Officially Missing You 6

omy2

.

Officially Missing You 6

.

“Menungguku?” Minho mengangguk dan napasnya berhembus lega begitu mendapati sang gadis muncul di hadapannya.

“Aku meneleponmu berulang kali.”

“Ponselku tertinggal di apartemen, maaf membuatmu menunggu sangat lama.” Soojung daratkan tubuhnya duduk di depan Minho. “Dan maaf karena aku tidak punya banyak waktu sekarang, Oppa.”

“Ya, kurang dua minggu lagi. Aku mengerti.” Perlahan pandangan Soojung menunduk ketika Minho menatapnya. Menyembunyikan kepalan kuat tangannya di bawah meja dan perasaan sesaknya dalam dada.

“Aku juga tahu jika harus menepati janji sekarang.” Terdengar tegukan kasar americano dari dalam tenggorokan Minho, terlihat dia sama gugup seperti Soojung yang belum juga mengangkat wajahnya. “Seharusnya aku mengungkap semua sekarang, kan?”

“Kuharap begitu.”

“Seharusnya aku tidak bersikap pengecut, kan?” Minho terkesiap menatap gadisnya dengan alis tertaut. “Seharusnya aku bisa melindungi semuanya, kan?”

“Melindungi… apa yang kau bicarakan?”

“Maaf aku hanya pengecut.”

“Soojung-ah?

“Aku orang terpayah yang tak becus apa-apa.” Suara paraunya tak bisa Soojung pertebal lagi. Tangannya mulai gemetar dan pita suaranya tercekat sampai jantungnya berdenyut sakit. “Kau… pantas meninggalkanku.”

“Siapa kau? Aku tidak mengenal Shin Soojung yang seperti ini.”

“Maaf.”

“Tolong hentikan.”

“Maaf aku tidak bisa mengatakan semua yang ingin kau dengar.”

“Shin Soojung!”

“Aku pengingkar, jangan mencintaiku.”

“Hentikan omong kosongmu dan tatap aku!” Minho mendengus frustasi tapi Soojung semakin dalam menunduk. Ia beranjak menuju counter memesan cokelat hangat—termasuk meminta petugas coffee corner  untuk memastikannya tidak terlalu panas atau terlampau dingin—lalu kembali dan menarik tangan Soojung agar menggenggam cup minuman itu. “Kau pasti sangat lelah.”

“Kau yang lebih lelah karena hubungan ini.”

“Memang, jika kau terus meracau tidak jelas seperti ini.”

“Ma—“

“Jangan lagi minta maaf,” sela pemuda itu cepat.

“Kalau begitu terimakasih atas semuanya, Oppa.” Soojung bangkit berdiri setelah menaruh cup minuman ke atas meja. “Aku harus pergi sekarang.” Minho menahan tangannya tepat ketika ia melewati pemuda itu.

“Tidak bisakah kau katakan saja? Kenapa kau seperti ini, apa yang terjadi, dan apa yang harus kulakukan?”

“Tidak ada. Kau tidak perlu melakukan apapun.”

“Shin Soojung…” Terdengar desahan berat napas Minho yang menyesakkan di telinga Soojung. “Sebenarnya apa maumu?”

Perlahan tapi pasti Soojung lepas tangannya sambil meneguk paksa ludah yang terasa pahit di tenggorokan. “Aku tidak ingin terus membebanimu, Oppa. Kita saling melepas saja.” Ia lempar tatapannya ke samping saat Minho membelalak. Matanya yang ngilu karena mati-matian menahan tangis mulai merembeskan gelombang perih air mata.

“Apa aku terlalu memaksamu? Baiklah tenang saja, tidak apa tak perlu kau jelaskan padaku jika memang tak seharusnya aku tahu.”

“Kita berpisah saja, Choi Minho-ssi.”

“Kita tidak boleh berakhir.”

