ACE-X (2)

 

IMG-20160123-WA003

ACE-X 2

Author : Tsalza Shabrina

 

Bumi benar – benar memuakkan.

 

***

 

Tak ada suara sekecil apapun yang keluar dari bibir Keyl dan Caprice.

Ia sudah melupakan kejadian mengesalkan tadi, dimana seorang pria tak tahu sopan santun menabrak bahunya dengan keras. Juga sudah mengesampingkan kenyataan bahwa mereka muak berada disini. Banyak hal yang lebih menarik dari itu semua.

Berdiri ditengah keramaian kota Hongdae, memijak ditanah bumi. Sungguh, sebelumnya mereka bahkan tak pernah bisa membayangkannya.Mengalihkan pandangannya kesekeliling. Menelisik kegiatan manusia bumi yang sebagian besar sibuk oleh sebuah benda persegi panjang kecil. Tak terhitung orang – orang yang menyumpali telinganya dengan headseat , seolah tak ada niat untuk menyapa orang lain bagi mereka. Pun, untuk memandang orang lain. Tidak ada.

Suara ribut pria dan wanita yang terdengar begitu keras itu mengambil perhatian Keyl dan Caprice. Juga pejalan kaki lain-meski hanya memandang sebentar kemudian melanjutkan aktivitasnya lagi.

“Dasar suami tidak bisa diuntung! Kalau tidak bawa uang. Untuk apa datang kesini, huh?!”

“Tidak bisa diuntung?! Aish, wanita ini benar – benar… Berjualan gelang dan topi butut seperti ini memang ada untungnya?! Aish, membuatku ingin marah saja!” Cara bicara pria paruh baya itu terlihat serabutan, tak tentu arah dan dengan nada menyeret. Kedua matanya terlihat begitu sayu dengan bagian putih mata yang menguning.

“Kasihan gadis itu.” Caprice berucap, tanpa ekspresi mengasihani sama sekali. Hanya datar, tak terbaca. Menatap seorang gadis kecil yang tengah berdiri disamping ibunya, mencengkeram kain rok ibunya dengan erat. Kedua matanya berair, seperti ingin menangis.

“Sepertinya ada yang salah dengan otak pria itu.” Keyl menatap pria yang tengah berjalan terhuyung menghampiri istrinya itu dengan tajam. Meski ia belum bisa menatap bola mata pria itu dengan jelas, tapi ia bisa merasakan jika pria itu telah men-konsumsi sesuatu yang dapat menyebabkan kerusakan otak. Sesuatu seperti, alkohol? Begitu Keyl menebaknya.

“Kau mabuk, ya?! lebih baik pergi daripada merusuh disini, Aku sedang berjualan!” Wanita itu menyembunyikan putrinya dibelakang tubuh. Menyuruh putrinya untuk menutup telinga.

Wajah pria itu terlihat memerah. Warna aura-nya pun begitu merah, berbeda dengan wanita itu yang auranya berwarna kuning. Cemas, takut, dan sakit hati disaat bersamaan.

 

BRAK!

 

Pria itu mengacak – acak barang – barang  jualan wanita itu. “Ini karena kau tidak bisa menutup mulutmu dengan baik, jalang!” pria itu kembali berteriak sebelum kembali mengamuk. Wanita itu hanya bisa menangis, menjauh karena takut.

“Ini tidak bisa dibiarkan.” Keyl berjalan selangkah, namun dengan cepat Caprice menahan tangannya.

Master memberitahu kita untuk tidak terlalu campur tangan pada urusan manusia bumi. Ingatlah, kita harus menyembunyikan identitas kita yang sebenarnya, El.” Jelas Caprice.

Keyl mendecak, sedangkan Caprice merubah aura Keyl melalui sentuhan tangannya agar kembali berwarna putih kebiru – biruan. Nafas Keyl yang sebelumnya memburu kini sudah berangsur tenang. “Aku akan berusaha merubah aura pria itu nanti saat ia menatapku. Kau tidak usah khawatir.” Lanjut Caprice, melepas genggamannya.

“Tidak bisa. Dia dalam pengaruh alkohol, Cap.”

“Ya, aku tahu. Tapi nanti akan tetap kucoba.”

Ditengah kericuhan itu, tiba – tiba tubuh Keyl sedikit terhuyung kedepan. Tas yang tadinya menggantung dipundak sudah hilang.

“Perbekalan kita, cap.” Caprice menatap pria yang membawa tas merah Keyl. Pria itu menoleh kebelakang, menatap Caprice dibalik kacamata hitamya. Tak berani menatap Keyl sama sekali.

