DOLL 4

dolljiwon

DOLL 4

 

Author : Tsalza Shabrina

 

***

 

 

Pagi ini dimulai dengan langit mendung, pemandangan yang selalu sama sejak satu minggu kebelakang. Kyuhyun keluar dari rumah sewanya, menguap seraya merentangkan kedua tangan lebar – lebar. Wajah bangun tidurnya terlihat pucat, seperti kekurangan vitamin E. Langit pun sepertinya juga bersepakat untuk tidak membagi sinar matahari pada kulit Kyuhyun.

Tubuhnya sedikit bergidik kedinginan sebelum ia menutup resleting jaketnya. Duduk dikusi persegi sambil memandang kedepan dengan mata sayu, setengah sadar.

“Oi! Cho Kyuhyun! Ketua Cho!” Teriakan seorang pria lain dari bawah membuat Kyuhyun mendesah keras.

“Aish, masih sepagi ini.” Gerutunya dengan suara serak.

“YA! Cho Kyuhyun! Aku tahu kau mendengarku, kau pasti sedang duduk santai kan sekarang? Turunlah, pemalas!”

Menyerah, Kyuhyun beranjak dari kursinya. Berjalan ketepi pagar pendek berbahan beton, menatap kebawah dengan raut wajah sedatar mungkin. Pria yang sejak tadi memanggil nama Cho Kyuhyun itu tersenyum lebar, melambai – lambaikan kedua tangannya begitu tinggi.

“Cuci muka, lalu turunlah!” pria yang memakai jaket olahraga, lengkap dengan headseat yang menyumpali telinga itu memerintah.

Kyuhyun kembali mendesah keras, “Aish, Shim Changmin.”

 

***

 

“Ah…”

Changmin mengeluarkan desahan leganya ketika ia baru saja meneguk setengah botol air mineral, bersandar di batang pohon dengan kedua kaki lurus kedepan. Kyuhyun yang mengambil tempat disisinya pun begitu, menyahut air mineral Changmin lalu menghabiskannya.

Matahari sudah tampak jelas diatas, dengan awan – awan sejuk yang menemani. Kulit wajah Kyuhyun juga tak begitu pucat seperti tadi, kini dialiri keringat hasil olahraga berlarinya. Changmin selalu berhenti didepan rumahnya untuk menjemput Kyuhyun, karena jika tidak begitu si pemalas olahraga yang bernama Cho Kyuhyun itu tak akan pernah melakukan olahraga sekadar lari pagi seperti ini. Lagi pula, rumah mereka juga berada didaerah yang sama.

“Lain kali kau tak usah bingung meminta izin pergi dari kegiatan musikal jika alasannya untuk menemui gadis cantik, Kyu.” Celotehan penuh makna sekaligus penuh candaan itu membuat Kyuhyun menoleh pada Changmin. Alisnya terangkat, meski ia sudah tahu apa maksudnya.

Changmin semakin berniat menggoda Kyuhyun, menyenggol lengan pria itu dengan wajah menggelikannya. “Kata Jonghyun kau bertemu gadis cantik kemarin saat meninggalkan tanggung jawabmu sebagai juri.”

“Ck, Jonghyun! Si brengsek itu.” Tukas Kyuhyun malas, kembali menoleh kedepan. Menciptakan senyuman geli Changmin yang terulas jelas.

“Oh, jadi benar ya. siapa? Kenapa tidak bercerita jika kau sedang keluar bersama gadis cantik? Apa dia ikut audisi musikal juga? Ingin dimasukkan dengan kekuatan privillage?”

“Kita tidak dalam hubungan seperti itu. Jadi sia – sia saja aku bercerita.” Kyuhyun membalas malas, kemudian menatap Changmin. “Dan juga, berhentilah memasukkan gadis – gadis cantik kedalam musikal jika memang tidak kompeten.”

“Bagaimana lagi, mereka begitu cantik.” Changmin terkekeh, ia selalu gila oleh gadis – gadis cantik. “Apapun itu, aku berharap segalanya berjalan dengan lancar.” Lanjut Changmin, tersenyum tipis kearah Kyuhyun.

“Apanya?”

“Gadis cantik itu. Aku tidak tahu siapa dia, tapi aku berharap kau bisa berhasil dengannya.”

Kyuhyun hanya diam. Tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia juga tidak berniat menyangkal atau meng-iya-kan ucapan Changmin. Lebih baik diam sebelum pikiran pria itu semakin meluas tak tentu arah.

