Espresso 9

es

ESPRESSO 9

 

Author : Tsalza Shabrina

 

 

Pribadi manusia terbentuk karena campur tangan sejarah yang terjadi dalam kehidupannya.

(Erik H. Erikson)

 

***

 

Rinhyo mengangkat pakaian dijemuran belakang villa, memasukkannya kedalam keranjang satu per satu dengan telaten. Setelah apa yang ia katakan kemarin malam pada Kyuhyun, tentang ia yang akan mengatakan semuanya pada Kyuhyun saat ia menyukai pria itu. Jujur saja, sebenarnya ia menunggu saat itu.

Hati si dingin Sam Rinhyo yang sudah lama membeku, sedikit demi sedikit mencair karena hangat. Ah bukan, bahkan rasanya seperti  direbus hingga mendidih. Kyuhyun bukanlah pria yang sangat baik, bukan juga pria yang sangat lembut, bahkan ada Song Joongki yang jauh lebih baik dari Cho Kyuhyun selama ini. Tapi mengapa, ia baru merasakan perasaan yang seperti ini sekarang?

Rinhyo mengibaskan pakaian terakhir diudara sebelum memasukkannya kedalam keranjang. Menaruh keranjang pakaian diatas kursi santai, lalu menghirup udara segar pagi hari khas pantai. Tanpa sadar langkah kaki yang hanya terbalut sandal tipis khusus dalam rumah berjalan kearah deburan tenang ombak pantai. Rambut yang tadi belum sempat ia ikat tertiup kebelakang, dihempas angin kencang.

Gadis itu melepas alas kaki, mencoba merasakan lantai empuk yang terbuat dari pasir pantai. Senyumannya secara alami terulas saat kedua kakinya bergantian terkotori oleh pasir putih, berjalan semakin mendekat dengan ombak. Kini ia terkikik kecil oleh dinginnya air laut yang menyapa kulit. Sungguh, ia bahagia.

 

***

 

Kyuhyun baru saja selesai mandi. Alisnya terangkat saat tak menemukan keberadaan Sam Rinhyo diatas ranjang. Secepat mungkin ia memakai baju yang ia ambil dari almari, berjalan keluar kamar dengan tergesa. Mencari diruangan mana pun, hingga akhirnya langkah panik itu berhenti ketika mendapati Rinhyo tengah bermain air ditepi pantai.

“Hah, syukurlah.” Bibirnya tak kuasa untuk tidak menyampaikan kelegaannya. Ia hanya terdiam disana selama beberapa menit, menikmati segala ekspresi bahagia yang terpancar jelas diraut wajah Sam Rinhyo.

Hanya beberapa menit, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Sam Rinhyo. berdiri dengan jarak kurang lebih satu meter dibelakang gadis itu. Senyuman kecilnya merekah, bahkan Rinhyo tak sadar jika Kyuhyun berdiri disini.

“Kelihatannya menyenangkan sekali.” Gerakan Rinhyo sontak terhenti, tubuhnya sedikit terhuyung saking terkejutnya. Sekitar 3 detik ia terdiam, memandang Kyuhyun datar. Kemudian ia tersenyum kecil, hampir samar.

Cho Kyuhyun semakin mendekati Rinhyo setelah melepas sandal rumahnya, berdiri disamping gadis itu dengan kedua mata menerawang kedepan. Kearah lautan yang tak memiliki ujung.

“Kau pernah merasakan ini?”

Alis Kyuhyun terangkat mendengar pertanyaan ambigu Rinhyo. “Merasakan apa?”

“Seperti, perasaan menyesal karena baru saja menemukan suatu hal sesederhana ini sejak lama. Seperti, kemana saja aku selama ini?”

Kyuhyun tersenyum kecil. “Entahlah, kurasa aku belum pernah merasakan itu.”

Rinhyo menoleh, menatap Kyuhyun dengan kedua mata penuh rasa penasaran. “Bagaimana bisa? Sekali pun  tidak pernah?”

Kyuhyun menggedikkan bahu asal. “Mungkin karena aku selalu melakukan apapun tanpa berpikir dua kali. Jika ingin melakukan sesuatu, aku akan  melakukannya tanpa perlu membuang waktu untuk memikirkan resiko yang tak pasti.” Terang Kyuhyun ringan.

Kepala Rinhyo mengangguk dua kali, kembali menatap hamparan laut dengan senyuman kecil. “Kau benar, apa saja yang kulakukan selama ini?”

“Karena kau selalu memandang segala hal dengan perspektif negatif. Maka itu, kau merasa tidak ada yang benar dalam hidup ini.”

Lagi – lagi Rinhyo merasa ucapan Kyuhyun benar.