Caprice merasakan sesuatu dipunggungnya, membuat langkahnya yang hendak mengejar pria itu terhenti begitu saja. Tak disangka, pria itu tersenyum miring kearah Caprice.

Bersamaan dengan itu, seorang pria lain menangkap pencuri itu. Memukuli pencuri itu untuk mengambil tas Keyl. “Apa Key masih lama, el?”

“Aku tidak tahu. Apa yang harus kita lakukan?”

“Lebih baik kita pergi. Aku merasakan sesuatu yang aneh dari pria itu.”

Alis Keyl mengernyit. Mengangguk kemudian berjalan pergi, meninggalkan pria yang berusaha menyelamatkan tasnya. Pun, sepasang suami istri yang masih bertengkar itu.

 

***

 

“Sudah kubilang bukan, aku tidak berminat mengikuti kencan buta atau semacamnya itu. Jika kau mau, pergi saja sendiri!”

Choi Minho berdiri diseberang jalan, menunggu lampu lalu lintas untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau. Tangan kanannya memegang ponsel yang sengaja ia tempelkan ditelinga, Taemin sedang mengoceh disana.

 

Apa kau berniat hidup sendiri—ah, tidak! Sepertinya lebih baik kau menikah dengan batu itu! kau sudah tergila – gila oleh benda itu.

 

            Tawa kecil Minho keluar, “Berhentilah mengkhawatirkanku. Pasti ada waktunya nanti aku bertemu dengan seorang gadis, kemudian berkencan bahkan menikah. Jadi tidak perlu ikut kencan buta yang hanya membuang – buang waktu.”

 

Dasar, benar – benar keras kepala! Kau dimana, hyeong? Aku sudah membelikanmu kopi dan menaruhnya diatas mejamu. Seharusnya kau datang lebih pagi untuk mengenalkanku pada orang – orang disini.

 

            “Tunggu saja diruanganku sebentar, aku masih di Hongdae. Mungkin jam setengah 10 tiba dirumah sakit.”

 

Hongdae? Untuk apa?

 

            “Ada yang harus kubeli disini.”

 

Arasseo, cepat datang kerumah sakit jika urusanmu sudah selesai. Aku tutup, Dokter Choi.

 

            Sambungan telepon terputus. Minho memasukkan ponselnya, berjalan menyusuri distrik Hongdae yang selalu diramaikan pengunjung. Ia datang kesini untuk membeli tempat batu keramik yang satu minggu lalu ia pesan.

“Ini karena kau tidak bisa menutup mulutmu dengan baik, jalang!”

Minho sontak menatap kearah suara teriakan yang disusul oleh jatuhnya barang – barang. Tanpa menunggu lama, Minho segera berlari menuju kearah pria yang sedang mengamuk itu. Namun…

 

BRAK

 

Tubuh Minho sedikit terhuyung saat tubuh seseorang membentur pundaknya dengan keras. Ia menoleh kebelakang, mendapati seorang pria yang tersenyum miring kearahnya-meski tidak tepat padanya. Ditangan pria itu terdapat sebuah tas wanita  berwarna merah, Minho menoleh kearah pandangan pria berkacamata hitam itu. Baru saja menyadari jika pria itu adalah pencuri saat mendapati dua orang gadis tengah menatap pria itu tanpa ekspresi. Salah satu gadis yang berambut merah menunjuk pria itu.

Minho segera mengejar pria itu, memukulinya sampai babak belur. “Baiklah, baiklah. Aku kembalikan. Lepaskan aku!” pencuri itu memberikan tas merah yang sejak tadi digenggamnya dengan pasrah. Minho menerimanya dengan kasar.

“Seharusnya kau mencari pekerjaan yang lebih baik daripada mencuri!” Tukas Minho kesal. Sedangkan pria itu hanya menunduk, lalu berlari melarikan diri dari Choi Minho.

Hela napas Choi Minho keluar, ia merapikan bajunya seraya mendesah kesal. Lalu menyahut tas kantornya yang tadi sempat ia jatuhkan agar bisa leluasa memberi pelajaran pada  pencuri itu. Tubuhnya berbalik, dahinya mengerut seketika saat mendapati dua gadis itu telah hilang.

Mwoya?! Apa – apaan mereka, kenapa tidak membawa tasnya dan pergi begitu saja?” gerutu Minho kesal, tapi ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Karena ia masih ingin menekankan perhatiannya pada pria mengamuk tadi. Namun pria itu sudah hilang, hanya tersisa seorang wanita dan putrinya yang tengah menangis.

Minho segera berlari kecil kearah ibu itu. Membantu merapikan dagangannya kembali diatas meja. Tak lama kemudian, berangsuran ada yang ikut membantu pula.

