Pure Love 3

 

Pure Love

Pure Love 3

.

.

“Jadi ini yang kau sebut berjuang bersamamu?” Soojung membisiki Minho, dan yang mendengarnya hanya menempel jari telunjuk di mulut, mengisyaratkan agar sang gadis memperhatikan Presdir Choi yang kini berdiri memunggungi mereka di balik meja kebesaran.

“Kau yakin dengan pilihanmu?”

“Ya.” Minho menjawab tegas—lebih ke berpura-pura tegas karena ia sendiri tak tahu apakah memilih Soojung adalah keputusan yang benar.

“Kau tahu perasaan pribadi tidak boleh disangkut-pautkan dalam perusahaan, kan?” Presdir Choi berbalik memerhatikan mereka yang membuat tubuh Soojung sontak menegang, Minho mampu melihat gadis di sampingnya melalui ekor mata.

“Tidak ada hubungannya dengan urusan pribadi. Aku melakukan ini karena Shin Soojung-ssi sudah melamar pekerjaan sebelumnya padaku jadi kupikir tidak perlu lagi membuka lowongan. Ditambah juga ada seorang temanku yang mengenalnya dan menurutnya Shin Soojung-ssi adalah pribadi yang baik dan dapat dipercaya.” Betapa hebatnya ia berucap selancar itu untuk membela gadis yang bahkan tak ia tahu dari mana asalnya, ia sendiri juga heran. Dengan ajaib tetiba terlintas ingatan saat Jongsuk menilai Soojung berbeda dengan gadis lainnya, dan terbentuklah pembelaan yang mendadak mengilhami pikirannya.

“Begitu, ya.” Presdir Choi keluar dari meja, berdiri di depan Soojung seolah menguliti gadis bertangan gemetar itu dengan tatapannya, kemudian beralih pada Minho. “Baiklah, semua kualifikasi tentang Shin Soojung-ssi kuserahkan padamu, dan sebagai gantinya kau yang akan bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu.”

“Baik, saya mengerti.”

 

***

 

Soojung tersenyum lebar keluar dari gedung perusahaan. Langkahnya ia percepat menuruni anak tangga lalu berbalik, mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil tergantung di bahu kanan. Ia buka aplikasi kamera guna memotret gedung megah itu lantas mengirim gambarnya pada sang ibu—beserta pesan berisi betapa bangganya ia mampu bergabung dengan perusahaan itu.

“Soojung!” Suara gadis familiar memanggilnya terdengar dari arah belakang. Sontak ia memutar badan namun tak sengaja seorang pria menabrak tubuhnya. Pria tinggi tak dikenal itu memegang tangannya, mungkin berusaha membantu menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit oleng.

“Maaf, tidak sengaja.”

“Tidak apa, santai saja.” Mulanya Soojung tak berniat menatap pria itu tapi dia tak kunjung melepas genggaman di tangannya. Karena terheran ia menengadah, matanya menyipit melihat pria mirip dinosaurus itu memandangnya seolah kenal. “Permisi.” Ia coba tarik tangannya tapi dia tetap tak melepas. Aneh.

“Rupanya kau.”

“Siapa, ya?” Alisnya tertaut mencoba berpikir. Berusaha mengingat-ingat wajah sang pria yang mungkin teman sekolahnya dulu, atau pengunjung setia toko bunga, atau mungkin pernah melihat saat berjaga di minimarket. Tapi tetap saja tak ada yang ia ingat tentang pria itu. “Maaf, sepertinya kau salah orang.”

“Kau gadis gila yang di kafe itu, kan?”

“Apa?” Spontan ia membelalak. “Kubilang kau salah orang.”

“Jangan tersinggung.” Pria itu malah tertawa renyah entah mengapa—pikir Soojung dia semakin kurang ajar. “Aku Kim Woobin.”

“Lalu?”

“Temannya Choi Minho.”

“Oh.” Bola matanya berputar malas. Pantas, ternyata dia satu spesies dengan pria semacam Choi Minho.  “Bisa kau lepas genggamanmu? Rasanya telapakmu berkeringat di sana.”

“A-apa?” Kim Woobin nampak mempercayai penuh ucapannya, dia benar-benar melepas genggaman dan menatapi telapak tangan yang sebenarnya tidak basah sedikit pun. Melihatnya Soojung tersenyum miring. Dinosaurus itu ternyata polos juga.

