Ace-X (III)

ace-x 3

ACE-X III

 .

Kibum merebahkan tubuh ke atas kasur ketika Soojung sibuk mengamati setiap sudut ruangan kamar tidur, sementara Rinhyo baru saja memasuki kamar mandi. Melihat gadis bersurai merah itu terus menyipitkan mata, ia tersenyum tipis. Benar-benar mengingatkannya pada saat-saat awal beradaptasi di planet ini. Bahkan dulu ia jauh lebih cerewet karena terus mengeluhkan ini itu sampai Paman Joe—yang dulu bertugas mengenalkannya tentang Bumi—berulang kali mengoceh kesal.

“Warna dindingnya membosankan sekali, aku tidak suka di sini.” Soojung nampak menyentuh dinding putih kamar ini dengan ujung telunjuk kanan. Tatapannya terlihat tak puas.

“Kita bisa beli pelapis dinding yang kau sukai nanti.”

“Nanti… kapan?”

“Nanti malam atau mungkin besok.”

“Aku ingin sekarang.”

“Memangnya kau punya uang?”

“Ruangannya sempit.” Kibum mendengus memutar bola mata. Ia ingat lagi, bagaimanapun Soojung adalah saudaranya dan gadis itu tak akan beda jauh darinya.

“Ini sudah sangat lebar dan mewah untuk ukuran manusia bumi, apartemen di sini terkenal hanya untuk kelas atas walaupun tidak seluas hunian standar Ace.”

“Tapi tetap saja, rasanya aku sampai sulit bernapas.”

“Lama-kelamaan nanti juga kau terbiasa.”

“Lama-kelamaan itu kapan?”

Just shut up, Jung!” Ia lompat dari ranjang lalu berjalan menuju balkon. Menanggapi Soojung membuatnya kesal sendiri meski ia tahu saudaranya begitu karena dia tipikal sangat sukar beradaptasi. “Sekarang aku tahu apa yang dirasakan Paman Joe dulu,” gumamnya berat setelah sampai di pagar balkon.

“Jung?” Suara gadis itu membuat Kibum menoleh, Soojung mengikutinya di belakang. “Tadi kau sebut aku Jung?”

“Oh, itu karena namamu Shin Soojung. Jadi untuk mempersingkat kugunakan nama terakhirmu. Seperti… panggilan akrab?”

“Memangnya kau akrab denganku?”

“Tck!”

“AAK!” Mendadak terdengar jeritan dari arah kamar mandi. Bersama Soojung segera ia berlari dan menemukan Rinhyo mendepis di pojok kamar mandi dengan shower menyala—Rinhyo masih berpakaian lengkap. Kibum bergegas masuk dan mematikan tombol merah dekat shower, lalu mengambil handuk putih dari dalam almari kaca di samping wastafel dan ia lempar pelan pada Rinhyo yang rambutnya basah kuyup.

“Kenapa kau nyalakan air panas?”

“Aku tidak tahu jika tombol merah tandanya panas. Kukira aku hanya perlu berkata hangat supaya air hangatnya keluar otomatis seperti di Ace.”

“Biar kujelaskan, tombol merah untuk air panas, kuning untuk air hangat, dan biru tandanya dingin. Mengerti?”

“Baiklah.”

“Merepotkan.” Mendengar itu Kibum ketuk kepala Soojung. “Aw!”

“Memencet tombol saja apa yang merepotkan, sih, Jung?!” Ia lalu beralih menatap Rinhyo. “Setelah rambutmu kering nanti kita keluar.”

***

“Planet ini membosankan.” Kyuhyun nampak tidak tertarik sama sekali pada suasana malam di luar jendela mobil yang dikemudikan Cho Sanghyun. Sepanjang mata memandang, ia tidak menemukan satu pun tontonan apik untuk dilihat. Yang ia maksud adalah tontonan seperti pergelutan, pertengkaran, atau lainnya yang penting berhubungan dengan perkelahian seru. Tapi nyatanya? Yang bisa ia lihat hanya orang-orang menjemukan yang sibuk sendiri-sendiri dengan benda tipis kotak di tangan mereka. “Memangnya benda apa itu?” tanyanya sambil menunjuk rombongan anak muda di trotoar memainkan benda berlayar menyala.