“Ingin melakukan hal lain yang lebih menyenangkan?”

Alis Rinhyo terangkat, menatap wajah jahil Cho Kyuhyun. “Hal seperti?”

“Seperti ini!” Kyuhyun mengangkat tubuh Rinhyo lalu berlari kedalam air laut. Membiarkan tubuh mereka basah oleh air asin.

YA! Cho Kyuhyun!” teriak Rinhyo diselingi tawa. Dengan erat ia berpegangan pada Kyuhyun, mendekap pria itu agar tubuhnya seimbang. Air laut pagi ini memang dingin, namun tak cukup dingin hingga membuat mereka membeku. Cuaca pulau Jeju sedang cerah hari ini.

“Percuma jika kau hanya merasakan air ini diujung kakimu saja, nona Sam.” Kyuhyun berjongkok, menenggelamkan tubuh Rinhyo sampai mereka benar – benar basah kuyup. Tak mau kalah, Rinhyo beringsut turun dari gendongan Kyuhyun. Menciprati wajah Kyuhyun dengan air asin, juga melempari tubuh pria itu dengan pasir laut basah. “Eo! Kau berani?!” tukas Kyuhyun, sontak berlari mengejar Rinhyo dengan sekepal pasir digenggaman.

“Ini namanya impas, kau curang!” teriak Rinhyo seraya berlari menghindari Kyuhyun. Meski begitu, Kyuhyun tak menyerah ia masih merecoki Rinhyo dengan air dan pasir pantai.

“Tidak ada kata impas. Kau yang memulai perang!” balas Kyuhyun, tertawa kecil ketika melihat ekspresi bahagia Sam Rinhyo.

 

BUK

 

Gerakan melempari Rinhyo dengan pasir berhenti, kini wajahnya berubah khawatir. Dengan cepat berlari kearah Rinhyo yang sudah tersungkur diatas pasir pantai. “Kau terluka?” Kyuhyun mengangkat tubuh Rinhyo agar bisa duduk dengan baik. Sedangkan Rinhyo sudah meringis sakit, sambil memegangi lutut.

Mian. Bagaimana ini? kau bisa berjalan? Ah tidak, naik kepunggungku saja!” Baru saja Kyuhyun hendak berbalik, Rinhyo segera mengulurkan tangan. Melumuri pipi Kyuhyun dengan pasir pantai. Tawanya meledak keras, seolah puas karena rencananya berhasil.

“Kau kalah.”

Kyuhyun menghela napas dalam – dalam, “Kau…” kalimatnya tersendat, ia masih berusaha menormalkan detak jantung yang tadinya berdegup kencang tak beraturan.

“Kau terkejut, kan? Ya, kuakui aku memang pintar ber-akting.” Rinhyo mengangguk – angguk, membanggakan diri. Tak menyadari raut wajah Kyuhyun yang begitu kaku.

Mwo?!  Kau benar – benar… apa kau tidak tahu betapa takutny—Tidak, sudahlah. Mainnya sampai sini saja.” Kyuhyun beranjak, mengulurkan tangan untuk membantu Rinhyo berdiri. “Setelah ini, bersihkan dirimu lalu kita makan.” Lanjut Kyuhyun, hanya ada unsur keseriusan disana.

Dengan perasaan tak tentu, Rinhyo menerima uluran tangan Kyuhyun. Berdiri tegak didepan pria itu kemudian mengangguk sekali, berjalan dibelakang Cho Kyuhyun dengan langkah pelan. Menatap punggung Kyuhyun yang dibalut oleh kaus putih polos basah.

 

Ia tidak tahu jika Kyuhyun bisa sekhawatir itu padanya.

 

Perlahan senyuman tipisnya terulas. Dari sini, setidaknya ia tahu jika perasaan Kyuhyun padanya itu tulus.

 

***

 

Bandara Internasional Jeju-do

 

Park Jaebum keluar dari pintu departure, ia hanya membawa satu tas kecil dan kacamata hitam yang ia pakai sejak dipesawat tadi. Langkahnya berjalan ringan menuju bagian luar bandara untuk menunggu taksi. Sesekali kepalanya bergerak kesana – kemari karena alunan musik RnB yang terdengar melalui headseat-nya.

 

Drrt drrt

 

            “Ya, Halo?”

 

Sudah sampai?

 

            “Baru saja.”

 

Dengar, rencana berubah. Sekarang kau hanya perlu check in di hotel W, aku sudah membuat reservasi atas namamu disana.

 

            Dahi Jaebum berkerut, “Oke, baiklah. Jadi apa perubahan rencananya?”

 

Kau menunggu disana, selagi aku bersiap untuk timing yang tepat… lalu kita, akan menghancurkan Sam Rinhyo bersama – sama.