 

***

 

Keyl dan Caprice tak tahu kemana arah mereka pergi. Hanya mengikuti insting dan naluri, menghindari pria berkacamata hitam itu sejauh mungkin. Tangan Caprice masih memegangi pergelangan Keyl erat, menarik gadis itu agar mengikuti langkahnya.

“Ada apa sebenarnya, Cap? Kau merasakan apa?” Keyl bertanya dengan sesekali menoleh kebelakang. “Kita sudah cukup jauh.” Lanjut gadis itu saat tak menemukan keberadaan pria tadi sama sekali.

Akhirnya Caprice menghentikkan langkah, melepas genggamannya dari tangan Keyl lalu menghela napas lega. “Warna aura pria itu hitam. Sangat hitam, begitu pekat dan ada percikan api ditengahnya.” Ujar Caprice, memberi penjelasan seraya menyentuh bahu kiri belakangnya. Tatapannya masih tercengang.

Alis Keyl terangkat, dengan cepat ia memeriksa bahu kiri belakang Caprice. Apa yang ia duga benar terjadi, simbol infinity itu sedang dalam proses  bertransformasi menjadi biru lagi. Masih ada warna hitam dipinggiran simbol, karena warna birunya masih menyebar dibagian tengah.

“X.” Tukas Keyl geram. “Apa yang mereka rencanakan sebenarnya?” lanjut gadis itu kesal.

Bola mata  Caprice bergerak pelan kekanan, sedang berpikir. “Dia menampakkan ekspresi yang sangat aneh tadi.”

Dahi Keyl mengernyit. “Ekspresi seperti apa?”

Caprice menirukan senyuman miring milik pria berkacamata tadi sekejap, sebelum kembali merubah rautnya menjadi datar. “Seperti itu.”

“Ekspresi macam apa itu?” Heran Keyl. Caprice mengangkat bahu asal, tanda  bahwa ia juga tak paham. “Ah, Key!” tukas Keyl tiba – tiba.

“Kau benar, lacak dia dengan vision-mu.”

“Aku sedang berusaha.” Keyl memejamkan kedua mata, mencoba menggali lebih dalam superego-nya dan kemampuan supranatural-nya untuk mendapatkan informasi dimana keberadaan Bryan Key. Seharusnya mereka menunggu dititik itu sampai Key datang, tapi realitanya tidak bisa semulus yang sudah direncanakan.

Kemampuan vision yang dimiliki Keyl istimewa. Selain bisa membaca pikiran orang dan masa lalu orang lain, juga dapat melihat masa depan ataupun melacak orang lain seperti ini meski memiliki kesulitan yang cukup besar.

Kedua mata Keyl terbuka, bola matanya yang tadi berwarna biru sekejap kembali berwarna coklat kehitaman. “Aku menemukannya, dia sudah menuju kesini.”

“Baiklah, lebih baik kita diam disini sampai Key datang.”

 

“Oh astaga! Kenapa kalian tidak berdiam diri disana seperti yang sudah diperintahkan?!” Tubuh Keyl dan Caprice berbalik hampir bersamaan. Menemukan Bryan Key, mata – mata Ace yang diutus untuk membimbing Keyl dan Caprice dalam menjalani tugas. Acern klan api, dan masih sedarah dengan Keyl. Lebih tepatnya, Key adalah kakak kandung Keyl.

“Maafkan kami.” Caprice memohon maaf dengan gesture ala planet  Ace, menciptakan perhatian lebih dari orang – orang yang kebetulan melewati jalan itu. “Ada salah satu manusia planet X yang mengambil perbekalan kami, karena aku bisa merasakan energi yang sangat kuat dari pria itu jadi kami memutuskan untuk pergi.” Lanjut Caprice dengan begitu sopan.

Key menatap sekitar dengan was – was, sedikit melempar senyuman canggung pada para pengguna jalan yang terlihat tertawa kecil mendengar ucapan Caprice. Pria itu menghela napas frustasi, mengambil tempat ditengah dua gadis itu seraya merangkul kedua pundak Keyl dan Caprice.

Caprice  terkejut, tapi tidak ada reaksi yang signifikan dari ekspresinya selain kedua mata yang melebar. Sedangkan Keyl sejak tadi terdiam, menatap wajah Key terperangah. Pasalnya, ini adalah pertama kali ia melihat Key lagi setelah 5 tahun berpisah. Dan mengejutkan sekali, sikap Key benar – benar berbeda.

“Kita cari tempat yang tepat untuk mengobrol. Jadi ikuti aku saja, ya?’’ Key berbisik lalu melepas rangkulannya, berjalan  mendahului Keyl dan Caprice yang hanya bisa menurut dengan bingung.