“Oh, nama benda itu adalah ponsel, Tuan. Bisa digunakan untuk berhubungan jarak jauh, mengirim surat pesan, atau mencari berbagai informasi. Saya akan membelikan anda satu jika ingin.” Jawaban Seunghyun membuat Kyuhyun mendengus.

“Sudah kubilang berhentilah formal padaku. Sekarang aku anakmu, kan? Ayah mana yang bicara begitu pada anaknya? Jangan membuat semua tampak jelas.”

“Maafkan aku, Tuan.”

“Kau tuli?” Tenggorokan Seunghyun menelan ludah berat hingga terdengar tegukannya. Sejenak diam seraya menatap Kyuhyun takut-takut.

Okay, aku akan bicara santai padamu mulai sekarang.” Kyuhyun mengangguk puas meski ucapan Seunghyun terkesan dipaksakan.

“Bagus.”

“Kau mau kita berhenti di mana sekarang?”

“Ke mana saja asalkan ramai. Aku ingin tahu bagaimana model orang-orang di planet sampah ini.”

***

Pandangan Soojung dan Rinhyo aneh ketika melihat Kibum membayar baju-baju mereka di kasir. Mereka ingat ucapan Logan; bahwa manusia bumi selalu menggunakan uang untuk membeli segala hal, tapi yang dilakukan Kibum sekarang berbeda. Kibum hanya menyerahkan sebuah kartu dimana ada garis tebal hitamnya untuk menebus belanjaan dan petugas kasir laki-laki itu tidak marah. Dengan hati besarnya dia membolehkan mereka membawa pulang belanjaan tanpa harus membayar dengan uang sampai membuat Soojung dan Rinhyo hampir menangis haru.

“Hidup memang bukan serta merta tentang uang.” Rinhyo mengangguk setuju pada ucapan gadis bersurai hitam di sampingnya. Bukan gadis lain, gadis bersurai hitam itu Soojung. Rambutnya sudah diganti warna ketika mereka mampir ke salon langganan Kibum dalam perjalanan menuju butik—yang juga langganan Kibum sebab katanya dia sudah menjadi member—tadi.

“Di rumah tidak ada makanan, kan?” Kibum menyerahkan empat kantong belanjaan yang ia tenteng pada Soojung. “Sekalian kita cari makan dulu saja sehabis ini.”

“Key.”

“Hm?”

“Kehidupan di Bumi ternyata sudah berubah, ya? Kukira uang masih jadi primadona tapi nyatanya sekarang tidak.” Sontak Kibum bekap mulutnya sendiri rapat-rapat dengan kedua tangan menahan suaranya keluar karena mendadak terpingkal-pingkal.

“Kenapa tertawa?”

“Kau bertanya begitu gara-gara melihat kartu yang kupakai membayar tadi?” Kibum menghirup udara panjang menahan tawa ketika Rinhyo mengangguk polos. “Kartu itu berisi uang, Hyo, uang yang kusimpan di bank. Jadi saat aku membayar pakai itu maka uang di rekeningku tersedot ke rekening mereka.”

“Bank dan rekening itu apa?”

“Sudahlah itu tidak penting lagipula kalian tidak akan berhubungan dengan bank atau rekening. Omong-omong, Jung, dari jauh kau terlihat secantik dewi fortuna jika rambutmu hitam begini.”

“Kau sedang berusaha membujukku biar aku mau membawa semua belanjaan ini sendiri sampai rumah nanti?”

“Oh tolonglah, kau harus tersenyum jika ada yang memujimu.”

“Seperti ini?” Kibum menepuk jidat melihat robot Soojung tersenyum. Rinhyo terkekeh kecil.

“Lihat, Rinhyo saja sudah bisa luwes tersenyum. Berlatihlah terus, Jung, orang-orang pasti kabur jika senyummu kaku seperti boneka Chucky begitu.”