“Bagaimanapun kau dan aku masih bisa saling bertemu di sini, kan?”

“Itu bagian paling menyakitkannya. Aku tidak mau.” Minho menggeleng kuat. Manik matanya yang mulai kehilangan titik fokus sempat merobohkan tekad Soojung. Melihat kebingungan Minho hampir membuatnya melingkarkan pelukan ke tubuh pemuda itu tapi sontak ia kepalkan tangannya erat.

“Minho-ssi.”

“Soojung-ah, katakan kau bercanda. Iya, kan?”

“Percayalah ini yang terbaik.” Soojung mengulas senyum singkat lantas berlalu cepat tanpa menoleh ke belakang sementara Minho terduduk kasar di kursinya. Sirat tertegun nampak jelas dari sorot matanya, bahkan ketegangan penuh terlihat dari kelopak Minho yang tak berkedip. Dada pemuda itu yang harusnya kembang kempis mendadak berhenti. Ia lupa cara bernapas, lupa cara mengisi udara ke dalam paru paru sesaknya, bahkan lupa bahwa ia masih memiliki otak dalam kepala yang sebenarnya bisa mengirimkan sinyal pada kakinya agar mengejar Soojung dan meminta gadis itu kembali. Tapi entahlah, nyatanya ia yang payah.

***

Soojung lekas menyeka mata ketika melihat Manajer Park berjalan mendatanginya, mungkin pria itu hendak menjemputnya karena terlalu lama. “Kita bisa pergi sekarang, Oppa.”

“Soojung.” Bukannya bersiap berangkat, Manajer Park malah berhenti dan berdiri tepat di hadapannya. Raut wajah pria itu entah mengapa nampak aneh. “Baru saja CEO Lee menghubungiku dan meminta kita menghadap padanya sekarang juga.”

“Untuk apa lagi?”

“Ada rumor lain yang beredar tentangmu.” Soojung menghela napas dengan perasaan berat—sangat mencemaskan masalah kompleks apa lagi yang harus ia hadapi. Beban di pundaknya terasa semakin dan sangat berat sampai kakinya melemas dan tak kuasa menahan beban tubuhnya sendiri. Ia berjongkok, pandangannya nanar ingin menangis lagi hingga akhirnya ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Detik itu juga ia tersedu hebat, bahunya yang bergetar bergerak ke atas bawah seiring isakannya. Sesekali ia pukul dadanya berusaha menghilangkan sesuatu yang membuatnya sesak dan perih di sana.

“Soojung-ah.” Suara lembut Manajer Park terdengar dekat di telinga, setelah itu ia merasakan seseorang memeluknya hangat, sangat hangat dan nyaman hingga tangannya membalas pelukan pria itu tanpa pikir panjang. Soojung dapati aroma parfum yang ia kenal ketika pria itu semakin mendekapnya erat. Seketika tangisannya bertambah pecah.

“Kenapa kau… memakai parfum yang… sama seperti milik Minho, Oppa?” Soojung berbicara tersendat-sendat dan lirih karena teredam tubuh pria itu. Tak ada jawaban yang ia dapat, tapi ia rasakan sebuah tangan mengusap pelan punggungnya yang membuat isakannya sedikit demi sedikit mereda. Beberapa menit keadaan tetap sama hingga Soojung menarik diri, mengusap wajahnya. “Terimakasih, maaf membuat pakaianmu basah.”

“Tak apa demi kau.” Suara baritone itu mengejutkan Soojung sontak. Kedua mata merahnya melebar sempurna menatap pria yang baru saja memeluknya.

“Aku hanya salah lihat atau kau memang Choi Minho?” Soojung mengucek mata yang mungkin sedang tidak beres, tapi kemudian pria yang sepertinya Minho itu memegang tangannya.

“Jangan begitu, tidak baik untuk kesehatan matamu.”

“Sejak kapan kau di sini juga?”