 

***

 

X

 

            Prince Addison berjalan santai melewati pilar – pilar istana yang didominasi dengan warna merah dan hitam itu. Jubah kerajaan yang ia pakai sedikit berkibar karena dibentur angin. Pria dengan wajah tanpa ekspresi dengan kedua mata tajam nan bengis itu berbelok kanan, membuka pintu tanpa berpikir untuk mengetuk terlebih dahulu. Tidak ada sopan santun didalam planet ini, sopan santun hanya diberlakukan untuk budak – budak X pada tuan – tuannya. Dan juga tuan – tuan itu pada keluarga kerajaan. Segala hal yang berada di bagian paling atas rantai makanan tergantung dari tahta mereka. Semakin tinggi tahta, semakin ia berada diatas.

“Ada yang ingin kau bicarakan?” Tanpa basa – basi, Addison langsung melontarkan point terpenting dari tujuannya datang keruang pribadi Hedson. Raja besar X, ayah kandungnya sendiri.

“Duduklah.” Titah Hedson, kemudian menghidupkan api pada obor – obor diruangannya hanya dengan pikiran. Addison duduk disofa mewah, tepat dihadapan Hedson. Kedua matanya melirik tanpa belas kasih kearah seorang budak yang tengah dirantai dipojok ruangan. Pria malang itu telanjang dada, perutnya dihiasi oleh beret khas kulit yang habis dipukul tembikar.

Hedson meminum sari anggur yang biasa disebut wine dengan nikmat. Menaruhnya diatas meja sebelum berucap, “Dia tidak becus membersihkan kamarku, tidak ada pilihan lain selain memberinya pelajaran.” Ujar Hedson tenang.

Addison mengangguk mengerti, “Jadi bisa kita kembali keinti pembicaraan?”

“Ada berita bagus. 3 jam dari sekarang kau bisa pergi kebumi dan mulai melancarkan rencanamu.”

Addison tersenyum miring, “Jadi agen khusus planet Ace sudah berada disana?”

“Tentu saja, seorang mata – mata yang bertugas baru saja mengkonfirmasi.” Hedson menuang cairan pekat wine pada gelas kosong yang berada didepan Addison. “Habiskanlah ini, dan bersiaplah untuk meraih kemenangan planet kita. Banyak yang bisa kita manfaatkan dari planet bumi, jika kita bisa menguasai bumi dapat dipastikan manusia planet  Ace juga tidak dapat berbuat apapun selain membungkuk pada kita. Jadi, jangan pernah mengecewakanku dan planet mu sendiri, Prince Addison.”

 

***

 

EARTH

Seoul Hospital

 

            “Ini, ini nyata kan?”

Taemin menampakkan raut wajah gembira yang berlebihan seraya menatap Minho dengan penuh binar. Minho yang baru saja memasuki ruang kerjanya, melepas jas hitamnya kemudian menggantungkan pada tiang khusus jas. Lalu memakai jas dokternya sambil membalas tatapan  Taemin malas.

“Ada apa lagi?”

Taemin tak menjawab, lebih memilih untuk menyahut tas perempuan merah yang tergeletak diatas meja kerja Minho. “Hyeong… sekarang kau sudah mengencani seorang gadis tanpa sepengetahuanku, ya?” Tanya Taemin tak terima, mengangkat tas cantik itu dengan kedua mata melebar. “Ini tas siapa, huh? Kau pergi ke Hongdae untuk membeli tas ini?”

Minho menghela napas frustasi, tak kuasa kembali mendengar bahasan Taemin yang selalu seputar kencan. Ia mengambil alih tas itu dari genggaman Taemin, “Jangan sok tahu!” tukasnya singkat.

Namun Taemin tak menyerah begitu saja, pria itu tersenyum menggoda. “Jadi itu alasan mengapa kau menolak kencan buta yang kusarankan? Siapa dia?  Apa dia cantik? Apa aku mengenalnya?”

Minho terdiam, mengingat bagaimana wajah gadis yang memiliki tas ini baik – baik. Lalu mengangguk, “Dia cantik.”

“Benarkah? Bisa kulihat fotonya? aku penasaran gadis mana yang akhirnya bisa membuatmu melepas masa single yang sudah kau pertahankan selama bertahun – tahun.”

Minho tertawa hambar sebentar, “Cari saja didalam sini, pasti ada kartu tanda penduduknya. Kau bisa melihat disana.” ia menaruh tas merah itu diatas sofa.

Taemin mengernyit, “Kau tidak punya foto bersama kalian diponselmu?”

“Aku tidak berkencan, Lee Taemin. Itu tas milik seorang gadis yang tadi kuambil dari pencuri, tapi saat akan kukembalikan mereka menghilang.”

