ESPRESSO 10

es

ESPRESSO 10

 

 

***

 

“Karena aku membawa kelemahan seorang presdir Sam Rinhyo disini!”

Kim Hyera mengangkat tangan kanan yang menggenggam flashdisk tepat didepan dada, senyuman miring bercampur puas miliknya terulas begitu saja. Menatap rendah kearah Rinhyo, berharap gadis itu terintimidasi oleh perilakunya.

Namun tidak sesuai harapan, Rinhyo tak bereaksi apapun. Wajahnya masih tenang seraya menatap flashdisk putih milik Hyera santai. Hanya sebentar sebelum ia kembali menatap wajah menyebalkan Kim Hyera, “Kau jauh – jauh datang kesini untuk memberitahu kelemahanku. Tapi bagaimana ini? Sayangnya, aku merasa tidak punya kelemahan sama sekali.”

Hyera mendecih, mengartikan ucapan Rinhyo sebagai omong kosong belaka. Gadis itu seketika berjalan memasuki rumah Rinhyo, melewati tubuh sang pemilik rumah tanpa rasa malu. “AKH!” pekikan Hyera terdengar saat tubuhnya mundur kebelakang, lehernya tercekik oleh kerah bajunya sendiri. Sam Rinhyo-lah yang tanpa basa – basi menarik kerah baju Hyera bagian belakang.

“Singkirkan kaki kotormu dari rumahku!” Rinhyo berucap penuh penekanan, kesabarannya sudah habis dimakan oleh tingkah laku gadis ini.

“Le—pas—kan.” Hyera meminta dengan suara terbata. Rinhyo langsung melepaskan cengkramannya, membuat Hyera sedikit terjungkal. Napasnya tersenggal. “Kau gila?!”

“Apa kau tidak mengerti juga?” Rinhyo tak menghiraukan umpatan Hyera, lebih memilih fokus pada ucapannya sendiri.

“Kubilang aku memiliki kelemahanmu! Kau akan habis jika aku menyebarkan ini ke media!”

“Kurasa kau memang bodoh! Itu artinya, keluarlah dari rumahku, bodoh!”

Rencana Hyera benar – benar diluar dugaan. Ia pikir Rinhyo akan ketakutan dan membiarkannya memasuki rumah dengan suka rela. Tapi ia melupakan satu hal yang terpenting dari Sam Rinhyo, bahwa gadis itu adalah seseorang yang berdarah dingin. Tak memiliki rasa takut pada siapapun, dan melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang hatinya inginkan.

Kedua mata Hyera terpejam frustasi, mencoba untuk menekan emosinya hingga kedasar demi keberhasilan rencananya. Setelah kedua matanya terbuka, tampak wajah Rinhyo yang masih memancarkan aura mengerikan. “Baik! Dengar! Beri aku waktu 5 menit saja, setelah itu kau bisa memutuskan untuk mengusirku atau tidak. Mengerti?”

 

***

 

SEOUL

 

            Berjalan di distrik Insa-dong, Kyuhyun bersama sekertaris pribadi yang berada disampingnya membelah rumah – rumah kecil milik penduduk kampung yang mayoritas sudah kosong karena sudah dibeli oleh Cho group. Kebanyakan dari mereka dipindahkan ditempat yang lebih strategis dan layak dengan biaya ditanggung perusahaan.

“Jangan menginterupsi ucapanku, biar aku saja yang bicara. Aku dengar dari tim hubungan masyarakat, orang ini sangat keras kepala.” Ujar Kyuhyun tanpa menghentikkan langkah kakinya.

Ne, presdir.”

“Kau hanya perlu memberi bingkisan itu dengan senyuman lalu diam disampingku.” Sekertaris Kyuhyun menatap bingkisan parsel yang sangat besar hingga harus didorong memakai muatan barang sedang sebentar, lalu kembali menatap presdirnya.

“Saya mengerti.”

Kyuhyun mengangguk sekali, mengatur napasnya seraya mengingat – ingat ucapan – ucapan yang hendak ia katakan dikepala. Meskipun pekerjaan ini terlihat sangat mudah layaknya hal kecil yang bisa dilakukan siapa saja. Tapi hal kecil ini menentukan kelangsungan proyek Cho group , karena rumah Oh Jung Ho berada ditengah pemukiman dimana akan dijadikan center dari proyek perusahaan.

