Officially Missing You 5

omy2

By: Bella Eka.

.

Officially Missing You

-5-

.

Bermenit-menit Soojung menatapi Minho yang terus menyetir tanpa bicara, berharap Minho berucap lebih dulu apa maksud membawanya tiba-tiba dengan cara mencurigakan pula. Tapi sepatah kata pun tak didapatkan dari mulut pria di sampingnya itu hingga berakhir ia dulu yang memulainya. “Tidak biasanya kau seperti ini.”

“Kita tidak akan punya waktu jika aku berlaku seperti biasanya.” Sejenak Minho memberi jeda. “Aku menyadari sesuatu penting yang hilang di antara kita.”

Soojung bukan gadis yang pandai memecah kode. Ia mengernyit tak mengerti apa yang harus ditangkap dari ucapan Minho. Beberapa detik hening seolah Minho memberi waktu dirinya berpikir sebelum akhirnya memperjelas.

“Waktu bicara.”

Soojung meremas tali sabuk pengaman di tubuhnya. Dapat dipahami bahwa Minho ingin meluruskan semua sekarang juga. Ia mengerti sekarang, dan itu mengerikan.

“Karena itu aku tidak ingin membangun jarak dan membawamu ke sini, dengan begini salah satu dari kita tidak akan ada yang melarikan diri.”

Soojung meneguk ludah berat, mengalihkan pandangan ke depan. Hanya satu pihak yang dipastikan melarikan diri dari topik ini dan Soojung sadar itu adalah dirinya. Minho cukup cerdas mengantisipasi tapi bagi Soojung seperti terjerat dalam jebakan tikus yang hanya tinggal menunggu mati. Bukan maksud Soojung tak mempercayai Minho memegang rahasianya tapi nyatanya, walau sedikit memang benar adanya.

“Pertama…”

“Tunggu!” Soojung menyela cepat. “Pertama, aku ingin tahu seberapa jauh hubunganmu dengan Jinri.” Tak dipungkiri ia juga tak nyaman melihat Minho sedekat itu dengan Jinri, dimana gadis itu dikenal sebagai pasangan Minho di antara penggemar dan Soojung khawatir lama-kelamaan hubungan itu benar, jadi ia tak membuang kesempatan ini.

Minho tersenyum tipis. “Aku akan jujur padamu karena kuharap kau juga nanti.”

Ucapan Minho lebih terdengar seperti peringatan di telinga Soojung. Keadaan ini tak main-main membuat mereka gugup—atau mungkin hanya Soojung yang merasa begitu.

“Aku memang pernah mendengar kabar aneh tentang Jinri. Kim Kibum bilang dia sekali menemukan ponsel Jinri menyimpan fotoku. Akan normal bila itu adalah foto bersama tapi yang dia temukan adalah foto tunggal yang tidak official atau kuunggah di weibo, menurut Kibum itu sejenis foto pribadi yang Jinri ambil sendiri ketika aku tengah tertawa.” Minho melirik Soojung sekilas memastikan ekspresi Soojung yang ternyata nampak terkejut. “Mungkin saja foto itu ada karena tidak sengaja atau kemungkinan lainnya, kan? Belum tentu prasangka Kibum benar, tahu sendiri dia bagaimana. Yang pasti hubunganku dan Jinri tidak lebih dari yang kau ketahui.”

“Baiklah, aku mengerti. Jika Jinri benar menyukaimu pun, aku masih bisa mengerti.” Senyuman tulus Soojung terulas.

Minho menangkap tangan gadisnya, menggenggamnya sementara tangan yang lain tetap menyetir.

“Aku sangat mengerti karena Jinri pasti mengiramu masih sendiri.” Minho menatapnya lega.

“Bagaimana denganmu… dan Kyuhyun… hyung?”

Tangan Soojung bergerak hampir melepas tautan tapi tidak jadi ketika merasakan genggaman Minho semakin mengerat, seolah dia tahu bila dirinya ingin melarikan diri. Beberapa saat hening sampai Soojung menyadari Minho menunggunya bicara. “Hubungan yang beredar di publik itu hanya rekayasa buatan agensi, jangan khawatir.”

“Aku tahu.”

“Hm?”

