More Than You Think 3

PhotoGrid_1431225713669

Author : Tsalza Shabrina

More Than You Think 3

 

 

            “Tidak ada.Hubungan kami baik – baik saja sampai saat ini dan lebih baik kau focus pada jalan saja!”

 

            Kata – kata itu seolah membekas diotak Cho Kyuhyun. Ingin menyingkirkannya sekeras apapun, sayangnya ia tak mampu. Kedua matanya terbuka, menatap atap kamar hotel yang tengah ia huni ini dengan nanar. Warnanya Abu – abu. Sangat mendukung perasaannya yang masih dilingkupi kabut tebal layaknya abu.

“Jadi, ia masih berhubungan dengan pria itu atau tidak? Sial.” Gerutu pria itu seraya memejamkan kedua mata frustasi. Otak dan hatinya seolah berperang, tak ada yang mau mengalah atau pun kalah. Segalanya seimbang hingga membuatnya begitu bimbang. Ketika otaknya berpikir jika Rin Hyo dan Dongwoon tidak akan mungkin berhubungan lagi karena cerita Cho Ahra tentang Rin Hyo yang datang ke apartemennya serta mencarinya dengan keadaan yang benar – benar kalut, namun hatinya malah mendorong asumsi negatif. Seperti, bahwa arti ucapan Rin Hyo padanya saat itu tak lain dan tak bukan adalah penjelasan konkrit tentang hubungannya dengan Son Dongwoon yang masih terjalin dengan begitu apik. Seolah, gadis itu menekankan hal itu agar ia bisa menjauh dari kehidupannya.

 

“Apakaupernahmemeriksa email dan voice notemu-Ah ya! Nomormuganti. Bodohnyaaku!”

 

Email?” Tubuh Kyuhyun yang tadinya terbaring lemas diatas ranjang sontak bangkit dengan gerakan yang begitu kuat. “Keure, email!” tukas pria itu lagi, segera mencari laptopnya didalam koper tanpa mempedulikan baju – bajunya yang sudah keluar dengan tidak rapi dari dalam sana.

Setelah menemukannya, ia segera membuka laptop itu. Menghidupkannya kemudian membuka halaman e-mailnya. Umpatannya kembali terdengar ketika ia baru ingat jika e-mai yang dulu sudah tak pernah ia pakai lagi selama 3 tahun ini. Dengan bermodalkan insting, pria itu mencoba memasukkan username dan password. Segala kemungkinan username dan password yang mungkin ia pakai, satu per satu ia ketikkan didalam kolom itu. Hingga akhirnya yang hanya bisa pria itu lakukan adalah mendesah keras serta mendorong laptopnya dengan kesal.

“Bodoh, Cho Kyuhyun! Kau sangat bodoh!”

 

***

 

Sam Rin Hyo menatap layar laptopnya dengan hampa. Seringaiannya muncul ketika mendapati jika hingga kini semua e-mail itu tidak pernah terbaca oleh Cho Kyuhyun. Baiklah, mungkin saja memang pria itu sebelumnya tak pernah membuka kotak masuk e-mail jadi semua e-mail yang ia kirim padanya tak pernah terbaca. Namun tadi ia sudah sempat mengungkit pembicaraan itu, bukan? Setidaknya, jika Kyuhyun masih menginginkannya pasti pria itu langsung memeriksa e-mailnya. Tapi sepertinya mimpi dan harapan itu harus kembali ia tanam didasar egonya dalam – dalam. Sial, apa hanya ia yang selama ini merasakan rindu yang menyiksa?

 

TOK TOK

 

            “Rin Hyo-ah, ini aku.” Suara pria yang begitu familiar ditelinganya terdengar dibalik pintu kamar. Sam Rin Hyo menoleh kearah pintu kamarnya kemudian menghela napas dalam – dalam. Sepertinya ia akan mendengar omelan seseorang malam ini.

 

***

 

Sam Rin Hyo menuang botol soju yang kedua kedalam gelas kecilnya. Kedua pipi gadis itu sudah memerah, begitu pun dengan kedua matanya yang sudah kehilangan titik fokus. Kedua mata itu berkaca – kaca, menyiratkan kesedihan yang begitu mendalam.