“Kau harus melupakan Kim Hyera dan bertemu dengan gadis lain. Asal kau tahu saja, cinta pertama… tidak pernah berakhir bahagia.”

Kyuhyun menghela napas panjang, mengangguk dua kali. “Aku tahu.” Tukasnya ringan sebelum berdiri, kembali berlari mendahului Changmin yang masih duduk disana.

 

***

 

 

Sam Rinhyo keluar dari pintu utama rumahnya, langkahnya terhenti saat ia menemukan Ji Changwook tengah bersandar dipintu mobil porsche –nya yang terparkir dihalaman rumah. Kejadian 2 hari yang lalu benar – benar berdampak besar. Pertunangan batal, dan kemarin Changwook tak nampak sama sekali dihadapannya. Ia sempat mengira jika semuanya akan berakhir kemarin, tapi ternyata hari ini Changwook menjemputnya.

Tubuh Changwook seketika berdiri tegak saat menemukan Sam Rinhyo yang masih berdiri diambang pintu dengan ekspresi tak terbaca. Pria itu mengangkat satu tangannya diudara, tersenyum manis seolah tak ada yang terjadi kemarin.

“Selamat pagi.” Sapa Changwook, sangat berlainan dengan sikap dinginnya tempo hari. Tubuh Rinhyo seperti terpaku ditempat, bibirnya kelu untuk sekadar menyuarakan kebingungannya. Ia hanya terdiam disana, seraya menatap Changwook seperti orang bodoh. “Kau tidak naik?” lanjut Changwook, ia mengerti Rinhyo pasti akan canggung dengan perubahan sikapnya.

“Ah, ya.” Rinhyo menjawab dengan kaku, gadis itu berjalan menuju mobil Changwook kemudian membuka pintunya sendiri sebelum memasukinya. Ia hanya ingin mengakhiri ini semua dengan cepat. Tak tahan dengan kecanggungan ini.

Ji Changwook tersenyum kecut, sikap Rinhyo pun sudah berubah menjadi seorang Rinhyo yang sesungguhnya. Meski rasanya ada yang hilang, karena Rinhyo tak lagi membalas senyumannya. Tapi lebih baik seperti ini, ia tak mau membuat Rinhyo tersiksa sendiri karena harus bersandiwara setiap saat.

 

***

 

“Maaf.”

Kata pertama yang Changwook lontarkan saat mobilnya keluar dari halaman rumah Rinhyo, cukup membuat Rinhyo terkejut. Gadis itu menoleh sebentar kearah Changwook, lalu kembali menatap kedepan dengan canggung.

“Seharusnya aku yang minta maaf, oppa.” Hela napas panjang Rinhyo keluar, “Maafkan aku.” Lanjut Rinhyo tulus. Bagaimana pun, pusat kesalahan memang berpusar padanya. Sebanyak apapun ia ingin menyalahkan Changwook, rasa bersalah itu akan kembali menyerangnya seperti boomerang.

Genggaman Changwook pada setir mobil semakin menguat. Senyuman kecilnya terulas, “Eomonim dan abonim tidak menyalahkanmu, kan?”

“Tentu saja, aku yang disalahkan. Tapi, tidak apa – apa. Lebih baik seperti ini daripada aku harus membohongimu terus menerus.” Rinhyo berucap dengan lancar, ia berniat untuk tidak menyembunyikan apapun mulai sekarang. “Jujur saja, sebenarnya aku tidak benar – benar berbohong saat mengatakan jika aku menyukaimu. Sungguh, aku menyukaimu sebagai teman. Kau sangat baik dan pengertian, tak ada alasan untukku tidak menyukaimu.” Ya, ini juga jujur.

“Teman?” Changwook mengulang dengan suara lirih.

Rinhyo membuang pandangan kearah jendela. “Ya.” singkat gadis itu.

“Alasan mengapa aku memundurkan tanggal pertunangan, kau tidak ingin mengetahuinya?” Rinhyo kembali menatap Changwook.

“Sudah sepantasnya kau melakukan itu karena sikapku, oppa. Aku bisa mengerti.”

“Aku ingin pernikahan kita nanti berjalan dengan hati yang suci dan tulus. Aku… akan membuatmu mencintaiku, seperti aku mencintaimu. Nanti saat waktunya tepat, kita menikah.”

Alis Rinhyo terangkat, ia menatap Changwook terkesiap. Entah kenapa, ucapan Changwook malah terasa seperti beban besar untuknya.

 

***

 

“Kudengar mereka sudah putus karena orang ketiga.”