“Bukankah aku memang selalu di hatimu?” Senyuman Minho lantas menyadarkan Soojung. Ia menoleh cepat pada Manajer Park yang nampak menatap mereka tak percaya. Lekas ia lepas genggaman Minho di tangannya.

“Kita tidak boleh begini.”

 

***

 

“Terimakasih sudah datang meski tengah malam seperti ini.”

“Tidak apa-apa, Presdir. Saya tahu pasti terdapat sesuatu penting yang harus dibicarakan,” balas Soojung formal dengan menyembunyikan tangan dinginnya di bawah meja ruang tamu rumah CEO Lee ini.

“Ya, kau benar. Aku ingin memberitahumu jika sepertinya konser harus dibatalkan.”

“Maaf?”

“Rumor tentangmu benar-benar serius saat ini, resikonya terlalu besar.”

“Jika boleh tahu, memangnya rumor apa yang sedang beredar, Presdir?”

“Manajer Park belum menjelaskannya padamu?” Soojung menggeleng ragu lalu mengernyit ketika Manajer Park menarik napas panjang. “Sebenarnya kau punya saudara kandung, tidak?” Tenggorokan Soojung meneguk ludah berat sontak. Pita suaranya mendadak sukar bersua.

Nd-nde?”

“Apa kau punya saudara kandung?”

“Maaf tapi, kenapa anda menanyakan itu tiba-tiba?”

“Bisa kau jawab saja?” Terlampau gugup, Soojung meremas kuat tempurung lututnya.

“Saya adalah anak tunggal.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Agensi tidak bisa melindungimu jika kau terus menyembunyikan sesuatu.”

“Saya tidak menyembunyikan apapun.”

“Kau yakin?”

“Sepenuhnya.”

“Kalau begitu, apa kau memang punya hubungan khusus dengan Cho Kyuhyun?”

“Ya, untuk hubungan bisnis. Tapi tidak untuk hubungan sebenarnya.”

“Kudengar selama ini kalian sangat dekat, benar?”

“Sebatas hubungan antara sunbae dan hoobae.”

“Tapi yang kudengar dari orang-orang dalam maupun pendapat penggemar, hubungan kalian terlihat lebih dari itu.”

“Sebenarnya rumor apa lagi yang sedang menimpaku sekarang, Presdir? Bisakah anda langsung menuju intinya saja?”

“Kau dan Cho Kyuhyun adalah saudara kandung.”

 

***

 

Keluar dari rumah presdir, Soojung berjalan di samping Manajer Park seraya menekan-nekan pelipisnya. Semakin lama kepalanya bertambah pening dan pandangannya berkunang-kunang memburam. Tubuhnya—yang terasa meningkat puluhan kilo beratnya—hampir terjatuh ke tanah jika saja Manajer Park tak sigap membopong bahunya.

“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.” Soojung tenangkan Manajer Park yang melontarkan tanya-tanya mengkhawatirkan sambil menjauhkan tangan pria itu dari bahu sebagai tanda bahwa ia seriusi ucapannya.

“Ayo kita ke rumah sakit.”

“Tidak perlu.”

“Bagaimanapun kau harus check up.”

“Sudah kubilang aku baik saja, lagipula jadwal check up masih seminggu lagi.”

“Hilangkan kebiasaanmu membicarakan hal yang berkebalikan dengan dirimu, Jung. Kau kira aku tidak tahu bagaimana kau?”

“Tentu aku tahu Oppa mengerti aku.” Soojung tersenyum tipis. “Bahkan kau tidak menanyakan satu pun tentang Choi Minho tadi. Kau melakukannya karena tahu jika aku tidak ingin membahas tentang itu, kan?” Manajer Park mengulum bibirnya ke dalam, tiba-tiba terlihat canggung.

“Tapi, memangnya, aku boleh tahu tentang itu?”