“Hei, Kim Woobin! Sedang apa di sana?” Soojung ikut menoleh ke asal teriakan suara, ternyata Choi Minho—entah sejak kapan dia berdiri di depan pintu utama gedung. “Kau juga, Shin Soojung, kenapa masih di sini? Jangan sampai terlambat besok jam delapan pagi!”

Soojung hanya mengangguk singkat lalu membungkuk sopan—walau terpaksa—pada Minho sebelum pergi. Ia sadari sekilas Woobin sedikit terkejut menatapnya dan Minho bergantian tapi tak ia pedulikan. Gadis itu melambai tangan sembari berjalan cepat menuju Kang Seulgi yang sudah menunggu di seberang jalan.

***

“Untuk apa kau di depan gedung perusahaan itu tadi?”

“Punya bolpoin?”

“Huh?”

“Bawa tidak?”

“Kulihat dulu.” Meski nampak tak mengerti, Seulgi mengeluarkan bolpoin dari dalam tas kecilnya. Di sela alisnya terbentuk segaris kerutan ketika Soojung membuka buku tulis—yang baru dia beli di percetakan terdekat sebelum datang ke kafe ini—dan menarik kertas tepat di tengah. “Memangnya kau mau apa?”

“Surat pengunduran diri.”

“Apa?!” Soojung menyengir kecil pada Seulgi yang mendelik. “Toko bunga? Atau minimarket?”

“Dua-duanya.”

“Mau mati kelaparan? Usahamu bunuh diri benar-benar terhormat.”

“Justru ini awal kehidupan baru.” Iris cokelat Soojung mulai mengedar ke sekeliling kafe, memikir kata-kata yang tepat untuk menulis surat. Saat itu pelayan kafe datang mengantar pesanan chocolate float dan strawberry punch. “Terimakasih,” ucapnya tersenyum lantas menggeser segelas minuman cokelat miliknya dan menyeruput sedikit.

“Ngomong-ngomong, kau belum menjawab pertanyaanku.”

“Yang mana?” tukas Soojung asal sambil mulai menulis baris pertama. Membiarkan Seulgi mendengus.

“Ada hubungan apa kau dengan dua pria di depan gedung perusahaan tadi? Sepertinya kalian akrab.”

“Akrab? Tch! Tidak sama sekali.”

“Lalu untuk apa kau di sana?”

“Di sanalah dunia baruku dimulai. Doakan aku, ya.”

“Maksudmu?” Seulgi membungkuk seperti berusaha mengintip mata temannya yang menunduk sedang menulis. “Kau akan melepas semua pekerjaanmu dan pindah ke sana? Jadi aku dan Hanbin harus bekerja full time sekarang? Oh ayolah, jika kau pergi bawa aku juga, Jung.”

“Hei, Kkangseul.” Soojung menaruh bolpoinnya. Menatap malas Seulgi yang memelas. “Bukankah kau selalu ingin gajimu dinaikkkan? Kabar baiknya jika aku pergi pasti pendapatanmu bertambah.”

“Tapi tetap saja.” Seulgi merengut ke samping, seolah merajuk tak ingin melihat wajah temannya saat ini.

“Sudahlah daripada membuang waktu begini lebih baik bantu aku menulis surat, aku sudah terlambat lama.” Soojung merogoh ponselnya yang bergetar dalam tas. “Dan Rinhyo mulai meneleponku berkali-kali, pasti manajer mulai beraksi.”

***

 

“Ada apa kau ke sini?” Woobin menyodorkan satu map cokelat ke mejanya, Minho ambil itu dan memeriksa isinya. “Apa ini?”

“Proposal, selebihnya bisa kau baca sendiri di dalam.”

Minho tertawa pendek melihat judul sampul proposal itu lantas melemparnya ke arah Woobin. “Ditolak.”

“Jangan bercanda.”

“Aku mengaku gila jika menerimamu.”

“Jangan nilai hanya dari sampulnya, aku menawarkan sponsorship yang menguntungkan.”

“Untungmu itu merugikanku.” Ia menggeleng tanpa pikir panjang. “Keputusan tidak berubah.”

“Kau sangat eksklusif sampai CEO sendiri yang mengajukan proposal padamu. Tolong pertimbangkan lagi, Presdir Muda Choi.”

“Seharusnya pelajari dulu visi misi perusahaan yang kau tuju sebelum mengajukan proposal.” Ia keluarkan sebuah katalog dari dalam laci mejanya. Membuka dua halaman dan menunjukkannya pada Woobin. “Kau tahu sendiri perusahaan kami memproduksi mobil dan terkenal sangat menjunjung tinggi safety riding. Bagaimana jadinya jika aku memberi sponsor untuk perayaan hari jadi klab milikmu itu? Secara tidak langsung itu berarti kami mendukung orang-orang untuk mabuk di tempatmu lalu bagaimana dengan produk kami? Kau sebut itu menguntungkan?”