 

***

 

5 panggilan tidak terjawab

 

            Ditengah kegiatan sarapan sederhananya bersama Cho  Kyuhyun dirumah, Rinhyo mengernyit. Mendapati 5 panggilan tak terjawab dari Song Joongki. Sontak ia meletakkan roti panggangnya yang sudah sisa setengah gigitan diatas piring, lalu menghubungi Joongki.

Dalam diam Kyuhyun sesekali mencuri pandang kearah Rinhyo. Gadis itu mengetuk – ketuk jemarinya gusar karena Joongki tak kunjung menjawab teleponnya. “Ada apa?” tanya Kyuhyun.

“Song Joongki.” Balas Rinhyo singkat dan cepat.

Kyuhyun menghela napas panjang, kembali melanjutkan kegiatan makannya dengan enggan. Decakan keras Rinhyo terdengar, ekspresi gadis itu lebih tajam dari sebelumnya.

“Mungkin dia sibuk, lagipula tadi pagi – pagi sekali ia sudah menghubungiku karena kau tak kunjung menjawab teleponnya.”

“Apa katanya?” Rinhyo mematikan sambungan telepon, menaruh ponselnya diatas meja.

“Hanya mengkhawatirkanmu karena kau tak kunjung menjawab telepon. Ia juga berkata jika aku harus menjagamu.” Jawab Kyuhyun ringan. Kerutan didahi Rinhyo semakin tercetak jelas.

“Pasti ada sesuatu yang terjadi di Seoul.”

“Jangan berpikiran yang tidak – tidak, mungkin saja Joongki hanya khawatir. Bukankah dia selalu begitu padamu?”

Rinhyo tak menjawab, lebih memilih menatap wajah Kyuhyun yang menurutnya sangat konyol. Pria itu berucap dengan aksen khas seorang pria cemburu yang begitu kental. Bahkan sikap Kyuhyun yang menghindari tatapannya saat ini begitu menghibur.

“Ya, kau benar. Mungkin saja seperti itu.” Ujar Rinhyo, masih membaca ekspresi Kyuhyun. “Kau juga tidak perlu cemburu dengan hubunganku dan Joongki.”

Seketika Kyuhyun tersedak gumpalan roti yang tak kecil namun juga tidak terlalu besar, cepat – cepat ia mendorong roti yang masih menyangkut ditenggorokan itu dengan segelas susu. Rinhyo mengulum tawa, menatap Kyuhyun yang kini berdehem tidak jelas. “A—apa?! Cemburu? Woah, sepertinya kau narsis sekali, nona Sam. Aku tidak cemburu!”

Rinhyo tersenyum tipis, kembali mengunyah rotinya dengan cuek. “Lalu untuk apa menampakkan wajah tak suka seperti itu?”

Kyuhyun gelagapan. Bagaimana pun ia mencoba untuk mengelak, segalanya sudah terlambat. Rinhyo sudah memperhatikan semua ekspresi wajahnya. “Baiklah, aku mengakuinya. Lagipula tidak ada salahnya jika aku cemburu karena gadis yang kusukai selalu saja memikirkan pria lain ketika aku ada disini, bukan?”

“Hm, kau benar.” Jawab Rinhyo ringan, ia menyelesaikan roti panggangnya kemudian meminum susu dengan gerakan santai. Bibirnya kembali membentuk sebuah senyuman, menatap Kyuhyun dengan tatapan mengejek. “Asal kau tahu saja, aku dan Song Joongki tidak bisa dipisahkan. Hubungan kami bahkan lebih dari sepasang kekasih.”

Kyuhyun menatap Rinhyo dengan bibir tertutup rapat. Sedangkan Rinhyo kembali melanjutkan, “Pun jika nantinya aku akan benar – benar menyukaimu, kurasa aku masih lebih menyukai Song Joongki daripada kau.” Rinhyo beranjak dengan membawa piring dan gelas kotornya. “Nanti taruh saja ditempat cuci piring, hari ini aku yang mencuci.” Ujar gadis itu sebelum berjalan menuju dapur. Meninggalkan Kyuhyun hanya bisa terbengong ditempatnya. Rinhyo selalu bisa membuat mulut buasnya terkunci dan jinak.

 

***

 

 

Presdir Cho, maaf kami menggangu acara bulan madu anda. Tapi ada masalah darurat yang terjadi di perusahan, Oh Jung Ho-ssi tidak mengizinkan kami melakukan perluasan lahan didaerah Apgeujong. Semua penduduk sudah mengizinkan, hanya tinggal Tuan Oh yang tidak mau menjual tanahnya. Kami memerlukan bantuan anda, presdir. Pimpinan direktur Humas juga tidak bisa menangani hal ini. Sekali lagi, saya dan yang lainnya meminta maaf.

