Unexpected Bond 10

unexpected bond

 

By: Bella Eka.

.

.

Di antara pengunjung kedai jjajangmyun lainnya, Rinhyo duduk bersama Jongsuk di samping dan Kyuhyun di depannya. Mereka tertinggal bertiga karena tadinya Jieun berpamitan pulang lebih dulu bersama Kikwang—bahkan mereka tak habis pikir dengan keputusan Jieun setelah rumor kencan itu beredar. Tak ada yang berbicara selagi menunggu pesanan datang, yang ada hanya Rinhyo menatap canggung kedua pemuda bergantian. Kyuhyun sibuk mengedarkan pandangan ke sekeliling kedai sedang Jongsuk memaku lamunan menatap meja. Bola mata Rinhyo berputar tak tahan lalu menghela napas kasar.

“Hmm.” Rinhyo sengaja menggumam, sengaja mencari perhatian tapi tak berhasil mendapat respon dari dua pemuda. Sepertinya ia harus berusaha lebih keras. “Shin Jieun dan Lee Kikwang… kira-kira apa yang sedang mereka lakukan?”

“Mungkin sudah sampai rumah.” Jongsuk menukas asal menandakan pembahasan topiknya yang mungkin kurang menarik, Kyuhyun juga masih tak bergeming. Rinhyo kembali memutar otak.

“Kira-kira kenapa Woobin meminta kita agar merahasiakan kepergiannya pada Jieun, ya?” Ia mencoba lagi dengan harapan suasana lebih mencair setelah ini.

“Kau masih juga tak mengerti?” Kyuhyun tiba-tiba menyalak membuat mata Rinhyo melebar. “Tentu saja karena dia tidak ingin Jieun terlalu memikirkannya, kau tahu sendiri bagaimana Woobin sangat menyukai Jieun, kan? Tapi tetap saja kau beritahu dia.”

“Bisa kau rendahkan nada suaramu?” gemam Jongsuk tajam, tangannya mengetuk-ketuk meja tanpa menatap Kyuhyun. Nampaknya Kyuhyun merasa tersindir karenanya, wajahnya memerah.

“Apa katamu?”

“Rinhyo hanya ingin menghangatkan suasana, kau masih juga tidak tahu? Kau memang bisanya hanya marah-marah saja.”

“Jangan pikir kau sendiri yang paling bijaksana, Lee Jongsuk.” Kyuhyun mendengus. “Kau kira aku senang menghabiskan waktu satu meja denganmu?”

“Atas alasan apa?” Jongsuk mulai menantang dengan menatap mata berkilat Kyuhyun. “Kenapa kau tidak suka menghabiskan waktu denganku? Bukankah dulu kita selalu berada di satu meja kantin? Lalu kenapa sekarang tidak lagi? Kau bisa beri alasan untuk itu?”

“Kau itu berpura-pura bodoh atau apa?” Kyuhyun menyeringai. “Tidak mungkin kau benar-benar tidak tahu alasannya.”

“Hentikan sudah!” Rinhyo menengahi, namun tak sukses membubarkan tatapan tajam yang seolah tak terpatahkan antara dua pemuda itu. “Jangan terus bertengkar seperti anak kecil!”

“Jadi kau benar-benar tidak tahu?” desis Kyuhyun lalu mendecih.  Tersenyum miring ketika Jongsuk menyipitkan mata padanya. “Itu karena kau, Bodoh.”

 

***

 

Suasana antara kedua manusia dalam mobil terlampau hening. Shin Jieun terus melamun tanpa menyadari Kikwang yang sesekali menatapnya disela menyetir di sampingnya. Pemuda itu nampak begitu gusar, seperti ingin mengatakan sesuatu namun tersendat di bibir ketika sang gadis memejamkan kedua mata dan mendesah lelah.

“Jieun-ah.” Pemuda itu mulai bersua setelah lama menggigit bibir bawah. Menghela napas berat saat gadis di samping hanya menggumam samar. “Apa kau lapar?”

“Tidak.”