“Tapi bukan itu yang membuatku takut. Ucapan Kyuhyun hyung, yang berterimakasih padaku karena sudah membantunya kembali dekat denganmu,” kata Minho membuat mata Soojung melebar dan kembali normal dengan paksa ketika ia menoleh padanya. “Aku sama sekali tidak mengerti tentang itu dan hubungan kalian yang dulu.”

Mulut Soojung terbuka lalu tertutup lagi, membuka seperti hendak mengatakan sesuatu kemudian menutup lagi. Terus ragu seperti itu sampai terdengar sirine mobil polisi mengekori mobil yang Minho kemudi.

“Ada apa dengan polisi?” Minho panik menatap depan dan spion berulang kali.

“Mereka mengejar kita? Bagaimana mungkin? Oh!” Soojung ingat satu hal hingga tubuhnya berjengit, menatap Minho terbelalak. “Lee Jongsuk!”

“Kalau begitu kita menyerah saja.” Minho menepikan mobil.

“Apa?”

“Kita jelaskan jika hanya salah paham dan aku tidak menculikmu.”

“Tapi…” Soojung menahan Minho ketika pria itu selesai melepas sabuk pengaman hendak keluar menghadapi kepungan polisi, wajahnya sangat tegang. “Bagaimana jika nanti mereka tahu hubungan kita?”

***

 

Soojung mengikuti langkah Minho berjalan keluar kantor polisi yang sepi karena malam mulai berganti dini hari. Mereka dibebaskan setelah satu jam mendukung argumen satu sama lain dengan menekankan bahwa tidak ada korban atau tersangka di antara mereka, bahwa semua murni kesalah pahaman akibat alat penyamaran yang mereka kenakan. Sempat ketiga petugas polisi mencurigai adanya hubungan khusus yang terjadi namun pada akhirnya teralih perhatiannya untuk meminta foto bersama setelah mengatakan berbagai pujian pada Soojung dan Minho yang menurut mereka lebih menawan jika dilihat secara nyata.

“Kau ingin kemana?”

“Hm?” gumam Soojung sekadar memastikan ia tidak salah dengar.

“Aku lapar, boleh makan ramen di rumahmu?”

Soojung mengangguk. Sedikit lega Minho tak membahas masalah yang sama, setidaknya untuk sementara.

Tepat saat Soojung membuka pintu mobil Minho yang tadi dibawakan oleh petugas dan diparkir di depan kantor polisi, ponselnya bergetar. Sembari menjawab telepon yang ternyata dari Lee Jongsuk, Soojung menghempas duduk di samping Minho. “Yeoboseyo?”

Bagaimana keadaanmu? Kau tidak apa-apa? Polisi tidak datang terlambat, kan?

“Aku baik-baik saja, tidak perlu panik begitu.” Soojung menghela napas mendengar suara Jongsuk yang berbicara terburu-buru di seberang.

Syukurlah. Apa saja yang dilakukan penculik brengsek itu padamu? Di mana kau sekarang? Akan kujemput. Kau tidak bawa kendaraan, kan?

Soojung menatap Minho. “Tidak, aku menginap di rumah Seulgi. Sebaiknya kau pulang saja, Oppa.” Bersamaan itu Minho balik menatapnya.

Oh, baiklah. Jaga dirimu, Soojung.

“Sepertinya dia mengkhawatirkanmu sekali.” Minho tersenyum kecut.

Soojung mengatup bibirnya rapat, mengedarkan pandangan ke luar jendela karena tidak ingin memperkeruh suasana yang baru kembali baik-baik saja.

“Aku merasa tidak ada bedanya dengan dia.” Hela napas berat Minho bagai topan kecil pembuka badai bagi Soojung yang mendadak lupa bernapas. “Dia bisa memberikan perhatian, kasih, sayang padamu dan sama-sama tidak tahu apapun tentangmu, persis sepertiku. Jadi apa yang membedakan aku dan dia yang hanya sahabatmu?”

Soojung mengulum kuat bibir bawahnya. Tak sampai hati ia membuat Minho sampai merasa tak dianggap, namun dirinya benar-benar belum siap mengatakan hubungannya dan Kyuhyun sebenarnya pada siapa pun, mungkin sampai kapan pun ia tak akan pernah siap. “Maaf jika membuatmu merasa begitu.” Ucapan Soojung berjeda selagi berpikir kata yang tepat, butuh dua menit sebelum ia berucap ragu, “Apa sebaiknya kita juga bersahabat saja?”