“Hei, sejak kapan kau jadi serius mengurus perusahaan, Min?” Woobin mulai tak formal lagi—kembali seperti awal. Sahabat sejak kecilnya itu beranjak menuju coffee machine di pojok ruangan pribadinya ini, lalu kembali duduk dengan membawa dua cangkir kopi. “Sebaiknya kau minum dulu, temanku.”

“Sekarang kau mau memanfaatkan relasi?”

“Sudah minumlah dulu. Jika etika perusahaanmu memang tidak sejalan dengan usahaku, apa yang bisa dilakukan? Aku akan menerimanya dengan lapang dada.”

“Omong kosong.” Minho menghembus napas kasar. Menerima uluran cangkir kopi Woobin. “Kau memang pintar bicara,” ledeknya membuat Woobin terkekeh.

“Tapi setidaknya kau bisa membantuku dengan cara lain, kan?”

Cangkir Minho terhenti sesaat baru menyentuh bibir. Merasa aneh dengan gelagat sahabatnya, ia letakkan kembali cangkir ke meja. “Cara apa?”

“Gadis tadi…” Woobin nampak tersenyum simpul disela menyeruput kopi. “Sebenarnya dia siapa?”

“Sekretaris baruku.”

“Oh, kalau begitu kau pasti punya sesuatu untuk menghubunginya, kan?”

“Bisa dibilang.” Minho sesap kopinya—sekaligus usaha menghindari tatapan penuh rencana sahabatnya.

“Berikan aku nomor ponselnya.”

“Itu melanggar privasi. Minta sendiri.”

“Nanti aku akan jelaskan padanya, kau tak usah khawatir.”

 

***

 

“Serius?!”

“Kau tahu aku tidak suka tipe candaan kebohongan, kan?”

“Tapi… kenapa tiba-tiba… kau… lalu bekerja di mana?”

“Mungkin kau akan sulit percaya,”  jawab Soojung sengaja membuat Rinhyo penasaran sambil mengaduk ramen instan mendidih mereka. Sejenak kemudian hening, ia tersenyum kecil melihat sahabatnya bertanya-tanya.

“HEI, KAU GILA?!” Mendadak Rinhyo berteriak sampai tangan Soojung yang terkejut tersentuh panci panas.

Awsht! Kau ini kenapa, sih?!” Ia lempar sumpit alumunium di tangan ke samping panci lantas berlari ke wastafel kamar mandi apartemen sederhananya. Membasuh tangannya yang mungkin akan melepuh.

“Kau akan terjerumus, Jung! Jangan mau bekerja semacam itu! Kau terlalu berharga untuk melayani monster-monster hidung belang!”

WHAT?!” Tawa Soojung sontak menggelegar. “Ya, aku akan melayani mereka dengan segenap hatiku, setelah itu akan kubagi uangku dari mereka padamu.”

“Aku percaya kehidupanmu dulu gemerlap tidak seperti sekarang, dan aku tahu kau pasti ingin mengembalikan itu semua, kan?” Soojung mengangguk-angguk sekadar seraya kembali duduk dan menyantap ramen di depan sahabatnya yang tengah bicara. “Tapi tidak begitu juga, ada banyak cara yang lebih mulia dari itu. Kembalikan akal sehatmu, Jung!”

“Kemarin lusa aku menemui Choi Minho.”

“Huh?”

“Eksekutif muda yang di kafe itu.”

“Untuk apa?”

“Aku minta bantuan, dan akhirnya dia merekomendasikan aku menjadi sekretarisnya tadi lalu… berhasil.”

“Benarkah?” Mata Rinhyo seketika membesar.

I’ll never gonna be a bitch as you thought.” Soojung meniup helai ramennya sedang Rinhyo mendesah lega dan baru mengambil sumpit. “Jadi tadi adalah hari terakhirku di minimarket, aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri pada manajer.”

“Secepat itu? Lalu toko bunga?”

“Besok akan kuserahkan pengunduran diri ke sana sebelum berangkat ke perusahaan.”

 

Drrt drrt drrt

Drrt drrt drrt

 

Soojung raih ponselnya yang bergetar di atas meja dengan tangan kiri. Deretan nomor tak dikenal meneleponnya, ia geser logo hijau pada layar segera. “Halo?”