            “Kau jangan mengada – ada, tidak mungkin pasangan yang sudah seperti pangeran dan putri di negeri dongeng itu tiba – tiba berpisah karena orang ketiga.”

            “Jika tidak berpisah kenapa pertunangan hari ini dibatalkan? Banyak rumor yang beredar jika Sam Rinhyo berselingkuh dengan pria pascasarjana jurusan musikal.”

            “Sam Rinhyo?! Tidak mungkin! Kau tahu sendiri jika dia tidak pernah dekat dengan pria selain Ji Changwook. Gadis itu sangat tertutup meski begitu ramah.”

            “Aish, percayalah padaku! Ada yang melihat Rinhyo dan pria itu dikafe, tertawa bersama.”

 

            Rinhyo hanya diam didepan pintu kelas yang tertutup. Menarik napas panjang, kemudian mengeluarkannya pelan. Ia mengangguk kuat sebelum membuka pintu kelas serta menampakkan wajah seperti biasa. Dapat ia lihat 3 sampai 4 gadis yang tadi sedang asik bergumul didepan kelas itu segera bubar kekursinya masing – masing. Rinhyo tak ingin berbuat apapun yang hanya akan memakan waktu, lebih baik ia segera duduk dibaris paling depan. Mengeluarkan buku dan berpura – pura menenggelamkan diri kedalam sana agar tidak ada yang mengganggunya.

YA!” Suara beroktaf rendah berhasil menyentakkan Rinhyo dari kegiatan pura – puranya. Tubuh gadis itu berjengit terkejut, menoleh kearah asal suara. Seketika tertawa kecil saat menemukan Park Sunyoung tengah melambaikan dua tangan dengan riang.

“Astaga Park Sunyoung. Aku kaget sekali.” Ujar Rinhyo disela tawa kecilnya. Park Sunyoung mendecih kemudian duduk disamping Rinhyo.

“Apa yang kau baca? Serius sekali.”

“Ah, hanya materi hari ini.”

Sunyoung mengangguk sekadar, “Ah ya, kudengar pertunanganmu hari ini dibatalkan. Ada apa?” Rinhyo sudah menebak jika Sunyoung akan langsung menanyakan segala rasa penasarannya saat mendengar berita ini. Ia pun bisa menebak jika para gadis yang sejak tadi berbisik dibelakang tengah memasang gendang telinga setajam mungkin untuk mendengar percakapan ini.

Rinhyo tersenyum kecil. “Bukan dibatalkan, hanya diundur karena masalah perusahaan.”

“Ah… jadi begitu.” Rinhyo bisa mendengar dengan jelas suara gadis – gadis yang kembali bergumul dibelakang. Ada sedikit rasa terima kasih pada Sunyoung karena sudah menanyakan ini dan dapat menghapus gosip – gosip aneh yang dibicarakan gadis – gadis itu. Meski jumlah mereka hanyalah 4 orang, tapi ia bisa jamin jika berita ini akan tersebar luas.

Sunyoung menoleh sebentar kearah gadis – gadis itu, mendecih seraya menggelengkan kepala ketika mendapati kumpulan penggosip itu sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk menyebarkan lewat ponsel masing – masing. “Ah, Kyuhyun sunbae meminta nomormu padaku.”

Kedua mata Rinhyo melebar, menoleh kebelakang samar dan bersyukur karena gadis – gadis itu tak mendengar ucapan Sunyoung. “Untuk apa?”

Sunyoung mengangkat bahu acuh. “Kukira kalian saling mengenal, jadi kuberikan saja.” Dahi Sunyoung mengernyit, “Atau jangan – jangan kalian tidak saling mengenal sama sekali? Aish, apa pria itu membohongiku lagi?! Ck, mentang – mentang seorang senior dia jadi—“

“Aku mengenalnya, kok.” Rinhyo tersenyum kecil lalu kembali memperhatikan buku yang sejak tadi terlantar diatas meja. Menghindari pertanyaan – pertanyaan Sunyoung yang mungkin saja dapat memojokkannya.

 

***

 

Sam Rinhyo? Aku Cho Kyuhyun, kuharap kau bisa menyimpan nomorku ^^

 

Cepat – cepat Kyuhyun menghapus satu persatu huruf yang baru bisa ia rangkai setelah menghabiskan waktu hampir lima menit itu. Hela napasnya keluar kasar, “Kenapa merangkai kata saja bisa sesulit ini?” gerutunya kesal. Sengaja mengeluarkan suara yang hampir seperti bisikan karena ia sekarang berada di perpustakaan kampus. Tanpa buku ataupun jurnal, hanya sebuah ponsel didalam genggaman.