 

            “Bagaimana ini?”

Kyuhyun menggumam seraya berjalan mondar – mandir didalam  kamar. Ia sedang dilema dengan apa putusan yang akan ia buat, ia harus datang keperusahaan untuk mengurusi kekacauan itu. Tapi dilain sisi, ucapan Song Joongki yang menyuruhnya untuk tidak meninggalkan Sam Rinhyo apapun yang terjadi terngiang beberapa kali ditelinga dan otaknya.

 

CKLEK

 

Rinhyo yang baru saja selesai mencuci piring, menatap Kyuhyun dengan alis terangkat. “Apa yang kau lakukan?”

Sontak Kyuhyun menghentikkan langkah gusarnya, menoleh kearah Rinhyo kemudian tersenyum kaku. Terlihat sangat dipaksakan. “Tidak ada.” Jawabnya singkat, tak menyadari ekspresi tak puas yang  diperlihatkan Sam Rinhyo.

“Mengapa kau gusar seperti itu?” Rinhyo mengambil tempat ditepi kasur, menatap Kyuhyun dengan bingung.

 

Drrt drrt

 

Rinhyo mengambil ponselnya disaku celana pendeknya, kedua matanya sedikit melebar saat  membaca nama kontak eomonim disana. “Ibumu meneleponku.” Ujar Rinhyo ringan.

“Huh?!” Kyuhyun menoleh cepat, menampakkan ekspresi waspadanya. “Jangan diangkat.” Titahnya tegas.

“Kau gila?! Tidak mungkin aku tidak mengangkatnya.” Rinhyo cepat – cepat mengangkat telepon, takut jika ibu mertuanya itu menunggu lama. “Halo, eomonim?”

 

Eo, Rinhyo-ah… bagaimana kabar kalian?

 

            “Syukurlah, kami baik – baik saja. Kabar dirumah juga baik, kan eomonim?”

 

Hah, syukurlah. Aku jadi lega. Tentu saja baik, tapi…

 

            Rinhyo menatap Kyuhyun yang masih menatapnya gusar. “Ada apa eomonim? Sesuatu terjadi?”

 

Begini, maaf… benar – benar maaf. Bisakah kau membujuk Kyuhyun agar pulang ke Seoul untuk sebentar saja? ada hal buruk yang terjadi diperusahaan. Tadi sekertaris pribadi Kyuhyun mengatakan padaku jika Kyuhyun tidak bisa memberi jawaban pasti akan kedatangannya ke Seoul.

 

            “Ah, begitu ya. baiklah, nanti akan saya sampaikan pada Cho Kyuhyun.”

 

Hah, kau memang baik sekali. Sudah ya, kalau begitu aku serahkan padamu.

           

“Iya, eomonim jangan khawatir. Sampai ketemu di Seoul, eomonim.” Rinhyo mengakhiri percakapan itu dengan begitu ramah. Raut wajahnya seketika berubah serius saat sambungan telepon sudah terputus, kedua mata tajamnya menatap Kyuhyun. “Apa kau gusar hanya karena ini?”

Kyuhyun menghela napas beratnya, duduk disofa seberang ranjang yang diduduki Rinhyo. Menatap gadis itu tanpa menjawab apapun. “Ada apa? Kenapa kau sebegitu kerasnya berpikir untuk kembali ke Seoul? Perusahaan membutuhkanmu. Bukankah itu artinya kau harus segera kesana?”

Kembali Kyuhyun tak memberi jawaban langsung, ia hanya menatap Rinhyo dalam diam. “Ayo kita ke Seoul bersama.” Akhirnya ia menyuarakan kalimat itu setelah hampir satu menit terdiam tanpa kata.

Rinhyo mendecih, tertawa kecil. “Jangan bilang kau seperti ini karena mengkhawatirkanku tinggal sendirian disini?” Kyuhyun tak menjawab, bahkan ia tak mengerti mengapa Rinhyo malah tertawa kecil ditengah kekalutan yang ia hadapi sekarang. Tanpa ragu, Rinhyo beranjak. Berjalan menghampiri Kyuhyun, lalu duduk disamping pria itu. “Pergilah, aku akan menunggumu dengan hati – hati disini. Jadi kau tidak usah khawatir.”

Kyuhyun menggenggam tangan bebas Rinhyo. Menatap tepat pada kedua mata Rinhyo dengan tatapan tak puas. “Tidakkah lebih baik kau ikut saja denganku?”