Pandangan Kikwang mengedar seperti berusaha menemukan bahan pembicaraan lain. Demi apapun, ia ingin segera membereskan kesalah-pahaman berita kencannya dengan Jiyeon tapi waktu belum juga berpihak padanya. Jieun terus membungkam dan malas membahas apapun hingga kecanggungan dalam atmosfir tak kunjung mencapai ujung. Akhirnya Kikwang memilih untuk menepikan mobil dan berfokus penuh pada Shin Jieun. “Jieun-ah.” Gadis itu membuka mata lalu memandangnya datar dengan gerak pelan. “Tentang skandal berita itu aku—“

“Aku tidak ingin membahasnya.” Sontak ludahnya terteguk berat, serta merta gadis itu memotong ucapannya. “Itu urusanmu dan Park Jiyeon, sekarang aku sangat lelah dan hanya ingin cepat pulang.”

Kikwang mencengkeram gagang kemudi. Kedua matanya memejam frustasi. “Kau benar baik-baik saja dengan itu?”

“Tentu.”

Ia tarik napas terdalamnya mengisi ruang sesak dalam dada. Tapi sial, udara sekitar entah mengapa mendadak menipis setelah ucapan tak acuh gadis itu. Kikwang sampai mematikan air conditioner lalu membuka jendela mobil. Namun tetap saja kerongkongannya seolah tersumbat seonggok batu yang menahannya untuk mengambil oksigen agar tetap hidup. Sebenarnya ia ingin Jieun memintanya meyakinkan bahwa rumor itu tidak benar, atau setidaknya menunjukkan kepedulian sedikit saja—tapi nyatanya dia benar-benar nampak tak peduli. Dan entah sejak kapan sikap dingin gadis itu mulai membuatnya hampir gila. “Benarkah?”

“Memangnya apa yang kau harapkan?”

“Apa yang kuharapkan?” Kikwang tersenyum patah mendengar seutas tanya yang gadis itu lontar, yang sontak menyadarkannya. “Ya, memangnya apa yang bisa kuharapkan?” gumamnya lantas melajukan mobil kembali.

 

***

 

Tanpa berucap apapun Jieun lantas berbalik setelah menutup pintu mobil. Begitu genap kakinya menginjak dua langkah ia dengar deru mobil Kikwang menjauh. Ketika semakin tak terdengar, kedua kakinya melemas. Ia duduk di tangga depan gerbang yang tak terjangkau kamera cctv. Ia meringkuk menekuk lutut di sana, menekan-nekan dada yang terasa hampir meledak. Kedua matanya juga memanas memaksa lahar air mata keluar tapi tak bisa. Penyakitnya kambuh lagi—setiap tekanan dalam dirinya terlalu membeludak ia selalu tidak bisa menangis. Tidak hanya wajah dan bibirnya saja yang bodoh berekspresi tapi kedua matanya juga.

Ia baru sadar betapa hebatnya rasa sakit karena dikhianati. Ia baru sadar betapa dalam ia menjatuhkan hati untuk Lee Kikwang.

Dari semula menepuk-nepuk pelan kini tangannya memukul dada cukup keras. Rasanya benar-benar frustasi, ingin menangis sampai beban yang mengikat paru-parunya menghilang tapi tetap saja ia tak bisa. Tidak ada gunanya terus seperti ini jadi ia putuskan berdiri. Tubuhnya sedikit terhuyung ke kanan kiri sampai tangannya berhasil meraih kotak password untuk membuka kunci gerbang. Jantung dan urat nadi venanya berdenyut keras sampai jarinya yang hendak menekan tombol angka bergetar.

Mendadak tangannya ditarik seseorang hingga tubuhnya berbalik ke belakang dan membawanya tenggelam dalam dekapan. Ia belum memastikan siapa dia yang memeluknya tapi yang pasti dia seorang lelaki, tubuhnya kurang tinggi untuk ukuran Jongsuk atau Kyuhyun—apalagi Woobin. Hanya satu orang yang berada di pikiran Jieun sekarang, Lee Kikwang. Ia dorong tubuh lelaki itu paksa dan benar saja, entah sejak kapan Lee Kikwang kembali tanpa mobilnya.