Son Dongwoon yang berada dihadapan gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. Tak ingin mengucapkan sepatah kata pun. Tadinya memang ia ingin memastikan apakah Rin Hyo diterima menjadi sekertaris atau tidak. Pria itu sudah memencet bel berkali – kali namun tak ada sahutan apapun hingga ia memutuskan untuk langsung memasuki apartemen gadis itu. Segala pertanyaan dan omelannya seketika hanya tersendat ditenggorokkan setelah mengetahui keadaan gadis itu.

Kekehan Rin Hyo terdengar. Gadis itu menatap Dongwoon dengan senyuman kecut. “Dongwoon-ah! Tidakkah aku ini begitu bodoh? Aku… ani, aku tidak pernah mengatakan padamu jika aku selalu mengirim email dan voicenote padanya. Keure, aku akan mengakuinya. Son Dongwoon, temanmu ini benar – benar tebal muka! Tiap minggu mengirim e-mail dan voicenote kepada pria yang sudah ia buang sebelumnya. Meminta pria itu untuk kembali padanya dengan tidak tahu malu.” Sam Rin Hyo mendecih, menuang kembali cairan soju itu, namun dengan cepat Dongwoon menarik gelas itu menjauh.

“Kau sudah mabuk, Rin Hyo-ah.”

Sam Rin Hyo mengangguk – angguk mengerti. “Kau tahu apa yang lebih parah dari itu semua? Temanmu yang tidak tahu malu ini, saaangat bodoh.Kau tahu apa? Pria itu… Cho Kyuhyun yang berwajah menyebalkan itu sudah mengganti nomornya. Semua e-mail itu juga terbuang sia – sia, semuanya tidak pernah ia baca.” Rin Hyo menaruh kepalanya diatas meja ketika merasa kepalanya begitu berat.

“Aku harus bagaimana, Dongwoon-ah? Kau benar, aku diterima. Apa Tuhan sekejam ini padaku? Mengapa aku diterima ketika aku tahu jika Cho Kyuhyun sudah tak menginginkanku lagi! Sial.” Isakan Rin Hyo keluar begitu saja. Syukurlah ia menyembunyikan wajahnya pada meja. Jika tidak, Dongwoon benar – benar tak bisa tahan melihat gadis ini menangis.

Keure, menangislah.” Hanya itu yang bisa Dongwoon katakan. Telapak tangan kanannya menepuk punggung Rin Hyo berirama.

 

***

 

Sam Rin Hyo duduk dengan kaku dikursinya seraya menatap meja yang kini menjadi meja kerjanya entah untuk sampai kapan. Ia menatap pintu berdaun dua dengan ukiran kayu yang indah itu dengan helaan napas panjang. Disana adalah ruangan Cho Kyuhyun. Decihannya keluar ketika ia masih memikirkan tentang harapan dan rasa rindunya selama ini. Ia dan Kyuhyun memang tidak cocok dari segi manapun. Level mereka saja sudah sangat berbeda, seolah ada sekat tinggi yang membatasinya dengan Cho Kyuhyun. Seperti meja kerjanya yang dibatasi oleh pintu kayu berukiran indah itu.

“Selamat pagi, Sekertaris Sam.” Tubuh Rin Hyo berjengit terkejut ketika mendengar sapaan Kyuhyun. Tanpa menunggu apapun gadis itu beranjak dari tempat duduknya, membungkuk dalam kepada Cho Kyuhyun.

“Selamat pagi, presdir. Tidur anda nyenyak?” balas Rin Hyo sekenanya. Ia sudah belajar dari seniornya tentang bagaimana cara menjadi sekertaris yang baik dan benar.

Kyuhyun tersenyum kecil, rasanya kembali penuh ketika menatap wajah itu setelah satu minggu berpisah. Pria itu terdiam cukup lama dengan tatapan yang terus memaku wajah Rin Hyo. Kemudian berucap, “Tidak senyenyak itu.”

“Apa anda memerlukan vitamin atau…”

“Tidak perlu. Aku sudah mendapatkan vitaminku.” Potong Kyuhyun dengan tatapan yang semakin membuat Rin Hyo bingung harus berbuat apa. Kedua mata pria itu seolah mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti sama sekali. “Ah, kau sudah bertemu dengan Lee Yeon Hee, kan? Dia akan membimbingmu. Jadi kau bisa bertanya padanya jika ada yang tidak dimengerti.” Rin Hyo mengangguk kuat.