“Sebaiknya kita bicarakan lagi besok.” Minho membelai puncak kepala Soojung lembut. “Beristirahatlah saja malam ini lalu besok kuhubungi lagi.”

***

 

Cho Kyuhyun menenggak air mineral yang baru dibelinya di minimarket berjalan berupa van terbuka dekat Sungai Han. Dengan mulut menggembung menahan air sebelum tegukan terakhir, ia usap keringat di sekitar wajah menggunakan sapu tangan. Kemudian ia lempar botol kosong setelah meremukkannya dahulu ke dalam tong sampah sekitaran dua meter darinya berdiri, tersenyum kecil mendapati lemparannya tepat sasaran.

Mengenakan jaket biru dongker bertopi besar menutupi seluruh sisi kepala—kecuali wajah tanpa makeupnya, dan celana training hitam polos sudah cukup membuat Kyuhyun tak dikenali meski tanpa alat penyamaran. Mungkin ada beberapa orang berbisik-bisik bahwa ia mirip anggota Super Junior yang bernama Cho Kyuhyun dan menanyakan padanya apakah dugaan mereka benar. Saat itu terjadi ia selalu tersenyum kecil, menggeleng dan berkata, “Aku sudah sering mendengar itu tapi aku bukan Cho Kyuhyun,” kemudian meninggalkan mereka yang masih terkagum-kagum tak percaya.

Kyuhyun duduk di kursi kayu panjang berlengan besi, menikmati waktu santai dan sensasi panas dalam tubuhnya yang selesai berolahraga. Keringat masih terasa mengucur di tengkuk leher, dada, maupun punggungnya. Dan itu menyegarkan, mengingatkannya pada sauna yang sudah tak pernah ia kunjungi semenjak debut sebelas tahun lalu.

Di antara pengunjung Sungai Han pagi petang ini, pandangan Kyuhyun tertarik pada seorang gadis yang tengah berjalan-jalan bersama kucing putih berkalung tali merah yang ujungnya dia pegang di tangan kanan. Tanpa sadar bibir Kyuhyun ikut tertarik ke atas ketika melihat senyuman lebar gadis yang sedang bermain-main dengan kucing gembulnya itu, tanpa sadar Kyuhyun beranjak menghampiri gadis tak asing itu, dan tanpa sadar ia sudah berada di depan gadis familiar itu. “Sam Rinhyo?”

Rinhyo nampak bingung akan kedatangan Kyuhyun tiba-tiba. “Untuk apa kau di sini?”

“Kucingmu lucu juga.” Kyuhyun berjongkok mengusap bulu tebal kucing bermata biru milik Rinhyo, menggendongnya di tangan, memainkan hidungnya yang menyebabkan kucing itu berkedip-kedip menggemaskan. “Sama lucu seperti milik Heechul.”

Rinhyo mengambil kucingnya kembali setelah gusar memastikan sekitar. “Kau gila tidak pakai alat penyamaran? Kita tidak boleh bersama, jangan dekat-dekat denganku.”

“Lagipula kau juga tidak pakai, kenapa hanya aku?”

“Karena kau punya banyak penggemar remaja, sedang aku ibu-ibu penyuka drama.”

“Begitukah?” Kyuhyun terkikik kecil. “Baiklah aku akan pergi, kau benar bagaimanapun aku harus berhati-hati, kau juga.” Ia melambai pada kucing dalam pelukan Rinhyo. “Annyeong.” Lantas memajukan topi jaketnya dan berjalan menunduk.

“Cho Kyuhyun!”

Sempat Kyuhyun mengernyit sebelum berbalik. “Kau memanggilku?”

“Ya.”

Kerutan dahi Kyuhyun semakin panjang ketika Rinhyo melangkah mendekatinya. Ia mampu menemukan keraguan di wajah gadis itu, entah benar atau perasaannya saja.

“Tentang kalian… Maksudku, kau dan Shin Soojung.”

Otomatis raut muka Kyuhyun menegang hingga jakun di tenggorokannya berhenti di tempat. “Ya?” Akhirnya ia meneguk ludah berat menunggu Rinhyo yang tak kunjung bicara. Mungkin gadis itu tengah dilema. “Katakan saja.”

“Sampai kapan kalian akan terus merahasiakan itu?” Rinhyo menggigit bibir bawah sekilas. “Sampai kapan kalian akan terus membodohi orang-orang?”