 

Kau tidak lupa dengan janji makan malam besok, kan?

 

-Cho Kyuhyun

 

            Kyuhyun menatap pesan yang sengaja belum ia kirim itu cukup lama. Menimang untuk menggunakan kata itu atau tidak dengan sebaik mungkin. Desahan kerasnya keluar, jemarinya kembali menghapus untaian kata itu tanpa bekas. Menelantarkan ponsel diatas meja dengan kasar hingga menimbulkan suara cukup keras.

“Kau berkencan dengan seseorang, hyeong?”

Hampir saja tubuh Kyuhyun terjungkal kedepan, ia menoleh kesamping dengan kedua mata yang masih melebar. Menemukan senyuman lebar Lee Jonghyun yang entah kenapa terlihat begitu mengesalkan dilihat dari sisi manapun.

“Berkencan apanya?! Dan juga, tidak bisakah kau tidak muncul secara tiba – tiba seperti itu?!”

Jonghyun tertawa geli, menarik kursi disamping Kyuhyun lalu mendudukinya. Ia menunjuk ponsel yang tergeletak diatas meja lalu menunjuk wajah Kyuhyun santai, “Melihat kondisi ponsel dan wajahmu terlihat jelas jika kau sedang berkencan dengan seseorang. Jadi kenapa? Dia tidak membalas pesanmu? Atau tidak menjawab teleponmu? Kalian sedang bertengkar? Ah tidak, sejak kapan kalian berkencan? Akhirnya kau bisa melepas masa single-mu.” Jonghyun merangkul pundak Kyuhyun sok peduli. “Aku senang kau bisa melepaskan Hyera noona seperti ini.”

Kyuhyun mendesah frustasi, menyingkirkan tangan Jonghyun kasar. “Berhentilah mengada – ada. Aku tidak berkencan dengan siapapun, bodoh!”

“Tch, baiklah jika kau ingin bersikap sok misterius seperti ini. Aku dari tadi mencarimu karena ingin mengatakan sesuatu.”

“Kau ingin menginap lagi?”

Eo! Bagaimana bisa kau membaca pikiranku?” Jonghyun meringis bocah. “Besok aku akan membawa hanwoo kesukaanmu dan kita akan berpesta semalaman.”

“Besok?” Jonghyun mengangguk kuat. “Tidak bisa besok.”

Wae?! Aish, meskipun kau sudah punya pacar tapi bukan berarti kau bisa mengkhianati adik laki – lakimu seperti ini, hyeong!”

“Terserah kau mau ngomong apa. Yang pasti tidak bisa besok!”

“Aku juga akan membawa wine kesukaanmu.”

“Meskipun begitu, kau tidak bisa—“ Kyuhyun menggantungkan ucapannya, fokus bola matanya kini sudah terpaku pada Sam Rinhyo yang tengah mencari buku tak jauh dari tempat duduknya. “Ya! Lee Jonghyun!” panggil Kyuhyun tanpa melepas pandangannya dari Rinhyo.

“Hm? Kau sudah berubah pikiran?”

“Kau tidak ada kelas?”

“Jika ada kelas untuk apa aku datang kesini?”

“Pergilah, katakan pada Changmin untuk datang kerumahku hari minggu malam. Jadi kau tidak perlu menyiapkan pesta besok.”

“Minggu malam? Kenapa harus menunggu sampai dua hari lagi?”

Kyuhyun memejamkan kedua mata frustasi, menatap Jonghyun tajam lalu menggedikkan kepala kesal. “Pergi saja atau kau tidak kuizinkan menginap dirumahku selamanya.”

Sontak Jonghyun mengangguk sekali. “Baik, aku mengerti. Seonsaengnim, aku pergi dulu.” Ujar Jonghyun lalu segera pergi setelah membungkuk dalam pada Kyuhyun.

“Ck, bocah itu benar – benar banyak bicara.” Kyuhyun tak ingin ambil pusing karena kelakuan Jonghyun, lebih memilih kembali menatap keberadaan Sam Rinhyo. “Eo!” Alis Kyuhyun terangkat, Rinhyo sudah tidak ada disana. Tanpa sadar tubuhnya bangun dari tempat duduk, menyahut ponsel lalu berjalan kearah dimana ia melihat Rinhyo tadi.