“Disini, presdir.” Sekertaris Kyuhyun menunjuk sebuah rumah yang berpagar kayu pendek. Rumah itu terlihat begitu sederhana dan masih ada sentuhan tradisional meski hanya sedikit.

 

Drrt drrt

 

Sekertaris Kyuhyun mengambil ponselnya, memerhatikan layar ponsel sebelum menatap presdirnya. “Dari Tim Humas.”

“Angkat.”

Segera sekertaris pribadi pria yang umurnya lebih tua 5 tahun dari Kyuhyun itu mengangkat teleponnya, bercakap disana dengan menampakkan raut wajah tak terbaca. Sedangkan sejak tadi Kyuhyun tak melepas pandangan dari sekertarisnya itu.

Sekertaris Kyuhyun menutup telepon, Kyuhyun tak bisa menunggu dengan bertanya “Apa yang dikatakannya?”

“Oh Jungho sudah menjual rumah ini pada presdir Nam.”

Alis Kyuhyun bertautan, “Presdir Nam? Taesan, maksudmu?”

“Ya, presdir.”

“Ck, untuk apa pria itu ikut campur dalam masalahku?!”

 

***

 

JEJU

 

Kesepuluh jemari Rinhyo menyatu, meremas satu sama lain berpangku paha. Kedua bola mata berwarna cokelat miliknya bergerak sedikit goyang, fokusnya mengabur entah kemana. Tayangan video yang ia lihat di televisi melalui sambungan flashdisk Kim Hyera ternyata benar – benar berimbas buruk untuknya. Kim Hyera menemukan kelemahan terbesarnya, itu adalah video saat ia membeberkan segala masa lalunya dalam pengaruh obat bius. Di dalam perpustakaan, bersama Song Joongki. Ia sangat mengingat itu, tapi bagaimana bisa Hyera memiliki rekaman ini?

“Terkejut, bukan?” Hyera bertanya dengan nada angkuh, bahkan kini ia dapat dengan leluasa melipat kakinya. Tersenyum miring kearah Rinhyo seraya memainkan rambutnya dengan anggun.

“Darimana kau dapat semua ini?” Rinhyo bertanya dengan nada penuh penekanan.

“Oh, sekarang itu bukanlah masalahmu presdir Sam yang terhormat. Tak ada gunanya bertanya darimana aku mendapat video ini.”

Rinhyo menatap nyalang kearah Hyera, “Darimana kau mendapatkan ini?” kembali ia mengulang dengan nada lebih tajam.

Hyera tertawa kecil, begitu puas dengan reaksi Rinhyo yang sangat sesuai dengan prediksinya. “Mudah saja, ketika aku diterima dengan leluasa dirumahmu tentu aku tidak akan membuang kesempatan emas dengan bersantai saja. Aku menyebar banyak kamera tersembunyi disana. Setelah kau dan Kyuhyun pergi berbulan madu, aku datang kembali kerumahmu. Mengambil semua kamera disana dan sangat mengejutkan, ternyata kau memiliki masa lalu yang sangat memalukan.”

Tangan kanan Rinhyo bergerak untuk mematikan televisi melalui remote kontrol. Ia memejamkan kedua mata, mengatur napas demi mengembalikan ketenangannya. “Apa maumu?” Tanya Rinhyo dengan nada serendah mungkin.

Hyera tersenyum puas, mengeluarkan secarik kertas dan sebuah bolpoin dari dalam tas sebelum menaruhnya diatas meja. “Kembalikan nama baik Nam Joohyuk, berkerja sama dengan Taesan setelah mengatakan pada media jika masalah plagiasi yang lalu adalah kesalahpahaman saja, dan juga… jangan pernah menolak untuk berinvestasi dalam proyek Taesan selamanya.”

“Tch, apa Taesan seterpuruk itu sampai kau harus turun tangan untuk merampok perusahaanku dengan senjata video ini?” Rinhyo mendesis, tersenyum miring.

Hyera menggeleng pelan tanpa melunturkan senyuman menyebalkannya. “Kau salah, presdir Sam. Ini bukanlah senjata utamaku.” Ucap Hyera riang, ia menggedikkan kepala kearah surat perjanjian. “Tandatangani saja, dan masalah selesai.”