Rahang Kyuhyun mengeras, menatap tajam Sungai Han. “Aku tidak sanggup membayangkan kalau rahasia itu terbongkar.”

“Bagaimana jika suatu saat terbongkar?”

“Itu tidak akan terjadi.” Kilat mata pria itu beralih menghunjam lensa pekat Rinhyo. “Untuk pertama kalinya, aku sangat memohon bantuanmu ikut menjaga rahasia ini.” Ia menghela napas berat sebelum beranjak. “Aku pergi.”

 

***

 

Soojung mengangkat ponselnya yang berdering, menjawab panggilan Manajer Park dengan mengatakan bahwa ia akan segera ke sana. Setelah itu meletakkan ponsel di atas nakas samping ranjang saat ia sibuk mencari kacamata hitam yang ia lupa taruh mana. Menyampirkan semua yang ada di atas seprai, ia tak menemukan kacamatanya di sana. Soojung beralih ke ruang tengah, tak melewatkan semua sisi bahkan di bawah karpet bludru hitamnya sekali pun tapi tetap saja tak ada, yang mana membuat ia mengacak rambut saking frustasinya. Ia sungguh membutuhkan kacamata itu untuk menutupi mata bengkak yang hanya sempat tertidur satu jam karena terlalu keras memikirkan bagaimana cara ia menghadapi Minho nanti, cara untuk menjaga rahasianya tanpa meruntuhkan hubungan mereka.

Suara bel kamar apartemen terdengar dua kali, sepertinya Manajer Park sudah tak tahan menunggu Soojung karena lama sekali. Soojung semakin serabutan sampai menelusuri kamar mandi, hingga akhirnya ia beranjak menuju dapur dan dalam sepintas menemukan benda hitam berharganya di atas kulkas. Sembari memakai kacamata dan menyisir rambut dengan jari, Soojung berjalan cepat menuju pintu dan membukanya. “Aku sudah se…”

“Lama tidak bertemu.”

Perut Soojung terasa mual mendapati senyuman wanita seksi yang muncul dengan membawa tas jinjing bermerk keluaran terbaru bulan ini. Ia mendecih ke samping. Jika dibolehkan, ia ingin meludahkan salivanya ke wajah wanita itu sekarang. Tapi Soojung tak ingin sama rendahnya seperti wanita itu jadi ia meneguk berat salivanya.

“Sepertinya aku mengejutkanmu. Tenang saja, aku tidak akan lama.”

Soojung membalas datar pada ibu tiri Cho Kyuhyun itu. “Ya, memang harus begitu.”

Wanita bermarga asli Lee yang sekarang sudah menjadi Nyonya Cho itu tersenyum miring. “Buah memang selalu jatuh tak jauh dari pohonnya, dan kau sama persis tidak sopannya seperti Shin Minha.”

“Maaf? Sebaiknya Anda tidak melibatkan orang lain yang tidak berada di sini.” Soojung mendesis. “Kuperingatkan, nama ibuku terlalu berharga dan tidak pantas kau sebut-sebut menggunakan mulut ternodamu itu, Nyonya Clara Lee.”

“Mulut ternoda? Tch! Aku jadi penasaran siapa yang sebenarnya sampah dan tidak pantas.” Wanita itu memutar bola mata lalu memandang Soojung dengan tatapan mengejek. “Jika kalian memang pantas maka tidak mungkin kalian ditendang dari rumah.”

Sial!

Soojung mengumpat dalam hati demi tak ingin tampak lebih rendah di depan wanita itu. Ia mungkin sudah mendaratkan pukulan ke mulut iblis wanita itu dengan tangannya yang terkepal jika lebih mementingkan emosi di atas logikanya. Tapi ia tak akan melakukannya, ia hanya akan membalas dengan jawaban elegan, setidaknya berusaha lebih berkelas dari wanita yang di matanya lebih seperti jalang daripada seorang ibu tiri itu. “Kau hanya beruntung kami mau mengalah padamu, karena aku tidak akan membiarkan ibuku menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk berurusan denganmu barang kotor yang hanya bisa menempeli ayahku seperti parasit! Ah, bukan, maksudku Tuan Cho.”