Tak menyerah, ia mencari dirak – rak selanjutnya hingga langkahnya berhenti ketika menemukan Rinhyo yang tengah duduk sendiri dimeja pinggir jendela. Secepat mungkin mengambil satu buku yang berada dirak terdekat tanpa melihat judulnya terlebih dahulu, lantas berjalan menuju meja Rinhyo. Duduk didepan gadis itu tanpa berucap apapun.

Merasa ketenangannya terusik, Rinhyo menatap kedepan. Kedua matanya melebar sempurna mendapati Kyuhyun sedang membaca buku dengan khusyuk dihadapannya. “Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun menatap Rinhyo, tersenyum kecil seraya menunduk ringan. “Aku boleh duduk disini, kan?”

Rinhyo mengangguk kaku, “Tentu saja.” Kyuhyun kembali melanjutkan kegiatan membacanya. “Tapi, bagaimana bisa tiba – tiba berada disini?”

“Tentu saja untuk membaca buku. Memangnya aneh jika seorang mahasiswa berada di perpustakaan kampus?”

“Bukan begitu, tapi… sudahlah, lupakan saja.”

Kyuhyun tertawa kecil melihat tingkah Rinhyo yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu tak sengaja melihat cover buku yang berada ditangan Rinhyo, alisnya terangkat “The panthom of the opera? kau suka ceritanya?”

Rinhyo tersenyum kecil, “Begitulah, aku pernah melihat artis musikal menyanyikan lagu ini di televisi lalu secara kebetulan, aku menemukan buku ini tadi.”

“Aku juga suka. Kau sudah melihat musikal-nya?”

Rinhyo menggeleng pelan. “Aku tidak ada waktu untuk menonton musikal. Sebenarnya, In The height adalah musikal pertama yang pernah kulihat.”

“Ah benarkah? Sepertinya kau ingin kuajak menonton musikal ya, maka itu kau menceritakan hal ini padaku.”

Nde?! Tch, ternyata kau termasuk dalam kategori pria narsis. Aku tidak bermaksud seperti itu!” Kyuhyun tertawa kecil, menikmati reaksi berlebihan Rinhyo. “Tapi, aku baru tahu ternyata kau butuh buku itu untuk menjalankan kewajibanmu sebagai seorang ketua.”

“Maksudmu?”

Rinhyo menahan tawa seraya menunjuk cover buku yang dipegang Kyuhyun. “How to be a great leader. Tch, lucu sekali melihat seorang ketua tengah membaca buku seperti itu. Apalagi dia seorang pria.”

Kyuhyun melihat cover bukunya sendiri, menghela napas panjang setelah menyadari bahwa ia mengambil buku yang tidak menguntungkan sama sekali. “Ini… aku hanya mencari referensi saja dan ternyata buku ini tidak membantu sama sekali. Aku punya cara sendiri sebagai seorang ketua, jadi tidak perlu buku seperti ini.” Kyuhyun menutup buku itu kasar.

Rinhyo tak bisa menahan hasrat tertawanya, “Baiklah, aku percaya.”

“Ck, sudahlah jangan dibahas. Kau tidak lupakan dengan janji kita besok?”

Mencoba menghentikkan tawanya, Rinhyo mengangguk. “Tapi… tidak bisakah diganti hari ini saja?”

“Hm? Tapi, bukankah hari ini kau—Ah tidak. Kenapa hari ini?”

Tatapan Rinhyo berubah sendu. Ia tahu, Kyuhyun mungkin juga sudah mendengar rumor – rumor itu. Dan itu artinya, Kyuhyun mungkin saja tahu jika ia akan bertunangan dengan Ji Changwook. “Karena hari ini benar – benar sial.”

“Jadi, kau tidak akan merasa sial jika bertemu denganku? Apa aku penangkal kesialan?”

Rinhyo tersenyum kecil, “Kau mau menjadi penangkal kesialanku, Kyuhyun-ssi?”

 

***

 

Ji Changwook mengganti jas dokter yang biasa ia pakai ketika ujian prakter dengan pakaian biasa. Untuk 2 bulan kedepan ia harus menyelesaikan thesis agar dapat segera lulus dengan menyandang status dokter. Menjadi mahasiswa pasca sarjana semester akhir memang merepotkan dan tentu sangat sibuk. Apalagi bidang yang ia ambil adalah kedokteran.

YA! Ada apa denganmu dan Rinhyo? Semua orang sedang membicarakan rumor batalnya pertunanganmu. Itu tidak benar, kan?” pertanyaan Shim Changmin langsung menyerang Changwook ketika pria itu baru saja keluar dari ruang ganti.