Ne, algesseumnida.” Kyuhyun kembali tersenyum kecil kemudian memasuki ruangannya. Meninggalkan Rin Hyo yang hanya bisa menatap punggung pria itu hingga hilang dibalik pintu.

 

***

 

Hari pertama memang sangat melelahkan, butuh waktu untuk ia bisa beradaptasi dengan pekerjaan ini. Menjadi sekertaris presdir Cho group memang tidak mudah sama sekali. Berkali – kali ia menerima masukan dari seniornya, Lee Yeon Hee. Sekertaris komisaris yang lebih tua beberapa tahun darinya.

“Pertemuan dengan presdir Lee malam ini dibatalkan karena beliau harus ke Eropa, Presdir. Jadi setelah ini anda bisa langsung pulang kerumah.” Ujar Rin Hyo sopan, ia duduk disamping sopir pribadi Cho Kyuhyun. Sedangkan pria itu duduk dikursi belakang.

Keure, kita kembali kekantor.” Ucap Kyuhyun sekenanya. Melepaskan jasnya kemudian membuka dua kancing atasnya, hari ini jadwalnya benar – benar penuh.

Ne, algesseumnida.” Ucap sopir itu kemudian mengemudikan mobil dengan kecepatan rata – rata. Rin Hyo memeriksa berkas – berkasnya seraya sesekali menandai sesuatu disana.

“Rin Hyo-ah, kau membawa mobil?” tubuh Rin Hyo tersentak ketika mendengar cara bicara Cho Kyuhyun yang bisa membuat siapa saja yang mendengarnya akan salah paham. Mengingat, seorang presdir seharusnya tidak memanggil sekertarisnya dengan panggilan seperti itu, bukan?

Spontan Rin Hyo menoleh kearah sopir yang tengah memasang wajah tak nyamannya. Sam Rin Hyo menghela napasnya pelan. “Aniyo, presdir. Mobilku berada dibengkel.”

“Ah, keureom. Kau pulang bersamaku saja!” Rin Hyo membuka bibirnya seraya menatap sopir yang kini tengah batuk – batuk sembari meliriknya sesekali.

“Tidak apa – apa, aku hanya perlu menunggu jemputan, presdir.”

Nugu?” Rin Hyo menghela napasnya, menoleh kebelakang. Menatap Kyuhyun dengan tatapan tutup mulutmu! Kemudian kembali menatap lurus kedepan sebelum menjawab, “Seorang teman.”

 

***

 

Sam Rin Hyo cepat – cepat berjalan menuju halte setelah mengambil beberapa barang pribadinya yang ia tinggalkan dimeja kerja. Berharap Kyuhyun tak membuatnya terpaksa menaiki mobil pria itu lagi. Sungguh, berada satu mobil dengan pria itu membuatnya canggung dan tidak nyaman. Ditambah, ia sudah tak mampu lagi berlama – lama berada didekat Kyuhyun. Karena hal itu akan memperbanyak perasaannya yang ia yakin akan berakhir sia – sia.

Sorot lampu bus yang nampak dari arah kanannya membuat ia beranjak, membenarkan tasnya kemudian berdiri ditepi jalan menunggu bus itu berhenti didepannya. Benar, ia memang bohong mengenai seorang teman yang menjemputnya. Hal itu hanyalah alasan agar ia tidak pulang bersama Cho Kyuhyun saja.

“Kau bilang menunggu teman.” Tubuh Rin Hyo berjengit terkejut, segera menatap kesamping. Kedua matanya terbuka lebar ketika menemukan Cho Kyuhyun yang berdiri disampingnya.

“Cho Kyuhyun…ssi.” Kyuhyun menghela napasnya kemudian menarik tangan Rin Hyo agar mengikutinya, membawa gadis itu pada mobil yang sejak tadi terparkir tak jauh dari tempat ia menunggu bus. Rin Hyo menarik tangannya dengan kasar ketika ia sudah berada didepan pintu mobil.

“Wae? kau ingin menghindariku lagi?”

Rin Hyo menatap Kyuhyun sebentar kemudian menunduk sekadar. “Animida.