Kepala Soojung terbanting ke samping ketika pipi kirinya ditampar keras, hingga meninggalkan luka yang sepertinya tersayat akibat cincin berlian dimana tersemat di jari manis wanita itu. Ujung bibir sebelah kirinya juga terasa berdenyut-denyut. Ia benarkan letak kacamatanya yang melenceng lantas menyentuh denyutan perih itu, ia menyeringai puas begitu menemukan darah di jarinya. “Akhirnya kau sendiri yang buktikan jika kau memang tidak pantas, sangat rendah dan murahan.” Soojung terkikik bagai psikopat hingga wanita itu mengusap tubuhnya sendiri yang merinding.

“Bagaimanapun…” Wanita itu menarik napas panjang seraya menengadah angkuh. “Jangan sampai kau sebarkan hubungan darah antara kau dan Kyuhyun jika ingin kehidupan kalian tetap tenang. Atau jika tidak, bukan hanya kariermu saja yang akan hancur tapi bisnis kimchi ibumu juga.”

“Sejak kapan kau memata-matai ibuku?! Aku tidak akan pernah lupakan itu tapi jangan pernah sangkut pautkan ibuku!” Soojung mendengus. “Baiklah, tenang saja, lagipula aku juga tidak berminat mengambil kembali keluarga yang berhasil kau dapatkan dari merebut keluargaku itu.”

“Soojung-ah, apa yang kau…” Entah sejak kapan Manajer Park muncul dan nampak menatap asing Nyonya Clara, bisa dilihat ada kekaguman di sana setelah mengamati wanita itu dari atas ke bawah yang membuat Soojung menutup pintu apartemennya kasar sekadar untuk menyadarkan wajah bodoh Manajer Park.

“Ayo pergi, apa kita sudah terlambat?” Soojung menerobos berdirinya Nyonya Clara yang menyebabkan tubuh wanita bertubuh langsing tapi berisi itu sedikit terhuyung ke belakang. “Mian,” katanya asal tanpa menoleh ke belakang, sebaliknya berjalan menuju Manajer Park.

“Kau lama sekali karena ada urusan dengannya? Memangnya siapa dia?” Manajer Park bertanya antusias mengiringi Soojung melangkah menuju lift.

“Hanya wanita gila yang terlalu rendah dan murahan.”

“Apa?” Manajer Park menekan tombol bawah agar lift terbuka.

“Kau terlalu baik dan tampan untuk mengaguminya.”

Manajer Park mendecak. “Kau ini, selalu saja begitu.”

Soojung menghela napas melihat pria itu tersipu. Tapi kemudian Manajer Park melebarkan mata sesaat mendapati sesuatu.

“Wajahmu…” Seketika Manajer Park menyibakkan rambut Soojung untuk melihat wajahnya keseluruhan. Raut muka pria itu terlihat marah. “Siapa yang melakukan ini padamu?!”

“Sudahlah.” Soojung menjauhkan tangan Manajer Park dari wajahnya. Ia melangkah masuk lift diikuti pria khawatir di belakangnya.

“Tidak mungkin… wanita gila yang terlalu rendah dan murahan itu?”

Soojung hanya menggedik bahu lalu membiarkan Manajer Park berceloteh sendiri mengumpati Nyonya Clara dan mengomel tentang betapa berharganya Soojung dari pada wanita yang hanya punya tubuh seksi tapi tidak ada apa-apanya seperti dia.

Oppa.

Mwo?

“Kau tadi baru datang, kan? Kau tidak mendengar apapun, kan?”

“Mendengar apa maksudmu?”

“Tidak, lupakan.”

 

***

 

“Hei, Soojung! Kau mau latihan atau ke bandara? Pamer kacamata baru, ya?”

Baru saja memasuki gedung agensi, Soojung mengejar Jonghyun yang melarikan diri ke balik badan Minho. Tubuh Minho seolah tiang sempurna untuk kedua tom and jerry itu berputar-putar sampai pria tinggi yang melihatnya merasa pusing.

“Oh ayolah, kalian bukan anak kecil lagi.” Minho memejam frustasi ketika Soojung bergerak semakin cepat begitu pun Jonghyun menahan kikikannya yang semakin menjadi. “Hentikan, kalian berdua!”

Langkah Soojung terangkat ke udara ketika Minho memeluknya dari belakang. Jarinya menunjuk Jonghyun yang menjulur-julurkan lidahnya seperti ular berbisa. “Aku tidak akan membiarkanmu lain kali, OPPA!”