“Kami cukup pandai menyembunyikan hubungan, kan?” Gadis itu menghela napas panjang sementara sang pria membulatkan mata lebar. “Tapi sekarang sudah berakhir, tenang saja.”

“Sejak kapan kalian mulai?”

“24 bulan lalu? Ah, pukul tiga pagi nanti tepat usia hubungan kami genap dua tahun.” Ia angkat pergelangan tangan kiri memeriksa arloji. Sebelah bibirnya terangkat miris. “Dua jam lagi.” Manajer Park menggiringnya dalam pelukan ringan, menepuk-nepuk punggungnya pelan.

“Pasti sangat berat.” Mendengarnya Soojung menggeleng, menarik tubuh dari pelukan Manajer Park.

“Tidak apa-apa, aku sudah tahu konsekuensinya sebelum memutuskan semua. Lebih dari itu, pasti pembatalan konser akan lebih berat bagi penggemar padahal mereka sudah setia menunggu sejak aku debut tiga tahun lalu.” Wajah Soojung tertekuk menunduk. Baik pada Minho atau penggemarnya, ia benar-benar dipenuhi buncahan rasa bersalah.

“Tentang rumor barumu, aku akan berusaha menyelesaikannya segera. Siapa kira-kira yang menyebarkan rumor bodoh itu, ya? Saudara kandung?” Manajer Park mendecih lalu terkekeh tanpa menyadari Soojung yang membatu dengan wajah beku. “Dari mana sumbernya rumor itu?” Seolah mendapat pencerahan, jemari Soojung terkepal erat dan deru napasnya berubah memburu.

“Benar juga, bagaimanapun asap tak akan pernah muncul jika tak ada yang memantik api, kan?”

 

***

 

“Apa?! Bagaimana bisa? Kenapa tiba-tiba? … Tidak, itu semua tidak benar … Ya, tolong bereskan semua, Manajer Baek, kumohon padamu.” Tangan kanan Kyuhyun yang menggenggam ponsel melemas seketika terbanting ke samping tubuh. Kakinya gusar bergerak ke sana ke mari serta matanya berputar-putar kebingungan seperti bola bilyard. Tentu saja ia seperti itu karena kabar yang baru datang dari Manajer Baek tentang beredarnya rumor—atau rahasia—hubungan darahnya dengan Soojung. Jika otak Kyuhyun adalah mesin, pasti telinganya sudah mengeluarkan asap tebal dan percikan api sekarang. Pria itu berpikir keras mengenai asal muasal bagaimana berita itu tersebar, bagaimana ia hendak menanggapinya, dan yang lebih mengerikan… bagaimana ia harus menghadapi Shin Soojung.

Pertimbangan Kyuhyun berhenti pada keputusan menghubungi Shin Soojung. Dalam keadaan ambang siap dan tidak, ia tatap nomor berkontak Soojungie pada layar ponsel. Beberapa detik ia terdiam dilemma sebelum kemudian benar-benar menghubungi nomor itu hingga bunyi nada sambung terdengar begitu ia tempelkan ponsel di telinga.

Konyol sekali menelepon adik perempuannya sendiri terasa semenakutkan ini. Entah adakah lagi orang-orang yang seperti itu selain dirinya—yang menunggu panggilan telepon diangkat saudara kandungnya dengan jantung berdebar sepuluh kali lebih cepat dari nada sambung. Terlalu gusar Kyuhyun menggigiti bibir bawahnya hingga berbekas. Soojung tak kunjung menjawab teleponnya.

Setelah lama menunggu, seorang wanita memberitahunya bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak dapat dihubungi.

Kyuhyun mendengus, memutus sambungan lalu mengulanginya. Tapi lagi-lagi tetap wanita itulah yang meresponnya. Kali ini dia memberitahukan bahwa nomor Soojung tengah berada di luar jangkauan.