“Kalau begitu pulang bersamaku saja, tadi itu bus terakhir. Jadi, kau tidak punya pilihan lain.”

Gwenhanayo, aku bisa memanggil taksi.”

Kyuhyun membuang napasnya kasar, “Berhenti memakai bahasa formal. Terdengar aneh untukku!”

Lagi – lagi Rin Hyo hanya menunduk kemudian menatap Kyuhyun dengan wajah datar, “Aku pulang dulu.”

“Ayo kita makan malam!” ajakan yang terdengar seperti perintah itu membuat Rin Hyo mengurungkan niatan tubuhnya untuk berbalik meninggalkan pria ini. Gadis itu kembali menatap Kyuhyun dengan alis terangkat.

“Apa harus?” tanya Rin Hyo singkat. Kyuhyun bersendekap, memasang wajah seperti tengah mempertimbangkan sesuatu kemudian mengangkat kedua bahunya asal. “Menurutmu? Apa harus?” Kyuhyun balik bertanya, dengan gaya santainya yang membuat Rin Hyo kesal. Ia selalu kesal ketika Kyuhyun berlagak seperti ini, namun sayangnya pria itu tak pernah menyadarinya.

“Kurasa tidak perlu.”

Kyuhyun tersenyum miring. “Dan kita akan selalu seperti ini. saling menghindar meski kita adalah rekan kerja?” ujar Kyuhyun dengan selipan nada sindiran. Rin Hyo menghela napas panjang, Kyuhyun memang selalu menang. Dan ia tidak bisa menyangkal hal itu.

“Apa yang kau inginkan?”

“Hanya ingin memperjelas segala hal yang masih abu – abu antara kita. Memperbaiki hubungan agar kita bisa bekerja dengan profesional. Bagaimana? Masih berpikir jika makan malam ini tidak perlu?”

Rin Hyo membuang napas kasar kemudian mengangguk sekadar sebelum memasuki mobil Kyuhyun tanpa menunggu pria itu membuka pintu mobilnya. Cho Kyuhyun mengulum senyum, segera memasuki kemudi.

 

***

 

Suara desisan yang terdengar lezat dari daging segar hanwoo panggang ini dapat dipastikan membuat setiap orang mengeluarkan salivanya tanpa sadar. Begitu pun dengan Rin Hyo yang merupakan salah satu pecinta daging sapi, apalagi hanwoo. Gadis itu menatap dagingnya yang baru saja ia balik, menciptakan harum asap khas hanwoo yang semakin membuat ia meneguk ludahnya. Sudah sangat lama sejak ia memiliki nafsu makan seperti ini.

“Sepertinya kau tidak makan dengan baik selama 3 tahun ini.” ujar Kyuhyun tiba – tiba, sejak tadi pria ini memang tak melepaskan pandangannya pada Rin Hyo. memperhatikan lekuk wajah Rin Hyo yang lebih tirus, bahkan sangat tirus daripada Rin Hyo 3 tahun yang lalu. Binaran mata yang sejak dulu ia puja pun kini sedikit terganggu oleh lingkaran mata yang sudah menyerupai panda itu.

“Huh?” Rin Hyo menatap Kyuhyun dengan kedua mata lebarnya. Mengundang senyuman kecil dari bibir pria itu.

“Ah, sepertinya sudah matang.” Dengan cepat Kyuhyun membungkus dagingnya dengan salad kemudian menyodorkan nya pada Rin Hyo. “Buka mulutmu!” titah pria itu dengan senyuman kecil.

Rin Hyo berkedip beberapa kali sebelum akhirnya membuka mulutnya, menerima suapan Kyuhyun meski dengan gerakan ragu. Kyuhyun tersenyum puas, kemudian memakan dagingnya sendiri seolah tak ada apapun yang terjadi. Sam Rin Hyo yang tadinya merasa tak nyaman akhirnya tersenyum kecil. Menjapit daging dengan sumpit kemudian mencelupkan kedalam saus soguchang sebelum menyuapkannya pada Kyuhyun yang langsung membuka mulutnya tanpa sadar.

“Kau juga harus makan.” Hanya itu yang diucapkan Rin Hyo. Namun sungguh, rasanya begitu hangat untuk Kyuhyun. Terutama dihatinya.