Mwoya?!  Aish, padahal aku sudah sangat bahagia melihatmu berkencan.” Taemin mengambil tempat disofa yang berada didepan meja kerja Minho. Mengambil tas merah itu lalu membukanya.

“Apa yang kau lakukan, huh?” Tanya Minho, bagaimana pun tas itu bukan miliknya. Jadi ia harus menyimpannya dengan baik hingga ia bertemu dengan pemilik tas ini.

“Kita harus melihat kartu tanda penduduk pemilik tas ini agar bisa mengembalikannya.” Balas Taemin ringan  tanpa menghentikkan kegiatannya membuka tas merah itu.

“Terserah kau saja! aku harus memeriksa pasien, kau tunggu disini dan jaga tas itu agar tidak hilang.” Minho melenggang pergi meninggalkan Taemin, karena ia harus melakukan check pasien keliling. Tidak banyak yang dilakukan seorang psikiater dalam pemeriksaan seperti ini, biasanya ia hanya menanyakan suasana hati pasien hari ini, mengobrol ringan bersama pasien – pasiennya, dan juga memastikan jika obat – obat yang ia resepkan sudah diminum secara teratur.

Taemin menemukan dua dompet didalam tas itu. Mengeluarkan dua dompet itu lalu membuka salah satu yang berwarna coklat, tapi tidak ada kartu identitas yang ia temukan selain jumlah uang yang  begitu banyak menyesaki ruang dompet.

“Sepertinya gadis ini kaya sekali.”

 

***

 

Hazel cafe

 

            Key menunduk sopan pada pelayan cafe saat 3 cangkir coklat hangat sudah tersaji diatas meja. “Gamsahamnida.” Ucap Key sekadar, lalu kembali memfokuskan tatapannya pada dua gadis yang duduk dihadapannya.

“Kau… sangat berbeda.”  Keyl akhirnya mengeluarkan suara setelah membungkam bibirnya sejak Key datang tadi. “Benar – benar sulit dipercaya jika kau adalah Bryan Key.” Lanjut Keyl.

Caprice menatap bingung Keyl dan Key bergantian, merasa terasingkan dengan cara kedua orang itu bertatapan. “Kalian saling mengenal?”

Key menoleh kearah Caprice. “Ya, aku kakaknya. Kau pasti tahu namaku, kan?” Jawab Key ramah dengan mengulas senyuman.

“Ya, Bryan Key. Jadi kalian saudara kandung? Bryan Key dan Bella Keyl. Pantas saja nama dan wajah kalian hampir serupa.”

Key hanya membalas ucapan Caprice dengan senyuman kecil. Namun tak ada reaksi apapun dari wajah Caprice, begitu pun Keyl yang sama – sama tak memiliki ekspresi. Meski hati mereka seputih salju dan begitu suci, tapi mereka tidak pintar meng-ekspresikan diri karena tak ada pelajaran mengatur ekspresi didalam planet Ace.

“Baiklah, aku akan mulai.” Key mengeluarkan dua tanda pengenal, memberikannya pada Keyl dan Caprice satu per satu. “Sam Rinhyo! Shin Soojung! Mulai sekarang kalian harus membiasakan diri dengan nama itu, meskipun itu hanya diantara kalian. Itu adalah kartu tanda penduduk, alamat yang ada disana adalah gedung apartemen yang nanti akan kalian tinggali selama hidup di bumi.”

Caprice dan Keyl menatapi kartu tanda penduduknya dengan intens. “Nama koreaku Kim Kibum, tapi kau bisa tetap memanggilku Key karena Bryan Key adalah nama ku sebagai pelukis.”

“Kau menjadi pelukis disini?” Tanya Keyl.

“Ya,bagaimana pun aku sudah hidup disini selama 5 tahun. Jadi aku harus mencari pekerjaan.”

“Jadi, bagaimana dengan serenety stone ? Apa kau tahu bentuk dan bagaimana cara kami bisa menemukannya?” Tanya Caprice langsung.

“Menurut sejarah nenek moyang, serenety stone sudah tertimbun sejauh 15 kilometer dibawah tanah pulau Jeju. Tersimpan dengan baik dihutan kawasan non-pariwisata. Bentuknya tentu bulat berbahan keramik, warnanya abu – abu dan memiliki pahatan rapi bahasa tradisional Ace disana. Tapi … saat kami mencoba menggali, tidak ada. Sama sekali.”

“Itu artinya ada seseorang yang sudah mengambil serenety stone terlebih dahulu. Apa mungkin itu agen dari planet X?” tanya Keyl curiga.