“Hanya diundur. Kenapa kau tidak bertanya pada ibumu saja, huh? Aku yakin pasti berita ini sudah sampai ditelinga seluruh keluarga.” Changwook berucap tanpa menghentikkan langkahnya.

“Kau tahu sendiri kan aku tinggal berpisah dengan keluargaku. Tapi, kenapa? Kalian ada masalah?”

Changwook hanya diam, tak ingin menjawab pertanyaan Changmin. Shim Changmin adalah anak dari adik ibu Rinhyo, mereka berteman karena sering mengambil kelas yang sama dan ternyata ketika perayaan ulang tahun ibu Rinhyo 1 bulan yang lalu, Changwook baru tahu jika Changmin adalah keponakan calon ibu mertuanya.

“Aku dengar rumor jika Rinhyo selingkuh. Itu pasti tidak akan pernah mungkin, kan?” Changwook menghentikkan langkahnya, menoleh kearah Changmin dengan tatapan datar.

“Apa maksudnya itu?”

Changmin mengangkat bahu asal. “Aku dengar dia kemarin bertemu dengan seorang pria di sebuah cafe.”

 

“Aku dikafe, bersama seorang teman. Ada apa memangnya? Apa ada masalah?”

 

Hela napas Changwook berhembus panjang. Ada sesuatu yang melesak didadanya tanpa alasan yang jelas. “Pria siapa?”

“Aku juga tidak tahu.” Changmin menepuk pundak Changwook sekadar. “ jangan terlalu dipikirkan, banyak orang yang menyebarkan berita tanpa tahu kebenarannya. Aku pergi dulu!” lanjut Changmin kemudian meninggalkan Changwook yang masih diam ditempat.

Rahang pria itu mengeras, tak butuh waktu lama untuk mengambil kesimpulan. Sudah jelas Rinhyo bertemu dengan seorang pria waktu itu. Tanpa berniat untuk melanjutkan langkah, terlebih dahulu Changwook mengambil ponselnya.

 

Ada waktu malam ini? Mari kita bertemu.

 

            Kaki kanan Changwook mengetuk – ketuk lantai tak sabar, genggaman tangan pada ponselnya ia kuatkan lalu kendurkan. Seperti itu sampai akhirnya ponsel itu bergetar, tanda pesan masuk.

 

Mianhe, oppa. Aku ada acara nanti malam.

 

            Tangan Changwook terjatuh disamping tubuh, hela napas panjangnya kembali keluar. Rasa khawatirnya muncul entah dari mana. Ia khawatir dengan perasaan Rinhyo yang mungkin saja akan lebih sulit lagi ia raih.

 

***

 

Aku pergi makan malam bersama anggota organisasiku, ibu.

 

 

“Ini dimana?”

Rinhyo bertanya sesaat setelah motor Kyuhyun berhenti didepan bangunan yang tidak terlalu tinggi. Sepertinya hanya sampai 3 kalau tidak 4 lantai. Kyuhyun turun dari motornya, melepas helm lalu menatap Rinhyo yang masih duduk diatas motor dengan kepala menoleh kesana – kemari.

“Kau tidak ingin turun?”

Rinhyo menatap Kyuhyun dengan kedua mata membesar penasaran, “Tapi ini dimana? Kenapa sepi sekali?” Kyuhyun tertawa kecil, melepas helm Rinhyo lalu menaruhnya di setir motor. “Kau… bukankah kita akan makan malam? Kenapa kau memilih tempat yang sepi seperti ini?” Rinhyo kembali bertanya tanpa berniat untuk turun dari motor.

Kyuhyun menghela napas panjang, mengangkat tubuh Rinhyo yang sangat ringan itu dari atas motor lalu menurunkannya. Tubuh Rinhyo menegang dibawah kuasa Kyuhyun, baru bisa lemas ketika Kyuhyun melangkah satu langkah mundur darinya. “Ini rumahku, aku yakin kau akan aman disini. Jadi jangan khawatirkan apapun.” Terang Kyuhyun penuh keyakinan.

Rinhyo hanya bisa mengangguk dua kali, wajahnya ia buat seacuh mungkin. Entah ada apa dengan kerja jantungnya yang berdegup dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Kyuhyun tersenyum kecil, “Ayo masuk.”