“Kau kira aku sangat bodoh hingga mau – mau saja menandatangani surat itu?”

“Kau akan mendapatkan hal yang lebih menyakitkan dari ini jika kau tidak menandatangani surat ini sekarang, presdir.”

“Sebarkan saja, aku tidak takut. Itu hanya masa lalu dan akulah korbannya, jadi sekarang lebih baik kau pergi dari sini!”

Hyera mendecih, beranjak dari tempat duduk setelah membenarkan tas jinjingnya. “Aku tahu akan seperti ini jika berhadapan dengan kepala batumu.”

“Tutup mulutmu dan pergi dari sini selagi aku masih mendapat kesabaranku.”

“Baiklah, sesuai janji aku akan pergi dari sini jika kau meminta. Tapi, rekan kerjaku akan datang kesini dan ingin bernegosiasi denganmu soal surat perjanjian ini sesaat setelah aku keluar dari rumah ini.” Dahi Rinhyo mengernyit, wajah Hyera begitu mencurigakan dan begitu tenang. Seolah sangat yakin jika cara selanjutnya akan sangat ampuh. “Tunggu saja.” Hyera melanjutkan secara misterius, lalu berjalan meninggalkan ruang tamu tanpa mengambil surat terlebih dahulu.

Rinhyo menghela napas panjang, menatap surat perjanjian yang berada diatas meja ruang tamu datar. Kepalanya tiba – tiba pusing karena memikirkan jika hal ini benar – benar terbongkar di seluruh media. Bagaimana dengan reaksi ayahnya nanti?

“Woah, rumah ini bagus juga.” Suara seorang pria asing yang diiringi dengan langkah kaki membuat Rinhyo segera meningkatkan kewaspadaannya. Tanpa sadar tubuhnya beranjak dari sofa, menoleh kekanan dan menemukan mimpi terburuk yang selama ini tak pernah mau ia bayangkan sedikit pun.

“Park… J—Jae Bum?” lidah Rinhyo kelu bersamaan dengan tubuhnya yang menegang sempurna. Tangan dan kakinya gemetar antara kedinginan dan takut.

Park Jaebum tersenyum kecil kearah Rinhyo, mengangkat sebelah tangan seraya berucap “Merindukanku, Sam Rinhyo?”

 

***

 

SEOUL

 

            Nomor yang anda hubungi tidak menjawab, mohon—

 

            Kyuhyun memutus sambungan teleponnya kesal. Menunggu selama kurang dari 3 menit, lalu menelepon lagi. Seperti itu berkali – kali tanpa lelah, namun sialnya Rinhyo tak kunjung menjawab telepon. Hanya suara operator yang menyesakkan telinga.

 

Drrt Drrt

 

Song Joongki calling

 

Wae? Kau sudah mendapat kabar dari Rinhyo?”

“Kenapa diam saja?”

Park Jaebum sudah berada di Jeju.

 

Rahang Kyuhyun seketika mengeras, genggaman tangan pada ponselnya mengerat tanpa sadar. “Ahjussi, kita putar balik kebandara Gimpo.”

Sekertaris pribadi Kyuhyun yang duduk disamping presdirnya itu segera menoleh terkesiap. “Apa ada masalah, presdir? Tidakkah lebih baik kita segera menemui Presdir Nam disaat genting seperti ini?”

 

Nanti aku menghubungimu lagi, jangan lupa langsung hubungi aku jika ada perkembangan.”

 

Kyuhyun menutup teleponnya sepihak. Menoleh kearah sekertarisnya dengan datar. “Ada situasi yang lebih genting dari ini, sekertaris Kang.” Pria itu mengalihkan pandangan kearah sopir yang masih dilema untuk memutar balikkan mobilnya atau tidak. “Ke Gimpo sekarang, atau lebih baik kalian turun agar aku bisa membawa mobilnya dengan leluasa.”

Tak ada pilihan lain untuk sang sopir memutar balikkan mobilnya. Melaju dengan kecepatan diatas rata – rata agar dapat segera sampai pada bandara Gimpo.

 

***

 

JEJU

 

            Rinhyo masih membeku ditempatnya, sedangkan Park Jaebum tengah menyisir segala sudut rumah tanpa rasa malu. Sesekali tertawa kecil ketika menatap interior rumah yang sangat minimalis namun elegan ini.