“Awalnya kami menduga seperti itu, tapi ternyata tidak. Penanggung jawab mengatakan jika sekitar 7 tahun yang lalu ada seorang ilmuwan yang juga menggali hutan itu untuk alasan penelitian. Sejauh ini kami menduga jika serenity stone ada pada pria itu.”

“Siapa dia?” Caprice menatap Key dengan bola mata yang menajam.

“Tidak diketahui, penanggung jawab itu pun hanya mengetahui nama orang yang mendanai biaya proyek penggalian- Han Jaejoon. Tapi dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu.” Key menatap Keyl dan Caprice bergantian dengan tatapan serius. “Maka dari itu kalian dikirim kesini, selain karena keadaan bumi yang sudah sangat buruk. Juga karena kemampuan lebih kalian. Aku tahu kemampuan vision-mu meningkat begitu pesat, Soojung.”

Caprice menoleh kearah Soojung yang merapatkan bibir. Caprice bisa melihat aura putih Keyl berubah, dia pasti sangat terbebani dengan ucapan Key. “Jadi dengan kemampuan E—ah, maksudku Soojung yang bisa melacak dan melihat masa depan, kita bisa menemukan serenety stone. Begitu?”

Key mengangguk mantap. “Ya, dan dengan ketenanganmu kau bisa menjadi pelindung untuk Soojung. Kau adalah satu – satunya pengendali aura di planet Ace, dan juga satu – satunya klan air yang bisa mengembalikan kekuatan serenety stone jadi kau sangat penting, Sam Rinhyo.” Jelas Key, memberikan tekanan pada Caprice melalui untaian kalimatnya.

Caprice berkedip cepat, meneguk ludahnya berat. “Kalian adalah kombinasi penting untuk mengembalikan keseimbangan bumi. Setelah ini semua selesai, mungkin saja kalian tidak pernah diingat oleh manusia bumi. Tapi, kalian akan diingat oleh seluruh populasi planet Ace sebagai pahlawan.” Lanjut Key.

Perlahan Caprice dan Keyl beradu tatap dengan ekspresi datar yang menyimpan banyak makna didalamnya. Beban yang sangat berat sudah benar – benar terasa dipundak mereka, bagaimana pun mereka melakukan ini bukan untuk dirinya sendiri. Melainkan untuk jutaan bahkan milyaran orang yang hidup dibumi. Tapi tak ada rasa dengki dalam hati mereka. Sungguh, mereka rela. Melihat keadaan bumi dimana kebaikan sudah hampir musnah, lebih menyayat hati daripada beban apapun yang akan mereka lalui.

Keyl menoleh kearah Key, tatapannya berubah ragu dan sedikit cemas dengan apa yang ingin ia tanyakan. “Apa… kita tidak bisa kembali lagi?” Tanya Keyl pelan. Caprice ikut memandang Key dengan penuh harap.

Key membalas tatapan dua gadis itu tak terbaca, senyuman tipisnya terulas seiring dengan lidahnya yang berucap “Aku tidak tahu.”

 

***

 

X

 

            Addison menatap pantulan diri dicermin, rambutnya yang panjang sudah dipotong pendek dengan bagian depan rambut yang sedikit naik keatas. Perlahan ia menanggalkan jubah yang sejak tadi menutupi transformasi berpakaiannya. Senyuman miringnya terulas melihat penampilan barunya.

“Namamu adalah Cho Kyuhyun. Saat kau sampai dibumi, kau akan disambut dengan seorang agen yang bernama Cho Sanghyun. Dia adalah pria yang bisa membantumu hidup dengan baik di Korea Selatan. Sekarang, ayo kita pergi keportal!” Prince Anthony menyelesaikan ucapannya dengan nada menahan kesal. Pria yang lebih tinggi dari Addison itu mempersilahkan Addison untuk berjalan keluar meski faktanya Anthony adalah kakak kandung Addison. Namun karena embel – embel special prince yang disematkan ayah mereka khusus untuk Addison, umur bukanlah alasan lagi untuk Addison bersikap hormat pada Anthony.

Prince Addison tersenyum tipis, berjalan  melewati tubuh Anthony untuk berjalan terlebih dahulu. Kepalan  tangan Anthony semakin menguat seiring dengan kedua kakinya yang ia paksakan berjalan mengekori Addison. Pelayan yang berada diujung lorong  seketika membungkuk saat menemukan dua pangeran mereka, tangan kanannya membuka daun pintu yang terbuat dari emas dan berukuran besar itu.

Berbeda dengan planet Ace yang memanfaatkan sumber daya untuk meningkatkan teknologi yang berguna bagi penduduk Ace. Di planet X, sumber daya digunakan untuk memperkaya keluarga kerajaan dan menciptakan senjata – senjata rahasia yang akan diluncurkan saat waktunya tiba. Ketika bumi siap untuk diserang.