 

***

 

Soojung sengaja melepas baterai ponsel sesampai di depan sebuah pintu apartemen—meski tahu Kyuhyun berusaha menghubunginya. Ia tekan tombol bel di sebelah kanan pintu dan tak lama sekat berkamera itu terbuka karena memang ia telah menelepon sang penghuni apartemen sebelum ia datang.

“Lama tak jumpa, Sam Rinhyo-ssi.” Kalimat sambutan itu Soojung ucapkan datar, begitu pula raut wajahnya yang tak berkeinginan sedikitpun untuk bertopeng ramah.

“Masuklah.” Langkah ringan Soojung mengikuti Rinhyo masuk sementara pintu apartemen perlahan menutup dengan sendirinya. Ia dudukkan tubuh ke sofa empuk ruang tengah setelah dipersilahkan sang gadis pemilik apartemen.

“Ada yang ingin kau minum?”

“Tidak, aku hanya akan sebentar di sini. Sebelumnya maaf mengganggumu tengah malam begini.” Rinhyo mengangguk lalu duduk di depannya yang berjarak meja rendah persegi panjang.

“Tidak apa, kebetulan aku memang belum tidur. Tapi memangnya ada apa?”

“Kau tahu aku orang yang tidak suka berbelit-belit, kan? Aku tahu kau juga.” Sekali lagi gadis berpiyama di hadapannya itu mengangguk mengerti. “Jadi aku akan langsung ke intinya.”

“Sepertinya kau mau membicarakan masalah serius, ya?”

“Begitulah, tapi mungkin tidak terlalu penting menurutmu.” Soojung hembuskan kasar napas panjangnya. Faktanya ia tengah berusaha menahan dentuman berbagai emosi yang terus berontak hampir meledak dalam diri. “Kau tahu hubungan darah antara aku dan Cho Kyuhyun, kan?” Ia mengernyit ketika menemukan raut muka Rinhyo sontak menegang yang membuat prasangkanya terhadap gadis itu semakin membesar.

“Ya, lalu kenapa?”

“Aku dan Kyuhyun sudah saling berjanji jika TIDAK AKAN membocorkan rahasia ini pada SIAPA PUN dan KAPAN PUN. Aku yakin kau sudah tahu mengingat kalian sudah berteman sejak lama, apalagi akhir-akhir ini kau sering bertemu dengannya di lokasi syuting, bukan begitu?” Ujung bibir kanan Soojung tak kuasa menahan senyuman miring menyadari tegukan berat ludah Rinhyo. “Secara tidak langsung kau membenarkan semua ucapanku.”

“Kau bilang tidak ingin berbelit-belit tapi kenapa malah memberi kata pengantar sepanjang kereta api, Shin Soojung-ssi?”

“Oh, astaga.” Senyuman kecutnya terulas. “Kukira kau bisa mengerti mana yang beromong kosong dan mana yang berusaha mencari kebenaran tapi sepertinya tidak, ya? Aku hanya tidak mau menuduhmu sembarangan karena itu kupastikan itu lebih dulu, Rinhyo-ssi. Jika kenyataannya kau tidak tahu semua itu jadi aku akan berhenti berprasangka buruk padamu.”

“Berprasangka buruk?”

“Apa kau pergi ke bioskop siang tadi bersama seorang pria? Lalu membicarakanku di sana? Apa itu benar kau?”

“Ba-bagaimana bisa kau tahu?”

“Bukan hanya aku bahkan semua orang yang membaca berita itu sudah tahu, tapi mereka belum tahu jika gadis di bioskop itu kau. Ada yang mendengar pembicaraan kalian lalu bercerita di situs Pann.” Ia menyeringai kecil lalu menyibak rambut ke belakang karena tubuhnya terasa terlalu panas. “Sepertinya film yang diputar tidak lebih menarik dari masalahku dengan Kyuhyun, ya?”

“Soojung-ah.” Soojung tatap saksama Rinhyo yang entah mengapa menjadi bersuara parau. Tak dipungkiri perasaannya semakin tidak nyaman. “Tidakkah kau terpikirkan jika semua hal sekecil bakteri pun akan terkuak pada waktunya?”