“Kau pergi tidak lama, bukan? Jadi, lebih baik aku menunggu disini.” Rinhyo membalas genggaman tangan Kyuhyun, menangkup punggung tangan pria itu dengan telapak tangan kanannya. “Nanti, setelah kau pulang… ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu.”

Alis Kyuhyun terangkat, ia tidak tahu bagaimana ekspresinya saat ini. Yang pasti, ia terkejut dan bahagia disaat bersamaan. Tatapan Rinhyo ketika menatapnya saat ini begitu hangat dan penuh dengan makna lain yang kyuhyun pastikan adalah makna yang baik.

“Baiklah, aku akan pergi dan kau harus berjanji untuk langsung mengatakannya padaku ketika aku kembali kesini.”

Rinhyo mengangguk kuat. “Aku janji.”

 

***

 

W Hotel and resort

 

            Park Jaebum merebah diatas kursi panjang dipinggir kolam renang dengan satu limau ditangan. Kacamata hitamnya masih terpasang dikedua mata, sesekali ia tersenyum kecil ketika memandangi para wanita yang sedang bermain dikolam renang dengan bikini-nya.

“Wah, sudah lama sekali aku tak menikmati ini.” gumamnya, menaruh limau diatas meja kecil disampingnya. Tak ada yang perlu ia risaukan untuk bill –nya, karena orang yang mengirimkannya kesinilah yang membayar semua itu.

 

Drrt drrt

 

“Ya?”

 

            Aku sudah sampai di pulau Jeju. pukul 7 malam kita bertemu dilobi hotel, lalu kita pergi menemui Sam Rinhyo.

 

            “Oke. Ah, tapi kita punya satu masalah lagi sepertinya. Bagaimana dengan Cho Kyuhyun? Ia pasti berada disana kan?”

 

Aku sudah mengurusnya. Cho Kyuhyun akan terbang ke Seoul 30 menit lagi.

 

            “Benarkah? Woah, kurasa kekuasaanmu tidak main – main sampai bisa membuat  Cho Kyuhyun pulang ke Seoul ditengah bulan madunya.”

 

Akan kuhubungi lagi nanti.

 

            Sambungan telepon tertutup. Jaebum tersenyum kecil, menaruh ponsel disamping gelas limaunya lalu kembali menikmati hilir angin yang menyapa wajahnya. “Tch, aku penasaran dengan keadaan Sam Rinhyo sekarang.”

Park Jaebum merubah posisinya menjadi duduk, merenggangkan otot – otot kakunya seraya berucap “Kita akan bertemu lagi, Rinhyo-ah. Tunggu sebentar lagi.”

 

***

 

 

Kyuhyun berbalik ketika ia sudah berada diambang pintu rumah. Menatap Rinhyo dengan tatapan tak rela, berbeda dengan Rinhyo yang mengulas senyuman kecilnya. “Pergilah, taksi sudah menunggu.” titah Rinhyo lembut.

Tubuh Kyuhyun terasa begitu hangat, “Tidakkah kita sudah terlihat seperti sepasang suami istri saat ini?”

Rinhyo memutar bola matanya keatas, bahunya naik dengan iseng “Entahlah.” Ujarnya dengan diselingi tawa kecil, dan sungguh terdengar begitu merdu ditelinga Kyuhyun.

Tanpa berucap apapun, tanpa memberi kode apapun, Kyuhyun mengecup kening Rinhyo cukup lama kemudian memeluk tubuh kecil istrinya itu dengan hangat. Mengelus punggung Rinhyo penuh sayang. “Kau harus mengatakannya padaku saat aku pulang nanti. Harus, mengerti?”

“Mm, aku mengerti.”

Kyuhyun melepas pelukannya, masih dengan kedua tangan menyentuh dua lengan Rinhyo. “Kunci pintu, dan jangan keluar. kemanapun.”

Rinhyo mengangguk pelan. “Arasseumnida.” Jawab Rinhyo dengan nada yang ia suarakan serendah mungkin, seperti petugas kepolisian yang baru saja menerima tugas penting.

Kyuhyun terkekeh pelan, mengacak rambut Rinhyo gemas sebelum berjalan mundur beberapa langkah. “Aku pergi!” tukasnya, melambaikan tangan kearah Rinhyo dengan seulas senyum manis.

“Jangan berjalan mundur seperti itu, berbahaya!” Rinhyo berucap dengan nada penuh khawatir. Lagi – lagi Kyuhyun tertawa kecil, mengangguk dua kali lalu berbalik. Segera memasuki taksi yang sudah sejak tadi menunggunya didepan pagar.

Rinhyo menunggu diambang pintu hingga taksi yang ditumpangi Kyuhyun tak terlihat. Hela napas panjangnya keluar, dengan langkah enggan memasuki rumah kemudian mengunci pintu seperti yang diperintahkan oleh Kyuhyun.