Pegawai kerajaan yang tadinya sibuk didalam sana seketika membungkuk ketika Addison dan Anthony berjalan melewatinya. Mereka menaiki 3 anak tangga yang membawa mereka bertemu dengan sebuah cermin hitam yang tingginya sekitar 3 meter dan lebar 4 meter. Disamping kanan cermin itu ada King Hedson yang menunggu dengan senyuman kecil, sedangkan  disamping kiri ada seorang witch yang bertugas sebagai pembuka portal.

Dalam planet X, ilmu sihir lebih banyak digunakan. Namun tidak untuk Addison, pria itu tak memiliki ilmu sihir sama sekali. Namun ia bisa mengendalikan cuaca-termasuk petir dan angin, listrik dan juga ia bisa menciptakan perisai untuk dirinya sendiri. Maka itu, pantas jika Addison diberi gelar special prince oleh ayahnya.

“Kau harus mengingat tujuan utamamu, dan harus berpikir keras bagaimana cara mencapai tujuanmu. Mengerti?” King Hedson berucap dengan tegas, meski senyuman tipisnya masih terulas.

Addison mengangguk mantap. “Aku mengerti.”

“Pergilah kebumi, dan bawa kemenangan besar padaku!” King Hedson menoleh kearah witch, kemudian bertitah “Lakukan!”

Witch wanita itu mengangguk sekali, berdiri didepan cermin hitam dengan kedua mata terpejam. Bibirnya menggumamkan mantra – mantra dengan begitu cepat dan  lirih hingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang dikatakan wanita itu. Kedua tangannya berputar dari atas kebawah, lalu dengan penuh kekuatan ia  mengangkat kedua tangan keatas seraya berucap lantang “LOCOMOSCO FREDINORA!”

Bagian tengah cermin hitam itu mulai mengeluarkan titik – titik cahaya semacam kunang – kunang. Cermin yang tadinya terlihat begitu keras itu kini sedikit demi sedikit terlihat melunak. Bibir Addison terbuka sedikit, “Menakjubkan.” Ucapnya dengan terperangah.

Witch wanita itu minggir beberapa langkah, mempersilahkan Addison memasuki portal dengan tangan kananya. Addison menoleh kearah ayahnya yang mengangguk sekali dengan mantap. Kembali ia menoleh kearah portal, berjalan perlahan memasuki cermin hitam itu dengan kedua mata tertutup.

Anthony menatap adiknya yang hilang dibalik cahaya kunang  – kunang. Tak menunggu sampai satu menit, portal itu tertutup sempurna. Cahaya kunang – kunang itu pun menghilang dalam sekejap, hanya ada cermin hitam keras yang terlihat begitu tua.

 

***

 

Earth-

 Cheondamdong , Seoul

 

            “Selamat datang di bumi, Prince Addison.”

Perlahan Addison membuka kedua mata, yang ia lihat sekarang adalah 5 orang pria yang tengah membungkuk padanya dalam sebuah ruangan. Seorang pria yang berdiri dibaris paling depan, menegakkan badannya meski tatapannya masih kebawah tak ingin meninggalkan kesan hormat pada Addison.

Pria yang sepertinya berumur 45 tahun itu mulai berucap, “Nama saya Cho Seunghyun, Prince.”

Addison mengangguk sekali. “Bersikap biasalah, karena kita berada dibumi. Dan juga, berhenti memanggilku prince. Panggilan seperti itu hanya digunakan saat kalian berada diplanet kita.”

Bergantian 5 orang itu menegakkan badannya, menatap kearah Prince Addison setelah sekian lama tak pernah benar – benar menatap wajah Addison dengan alasan kehormatan. “Jadi, apa peranku?” tanya Addison singkat dengan nada khas seorang pemimpin.

“Anda akan berperan sebagai putra saya yang tinggal di  Switchzerland sejak kecil, dan sekarang anda kembali untuk menggantikan saya sebagai presiden direktur diperusahaan kami.” Ujar Cho Seunghyun dengan sopan. “Kami sudah hidup dibumi sejak 10 tahun yang lalu, jadi  Cho grup sekarang sangat besar dan merupakan perusahaan terbesar dikorea.”

“Apa gunanya posisi ini untukku?”

“Banyak, tuan. Karena perusahaan ini bergerak dibanyak bidang, anda bisa bertemu dengan banyak orang dengan berbagai macam latar belakang sebagai salah satu cara untuk mencari keberadaan serenety stone sekaligus agen planet  Ace.”

Addison tersenyum separo, “Kalau begitu, sekarang tunjukkan dimana aku tinggal.”