Mereka berjalan menaiki anak – anak tangga hingga berada dilantai paling atas. Tebakan Rinhyo benar, bangunan ini berlantai 3. Kedua mata Rinhyo tak bisa menahan untuk menyusuri atap bangunan dengan penuh telisik. Ada sebuah tempat tinggal dibagian tengah atap dan ada sebuah kursi persegi panjang terletak hampir dipinggir atap. Senyuman kecil Rinhyo terulas begitu saja, “Kau memilih tempat yang tepat.” Ujar Rinhyo lantas menatap Kyuhyun. “Aku tidak suka keramaian, asal kau tahu.”

Kyuhyun mengangguk mengerti. “Aku tahu dan aku juga.”

“Jadi, kau sudah memesan jajjangmyeon-nya?” Rinhyo bertanya seraya berjalan menuju kursi, duduk disana dengan nyaman tanpa sungkan. Kyuhyun mengulas senyum lega karena Rinhyo terlihat sangat menyukai tempat ini. Pria itu berjalan menyusul Rinhyo seraya mengeluarkan ponsel.

Jajjang atau jjampong?”

Jjampong!” tukas Rinhyo tanpa melunturkan senyumannya. Kyuhyun mengangguk sekadar lalu segera memesan lewat via telepon.

“Entah kenapa tubuhku rasanya ringan saat berada disini. Kau sangat beruntung menemukan tempat tinggal senyaman ini, Kyuhyun-ssi.”

“Ya, begitulah. Cukup sulit mendapatkan tempat seperti ini didekat kampus.”

“Apa aku bisa kesini lagi nanti?”

Kyuhyun menoleh kearah Rinhyo terkesiap. Ia tersenyum lebar, “Dengan senang hati.”

“Kapanpun?”

“Hm. Tentu saja.” Rinhyo tersenyum bocah mendengar jawaban Kyuhyun. Gadis itu tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya dan hal itu cukup membuat Kyuhyun tertegun. “Apa kau memang seperti ini?”

Rinhyo menaikkan alis. “Hm? Seperti apa?”

Kyuhyun menggeleng, “Tidak ada. Lupakan.”

“Apa maksudmu… aku terlihat tidak seperti aku ketika dikampus? Apa kau lebih suka dengan Sam Rinhyo yang seperti biasa?”

Kyuhyun menatap Rinhyo cukup lama, tak ada senyuman dalam wajahnya. “Aku lebih suka Sam Rinhyo yang seperti ini.”

 

***

 

Drrt drrt

 

Ji Changwook calling

 

Rinhyo menghela napas frustasi, menurunkan sumpitnya lalu menaruh mangkuk disamping badan. Menyambar ponsel dengan gerakan super malas lantas menerima telepon Changwook tanpa beranjak dari tempatnya.

Wae oppa?” Kyuhyun menoleh sebentar kearah Rinhyo, sebenarnya sejak ponsel itu bergetar ia sudah membaca dari siapa telepon itu. Ji Changwook, nama yang sama seperti tempo hari.

 

Kau dimana? Kata emonim sedang makan malam bersama anggota?

 

“Ya, begitulah.”

 

Dimana? Hanya ingin menawarkan, jika kau perlu aku menjemputmu.

 

“Tidak perlu, aku pulang bersama teman.”

 

Baiklah, aku tutup.

 

 

Rinhyo menyaku ponsel kedalam saku jaket. Kembali mengambil mangkuknya, lalu mulai menyuap helaian jjampong kedalam mulutnya. “Dari Ji Changwook. Mungkin kau sudah mendengar jika aku adalah gadis yang akan bertunangan dengan seseorang, tapi tidak tahu juga sih kalau dikalangan mahasiswa pascasarjana jurusan musikal menyebar atau tidak.” Rinhyo menjelaskan disela makannya dengan santai. Lama kelamaan ia sangat nyaman berada disisi Cho Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat bahu asal. “Aku belum pernah mendengar itu.” Dustanya. “Sepertinya kau terlalu percaya diri dengan ketenaranmu, Rinhyo-ssi.”

Rinhyo mendecih, “Baguslah kalau begitu. Lebih baik tidak menyebar sampai sejauh itu.”

“Mungkinkah, hubungan kalian adalah hasil perjodohan atau apapun itu?”

“Bisa dibilang seperti itu.” Rinhyo menjawab seraya menganggukkan kepala ringan. Tak menyadari perubahan raut wajah Kyuhyun yang signifikan.

“Jadi tidak ada hubungan timbal balik antara kalian, kan?”

Alis Rinhyo terangkat, menoleh kearah Kyuhyun bingung. “Maksudmu?”