 

Drrt drrt

 

From : Cho Kyuhyun

 

Bahkan jaraknya belum satu kilometer, tapi kenapa aku sudah merindukanmu?

 

Kau berkata jika kau mulai menyukaiku, kau akan mengatakan semua tentangmu padaku, bukan? Apa pembicaraan nanti itu tentang ini? Memikirkannya saja membuatku bersemangat.

 

            Senyuman kecil Rinhyo terulas, alisnya terangkat saat ponselnya kembali bergetar.

 

Setelah urusan selesai, aku akan segera pulang. Jadi pastikan kau menjaga dirimu dengan baik selama aku tidak disana.

 

Aku mencintaimu, Sam Rinhyo.

 

            Telapak tangan kanan Rinhyo menyentuh dadanya sendiri. Merasakan degupan yang amat keras didalam sana. Senyumnya pun sudah meluntur, rasanya perasaan ini begitu asing dan sangat menarik.

“Apa ini yang disebut proses mental?”

 

***

 

Hari sudah menjelang malam, langit hampir benar – benar berwarna hitam. Rinhyo duduk dibelakang rumah, berlindung dibalik pintu kaca dengan kedua mata menatap hamparan pantai yang diguyur hujan. Berkali – kali ia bergidik kedinginan, bibirnya pun tak terhitung mengeluarkan uap kantuk.

“Padahal tadi pagi cuacanya baik sekali.” Meski Rinhyo sedikit tidak menyukai perubahan  cuaca yang tiba – tiba seperti ini. Namun  didalam hati ia bersyukur karena cuaca Jeju berubah sesaat setelah Kyuhyun sampai di Seoul. Akan sangat berbahaya jika pesawat terbang ditengah cuaca buruk.

 

Kruk Kruk

 

            Sontak Rinhyo menyentuh perutnya. “Ah, lapar sekali.” Gumamnya, sadar jika kemarin ia dan Kyuhyun tak terlalu memikirkan bahan – bahan makanan saat berada di supermarket.

Beranjak dari tempat duduk, Rinhyo berjalan menghampiri dapur. Membuka almari dapurnya, seingatnya kemarin ia membeli satu pack ramyun disuper market.

Eo! Kenapa tidak disini?” alisnya bertautan. Ia segera mencari dirak lain, namun hanya bertahan tak sampai satu menit.

 

“Ambil satu bungkus saja jangan satu pack!”

 

            Kedua kelopak mata Rinhyo menutup frustasi. “Ck, Cho Kyuhyun sialan. Jika saja ia tidak mengatakan itu kemarin pasti aku bisa makan ramyun sekarang!” Rinhyo menutup rak almari dengan kasar. Duduk dikursi makan dengan lemas, otaknya tengah berpikir keras tentang apa yang akan ia lakukan guna mengisi perutnya.

Keure, tidak ada solusi lain selain membeli pizza.” Rinhyo mengeluarkan ponsel, segera memesan pizza kealamat villa ini. baru pertama kalinya ia memesan pizza di Jeju, dan di cuaca yang seburuk ini. Ia berharap kotak pizza-nya bisa cepat datang.

 

***

 

SEOUL

 

“Baiklah, Hajung-ssi! Anda siap?”

Song Joongki bertanya dengan senyuman tipis dibibir. Nada bicaranya begitu tenang dan mendayu khas seorang dokter psikis. Shin Hajung, penderita Trypophobia –fobia pada susunan lingkaran yang berjejer rapi dan banyak, seperti polkadot atau pun rumah tawon.

Shin Hajung mengangguk sekali, mantap. Joongki semakin melebarkan senyumannya, kemudian menaruh sepotong rumah tawon yang sudah ia bersihkan diatas meja. Kedua mata Hajung melotot, ketakutan. Ia memperhatikan tangan dokternya lalu rumah tawon itu bergantian. “Ja—jangan disentuh, dokter Song.”

Berlawanan dengan perintah Hajung, Joongki malah memutar – mutar rumah tawon itu dengan tangan kanannya. Menggenggam erat benda itu dengan tenang. “Kenapa? Ini hanya rumah tawon.”

“Ta—tanganmu, tanganmu jadi berlubang.”

“Oh, benarkah?” Joongki menatap tangannya yang terlihat baik – baik saja. sedangkan Hajung mengangguk kuat. “Lubangnya semakin banyak.”ujar gadis itu kalut.

“Jika memang begitu, berarti tanganku sangat sakit, bukan?”

“Huh?”

“Jika punggung tanganku terluka, pasti akan sangat pedih.”