***

Lambung Taemin sepertinya melilit tak karuan sampai si empunya meremasi perut sambil meringis-ringis keperihan. Tidak tahu bahan apa yang digunakan bibi penjual dalam membuat bumbu tteokbokki yang ia beli selagi perjalanan ke percetakan tadi, sehingga ia sudah bolak-balik meminta ijin pinjam kamar mandi percetakan tiga kali—kalau bisa Taemin sudah mengelupas kulit mukanya saat ini. Kembali ia duduk ke sebelah Minho di kursi besi panjang yang disediakan pihak percetakan tapi baru dua menit perutnya mulas lagi. “Hyung.”

Minho berdiri lalu bertanya pada pegawai percetakan kapan selesainya pesanan mereka, lantas perempuan di balik etalase kaca itu menjawab kurang lebih lima menit rampung. Sedikit lega Minho beritahukan pada Taemin—yang mendesis-desis dengan wajah pucat—bahwa dia hanya perlu menahan sedikit lagi.

Setelah membayar dan menerima setumpuk brosur yang sudah jadi, Minho mengantar Taemin dulu ke rumah sebelum berkeliling membagikan selebaran kertas poster versi kecil warna biru itu.

“Tapi aku mau membantumu, Hyung.”

“Lalu aku harus repot-repot mencarikanmu kamar mandi setiap mulas, begitu? Tidak. Cepat keluar. Ingat, jangan sentuh apapun kecuali makanan siap saji dalam kulkas dan jangan jatuhkan remote kalau melihat televisi.” Belum kering lidah Minho bicara, Taemin mencengkeram perutnya dengan wajah tegang.

“Telepon saja kalau butuh bantuan, Hyung.” Taemin kemudian membuka pintu dan melompat keluar mobil. Berlari sipat kuping menuju pagar rumah takut sesuatu keburu terbebas di celana. Sementara Minho mengegas mobilnya laju kembali menyusuri jalan-jalan dan sesekali berhenti untuk menempelkan brosur ke tiang-tiang listrik.

***

Selama perjalanan Kyuhyun sempat menemukan anak laki-laki kecil berjalan digandeng ibunya sembari menjilat es krim. Ia bilang penasaran lalu bertitah pada Sanghyun supaya dibelikan macam makanan seperti milik sang bocah. Dan sekarang tertinggal contong kerupuk yang ia genggam padahal sama sekali ia belum makan (atau minum). Tadinya berisi es krim vanila di dalam situ namun kini telah habis mengaliri ke-lima jari tangan Kyuhyun dan menjadi beberapa genangan putih di karpet hitam dalam mobil Sanghyun.

“Sebenarnya makanan apa ini?”

“Jika tidak kau makan segera memang jadilah mencair begitu, Kyu. Bahan utamanya air.”

“Kenapa di X tidak ada?”

“Tentu saja karena semua penghuni X sibuk berperang dan mencari kekuasaan, tidak ada waktu buat membikin macam-macam makanan seperti es krim itu tadi.”

“Benar juga, orang-orang di sini kelihatannya memang suka membuang waktu untuk kegiatan percuma.”

Kyuhyun seperti baru tahu tentang kehidupan rakyat jelata karena ia selalu berada dalam istana demi belajar cara menghancurkan Ace. Ada rasa tipis di benaknya menganggap kehidupan sederhana di Bumi menarik juga, membuat ia semakin ingin segera menguasai Bumi sepenuhnya.

Risih dengan tangan lengketnya, ia menyuruh Sanghyun mencari sumber air guna membasuh. Sontak Sanghyun kelabakan memutar otak sambil pandangannya berpendar ke mana-mana. Akhirnya mereka berhenti di dekat seorang pemuda yang tengah kepayahan membuka pintu pagar. Sanghyun keluar mendatangi pemuda itu dan sedikit terkaget melihat wajahnya pucat.

“Boleh saya meminta bantuan?”

“Sebetulnya aku yang sedang butuh bantuan!” Pemuda itu hampir menjerit karena terus gagal membuka gembok. Keringat membanjiri pelipis sampai tengkuk lehernya.

“Maaf, tapi ini mendesak.”

“Aku juga mendesak, tahu!” Pemuda itu lari terbirit-birit begitu berhasil membuka pintu pagar. “MASUK SAJA KALAU MASIH BUTUH BANTUAN, PAMAN! AKU KE KAMAR MANDI SEBENTAR!”