Jieun menahan diri untuk tidak menatap pemuda di hadapannya. Ia khawatir dirinya akan tampak menyedihkan maka ia lebih memilih melengos ke kanan. “Pergilah.”

“Tidak.”

Gadis itu mendesah kasar. Sebenarnya ia tak ingin berbicara lebih banyak karena susah payah ia harus menormalkan suara agar tak terdengar parau dan lemah. “Terserah,” balasnya setelah menghirup udara panjang.

“Kupikir aku harus mengatakannya sekarang.” Jieun yang hendak memutar badan terhenti begitu mendengar ucapan Kikwang. Memandang pemuda itu sekilas. “Kukira selama ini kau bisa merasakannya tanpa kuungkap secara langsung… tapi sepertinya aku salah.”

“Aku mengerti maksudmu.” Jieun menyela cepat. “Ya, mungkin aku memang selama ini tidak cukup peka untuk merasakan hubunganmu dengan Jiyeon, seharusnya aku lebih cepat menyadarinya. Tapi tenang saja, aku tidak akan mempermasalahkan hubungan kalian, semua itu urusan kalian dan aku tidak akan ikut campur.”

“Bukan itu.”

“Lalu apa?” Ia sembunyikan kepalan tangannya yang terus bergetar ke dalam saku almamater sekolah. Ia tak tahan lagi, ajaibnya ia merasa pandangannya mengabur. Bola matanya mulai berkaca-kaca dan dengan cepat tak terbendung. Dengan mudah air matanya menetes lalu ia usap secepat kilat. Ia benci terlihat menyedihkan tapi kenapa ia selalu menangis di hadapan Lee Kikwang?

“Shin Jieun.” Kikwang ikut andil mengusap tetesan bening di pipinya. Detik itu juga Jieun baru menyadari sorot mata pemuda itu yang menyendu. “Aku mencintaimu.”

Entah kekuatan dari mana ia dapat, dengan tangannya yang bergetar Jieun menghempas lengan Kikwang kasar. “Aku tahu kau orang baik. Kau sangat baik dan karena itu mungkin semua gadis akan langsung percaya setiap kau berucap mencintainya.” Ia masukkan tangannya ke dalam kantong almamater lagi, juga berusaha tak memedulikan tatapan Kikwang yang nampak nanar. “Aku tidak tahu apa yang kau katakan pada Jiyeon sampai dia berani melakukan hal senekat itu. Bukan tidak mungkin kau sudah mengatakan kata cinta padanya juga, kan?”

“Itu tidak mungkin.” Kikwang menggeleng cepat.

“Itu sangat mungkin.” Jieun tersenyum tipis. “Terkadang perasaan seperti itu tidak hanya bisa disampaikan lewat kata-kata, bisa saja perlakuanmu padanya sudah menandakan perasaan cintamu padanya.”

“Aku tidak melakukan sesuatu yang lebih padanya, tapi padamu, bagaimana bisa kau sama sekali tidak merasakannya, Shin Jieun? Berhentilah membuatku gila.”

“Saat itu… saat malam pertemuan keluarga kita, kau masih sempat ke Busan untuk menemaninya, kan? Kurasa itu sudah cukup menunjukkan bagaimana perasaanmu padanya.”

“Tapi itu hanya… ayolah, kenapa mengungkit hal itu lagi? Sebelumnya aku sudah menghubungimu juga, kan?”

“Aku tidak bermaksud mengungkit, hanya mengingatkanmu yang sepertinya lupa.” Kikwang mengacak rambutnya seolah serius jika hampir gila. Jieun memutar bola mata ke atas, air matanya berusaha menerobos paksa lagi di sana. Ia rasa harus segera mengakhirinya sekarang, ia tatap pemuda di hadapannya lagi. “Kau ingat perjanjian awal kita? Kita ingin ikatan ini berakhir, kan? Kau dan aku tidak mau dijodohkan terpaksa.”

“Bagiku ini bukan terpaksa, aku tulus padamu.”

“Tapi semua berawal terpaksa.”