“Ya, tentu saja.”

“Tapi kenapa aku tidak merasakannya, ya?” Hajung menatap Joongki dengan kedua mata yang masih melebar. Menatap senyuman Joongki dengan bingung, karena dengan jelas ia bisa melihat punggung tangan kanan Joongki berlubang.

Song Joongki melepas genggamannya dari rumah tawon itu. Mendorong kedepan benda itu hingga berjarak sangat dekat didepan Hajung. Diam – diam, Hajung meneguk ludahnya berat. Jantungnya berdegup kencang.

“Sentuhlah.” Suruh Joongki dengan lembut. Tangan Hajung gemetar hebat, padahal ia belum menyentuh rumah tawon itu. Tangan gemetarnya berhenti tepat diatas benda itu, rasanya seperti ingin menangis saking takutnya.

Perlahan Joongki menyentuh punggung tangan Hajung, mendorongnya hingga telapak tangan Hajung menyentuh permukaan rumah tawon itu. Kedua mata Hajung terpejam kuat, bibirnya ia kulum rapat – rapat seiring dengan keringat dingin yang mengaliri dahinya. “Apa rasanya sakit sekali?”

“Iya. Aku sudah tidak kuat lagi, rasanya seperti dilubangi.” Joongki melepas genggamannya saat Hajung mulai menjatuhkan air mata. Pria itu menatap Hajung serius, setelah menarik selembar tisu dan memberikannya pada Hajung.

“Usap darahnya dengan ini.” ujar Joongki.

“Darah?” Hajung menatap punggung tangannya. Tak ada darah dan lubang dipunggung tangannya, sama sekali.

Joongki mengangguk. “Ya, bukankah seharusnya berdarah jika rasanya seperti dilubangi?”

Hajung menatap punggung tangannya lagi. Bingung. “Tidak ada darah. Lubangnya sudah tidak ada.”

“Apa kau pikir masuk akal jika lubangnya bisa hilang secepat itu, Hajung-ssi?”

Hajung terdiam cukup lama. “Tidak, sangat tidak masuk akal.”

Kepala Joongki mengangguk dua kali, pria itu menulis receipt obat dikertas khusus rujukan lalu memberikannya pada Hajung. “Kembali lagi hari rabu minggu depan, ya.” ujar Joongki tenang.

Hajung mengangguk pelan, mengambil kertas itu kemudian memasukkannya kedalam saku baju. “Terima kasih, Dokter Song.” Ucap Hajung, beranjak lalu membungkuk dalam sebelum berjalan keluar dari pintu klinik Song Joongki.

“Hah.” Hela napas kasar Joongki keluar, ia menyandarkan punggung dikursi dengan kedua mata terpejam. 15 menit lagi pasien Joongki yang lain akan datang kesini.

 

Drrt drrt

 

            “Ya, halo?”

 

Tuan Song, kami sudah mendapatkan hasil yang kuat tentang siapa pengirim dana ke-rekening Park Jaebum.

 

            Sontak tubuh Joongki menegak. Setelah ia tahu jika ada dalang yang menggunakan Jaebum sebagai senjata, Joongki memang langsung menyuruh orang untuk menyelidiki dalang itu.

 

“Siapa?!” Joongki bertanya dengan nada menekan, tak kuasa menahan rasa penasaran dan  emosinya.

 

Pengirim dana Park Jaebum, adalah rekening atas nama perusahaan Taesan.

 

            Dahi Joongki mengernyit, “Taesan?”

 

***

 

JEJU-DO

 

Hujan semakin lebat, bahkan terkadang ia bisa melihat kilatan petir dari dalam rumah. Rinhyo tak berani menyalakan televisi, hanya bisa bermain ponsel didalam kamar dengan selimut yang menutupi sekujur tubuh. Sejak tubuhnya bergidik  tadi, ia sudah menimpali bajunya dengan sweater tebal.

Disaat seperti ini, sial sekali. Pengantar pizza tak kunjung datang.

 

TING TONG

 

            Rinhyo segera melompat dari kasur, berjalan  cepat menuju beranda rumah tanpa mau repot – repot memeriksa layar intercom. Masa bodoh dengan itu, perutnya sudah berkali – kali meronta diberi makanan sekarang.

 

CKLEK

 

Wajah bersemangat Sam Rinhyo berubah menjadi datar ketika bukan pengantar pizza yang ia temukan. Melainkan seseorang yang kehadirannya tak pernah ia harapkan sama sekali.

“Lama tidak bertemu, Sam Rinhyo-ssi.”

Seringaian Rinhyo terulas, “Untuk apa kau berada disini, Kim Hyera-ssi?”