Keunde… apa kau melakukan diet? Kau terlihat sangat kurus.” Tanya Kyuhyun disela mengunyahnya. Rin Hyo tertegun, sangat tidak mungkin bukan jika ia mengatakan ‘tidak, hanya saja nafsu makanku jadi berantakan ketika kau pergi.’ Meski itu lah kebenarannya.

“Hm, begitulah.” Jawaban singkat itulah yang akhirnya menjadi jawaban teraman baginya. Kyuhyun tertawa kecil, tak begitu saja mempercayai ucapan Rin Hyo.

“Jangan bercanda! Tidak ada alasan untukmu melakukan diet, kau malah terlihat tidak sehat seperti ini. mulai sekarang makanlah yang banyak, jika kita harus pergi kesini tiap pulang kerja pun aku tidak masalah.”

“Kita?” Kyuhyun mengangguk ringan.

“Mm, atau ya, mungkin saja kau ingin kesini dengan orang lain juga tidak apa – apa.” Jawab Kyuhyun berusaha bersikap biasa saja. Rin Hyo mengangguk dua kali tanda mengerti, tangan kanannya sudah kembali menata daging diatas panggangan. Juga kimchi dan bawang.

“Kau juga terlihat sangat kurus. Khawatirkan dirimu sendiri dulu sebelum mengkhawatirkan orang lain.”

Kyuhyun tersenyum tipis. “keure, kurus bukan seperti aku yang biasanya, bukan? Mulai sekarang aku akan makan dengan baik.”

“Tentu saja. Kyuhyun yang kukenal, memiliki dua pipi yang mengembung seperti ini.” Rin Hyo menaruh dua kepalan tangannya didepan kedua pipinya. Kyuhyun kembali tertawa kecil.

“Sudahlah, berhenti meledekku!”

 

Son calling

 

            Kyuhyun melirik ponsel Rin Hyo yang layarnya menyala diatas meja, mungkin sengaja tidak digetarkan oleh gadis itu tadi agar ia dapat fokus bekerja. Dahinya sedikit mengerut ketika membaca nama son disana. wajahnya kembali dingin, berusaha tak mempedulikan ponsel itu dengan cara memasukkan potongan daging kedalam mulutnya. Bahkan tak ada niatan untuk menyadarkan Rin Hyo jika ponselnya menyala hingga akhirnya panggilan itu berakhir menjadi missed call.

Tak butuh waktu lama ponsel itu kembali menyala, membuat Kyuhyun mendesah malas. Rin Hyo mengangkat alisnya, menatap Kyuhyun dengan bingung namun enggan untuk bertanya. “Ponselmu.” Tukas Kyuhyun tanpa ekspresi.

Rin Hyo segera memeriksa ponselnya, “Ah…” gadis itu menatap Kyuhyun tak enak kemudian mengangkat panggilan dari Dongwoon.

Eo! Dongwoon-ah, wae?

Kau dimana? Kenapa tidak membalas pesanku? Membuat khawatir saja!

            Rin Hyo terkekeh kecil, “Mian. Aku sedang makan malam bersama teman kantor.” Jawab Rin Hyo seraya sesekali mencuri pandang kearah Kyuhyun yang masih mempertahankan ekspresi dinginnya.

Ah, keure? Dimana? Apa perlu aku menjemputmu nanti?

            Aniya, tidak usah seperti itu! aku akan naik taksi.”

Baiklah, lain kali periksa ponselmu agar aku tidak khawatir.

            “Aku mengerti. Tidurlah!”

Mm, hati – hati.

            “Eo.” Rin Hyo memutuskan sambungan telepon, men-setting suara panggilan dengan vibrate only kemudian memasukkan ponselnya kedalam tas.

“Ada masalah?” tanya Kyuhyun acuh. Rin Hyo tersenyum kecil, lalu menggeleng sekadar sebelum kembali memasukkan potongan daging yang disusul oleh selembar salad.

“Tch, kukira ada masalah sampai dia menelfonku malam – malam seperti ini.”

“Dongwoon selalu khawatir jika aku tidak mengatakan jika aku sudah sampai dirumah dengan selamat.” Kyuhyun tersenyum culas.