“Tapi sekarang tidak lagi.”

“Asal kau tahu, aku masih begitu.”

“Apa?”

Jieun menghela napas dalam lantas membuangnya cepat. “Aku masih merasa terpaksa.” Membuat Kikwang nampak tercengang, wajahnya seperti menyiratkan kekecewaan mendalam membuat dada Jieun terasa tertohok tembus belakang. Tatapan pemuda itu seolah berontak dalam keadaan luluh lantak, penuh frustasi yang tak bisa ia ungkapkan. Namun Jieun masih menguatkan diri untuk menyambung ucap. “Aku sangat mencintai sahabatku, ikatan kita terlalu cepat dan membuatku kehilangan Woobin dan kau sepertinya akan kehilangan Jiyeon.”

Kikwang masih terdiam. Mungkin lidahnya terlalu kelu untuk sekadar bergerak.

“Sepertinya juga misi kita akan segera berhasil, perjodohan akan dibatalkan. Seharusnya kita senang, kan?” Jieun menggigit bibir bawah, ia juga tak tahu betapa pandai ia membohongi perasaan semua orang—termasuk dirinya.

“Jadi itu yang kau inginkan?”

“Ya.” Ia sengaja melantangkan suara, mengerahkan kekuatan yang tersisa. “Aku ingin semua berakhir dan kembali seperti semula. Semua ini terlalu rumit dan aku benci sesuatu yang berbelit-belit.”

“Aku juga.” Balasan Kikwang tiba-tiba membuatnya tersentak. “Aku juga ingin hanya mencintaimu dengan sederhana seperti orang biasa, tanpa kerumitan hubungan perusahaan atau persahabatan sekali pun. Aku ingin mempermudah semua denganmu. Tapi bagaimana? Tidak masalah kau tidak memiliki perasaan yang sama padaku, aku tahu kau butuh waktu dan aku tidak ingin memaksamu.”

“Pada intinya semua masalah waktu. Dan kita terjebak di waktu dan situasi yang salah, kurasa. Pasti kita akan kembali jika memang ditakdirkan, di waktu yang lebih baik dan damai dari ini.” Ia tersenyum samar sebelum berbalik. Tangisannya tak terbendung lagi begitu ia membuka password dan meninggalkan Kikwang yang membatu di depan pintu pagar.

***

 

Jieun usap matanya yang basah lalu sengaja mempercepat gerak kaki ketika melihat Nyonya Shin duduk di ruang tamu. Mungkin keberuntungan sedikit berpihak padanya karena ibunya yang nampak sedang menyeruput teh hijau berposisi duduk membelakanginya. Ia lekas menaiki tangga dengan pijakan mengendap-endap.

“Kau lupa salammu?”

Tubuh gadis itu berjengit. Benar saja, insting seorang ibu tak pernah salah. “Annyeong haseyo, aku pulang.”

“Duduklah dulu.”

“Nanti setelah aku ganti pakaian, Bu.” Ia melanjut langkah ke atas.

“Sekarang.” Titahan Nyonya Shin penuh penekanan, biasanya di saat seperti ini terdapat sesuatu yang ingin dibicarakan. Jieun meneguk ludah berat, perlahan ia dekati Ibu dan duduk di sampingnya.

“Kau sudah lihat berita di televisi?” Jieun mengangguk. Bibirnya semakin merapat. “Ayah sedang menemui Tuan Lee untuk pembatalan pertunangan.”

“Haruskah?” Ia menunduk. Kedua tangannya yang berpangku di atas lutut mengepal kuat.

“Apa maksudmu?”

Ia tarik napas sedalam-dalamnya mengumpulkan keberanian lantas menghembuskannya perlahan. “Bisakah aku keluar dari sangkut paut perusahaan? Bisakah kehidupan pribadiku dipisahkan dari urusan bisnis, Ibu?”

***

 

Rinhyo frustasi memegangi pelipis merasakan Kyuhyun dan Jongsuk yang tak kunjung berbaikan di hadapannya. Beberapa saat lalu Jieun meminta mereka berkumpul malam ini, dan jadilah sekarang dirinya beserta dua pemuda duduk di kursi kayu rooftop rumahnya menunggu Jieun yang belum juga datang.