“Selama ini kau masih bisa hidup dengan tenang dan penuh kekayaan.” Jaebum menoleh kearah Rinhyo dengan ulasan senyum manis. “Sepertinya kau sudah melupakanku, ya?”

Kedua tangan Rinhyo mengepal dikedua sisi tubuh seiring dengan langkah Jaebum yang mendekat dengan gerakan dramatis. “Jangan mendekat.” Desis Rinhyo, tak kuasa untuk berucap dengan nada yang lebih tinggi dari ini.

Wae? Apa kau benar – benar sudah melupakanku?”

“Kubilang jangan mendekat.”

Jaebum menghentikkan langkahnya ketika ia berada tepat didepan Rinhyo. Tangan kanannya dengan lancang mengelus pipi Rinhyo hingga membuat gadis itu ingin muntah secara tiba – tiba. “Sepertinya aku harus mengingatkanmu lagi.” Pria itu berbisik ditelinga Rinhyo dengan cara yang sama seperti dulu.

Kedua mata Rinhyo tertutup rapat seiring dengan air mata yang membasahi pipi. Kedua tangannya ia kerahkan sekuat mungkin untuk mendorong tubuh Jaebum, namun pria itu bisa dengan mudah menangkap tangannya. Tersenyum miring kearah Rinhyo seraya mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya membentur dinding. “Aku mohon lepaskan aku.” Suara Rinhyo terdengar begitu lirih, air matanya tak kunjung berhenti keluar.

“Teman – temanku bilang kau sudah berubah menjadi gadis dingin yang tak pernah terkalahkan.” Jaebum mendekatkan wajahnya didepan Rinhyo, sengaja membuat bibirnya dengan bibir Rinhyo hampir menyatu. “Bagiku kau masih sama saja.”

“KUBILANG MENJAUHLAH!” Rinhyo berteriak, menendang perut Jaebum dengan tulang tempurungnya lantas berlari keluar menuju pintu keluar selagi Jaebum tengah merintih kesakitan. Kepanikannya bertambah ketika mendapati pintu utama terkunci. Ia menoleh kebelakang, tanpa berpikir dua kali langsung berlari menuju pantai. Ditengah guyuran hujan ia bingung harus berlari kearah mana.

YA! KAU BERHENTI DISANA! AISH!” Suara teriakkan Jaebum semakin membuat tubuhnya gemetar, antara kedinginan dan juga ketakutan. Kepalanya menggeleng histeris seiring dengan langkahnya yang semakin bergerak kebelakang.

Jaebum berkacak pinggang diambang pintu belakang, tersenyum miring ketika melihat kekalutan Rinhyo. “Kau menambah pekerjaan saja.” Gumam Jaebum tak menunggu lama untuk kembali berlari mengejar Rinhyo. Namun kini langkahnya lebih pelan dari sebelumnya, karena ia tahu Rinhyo sudah tak punya tujuan untuk melarikan diri lagi kecuali jika gadis itu ingin menenggelamkan diri kedasar laut.

Langkah kaki Rinhyo pun kini melemah, tubuhnya menggigil luar biasa. Sedangkan rasa takutnya semakin besar. Mungkin hal – hal itu yang membuat kakinya kaku. “Kumohon…” Rinhyo berucap lirih, ia berjalan mundur dengan air mata yang sudah bercucuran. Park Jaebum sudah tak peduli akan hal itu, asal ia sudah menjalankan tugasnya demi mendapat uang.

“Kim Hyera sudah mengatakan untuk segera menyetujui apa yang ia mau, ini karena sifat angkuhmu. Jadi jangan memohon untuk sesuatu yang harusnya kau sesali!”

Tubuh Rinhyo berjengit terkejut ketika telapak kakinya sudah menyentuh air laut. Deburan ombak yang kuat dari belakang tubuhnya terdengar keras bercampur suara hujan lebat. Ia harus bersyukur untuk satu hal pada Tuhan karena tidak menurunkan petir. Sam Rinhyo berhenti bergerak, tubuhnya menegang sempurna.