 

***

 

“Didalam bumi, kalian tidak bisa membangun suatu hubungan baik dengan mudah. Harus dibekali dengan ekspresi yang menyenangkan untuk memberi kesan yang baik.”  Key menjelaskan seiring dengan langkahnya yang berjalan memasuki lobi gedung apartemen. Keyl dan Caprice mendengarkan dengan teliti seraya menatapi interior gedung.

“Ekspresi seperti apa?” tanya Keyl.

“Sederhana saja. Awalnya, kalian bisa belajar bagaimana cara tersenyum.” Key memencet tombol lift, menoleh kearah Keyl dan Caprice. “Senyuman memiliki banyak arti, tapi pada dasarnya tersenyum dilakukan untuk memberikan kesan baik atau mengekspresikan rasa senang.”

“Bagaimana cara melakukannya?” Kini Caprice yang bertanya.

 

TING

 

            Pintu lift terbuka, menampakkan seorang gadis dengan setelan pakaian kerja hendak keluar lift. “Perhatikan ini!” tukas Key pelan. Pria itu melepaskan senyuman pada gadis itu seraya berucap, “Selamat pagi, Taehee-ssi!”

Park Taehee-gadis itu- membalas senyuman Key seraya membungkuk sedikit. “Selamat pagi, Kibum-ssi!”

Key memasuki lift kosong terlebih dahulu, tersenyum kecil pada Caprice dan Keyl. “Mudah kan?” tanya Key ringan.

Keyl menatap bingung, berjalan memasuki lift bersama Caprice yang terlihat mengerti. “Apa kita harus melakukan itu setiap bertemu dengan manusia bumi?” Keyl bertanya dengan serius, mengundang tawa kecil yang keluar dari bibir Key.

“Kau mengingatkanku pada hari pertama aku turun kebumi.” Komentar Key lalu melanjutkan, “Tidak harus selalu. Biasanya manusia bumi menyapa orang – orang yang mereka kenal saja.”

Caprice mengangguk – angguk mengerti. “Kau mengenalnya?”

“Ya, dia tetanggaku. Aku tinggal disini, tapi berbeda lantai dengan tempat tinggal kalian.” Key berdehem sejenak, dari tadi ia berceloteh demi mengenalkan bagaimana bumi pada dua gadis ini. “Sekarang coba kalian tersenyum!”

“Huh?” Caprice dan Keyl berujar hampir bersamaan.

Key langsung menunjuk Caprice, “Sam Rinhyo, tersenyum!” sahut Key cepat. Tersentak, Caprice mengulas senyumannya sedikit ragu diawal namun menyempurnakannya diakhir. Key tersenyum puas, “Ya, seperti itu! sekarang, Shin Soojung!”

Keyl memasang wajah malasnya seraya mengulas senyuman tak natural sama sekali. Key mendesah frustasi, menggelengkan kepala tak percaya. “Kau harus banyak berlatih!”

Pintu lift kembali terbuka, mereka keluar dari lift dengan santai. Caprice berkali – kali melatih cara tersenyumnya, sedangkan Keyl tak henti menghela napas malas. Menurutnya, bumi begitu merepotkan.

Key menghentikkan langkah didepan pintu apartemen, ia memberikan kunci apartemen yang berbentuk kartu pada Keyl dan Caprice. “Password-nya 0000, silahkan masuk dan nikmati waktumu untuk hari ini! besok kita bertemu dan kau, Shin Soojung! Kau harus mengganti warna  rambutmu. Itu terlalu mencolok untuk manusia bumi!”

 

 

TBC-

 

Haloo^^ cuman mau bilang maaf kalo ngelanjutinnya semakin gak jelas wkwkwk

Lanjutin ya bel^^

Jangan jadi silent readers, ya 🙂 semoga kalian suka

 

Advertisements

7 thoughts on “ACE-X (2)

  1. “Keyl: Ekspresi seperti apa? | Cap: (smirk) seperti itu | Keyl: ekspresi macam apa itu?” Dobol aku ngakak huahahahaha btw Lomosco Fredinora? Lolololol setidaknya kuakui memang lebih jelas daripada Ukhfrischehoulaude -..-

  2. keren,.ceritanya
    bikin penasaran bgt..
    Si sam rin hyo lbh mudah untk diajari tersenyum berbnding terblik dgn shin soojung..
    Tp mereka tdk sadar kalo orang yg menolong mereka mengambil tas adlah orang yg mereka cari

  3. Tujuan mrka udh dkat dgn serenity tone,,tp syg skli mrka blm nydar… Ap mrka brdua bkaln krja d tmpatnya Kyu???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s