Sepulang dari kedai jjajangmyun tadi dua pemuda yang sama kekanakannya itu tak sekali pun saling bicara. Rinhyo juga sudah mencoba beberapa kali mengangkat topik ringan namun selalu saja gagal.

“Kalian tahu? Jujur saja sekarang ini, aku sangat benci pada kalian.” Jongsuk dan Kyuhyun serentak menatapnya. “Sungguh, aku tidak bercanda.”

“Aku juga?” Rinhyo mengangguk ketika Jongsuk menunjuk dirinya sendiri. “Kenapa?”

“Kalian pikir aku senang melihat perang dingin antara kalian? Seperti sepasang kekasih saja.”

“Hei, ini masalah antar lelaki, Sam Rinhyo. Kau tidak perlu cemburu begitu.” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala membuat Rinhyo menghela napas kasar.

“Cemburu apa? Kalian tidak ingat bagaimana bahagianya kita dulu? Bagaimana kita selalu bersama-sama dan…”

“Karena itu aku meminta kalian berkumpul di sini.” Perhatian mereka sontak teralih pada Jieun yang baru tiba. Ia mengambil tempat kosong di depan Rinhyo—Kyuhyun dan Jongsuk juga duduk berhadapan di tepi meja lingkaran ini. “Kupikir perasaan berlebihan yang ada dalam persahabatan itu benar-benar terlalu dan sangat rumit, perasaan itu juga bisa merusak persahabatan kita, kan?” Jieun sengaja melirik Jongsuk yang lekas mengalihkan pandangan seraya mengangguk samar. “Jadi bagaimana jika ditiadakan saja sampai kita benar-benar siap dan cukup dewasa untuk hal-hal semacam itu?”

“Apa?! Bagaimana bisa kau berpikir sedangkal itu, Shin Jieun? Kau kira dirimu penyihir yang bisa mengendalikan perasaan semua orang, begitu? Dasar bodoh!” Jieun hanya melambai-lambaikan tangan sebagai tanda menyalahkan tuduhan Kyuhyun padanya.

“Bukan aku yang mengendalikan, tapi kalian sendiri. Dan aku, aku akan mengendalikan perasaanku sendiri.”

“Jadi kau sedang mencoba membuat perjanjian di sini?” Kyuhyun nampak mulai mengerti, pemuda itu bersendekap mengernyit seraya bersandar pada kursi.

“Mungkin… tepatnya perikatan?”

“Tunggu.” Rinhyo mendadak menggoncang tangan Jieun. “Sebenarnya maksudmu apa?” polosnya membuat sahabat perempuannya itu mendecak.

“Intinya, tidak boleh ada hubungan lebih di antara kita. Kau dan Kyuhyun tidak boleh berpacaran, Jongsuk juga kau jangan berharap, aku dan Woobin juga tidak akan. Tapi situasi bisa berbeda ketika kita sudah cukup mengerti dan dewasa. Mengerti, Rin Slow-ssi?

“Baiklah.” Suara baritone mendadak terdengar dari jarak sedikit jauh. Tak disangka Woobin muncul entah sejak kapan. “Hello, my sweetest best friends.”

“Ewh,” ledek Jongsuk sembari menggerakkan tangan seperti memotong lehernya dalam arti kau mati jika berbicara se-menggelikan itu lagi. Sementara ketiga teman lainnya masih terperangah bagaikan melihat malaikat untuk pertama kali.

“K-kau…” Jieun sampai lupa cara berbicara dengan benar.

“Aku tidak jadi melanjutkan sekolah di sana, kelak aku pilih melanjutkan bisnis di Korea saja.” Woobin membuka kedua lengannya, memeluk satu per satu temannya dan Jieun yang terakhir—dan terlama—sebelum menarik kursi ke antara Jongsuk dan Jieun.

“Kenapa?” heran Rinhyo.

It’s hard to live without y’all, guys.”