“Jangan berteriak, Soojung-ah.” Minho membekap mulut Soojung. “Kau mau diomeli Presdir Lee?”

“Suasana hatiku sedang tidak baik.” Soojung mendengus, menarik ke atas kacamatanya yang sedikit melorot. Kakinya memijak tanah lagi setelah Minho melepasnya. “Beraninya dia.”

“Soojung-ah, wajahmu memar.”

Soojung menahan tangan Minho agar tak menyentuh plester kecil di pipinya lalu menutupi ujung bibir kirinya. “Aku hanya terbentur pintu.”

Minho menghela napas. “Kita benar-benar harus segera tinggal bersama. Kau sangat ceroboh.”

Ya Tuhan, apa katanya barusan? Tinggal bersama? Soojung meneguk ludah berat.

“Beruntung masih pagi.” Minho seperti tak merasa mengucap sesuatu yang salah,  mengedarkan pandangan ke sekitar agensi. Sepi belum banyak orang datang. Jonghyun dan Manajer Park juga entah kemana tak terlihat lagi. Singkatnya, hanya tertinggal mereka berdua di lobi meski tetap ada penjaga counter di Coffee Corner. Alis Minho terangkat mendapati perubahan wajah Soojung. “Wajahmu memerah,” ucapnya setengah berbisik. “Ada sesuatu?”

“Tidak, hanya saja…” Soojung terlampau malu jika menatap Minho, jadi ia mengalihkan pandangannya—meski jelas tertutup kacamata. “Ini pertama kalinya kau memberiku morning hug.” Suaranya melirih.

“Ya ampun.” Minho tertawa kecil. “Jadi sekarang, apa itu artinya suasana hatimu sudah baik?” Berjalan selangkah untuk berdiri di samping gadisnya. “Jika bisa, aku ingin memberikan morning kiss sekarang juga.”

“Berhenti menggodaku!” Napas Soojung berembus berat. “Kau keterlaluan.”

“Aku serius.” Ucapan dan tatapan Minho benar-benar melayangkan jiwa Soojung sebelum kemudian berkata sebelum beranjak, “Sampai nanti, aku akan menghubungimu.” Anjlok seketika suasana hati Soojung. Sejenak Minho membuatnya lupa namun kembali mengingatkannya tentang janji kemarin itu. Bahkan ia masih tak tahu harus bagaimana nanti, benar-benar tidak tahu dan sebenarnya tidak ingin memikirkannya. Karena terlalu sukar dan mengerikan.

“Soojung! Apa yang kau lakukan? Pelatih Jung sudah menunggumu di ruang vokal.” Manajer Park menyadarkannya.

“Oh, baiklah.” Dengan berat hati dan berat pikiran, ia melangkah. Tapi rasa-rasanya ada sesuatu janggal yang tak Soojung sadari itu apa. Seperti sesuatu yang penting tapi…

Sial! Ponselku ketinggalan!

 

***

 

Sam Rinhyo mulai memasuki ruang premiere dan menuju tempat yang berada di ujung atas ketika lampu bioskop perlahan dimatikan, kacamata hitamnya sedikit ia angkat supaya dapat lebih jelas melihat jalan—menurutnya ini adalah strategi terbaik agar tak dikenali meski tak banyak orang mengunjungi bioskop di siang bolong seperti ini. Beberapa detik setelah itu, Jongsuk menyusul dengan cara serupa lantas duduk di samping Rinhyo.

Permulaan film, mereka menikmati popcorn masing-masing tanpa melepas kacamata. Pertengahan film juga masih tak ada interaksi antara mereka. Sampai saat dimana Jongsuk berbisik pada gadis di sampingnya, “Hei, mendadak sekali kau mengajakku nonton. Ada apa?” Jongsuk menepuk-nepuk tangan Rinhyo karena tidak merespon. “Nona Sam… Kau tidur?”

Rinhyo refleks menahan napas begitu terbangun dan menoleh. Jongsuk hanya tersisa satu senti di depan wajahnya.

“Aku tanya ada apa kau tiba-tiba mengajakku ke sini? Ada yang ingin kau bicarakan?”

“Ada… yang… ingin ku… beritahukan padamu tapi…” Gadis  yang gugup setengah mati itu meneguk ludah berat. “Bisa… lebih kau jauhkan… wajahmu?”