“Woah, dia benar – benar perhatian. Tunggu saja sampai kau harus keluar kota selama beberapa minggu, pasti ia sudah gila, bukan?” ucap Kyuhyun dengan nada yang sarat akan ledekan.

“Tidak seperti itu.” hanya itu yang diucapkan Rin Hyo, mengawali keheningan yang terjadi diantara mereka. Nafsu makan pun rasanya hilang entah kemana, yang ia lakukan hanyalah membalik – balik dagingnya yang sebenarnya sudah matang.

“Dagingnya mau hangus.” Rinhyo membuka percakapan, “Makanlah.” Lanjutnya dengan nada kaku.

Kyuhyun berdehem keras, lalu menyumpit dagingnya. “Kau masih sering mengunjungi restoran seafood langganan kita?” tanya Kyuhyun disela kegiatan mengunyah makanannya.

“Ah, benar! Kau tahu? Sekarang restoran itu sudah pindah di Hongdae, tidak di Itaewon lagi.” Rinhyo berucap dengan semangat, senyumnya merekah lebar.

Kyuhyun tersenyum kecil ketika mendengar Rinhyo menunjukkan reaksi seperti ini. Persis seperti ketika mereka berpacaran dulu. Pria itu sudah tak tertarik dengan daging hanwoo-nya, lebih memilih menyanggah kedua tangan seraya menekankan fokus tatapannya pada Sam Rinhyo. “Benarkah?” lidahnya membalas sekadar.

Dengan mulut yang penuh dengan daging, Rinhyo mengangguk. “Restorannya lebih besar dari yang di Itaewon dulu, tapi rasanya masih tetap enak.”

“Kau pasti sering kesana, ya?”

“Tentu saja! Ada menu baru sejak tiga minggu yang lalu, aku sering mengunjungi restoran untuk memakan itu.” Rinhyo mengacungkan dua ibu jarinya dengan wajah penuh keyakinan. “Enak sekali! Kau harus mencobanya kapan – kapan.”

“Menu baru apa?”

“Nasi abalon. Ah, biasanya aku juga memesan sup gurita. Dua menu itu adalah perpaduan yang sangat tepat. Asal kau tahu.”

Kyuhyun mendecih, “Hanya nasi abalone? Kukira apa. Tapi tidak kaget juga sih, kau kan tipikal gadis pemakan segala.”

Rinhyo menaruh sumpitnya dengan kasar diatas meja hingga menimbulkan suara yang dramatis. “Hanya?! Tch, kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak tahu rasanya!”

“Biasanya kau kesana bersama siapa?” wajah Kyuhyuun tiba – tiba berubah begitu serius. Tak ada senyuman jahilnya lagi.

Begitu pun dengan Rinhyo yang menegang ditempatnya. Kedua kelopak matanya berkedip cepat, diam – diam ia meneguk ludahnya berat. Seharusnya disaat seperti ini, Rinhyo dapat dengan mudah mengatakan jika ia selalu mengunjungi restoran bersama Son Dongwoon. Seharusnya di hubungan tanpa ikatan cinta seperti ini, Rinhyo tak punya alasan kuat untuk menutupi hubungannya dengan Dongwoon. Seharusnya seperti itu, tapi kenyataannya Rinhyo tidak seperti itu.

Senyuman miring Kyuhyun terulas, “Kenapa sulit sekali untuk menjawab?”

Cepat – cepat Rinhyo menghindari tatapan Kyuhyun kearah daging hanwoo yang sudah hangus. “Oh, dagingnya mau hangus.”

“Dagingnya memang sudah hangus, tidak usah mengalihkan pembicaraan.”

Rinhyo tak menghiraukan ucapan Kyuhyun, lebih memilih memindahkan daging – daging hangus itu keatas piring. “Ck, sayang sekali dagingnya.”

“Jangan pedulikan daging itu, tidak bisakah kau mempedulikanku saja?”

Segala pergerakan Rinhyo sontak berhenti. Perlahan ia menatap Kyuhyun, tubuhnya sedikit berjengit ketika mendapat tatapan tajam namun ada kelembutan disana. “Kau, tidak bisa hanya mempedulikanku saja?” Kyuhyun mengulang tanpa irama.