Rinhyo mengulum bibirnya saat tangan Jaebum menarik kasar lengannya, memaksakan kedua kakinya untuk bergerak cepat karena tarikan kuat tangan Jaebum yang tak dapat ia lawan. Tak terhitung berapa kali ia terjatuh lalu bangun lagi karena paksaan Jaebum. Kaki putihnya kini sudah dihadiahi luka – luka karena jatuh tadi, terlebih dari itu semua ia hanya fokus pada tangan bebasnya yang tengah menekan perut. Dibagian sana rasanya begitu sakit, seperti diremas dan dipukul keras. Bahkan ia sudah tidak mampu untuk berteriak kesakitan lagi.

Deru mobil melesat kencang diselingi suara sirine tanda datangnya pihak kepolisian terdengar keras melahap suara deburan ombak dan rintik hujan. Park Jaebum terdiam ditempat, menarik segenggam helai rambut Rinhyo seraya melotot. “Kau memanggil polisi?!” sentaknya tak kuasa menahan marah.

Pandangan Rinhyo sudah berubah kehitaman, suara Jaebum seperti sangat jauh meski jarak mereka sangat dekat. Kepalanya sangat pening, dan setelah itu ia tidak ingat apa – apa.

 

***

 

SEOUL

30 menit sebelumnya

 

Drrt Drrt

 

            Kyuhyun mengangkat telepon dari Joongki sesaat setelah mobilnya berhenti diberanda bandara Gimpo. Ia tak peduli dengan ocehan sekertaris pribadinya yang menyuruh untuk mempertimbangkan kembali rencana sang presdir untuk kembali ke Jeju malam ini, karena sesuai jadwal mereka harus menemui Nam Joohyuk untuk membicarakan hak kepemilikkan rumah Oh Jungho.

“Kau dimana? Aku sudah di Gimpo.” Kyuhyun berucap pada sambungan telepon seiring dengan kedua kakinya yang turun dari mobil.

 

Aku di stan tiket, cepatlah kesini kita ada masalah.

 

“Presdir!” Kyuhyun mendesah frustasi, sekertarisnya itu kini sudah berani menarik lengannya. Pria itu menghentikkan langkah, menatap sekertaris tajam. “Presdir Nam sudah menunggu, kita tidak bisa membatalkan pertemuan penting ini begitu saja.”

“Persetan dengan Taesan atau pun Nam Joohyuk, karena istriku lebih penting. Lebih baik kau pergi, dan jangan ikuti aku lagi!” Kyuhyun tidak membentak, bahkan terdengar seperti desisan yang menyeramkan. Tak ingin menunggu jawaban sang sekertaris, Kyuhyun kembali melangkahkan langkahnya. Berlari menuju stan tiket dengan satu fokus yang ada didalam pikiran, Sam Rinhyo.

“Cho Kyuhyun!” Joongki melambaikan tangan tinggi – tinggi, wajah pria itu terlihat tidak baik meski dilihat dari jauh dan tentu hal itu semakin membuat rasa waspada Kyuhyun meningkat.

Sembari mengatur napas, Kyuhyun bertanya “Apa masalahnya?”

“Kita tidak bisa ke Jeju malam ini, cuaca sangat buruk. Penerbangan dan pelayaran kapal dibatalkan semua.”

“Sialan!” Kyuhyun menggosok wajahnya kasar, rambutnya sudah berantakan. Tak serapi tadi. “Kau sudah mendapat kabar lain?”

Joongki menggeleng pelan, wajahnya terlihat menggelap. “Kita harus melakukan sesuatu. Park Jaebum punya niat tidak baik pergi kesana.”

“Kau… pernah bertemu dengannya?”

“Sebelumnya ia pernah mengancamku. Ia dibayar oleh seseorang untuk mencelakai Rinhyo, aku yakin itu.”

Kyuhyun kembali mengumpat, “Kenapa kau tidak bilang dari kemarin?!”

“Aku sudah menyuruhmu untuk tidak meninggalkannya apapun yang terjadi, kan?!” Kyuhyun mengepalkan tangan, tak tahu harus berbuat apa dan menyalahkan siapa. “Sudahlah, saling menyalahkan pun tak ada gunanya. Kita harus berbuat sesuatu sebelum terlambat. Kita tidak bisa hanya diam disini tanpa melakukan apa – apa.”

Kedua kelopak mata Kyuhyun terpejam, kemudian terbuka ketika ia menemukan cara lain. Cepat – cepat ia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor 119 kemudian menaruh ponsel didepan telinga.

“Apa yang kau lakukan?” Joongki bertanya.

“Melapor pada polisi.”