***

Setelah menyelipkan brosur di kotak surat setiap kamar apartemen lantai satu dan dua, sekarang Minho beralih menuju lantai tiga. Ia keluar dari lift dan mulai mengurut pintu satu per satu hingga sampai pada kamar apartemen bernomor 38, terdapat tiga orang menghampirinya dari belakang. Minho berbalik, sedikit ngeri dengan tatapan menghunus dua gadis dan satu pemuda di hadapannya. Namun setelah dua detik, sang pemuda mengulas senyum tipis padanya.

“Ada yang bisa kubantu, Tuan?”

“Ya?”

“Ada apa anda berdiri di depan pintu apartemen kami?”

“Oh.” Reflek menyentuh tengkuk canggung, Minho bergeser satu langkah ke kiri. “Saya hanya sedang membagikan brosur ini ke setiap… tunggu, bukankah kalian…” Tangan Minho yang menggenggam gulungan brosur menunjuk dua gadis familiar di matanya. “Kalian pemilik tas berisi uang yang dirampok tadi siang, kan?”

“Apa?” Pemuda yang berdiri di antara dua gadis itu menatap Minho bingung. “Kalian sudah pernah bertemu?”

“Sebelumnya perkenalkan, namaku Choi Minho.” Minho mengulurkan tangan kanan dan pemuda itu menyambut jabat tangannya.

“Aku Kim Kibum, dia Sam Rinhyo, dan ini Shin Soojung,” papar Kibum memperkenalkan diri serta gadis rambut cokelat dan hitam berurutan.

“Jadi tadi saat di Hongdae kulihat tas milik nona Shin Soojung dicopet seseorang tapi sudah berhasil aku selamatkan, tapi mereka berdua sudah pergi sebelum aku kembalikan. Sepertinya tas itu masih ada di mobilku sekarang, tunggu sebentar akan ku ambilkan.”

“Tidak usah,” tukas Soojung.

“Ambil saja,”sahut Rinhyo.

“Apa?”

“Maksud mereka nanti saja kalau bertemu lagi baru kembalikan, tidak usah repot-repot lagipula kau juga sedang sibuk membagikan brosur, kan?” Buru-buru Kibum mengklarifikasi—khawatir Minho mencurigai keanehan Rinhyo dan Soojung—lalu menunjuk gulungan kertas di tangan Minho. “Rasanya aku penasaran dengan brosurmu itu.”

“Oh ya? Aku mengadakan seminar besok, sangat senang sekali jika kalian tertarik dan bisa hadir.” Minho berikan satu lembar pada Kibum yang langsung serius dibaca oleh pemuda itu. “Di sana nanti akan mengupas fakta tentang dua planet misterius yang ada di galaksi Bimasakti. Banyak orang yang kurang tertarik jika hanya kutempelkan di pinggir jalan jadi aku selipkan juga di setiap kamar gedung apartemen ini.”

“Dua planet misterius?” Wajah Kibum menjadi tegang, pun Soojung dan Rinhyo. “Maksudmu apa, ya?”

“Datang saja jika tertarik. Sekalian aku kembalikan tas kalian di sana, bagaimana?”

“Oke, kami pasti datang.”

“Benarkah?” Minho berbinar. “Kutunggu.”

“Jika boleh tahu, apa itu artinya kau mendatangi semua gedung apartemen di Seoul untuk membagikan brosur ini?”

“Tidak, hanya gedung ini saja karena kebetulan paling dekat dengan rumahku. Kalau begitu aku pergi dulu, kedatangan kalian benar-benar kutunggu.” Minho menunduk singkat lantas melanjutkan pekerjaannya hingga mencapai ujung lantai tiga dan naik ke lantai terakhir—apartemen ini hanya sampai empat lantai ditambah rooftop.

“Jangan bilang maksud dia adalah Ace dan X.”

“Seharusnya kau coba baca pikirannya, Jung.”

“Sudah kucoba tapi aku tidak sempat bertatapan mata langsung dengannya, Hyo.”