Kyuhyun berdehem sekadar, “Maksudku… diantara kalian tidak ada perasaan seperti cinta atau apapun itu kan?” Tanya pria itu dengan nada yang sarat akan kecanggungan. Ia juga tidak tahu mengapa melontarkan pertanyaan seperti ini pada Rinhyo.

Sedangkan Rinhyo hanya bisa mengulum tawa, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Ya, kau tahu kan… hanya mencari bahan pembicaraan saja.” Rinhyo tertawa kecil mendengar balasan Kyuhyun.

“Aku tidak tahu pastinya bagaimana perasaan Changwook padaku, dia pernah mengatakan jika menyukaiku dan kurasa memang seperti itu. Tapi yang jelas, aku tidak lebih menganggapnya sebagai seorang teman.”

“Jadi, apa kau pernah mencintai seseorang?”

“Tentu saja! Aku pernah menyukai seseorang ketika sekolah dasar. Dan juga aku pernah menyukai seorang sunbae saat sekolah menengah atas.”

“Tch, apa kau berhasil mendapatkannya?”

Rinhyo menggeleng pelan. “Sebenarnya aku hampir saja berkencan dengan sunbaeku waktu itu. Tapi, ibu bilang cinta tidak dibutuhkan oleh seorang pewaris perusahaan sepertiku. Jadi sejak saat itu, aku memutuskan untuk tidak mencintai siapapun.”

Suara decihan penuh dengan kesan meremehkan tak dapat Kyuhyun tahan untuk tidak dikeluarkan. “Apa kau memang tipikal putri penurut seperti ini? Kau sudah besar, tidak seharusnya terus menerus membiarkan tubuh dan otakmu dikendalikan oleh orang tuamu.” Rinhyo tersenyum kecil.

“Sayangnya aku sudah terbiasa seperti itu.” Gadis itu menatap Kyuhyun tanpa melunturkan senyumannya, “Aku juga tidak memiliki hak apapun untuk mengendalikan kehidupanku sendiri.”

Kyuhyun tersenyum miring, “Wae? Karena kau adalah putrinya? Tidak perlu menjadi manusia naif untuk menjadi putri yang taat orang tua. Keure, yang kau lakukan memang baik. Tapi tidak baik jika kau sampai melupakan siapa dirimu sebenarnya.” Tanpa sadar pria itu menaikkan nada bicaranya, tatapannya pun sudah berubah lebih tajam dari sebelumnya.

Perlahan senyuman Rinhyo meluntur, “Ini bukan masalah naif atau menjadi putri yang baik, Kyuhyun-ssi.” Gadis itu kembali mengulas senyumannya, “Kau punya soju?”

 

TBC-

 

 

 

 

Advertisements

14 thoughts on “DOLL 4

  1. Kasian banget rinhyo di tuduh selingkuh emang yah gosip tuh ckck
    Rinhyo mulai nyaman berada di dekat Kyu, apa nanti Rinhyo bakalan cerita sma Kyu tentang dirinya yg sbenarnya? Penasaraaaannnn

  2. entahlah aku bener2 nungguin ff ini bangetttttt di wp ini! hahah seneng bgt ngeliat rinhyo kyuhyun disini, kaya yg apa ya….. drama bgt lah pokoknya jd suka hahahaha dan changwook kok aku jd sensi ya changwool huuu kalo sambil bayangin mukanya mah luluh lagi tp ngeselin ah karakternya disini hahahaha seneng bgt sama ceritanyaaa, curiga nanti kyuyun yg bawa rinhyo keluar dari “penjara” keluarganya haha ditunggu selalu lanjutannyaaaaa

  3. Jadi kyuhyub itu yg bisa buat rinhyo jd merasa bebas . Sekarakter satu selera pula. kasian changwook juga si .
    Ohya kasian rinhyo jg krna semuanya uda diatur dikekang dijadiin boneka pula . Semoga aja kyuhyun bs merubah semua kehidupan rinhyo hihi
    Ditunggu klnjtnnya eonni 😊

  4. hubungan kyuhyun rinhyo dah mulai ada perkrmbangan,mereka jg udah nggak canggung lg .tpi aq penasaran sma part selanjutnya,di tunggu y………….

  5. Mulai ada kmajuan di hub rinhyo and kyuhyun. Dilema jg sih jadi rinhyo, di satu sisi dia ingin menjadi dirinya sendiri dan sisi lain dia terpaksa harus menuruti semua kemauan ortu angkatnya karena tuntutan balas budi

  6. Jichangwook nih bikin runyam suasana, orang tua’a rin hyo ngatur kehidupan anak’a bgt, bikin anak’a terkekang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s