 

***

 

JEJU

 

 

Bau obat – obatan khas rumah sakit serta suara alat penetralisis udara menyambut Rinhyo yang baru saja membuka kedua mata. Mulanya ia melihat pergelangan tangan, ada jarum infus disana. Pakaian yang ia pakai juga sudah tidak basah seperti yang ia ingat tadi, sudah berganti dengan pakaian khas rumah sakit berwarna biru bermotif bunga – bunga putih kecil.

“Nona, anda bisa mendengar saya?” Bola mata coklat Rinhyo melirik kearah seorang wanita muda berpakaian putih. Tubuhnya condong kearah Rinhyo, memeriksa keadaannya dengan kedua mata melebar.

“Aku… dirumah sakit?”

“Iya, anda dirumah sakit. Kurang lebih selama tiga jam nona tidak sadarkan diri, suami anda akan sampai disini 2 jam lagi, tunggu sebentar saya akan panggil dokter!” Rinhyo tak menjawab, memilih untuk terpejam karena kepalanya pening kena cahaya. Tiba – tiba perutnya terasa sakit sekali, seperti sedang diaduk didalam. Rasanya seperti mual tapi juga perih, intinya sangat sakit.

Telapak tangannya meremas seprai kasur rumah sakit kuat – kuat. Keringat dingin keluar dari pelipis dan leher, rambutnya menempel diatas kulitnya yang mulai memucat. Samar – samar ia dengar suara pintu terbuka, disusul derap langkah gupuh juga suara seorang pria yang memerintahkan suster untuk menyuntikkan morfin sebagai penawar rasa sakit.

Napas Rinhyo perlahan kembali normal, sakit diperutnya juga sudah hampir hilang meski sesekali muncul. “Sudah merasa baikan?”

Kedua mata gadis itu berkedip dua kali, mencoba mengenali tubunya sendiri kemudian mengangguk pelan ketika merasa lebih baik dari sebelumnya. “Nama saya Lee Chihoon, saya adalah dokter yang bertanggung jawab atas kesehatan anda. Jadi katakan saja jika merasa sakit.” Pria itu tersenyum manis, memberikan banyak kepercayaan pada Rinhyo.

“Tadi, kenapa perutku sakit sekali? Sekarang pun sakitnya terkadang muncul sedikit – sedikit.” Rinhyo bertukas seraya menyentuh perut datarnya. Dokter Lee tersenyum patah, menghela napas panjang sebelum berucap

“Saya sangat menyesal atas kepergian calon bayi anda.” Alis Rinhyo terangkat kala Dokter muda itu membungkuk dalam bersama suster yang sejak tadi berdiri disisinya.

“Bayi?” Rinhyo bertanya dengan suara hampir habis.

“Iya, umur kandungan anda masih dua minggu.” Jelas dokter, senyumannya sudah hilang.

Sam Rinhyo terdiam. Untuk sejenak ia masih tidak mempercayai ucapan Dokter Lee, namun tiba – tiba ia merasa kehilangan pasokan oksigen. Hawa dingin menyelimuti punggung serta menggerogoti tubuh, tanpa disuruh tangan kanannya menyentuh perut. “Bisakah kalian meninggalkanku sendiri?”

Dokter Lee dan susternya mengangguk sekali kemudian beranjak keluar dari ruangan. Meninggalkan Rinhyo yang kini mulai meneteskan air mata, disusul dengan isakan – isakan menyedihkan. Entah kenapa, sesuatu yang awalnya tidak pernah ia inginkan kini ia sesali kepergiannya.

 

***

 

Kyuhyun terdiam, wajahnya terlihat sangat tidak baik dilihat dari sisi manapun. Rambut pria itu tak tertata rapi. Penampilannya terlihat seperti anak jalanan jika ia tidak memakai pakaian kerjanya. Sorot mata pria itu menatap lurus kearah Rinhyo yang masih terpejam. Ia sudah dengar semua dari dokter, dan beribu kali ia menyalahkan diri sendiri. Menyalahkan kebodohannya yang dengan mudah jatuh oleh jebakan Taesan. Menyalahkan rasa kurang waspadanya dengan meninggalkan Rinhyo sendiri di Jeju.