“Yang pasti kita wajib datang ke seminarnya besok. Sekarang kalian masuk saja, aku akan kembali ke apartemenku sendiri. Jika butuh sesuatu kirimkan telepati padaku, Jung, jangan khawatir bagaimanapun darah kita selalu terhubung.”

“Oke.”

***

“Maaf karena tidak sopan sebelumnya, nama saya Lee Taemin.”

“Saya Cho Sanghyun.”

“Jadi, apa yang bisa saya bantu?”

“Kami hanya mau meminta sedikit air untuk membasuh tangan.”

“Hanya itu? Oh astaga. Silakan ke mari.” Taemin berdiri dari sofa mempersilakan Sanghyun mengikutinya, tapi pria paruh baya itu malah diam saja dan menyenggol-senggol pria lain di sampingnya. “Tuan Cho Sanghyun?”

“Bukan aku, Taemin-ssi, dia yang sedang membutuhkan air. Namanya Cho Kyuhyun.”

“Baiklah, ikuti aku, Tuan Cho Kyuhyun. Saya antarkan anda ke wastafel dapur.” Lalu Kyuhyun bangun dan mengekori Taemin penuh canggung. Memutar kran wastafel sendiri sebelum membasuh tangannya—ini merupakan pengalaman pertama bagi Kyuhyun yang apa-apa selalu disiapkan pelayannya. “Saat sudah selesai jangan lupa menutup krannya dengan benar, Tuan. Maksudku, kran itu sudah ada sejak lama jadi jika menutupnya kurang kuat nanti airnya mengucur terus. Bahaya kalau Minho hyung tahu pasti aku yang kena marah.”

Kyuhyun tertegun. Sebelum ini tidak ada orang yang berani bertitah padanya selain King Hedson, terlebih pemuda ingusan (dan tidak tahu apa-apa) yang lebih muda darinya seperti Lee Taemin. Bahkan dia nampak lebih menghormati orang bernama Minho itu dibanding dirinya. Kyuhyun sampai mengembus napas geram ketika menutup kran. “Sudah, kan?”

“Tunggu kulihat dulu.” Lelaki muda itu menatapi kran sekitar tiga detik. “Duh, Paman, lihat airnya masih menetes.” Seraya mendengus Taemin mengeratkan kran sekuat tenaga, tidak menyadari kepalan tangan di samping tubuh Kyuhyun. “Ini baru benar.”

Selepas itu mereka kembali ke ruang tamu. Bulu kuduk Sanghyun berdiri ketika mendapati sorot sadis mengerikan mata Kyuhyun, ia merasa harus cepat-cepat angkat kaki dari sini. “Terimakasih, Taemin-ssi, kami pergi sekarang kalau begitu.”

“Secepat itu? Padahal baru saja aku mau membuatkan teh hijau sebagai permintaan maaf.” Seorang Lee Taemin membikin teh hijau untuk dua orang tamu? Pemuda super ceroboh itu tentu hanya berbasa-basi.

“Kau baik sekali tapi tidak perlu, Taemin-ssi. Sampai jumpa.” Sanghyun beranjak menggandeng lengan Kyuhyun keluar rumah.

“Paman! Sekadar tahu, hyung-ku mengadakan seminar besok.” Taemin merogoh saku mengeluarkan satu brosur lecek yang sempat ia bawa, menyodorkannya pada Sanghyun. “Pengumuman tempat dan waktunya ada di sini. Memang pembahasannya tidak terlalu menarik, sih, tapi tidak ada salahnya untuk datang, kan?”

Mengungkap dua planet misterius dalam galaksi Bimasakti?” Sanghyun mendelik sambil membaca judul brosur. Kemudian menatap kaku pada wajah datar Kyuhyun.

“Kami pasti hadir.”

“Sungguh? Aku tahu kau sebenarnya baik, Tuan Cho Kyuhyun!”

.

.

-TBC-

Advertisements

5 thoughts on “Ace-X (III)

  1. menarik bgt kalo mereka bertemu di acara seminar minho,
    akan seperti apa yah pertemuan pertama mereka..
    Pasti menarik

  2. Hahaha Kyu mrasa terhina di perintah2 oleh Taemin….
    Wah bkaln seru nih,,prtmuan mrka d acara seminar…..???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s