menarik tangan Soojung sebelum gadis itu sempat bersua. “Ikut aku.”

Tak ada pilihan lain, Soojung melangkah kaki menuruti Minho dan lebih dari itu, ia memanfaatkan situasi ini guna memberi pelajaran pada Myungsoo.

Tujuan Soojung tepat sasaran berhasil membuat Myungsoo salah paham. Mata Myungsoo berkilat bersamaan tenggorokannya meneguk ludah berat. Kata ditolak yang diucap Soojung di tengah telepon tadi menyebabkan logika Myungsoo hilang pegangan. Mungkinkah pria tadi adalah dia yang menolak Soojung dan baru saja berubah pikiran? Lalu apakah itu artinya mereka akan menjalin sebuah hubungan? Tidak, seorang Kim Myungsoo tak akan membiarkan Shin Soojung terenggut darinya.

 

***

 

Soojung mulai merasa tidak beres ketika Minho memasukannya dalam mobil. Tak sepatah pun penjelasan terlontar dari pria itu. Sedikit menakutkan karena Minho masih terlalu asing dan tak begitu ia kenal meski sudah beberapa kali mereka saling mengumpat satu sama lain. Soojung bertanya sesampai Minho duduk di sampingnya, “Kau berniat membawaku kemana?”

Minho menyalakan mesin, memutar kemudi melajukan mobil.

“Minho-ssi.”

Minho menekan tombol music player seketika teralun musik instrumen orkestra dalam mobil.

“Kau tidak mendengarku, Choi Minho-ssi?”

Berkeras menutup mulut, Minho menambah volume suara musik.

Mendengus geram tak tahan lagi, Soojung memekik, “Jawab aku, Idiot!”

“Tidak bisakah kau diam, Bodoh?! Dengarkan saja musiknya dan biarkan aku berpikir!” Minho tersulut, tinggi suaranya menandingi Soojung.

“Apa?!” Merasa pengap, Soojung mematikan music player setelah hilangnya keseganan. “Aku benar-benar tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu! Memang dengan pergi bersamamu bisa membuatku mendapat uang, huh?!”

“Mungkin.”

“Lihat, mudah sekali kau bicara. Tck!” Tak disangka isi kepala Minho lebih keras dari yang Soojung kira. Minho semakin mempercepat laju kendaraan hingga Soojung menggeram frustasi tak tahu bagaimana menghentikan pria idiot ini. “Turunkan aku sekarang juga!”

“Sudah kubilang ikuti aku saja!” Minho kembali menyalakan musik orkestra lebih keras dari sebelumnya, berharap Soojung menutup mulut dan diam.

 

Namun yang terjadi kemudian…

 

“SUDAH KUBILANG TURUNKAN AKU SEKARANG JUGA!”

Harapan Minho tertandas teriakan Soojung semakin menggila ditambah jambakan dahsyat pada rambutnya.

YA! Lepaskan!” Ringisan perih Minho tak Soojung hirau.

“Sampai kau menghentikan mobilmu!”

“Baiklah, baiklah, tapi lepaskan. Kau ingin kita kecelakaan, hah?” Minho mengusapi kepalanya setelah cengkeraman Soojung lepas. Menghela napas berat menatap Soojung yang melotot padanya, membuatnya berpikir dua tiga kali menimbang-nimbang apakah benar ia harus memilih gadis ini. Soojung begitu kasar tak memiliki kelembutan sama sekali, namun di sisi lain hal itu membuat gadis itu Minho percayai. Tanpa kebohongan, tanpa kepalsuan, tapi tetap saja bayangan Minho terlalu mengerikan bila berada di samping gadis itu tiap hari.

Mobil tak kunjung berhenti dan Minho bersikukuh menyetir sembari terbengong sendiri semakin membuat Soojung naik pitam. Nekat gadis itu membuka pintu sedikit. Gemuruh angin dan suara gaduh di luar terhempas ke dalam membuat Minho berjengit.

“YA! YA! Kau gila?! Hentikan itu berbahaya, Shin Soojung!”

“Aku tidak mau gajiku di minimarket dipotong lagi! Memangnya aku sepertimu yang punya segudang uang tanpa harus bekerja keras lagi? Hentikan mobilnya atau kubuka terus pintu ini!”

“Minimarket?” Minho melipir ke pinggir menghentikan mobil sebelum cctv polisi menangkap ulah gila gadis itu. “Apa katamu? Kau…”

Segera Soojung menyecah kaki ke luar. Tidak banyak waktu tersisa dan jarak minimarket terlalu jauh dari sini. Melarikan diri dari Choi Minho gadis itu berlari menjemput bus yang tampak dari kejauhan.

“Hei! Berhenti, kau!” Minho yang juga baru keluar dari mobil mengejar cepat gadis itu, sangat cepat seperti kilat, karenanya mimpi Minho sesungguhnya adalah menjadi seorang atlit bukannya memusingkan diri mengolah perusahaan.

Tertangkap.

Minho menggenggam pergelangan tangan Soojung kuat. Keduanya terengah-engah berkeringat.

“Apa… yang sebenarnya… kau inginkan?” ucap Soojung terbata mengatur napas, menatap Minho dan bus yang sebentar lagi datang bergantian. “Aku harus pergi, aku harus bekerja.”

“Jangan.” Dada Minho masih naik turun dengan napas berhembus kasar, begitu pun Soojung.

“Apa?”

“Ayo berjuang… bersamaku.”

“Mwo?”

.

.

.

-TBC-


Ribet ya pake password ha ha ha kita juga males ribet-ribet sebenernya jadi yaudah sekarang bebas aja. Bebas bas bas. Mau baca terserah mau engga terserah mau ga suka terserah mau suka alhamdulillah. Yang jelas kita selalu berterimakasih buat lovely readers yang mau nyumbangin beberapa kata apresiasi di kotak komentar setelah baca ribuan ketikkan ga jelas di atas dan di ff lainnya^^ *deep bow*

Advertisements

12 thoughts on “Pure Love 2

  1. Suka deh sama sifat soojung yang ga terlalu berharap sama orang lain dan milih usaha sendiri terlebih dahulu. Ditunggu kelanjutan nya ya thor, pengen tau ntar proses perubahan sifat minho ke soojung gimana *soktaubgt* 😂😂
    Pokoknya ditunggu chapter selanjutnya thor! 😘

  2. Ngebayangin soojung, minho dan myungsoo beneran bakal kaya apa ya? Haha.. Next semoga ada kejutan yg ga bisa ditebak.

    Saranghae author :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s