Mereka masih saling tatap, Rinhyo tak bisa melakukan apapun selain terdiam. Mencerna ucapan Kyuhyun sebaik mungkin. Tangan Kyuhyun yang masih mengepal diatas meja tak bergerak pula, hanya mata dan lidahnya yang berbicara.

“Aku disini juga hampir hangus, Rinhyo-ah.”

“Kau bicara apa, Cho Kyuhyun?”

“Aku tidak tahu apa yang kau kirim di email karena aku sudah tidak memakai email itu lagi. Aku juga tidak tahu apa isi pesan suaramu padaku. Bahkan aku juga tidak mengerti mengapa kau mengirimiku itu semua selama aku berada di Amerika. Yang aku tahu saat ini adalah, aku ingin memulai kembali denganmu.”

Rinhyo tak tahu dengan pasti apa yang ia rasakan saat ini. Yang ia tahu, rasanya begitu lega. Mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir Cho Kyuhyun membuat sekujur tubuh Rinhyo gemetar. Jujur saja, selama 3 tahun ini kalimat itulah yang ingin ia dengarkan dari Kyuhyun.

“Aku tidak mau lagi mempermasalahkan hubunganmu dengan Son Dongwoon meski sebenarnya melihat kalian berdua bersama adalah suatu hal paling menjengkelkan. Aku… ingin kembali membicarakan hubungan kita yang belum sampai kata selesai.” Lanjut Kyuhyun, napasnya menghembus berat dan panjang karena sesak entah untuk alasan apa.

Sedangkan Rinhyo tersenyum kecil, menyumpit salah satu potongan daging yang berwarna hitam. Mencelupkannya kedalam mangkuk saus lalu mengulurkan daging kedepan bibir Cho Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun bertanya tak mengerti dengan sikap Rinhyo yang sangat aneh.

“Buka mulutmu!”

“Tch, kau menganggap enteng ucapanku ya? Sial.”

“Ck, buka saja!”

Sontak Kyuhyun membuka mulut, membiarkan Sam Rinhyo menjejalkan sepotong daging gosong itu kedalam mulut Kyuhyun. “Aish, kenapa kau memberiku daging pahit?” dengan terpaksa Kyuhyun menelan daging itu, lalu mengaliri lidahnya dengan air mineral sebanyak mungkin.

“Apa sepahit itu?” Rinhyo bertanya polos.

“Tentu saja, bodoh!”

“Kalau begitu… kurasa perasaanmu juga sepahit itu selama ini. Aku minta maaf.” Rinhyo mengulas senyuman kecilnya. “Aku juga, selama ini… selama tiga tahun ini… tidak baik – baik saja.” Lanjut Rinhyo.

Gadis itu menghela napas dalam – dalam, melemparkan senyuman kecil pada Kyuhyun sebelum berucap “Aku senang dengan kenyataan bahwa Cho Kyuhyun juga merasa seperti itu selama ini.”

“Lalu? Selanjutnya apa?” Kyuhyun memancing tak sabar.

Rinhyo terkikik geli melihat tingkah Kyuhyun. Ia menggedikkan bahu iseng, “Menurutmu?” tanyanya menggoda.

Kyuhyun tertawa kecil mengacak rambut Rinhyo gemas kemudian mencubit pipi gadis itu. “Kau benar – benar ahli dalam membuat orang kesal.”

Rinhyo mengibaskan rambutnya kebelakang dengan angkuh, “Asal kau tahu saja, aku juga ahli dalam membuat orang jatuh cinta.”

“Tch, baiklah! Aku tahu!”

 

TBC or END?

 

Menurutku sih ini masing nggantung. Dan sepertinya nanti ada satu episode sequelnya hahaha

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “More Than You Think 3

  1. pinginnya tbc aja kak..
    Cara mereka balikan lgi lucu..
    Tp tetep ada kesan romantis..
    Yg terpenting mereka udah balikan lagi, yeah

  2. Ini si ga gantung hahaha
    Cuma harus ad adegan manisss biar meyakinkan hubungan wkwk
    Makasi eonni ud dipost ditunggu slnjtnyaa😳

  3. Oh aku baru liat ini kkkk akhirnya nemu juga setelah sekian lama… Akhirnya dua”nya jujur juga, yup sequel ya kaaaakkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s