Memalukan! Astaga Sam Rinhyo, kau memalukan! Berucap gagap di depan pria yang ia sukai benar-benar mimpi buruk bagi Sam Rinhyo. Jika ia membiarkan Jongsuk lebih lama tadi mungkin dirinya akan benar-benar pingsan detik ini juga.

“Kenapa? Kau tidak nyaman, ya?” Dengan tampang tanpa bersalah Jongsuk kembali duduk normal di kursinya. “Aku hanya ingin bicara lebih leluasa saja karena kita harus berbisik-bisik.”

“Tapi tidak begitu juga, Oppa, bisa-bisa orang lain menyangka kita sedang melakukan hal yang tidak-tidak di sini.” Rinhyo masih berusaha menormalkan napas.

“Benarkah? Jadi itu yang kau pikirkan barusan?”

“Apa?!” Rinhyo memekik tertahan. “Tentu tidak,” elaknya buru-buru melahap popcorn.

Jongsuk tertawa kecil tanpa suara. “Jadi apa yang ingin kau beritahukan padaku?”

Rinhyo mengunyah makanan dalam mulut dan menelannya lebih cepat. Meminum seteguk minuman soda miliknya. “Shin Soojung… kau masih menyukainya?”

“Hm?” Jongsuk hampir tersedak ketika menelan butir popcornnya. “Kenapa tiba-tiba…”

“Aku tidak tahan melihatmu mencemaskan sesuatu yang tidak perlu.” Pegangan tangan Rinhyo pada cup popcorn mengerat.

“Apa maksudmu?”

“Aku…” Rinhyo menarik napas panjang. Persetan dengan perasaannya yang berdetak perih di dada, ia hanya ingin Jongsuk bahagia. Di samping itu, ia juga berkeyakinan bahwa tak mungkin ada rahasia yang akan bertahan selamanya. “Aku akan memberitahumu yang sebenarnya terjadi antara Kyuhyun dan Soojung.”

 

***

 

Hari sebelum konser hanya tertinggal tiga minggu lagi. Dalam waktu sesingkat ini, Soojung tidak diperkenankan pulang ke apartemennya sendiri melainkan menginap di dorm khusus yang tak jauh dari gedung agensi. Baru saja gadis itu keluar dari ruang latihan tari, bersama Manajer Park memasuki lift menuju lantai dasar bersiap pulang untuk mengemasi barang-barang.

Sesampai di lobi ia mendapati Minho. Lelaki itu duduk sendiri di Coffee Corner sembari menyesap secangkir minuman yang Soojung yakin Americano. Bulan ini memang bukan bulan sibuk SHINee jadi Soojung tak heran mengapa dia masih berada di sini se-malam ini. Lihat saja, arloji Soojung sudah menunjuk setengah dua belas dan ia yakin pasti anggota SHINee yang lain sudah bergelimang selimut di dorm mereka.

Soojung tahu persis alasan Minho masih tinggal, dan kini lelaki itu menyadari keberadaannya. Tubuhnya membeku seketika pandangannya bertemu tatapan teduh Minho yang semakin menohok sampai ujung dasar hatinya.

Hanya kau satu-satunya pria yang kumiliki sekarang tapi… haruskah aku melepasmu juga?

.

.

-TBC-

Advertisements

10 thoughts on “Officially Missing You 5

  1. greget bgt dgn sikap soojung dan kyuhyun yg slalu menutupi hubngan mereka yg sbnarnya..
    Ayolah soojung jujur aja pda minho tntng hubungannya kyuhyun.. Jgn sampai soojung mlah kehilangan sosok minho..

  2. greget bgt dgn sikap soojung dan kyuhyun yg slalu menutupi hubngan mereka yg sbnarnya..
    Ayolah soojung jujur aja pda minho tntng hubungannya kyuhyun.. Jgn sampai soojung mlah kehilangan sosok minho…
    Kak ditunggu slalu next chapternya..
    Keep writing

  3. aq pengin bgt kyu sama soojung gak nutupin status mereka,biar gak ribet urusannnya.jadi rinhyo suka sama jongsuk y? aduh cerita cinta yg membingungkan. minho sweet bgt dah……………………#meleleh

  4. Lhoo rinhyo suka sm jongsuk?? Bukan sm khyuhyun?? Wkwkwk astaga minhoooo jgn patahkan hatinya thorr hahahah d tunggu kelanjutannya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s