“Shin Soojung-ssi?”

“Siapa?”

“Kim Woobin.”

“Kim Woobin?” Ia letakkan sumpitnya lalu mengalihkan ponsel ke tangan dan telinga kanan. Mulai serius melanjutkan pembicaraan. “Temanmu yang memberimu nomorku?”

“Karena ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Apa?”

“Bisa kita bertemu besok?”

“Tidak, aku harus bekerja.”

“Saat istirahat makan siang.”

“Kau siapa berani memaksa?” Soojung melambaikan tangan saat Rinhyo berbisik bertanya siapa, menandakan ia belum bisa diganggu sekarang.

“Sampai bertemu besok.”

“Aku tidak—halo? Hei!” Soojung mendesis karena pria di seberang memutus sambungan telepon sepihak. “Seenaknya saja.”

 

***

 

“Kau harus sering berkunjung.” Soojung berbalik sebentar ketika hampir membuka pintu toko, tersenyum pada Seulgi yang menatapnya dengan wajah kusut.

“Itu pasti.”

Noona, lain waktu aku akan ke apartemenmu. Bahkan aku belum mengembalikan uang itu.” Giliran Hanbin menahan langkahnya, ia berbalik lagi.

“Lupakan saja, anggap itu hadiah dariku.”

“Tidak, aku akan tetap ke apartemenmu.”

“Hubungi aku kapan pun ingin datang. Sudahlah, nanti aku terlambat.” Soojung benar-benar membuka pintu sekarang dan melangkah keluar. Ia lihat arloji di pergelangan tangan kirinya menunjukkan waktu tersisa lima belas menit sebelum pukul delapan. Langkahnya ia percepat menyusuri trotoar menuju halte terpandang mata—walau sedikit jauh.

Soojung sontak menoleh ketika mendengar suara klakson bersamaan sebuah mobil hitam berhenti di sampingnya. Tak menunggu lama jendela mobil itu terbuka menampakkan Choi Minho berkacamata hitam di dalam.

“Masuklah.” Soojung berpikir sejenak sebelum menanggapi tawaran Minho.

“Apa tidak apa-apa?”

“Masuk saja atau gajimu terpotong otomatis karena terlambat.”

“Baiklah, baiklah.” Lekas ia membuka pintu mobil dan masuk. Melekatkan sabuk pengaman begitu duduk di sebelah Minho. “Terimakasih.”

“Lima ribu won per menit.”

“Apa?”

“Besar potongan gaji jika terlambat.”

Oh my God.” Ia pastikan waktu di arlojinya lagi. “Kalau begitu kau harus cepat.” Seketika Minho melotot padanya.

“Apa katamu?”

“Sekarang belum masuk jam delapan, kan? Atau aku harus selalu memanggilmu sajangnim setiap saat?” Minho mendengus seraya mengacak rambut enggan membalas sementara sang gadis terus gusar menatapi arloji.

 

***

 

Seperti sekretaris pada umumnya Soojung mengekori Minho yang berjalan mendahului. Mereka sedang menuju ruang presdir untuk mengalihkan kewajiban Sekretaris Baek atas Minho pada Soojung. Rok span hitam tiga perempat yang Soojung kenakan membuat langkahnya tak mampu bergerak bebas. Sebisa mungkin ia tambah kecepatan kakinya tapi tetap saja tertinggal.

“Apa kau memang selalu berjalan seperti siput?”

“Ini karena rokku.” Tak ada cara lain, ia angkat sedikit kain rok supaya lebih leluasa menyusul Minho yang berhenti menunggunya di depan pintu sebelum memasuki ruangan presdir utama.

“Lalu kenapa kau pakai itu?”

“Ibuku mengirim pakaian ini khusus untuk hari pertama bekerja.” Minho nampak menghela napas.

“Baiklah tak apa untuk hari ini, tapi besok pakai celana saja. Aku tidak akan berhenti hanya untuk menunggu lagi seperti ini.”

“Baik, sajangnim.”

Ketika tangan kanan Minho terangkat hendak mengetuk, tiba-tiba kenop pintu bergerak dengan sendirinya dan terbuka. Dua orang pria nampak dari balik pintu dan Minho memandang mereka asing, sepertinya dia tak mengenalnya. Namun berbeda dengan Soojung, mata gadis itu melebar sempurna dalam sekejap.

“Shin Soojung?”

.

.

-TBC-

Advertisements

6 thoughts on “Pure Love 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s