“Mungkin, tapi selama pemilik bakteri dan orang-orang yang mengetahui itu bekerja sama menyembunyikannya rapat-rapat, siapa yang tahu?”

“Bagaimana dengan bau bangkai yang bisa tercium kapan saja?”

“Jika pemiliknya menyembunyikannya jauh ke dalam tanah lalu menutupinya dengan membangun rumah? Semua tergantung pemiliknya, kan?” Rinhyo nampak menghela napas panjang seolah tengah berada di situasi tak mudah.

“Tapi bagaimana jika rahasia itu menyakiti orang lain yang tidak tahu tentang itu?”

“Maksudmu?”

“Ada orang-orang yang tersakiti karena hubungan kencan palsu kalian, kau harus tahu. Padahal nyatanya kalian adalah saudara kandung yang tidak mungkin berkencan. Setelah mengerti itu, apa kau akan terus tega menyakiti perasaan mereka dengan hal palsu buatan agensi kalian itu? Lagipula bukankah lebih damai bila hidup tanpa kepalsuan dan rahasia yang ditutup-tutupi?”

“Aku yakin kau akan menarik kembali ucapanmu jika tahu masalah besar yang terjadi setelah rahasia ini terbongkar.”

“Semua itu hanya perkiraanmu, bisa saja yang terjadi lebih baik dari prasangka negatifmu.”

“Tidak, semua yang kutakuti sudah pasti terjadi karena memang sudah dirancang begitu.”

“Apa?” Menatap wajah tak mengerti Rinhyo, Soojung tersenyum pendek.

“Ada seseorang yang akan melakukan apa saja untuk menghancurkan karierku dan usaha keras ibuku. Kau tidak tahu jika orang tua kami sudah lama bercerai, kan? Dan kau tidak tahu sama sekali penyebabnya, kan? Karena itu sebaiknya diamlah saja jika faktanya hanya setitik bakteri yang kau tahu.”

“Maksudmu apa? Kau… serius?”

“Kau kira aku hanya menikmati keseruan bermain-main rahasia, begitu? Sayangnya hidup tidak semenyenangkan itu. Sekarang jawab aku, siapa pria yang sudah kau beritahu?” Ia mendengus saat bola mata Rinhyo bergerak menghindari tatapannya.

“Hanya… Jongsuk.”

“Hanya Jongsuk? Tch! Demi alasan apa?

“Dia mencintaimu, Soojung.”

“Seperti kau mencintai Cho Kyuhyun? Jadi maksudmu orang-orang yang tersakiti karena kencan palsu itu adalah kau dan Jongsuk? Kukira tadi kau sedang membicarakan tentang penggemar tapi ternyata kau egois juga.”

“Bukan begitu, aku benar-benar tidak berperasaan lebih pada Kyuhyun lagi.”

“Sudahlah, terimakasih atas sikap ikut campurmu. Setelah ini kau tidak usah khawatir, aku tidak akan membohongi publik lagi dan meminta maaf pada Lee Jongsuk karena menyakiti hatinya seperti katamu.” Soojung bangkit dari duduk. “Oh, tadi apa kau bilang? Tidak menyukai Kyuhyun lagi? Itu terserahmu, jika masih juga terserahmu. Aku pulang,” pamitnya lalu beranjak yang diikuti Rinhyo mengantarnya sampai ke pintu depan.

“Soojung.” Rinhyo memanggilnya ketika ia baru keluar melewati ambang pintu, membuatnya berbalik dengan alis terangkat. “Sebenarnya aku melakukan ini bukan demi Kyuhyun, tapi Jongsuk, demi kebaikanmu juga. Kuharap kau bisa mengerti.”