“Diluar sangat dingin. Ada yang ingin kusampaikan, tidakkah lebih sopan jika kau mengizinkanku untuk masuk?”

Rinhyo bersendekap. Meski kini ia tak memakai pakaian mahal nan elegan, hanya seutas sweater dan celana kedodoran sepanjang mata kaki. Tapi sungguh, itu semua tak menghilangkan aura mengerikan yang dipancarkan oleh gadis itu. Sam Rinhyo.

“Atas dasar apa aku harus bersikap sopan padamu?”

Hyera tertawa  hambar. Mengangkat sebuah flashdisk yang tergenggam ditangan kanan tepat didepan bahu.

“Karena aku membawa kelemahan seorang presdir Sam Rinhyo disini.”

 

TBC-

 

 Haloooooo!!!!

Ini ff jaman kapan ya? ada yang masih inget? atau uda pada  lupa?

Maaf ya baru dilanjutin sekarang.

Sepertinya ini akan berhenti di part 10 atau 11, jadi tunggu aja ya haha

Jangan jadi silent readers, ya.

Advertisements

50 thoughts on “Espresso 9

  1. Cie disaat rinhyo ingin mengatakan nya . pengganggu dtg . Jd hyera biangnya . Lalu jaebum buat apa dateng? Buat apa kelemahan rinhyo ? Niatnya apa cb ya . Smga scene kyurin yg romantis makin bnyk part slnjtnya hihi
    Makasi eon ud dipost😳 ditunggu part slnjtnya😉

  2. iya nih kak, aku slalu nungguin ff yg satu ini..
    Knpa rin hyo slalu dlam keadaan yg tertekan dan bahaya..
    Apalagi skarang kyuhyun dan song jongki tdk ada disampingnya..

    Kak semangat trus ya..
    Sangat2 ditunggu next partnya

  3. hah akhirnya d post jg
    aku sbnernya sdikit lupa konflik d fic ini
    tapi yahhh……
    semoga aja rinhyo baik2 aja dehh
    kyu cpet balik ke jeju

  4. udh lupa2 inget dehhh sama critanya.
    apa yg mau d rncanain jaebum buat rin hyo? dasr tu urg ngak pnya rasa brsalah ya.
    mdah2an kyu cpat blik ke jeju. biar kyu jga bsa cpat dngar apa yg mau dkatain rin hyo

  5. Ini ff yang udah aku tunggu-tunggu kelanjutannya! Tapi sejujurnya aku udah lupa sama cerita sebelumnya jadi pas baca cerita ini bingung sendiri Thor hehe. Tapi aku suka sama ceritanya, apalagi terakhirnya bikin penasaran buat baca next chapter😁

  6. udah agak lama juga sih y…………tpi tetep semangat bacanya,tapi masih ngegntung. kira2 reaksi rinhyo lihat jaebum lg gmana y? semoga bukan kejadian buruk.

  7. iyaa si ini ff agak lama hehe
    baru sempet baca dari part 7 tadi
    dan lupa sama kim hyera
    yg jelas aku suka sama kelakuan kyuhyun ke rinhyo, cute banget
    apalagi pas mau berangkat ke seoul

  8. Inget banget sama ff ini, gak pernah aku lupain. Bahkan di tunggu-tunggu kahadirannya. Hehe…
    Maaf ya uni, Aku gak bisa kasih komen dgn baik hihi.
    Fighting

  9. Wkwkwk lamooo nyoooo
    Iseng iseng cek wp nya udah ada part 9 :”3
    Yhaaa lupa lupa inget cerita sebelumnya huhuhu tapi makin seru yhaa, Kyu sudah mengekspresikan perasaannya :3

  10. ya ampun.. nunggu2 ff ini banget!! kangen banget >°<, mrrka makin romance aja, slalu gak sabar nunggu kelanjutannya.. fighting!!

  11. astaga hyera seperti rubah saja ga tau diri.kasihan rihyo. ibu kyu juga mudah terpengaruh lagi. atau jangan2 sekretaris kyu juga bekerjasama lagi sam hyera

  12. Kyuuu knpa kamu meninggalkan rin hyo sendrian !
    Apa semua ini rencana hyera?? Rin hyo benar” dijebak hyera+jae bum.
    Takutnya klau rin hyo nanti kembali jdi gadis yg dingin stlah bertemu jae bum 😦
    klau joong ki tau pasti dia akan marah sma kyuhyun krena meninggalkan rin hyo sendrian ..

  13. udah bc part 1 2 dan 3 loncat lgs 9..banyak yg terlewatkan…ni ada yg mau jahatin rin hyo..kyu gak ada pula…semoga hyera gak ngelakuin yg aneh aneh aja ke rin hyo..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s