Tadi ia menyalahi antrian kursi pesawat setelah membayar banyak uang. Menaiki penerbangan pertama setelah cuaca Jeju sudah sedikit membaik bersama Joongki yang kini sedang mengurus sesuatu bersama Dokter Lee. Kyuhyun biarkan itu menjadi urusan Joongki, yang sejak tadi ia khawatirkan adalah Rinhyo.

“Cho Kyuhyun.” Suara Joongki memanggil, Kyuhyun tak ingin menoleh kebelakang. Lebih tepatnya tak ingin membagi fokusnya dari Sam Rinhyo sedikit pun.

“Polisi memanggilmu kekantor kepolisian pusat Jeju sebagai pelapor.” Joongki melanjutkan, sedikit merendahkan nada bicaranya untuk mengimbangi kekalutan Kyuhyun. Ia tahu dari wajah pria itu bahwa Cho Kyuhyun sedang diliputi banyak perasaan rumit yang bahkan mungkin saja tidak dapat pria itu jelas dan utarakan.

“Bilang pada polisi untuk menahan Park Jaebum selagi menungguku datang kesana. Aku harus disini sampai Rinhyo sadar.” Kyuhyun menjawab dengan nada diktatornya. Pria itu sedang tidak ingin mengobrol saat ini, sebenarnya.

Joongki menghela napas, ingin sekali ia membicarakan hal ini nanti setelah Kyuhyun tenang. Tapi bagaimana pun ia harus segera mengatakannya pada Kyuhyun.

“Sepertinya kau harus kesana secepatnya, polisi menemukan sebuah surat perjanjian yang berhubungan dengan Nam Joohyuk di villa. Juga Jaebum membuat pengakuan bahwa ia hanyalah orang suruhan kekasihmu, Kim Hyera.”

Kedua mata Kyuhyun menajam, sepasang tangannya pun mengepal diatas ranjang. Sontak ia menoleh kearah Joongki, amarahnya meluap hingga keatas kepala. Terlihat dari merahnya wajah pria itu. “Bisakah kau jaga Rinhyo disini dengan baik?”

“Kau yakin tidak kesana bersamaku? Atau aku bisa menggantikanmu jika kau masih berat hati.” Sengaja Joongki menawarkan diri melihat kacaunya Kyuhyun saat ini. Tidak ada orang yang lebih berbahaya dari orang yang sedang diliputi pikiran kacau.

Kyuhyun menatap wajah pucat Rinhyo kemudian menjawab, “Aku harus kesana dan menghancurkan pria itu dengan tanganku sendiri. Jadi lebih baik kau disini untuk menjaga Rinhyo baik – baik.”

 

TBC

Halo^^

Bakal berakhir dipart selanjutnya akhirnyaa

Dipw  gak ya?

 

 

 

           

           

Advertisements

54 thoughts on “ESPRESSO 10

  1. Wah wah semakin menegangkan.. hahaha saya suka hahahha keren inti ya kkk
    Next chap jangan lama ya Author nim he he semangat

  2. asikkk kk udh lama nunggu nih dik….
    hehehehe
    sumpah,kyu udh tau rihyo hamil..
    semoga kyu juga beri pelajaran buat hyera itu…dsar kurang ajar
    ditunggu next partnya dik

  3. Yes akhirnya dipost^^
    Makasi eonni uda dipost😊
    Ish untung ga terulang lg kejadian masa kelam rinhyo . Tp kasihan mereka jd kehilangan bayi 😥
    Dasar taesan dan hyera jahatnnyaa kalian dan jaebum yg dibutakan oleh uang . Duh kasihan bnr ya 😭
    Sabar aja ya untuk mereka berdua smga mereka (org jht)dpt yg lebih sakit perasaan rinhyo dan kyu yg kehilgn baby cho.
    Ditunggu klnjtnnya eonni^^
    gomawo ud dipost😊

  4. hai aku pembaca baru disini ijin baca ya. ffnya seru feelnya dapat .kasihan samrihyo. kimhyera kekasih kyu. apa yang akan diperbuat kyu terhadap hyera dan jaebum ya

  5. Akhirnya ada lanjutannya juga.. walnya baca ff ini d flyingncfanfiction abis gt g ada lanjutannya lagi di post baru deh mencari2 ternyata ada lanjutannya d blog ini… tp aku blm pernah minta passwordnya wkwkw lgsg deh baca chap 9 wkwkwkwkw. Ckckck jahat banget si hyera, aduh kasihan mereka kehilangan baby, smoga mereka tetap kuat.. d tunggu kelanjutannya thor smoga happy ending