“Aku mengerti, karena itu aku tidak bisa serta merta menyalahkanmu sepenuhnya. Apa baru saja kau memberitahuku tentang perasaanmu pada Jongsuk? Sedekat itukah hubungan kita sekarang?”

“Aku hanya tidak ingin kau salah paham.”

“Baiklah, sekarang aku mengerti. Kau tidak bisa melihat hati pria yang kau cintai disakiti orang lain, kan?” Soojung mengangguk. Menarik napas panjang. “Tapi apa kau tahu? Bukan hanya orang lain saja yang terluka karena rahasia ini, tapi aku dan Kyuhyun juga, hubunganku dengan Minho juga berakhir karena ini.” Mata Rinhyo membulat otomatis.

“Minho? Choi Minho yang itu?”

“Ya, Choi Minho yang Kyuhyun kira menyukaimu. Mungkin dia sudah membaca berita itu sekarang dan akhirnya tahu jawaban pertanyaannya yang selama ini selalu tidak bisa kujelaskan.” Mengingat Minho bibirnya terulas menyedihkan, miris hingga tatapan Rinhyo nanar padanya. “Aku akan benar-benar pulang sekarang.”

 

***

 

Berulang kali Sam Rinhyo mendesah kasar saat tangannya sibuk menelusuri berbagai artikel bertopik sama di ponsel. Rumor memang selalu cepat mendunia bahkan situs-situs internasional sudah tak terhitung jumlahnya yang memberitakan hubungan saudara kandung antara Shin Soojung dan Cho Kyuhyun. Tentu ia tak menyangka bahwa perbincangan bisik-bisiknya dengan Jongsuk di bioskop siang tadi akan menyebar seluas ini. Sungguh ia tak berniat menempatkan Soojung ke dalam masalah sebesar ini. Meski awalnya ia berpikir semua akan lebih baik dengan diungkapnya rahasia mereka, namun setelah Soojung berterus terang tadi membuatnya merasakan takut juga. Sangat takut bahkan, sangat khawatir apa yang akan terjadi berikutnya hingga ia menyesali perbuatannya.

Sebuah pesan mendadak masuk notifikasi, ia cek itu ternyata dari Cho Kyuhyun. Pria itu meminta bertemu setelah syuting drama episode terakhir besok malam. Ia tahu tujuan Kyuhyun meski tanpa menanya lebih jauh. Ibu jarinya mengetik singkat Ya sebagai balasan pada Kyuhyun. Mungkin tanggapannya di pesan akan terlihat seolah tak acuh namun tanpa siapa pun tahu, dadanya bergemuruh.

.

.

TBC

Advertisements

10 thoughts on “Officially Missing You 6

  1. OMG.. apa yg akan terjadi selanjutnya dgn mereka semua? Knp soojung ga bisa jujur dgn minho? Dan knp juga soojung dan kyuhyun harus menutupi fakta bahwa mereka bersaudara?? I hope you will update the next chapter soon..

  2. Hwaaa…. Nggak sabar gimana kelanjutannya, apa yg bklan terjadi klo kyuhyun sm soojung emang beneran sodara? Apa yg bklan terjadi sm soojung dan eommanya
    Hwwaaa nggak sabarr
    Di tunggun next partnya eonn, semangat💪💪
    Semoga cpt post next partnya🙏

  3. Bah ketauannnn
    Gimana dong jadinya?
    coba aja rumor kencan kyu sm soojung ga diklarfikasi . Kan klo gini rumit bgt
    Kasian soojung , minhoo juga huaaaa uda diputusin msh lari nyamperin trus pelukan sm minho huaaa minhooo hominnn soojung jungshinnnn 😭

  4. knpa coba soojung lbh memilih putus dgn minho drpada hrus jujur tntng hubngnnya dgn kyuhyun..
    Sam rin hyo pasti stlah ini akan mrasa bersalah..
    Pnsaran apa yg akan dibicarakan kyuhyun dg sam rin hyo ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s