“Hentikan, Woob.” Jongsuk bergidik merinding. “Tapi belum sehari pergi dan sekarang sudah kembali, kau gila?”

“Kalian tahu sendiri aku paling payah dalam pelajaran bahasa, kan? Aku hanya tidak ingin tampak bodoh di sana jadi lebih baik kupersiapkan diri di sini saja.”

“Kau jadi membuat air mata Jieun terjatuh sia-sia, Woob.”

“Hei!” Jieun pukul bahu Kyuhyun keras namun pemuda itu semakin terkikik. “Sembarangan kau!”

“Oh, benarkah? Seharusnya katakan padaku lebih awal, Kyu. Tahu begitu lebih baik aku berpura-pura tetap di sana saja agar kalian bertambah parah merindukanku.” Ia kerlingkan sebelah mata pada Jieun. “Terutama kau.”

“Ugh! Tapi bagaimana bisa kau tahu kami di sini?”

“Dari Jongsuk, memangnya dia tidak memberitahu kalian jika aku pulang hari ini juga?” Seketika sorot semua mata terfokus pada Lee Jongsuk menuntut jawaban.

“Sebenarnya aku ingin memberitahu kalian tapi… karena Kyuhyun aku malas berbicara apapun.”

“Apa? Dasar kekanakan!”

 

***

 

Jieun mengunjungi rooftop sekolah ketika ia beralasan pergi ke toilet di tengah pelajaran sastra. Dua tangan dalam sakunya ia rentangkan seolah ingin terbang seraya menghirup napas dalam. Dalam benaknya ia lega semua kembali seperti semula dan lebih baik tanpa keegoisan cinta. Ia bersyukur tetap memiliki keempat sahabatnya yang berhasil tak terpecahkan.

“Bolos lagi?” Lee Kikwang datang tiba-tiba di sampingnya.

“Hanya sebentar, nanti aku akan kembali. Kau?”

“Aku baru selesai pelajaran olahraga.” Jieun mengangguk lantas mengalihkan pandangan. Rasanya sangat canggung. “Apa yang sedang kau pikirkan di sini?”

“Hanya… ini dan itu.” Kini Kikwang yang mengangguk mengerti. Mulai detik berikutnya hening sesaat dan semakin kikuk. Keduanya terdiam tanpa memandang satu sama lain.

“Jieun-ah.”

“Hm?”

“Semua belum berakhir, kan?”

“Ya?”

“Seperti ikatan perjodohkan kita yang dulu tak terduga, di masa depan nanti juga tak bisa kita duga bagaimana, tapi kuharap kau dan aku masih bisa terus bersama-sama.” Entah mengapa ucapan sederhana Kikwang itu terdengar manis, Jieun tersenyum sipu sambil menunduk.

“Semoga saja begitu.”

.

.

-THE END-

.

.

Ini apa-apaan? Hahaha saya juga nggak tahu ini apa -_- Awalnya nggak ada pikiran buat terusin lagi tapi setelah baca komen di previous part jadilah ending gaje yang keluar alur ini ._. Semoga terhibur dan terimakasih~

Advertisements

10 thoughts on “Unexpected Bond 10

  1. ……………………………………..

    Setidaknya udah tau endingnya. Walau ga puas tapi udah ga penasaran lagi.

  2. Puas kok dgn endingnyaaa😊
    Aku mah bahagiaaaa karna gaada yg tersakiti lagi hihihi
    Semua berawal seperti semula .
    Happy ending hihi
    Keren eonni😊 suka suka suka♡♡♡♡
    Makasi eonni uda dipost dan ud buat crt sebagus ini hihi
    klo bleh sequel eon , woobin sm aku ya disequelnya 😂😂😂😂
    Ditunggu karya slnjtnyya eonni
    Xoxo *bow*

  3. Yah gak smua crita harus berakhir dg cintacintaan itu hahaaa yang pnting smua brjalan baik ,dan memulai smua dari awal yg baru dan lebih damai kan lebih menyenang kan … Hihi baru baca nih 😀 makanya baru komen .. fighting selalu ya kalian :*:*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s