  6. Rin hyo hamil 2minggu tapi harus kehilangan bayi itu 😦
    takutnya nanti rin hyo bersikap dingin lagi sama kyuhyun …
    Jae bum harus dipenjara kyu .. wajib itu ..
    jangan di PW dong kak ..hehe

  7. Aaah kasian sama rinhyo+kyu mereka harus kehilangan calon bayi mereka, pasti rinhyo terpukul banget tuh
    Kasih hukuman yang berat tuh si hyera nyebelin kalo bisa penjara seumur hidup*wkwk sadis amat*
    Di tunggu next chapter nya

  8. yuhuuuuu
    akhirnya polisi tepat waktu
    sbnernya aku udh agak2 lupa sma crt ini
    hehehe
    tp dsni konflik nya mkin greget jd aku menikmati nya
    semiga aja masalah mereka cpet selesai yahh

  9. Wow hyera, berani juga wanita itu. Tapi sayang rencananya malah menjadi senjata makan tuan. Kyuhyun pasti akan melibas habis siapa saja yg menyakiti rinhyonya.
    Next ditunggu lanjutannya ya ka

  10. rinhyo khilangan bayinya??? pasti sakit bnget, khilangan tanpa tau ia ada sbelumnya.
    hyera hrus dpat blasan stimpal,
    kyu ayo buat rinhyo hamil lagi hahahahaha

  11. ini bikin tegang…
    Rin hyo akan baik2 saja kan..
    Smoga kyuhyun bisa mengatasinya..
    Part akhirnya ditunggu,.
    Smoga memuaskan

  12. sebelumnya salam kenal buat para autornyaa dan ijin baca semua ffnya ^^ … sumpah baru baca udh bikin jantung deg deg~an aph lagi pas kyuh mau ke kntor polisi jeju buat ngabisin jeabum wah iblisnya kyuh bangun seremkan klo kehidupan kyuh tuh terusik aph lagi kehidupan yg melibatkan baby CHO yg udh keguguran … jangan harap buat hidup dengan selamat ….

  13. akhirnya part 10 muncul… udah lama jg ga mampir kesini.
    part ini tegang bgt.
    dan gak nyangka rinhyo ternyata lagi hamil T.T
    makin seru ceritanya, semoga part selanjutnya lebih seru dan memuaskan

  14. Akhirnya keluar juga yeee… Hehe baru buka blognya j@di baru baca, maaf ya 😀
    Ya amoun jaebum tu gapunya prasaan bnget sih, kan kasian rinhyo, bahkan dia smpek kehilangan bayinya -_- bener2 pngen gua sobek2 jaebum sama hyera.. :3 yatuhan..

    Smangat trus ya ^^

  15. udah lama nunggu ff ini,greget banget sma jae bum dan hyera. kyuhyun bakalan ngamuk2 nie,semoga publishnya gak lama lg. penasaran soalnya. ditunggu y…………

  16. Akhirnya lanjut jga ni cerita..
    Bner2 pngen gampar si jaebum dah..
    Pas bca nama dokternya lngsung inget onew di DOTS, namanya mirip Pas bca nama dokternya lngsung inget onew di DOTS, namanya mirip yah..

  17. kenapa saat perusaan mereka hampir hancur mereka malah meneror rin hyo, apa nggak ada orang lain apa yang bisa di ajak dengan cara baik baik, dasar bodoh.
    coba aja kejadian itu nggak ada mungkin little cho masih ada 😥

  18. Min, aku udh minta pw ke fb kmu tpi kok blom dibls yah? Aku baru baca ampe part 3 karena disini di protek jdi’a blom baca lgi part selanjut’a

  19. Admin saia. Udh mnta pw ke salah satu fb yg d ksh TW admin tpi sampe skrgb BLM Ada respon 😦

    Btw saia suka sekali sama karakter rinhyo
    Bnr” karakter yg kuat kkkkk
    Semangat bwt next chapter.a^^

  20. rin hyo keguguran…kasian…jgn di pw donk…
    inj aja blm dpt pw yg lain…jd agak bingung sama ceritanya.
    aku sdh add di fb tp blm di approve hiks…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s