In My Room

IMG-20160405-WA000

 In My Room

Dentingan dua kaleng minuman terdengar membentur kursi berlapis beton. Hari ini Choi Minho kembali lagi, dengan satu kaleng kopi dan susu coklat. Duduk diatas kursi persegi, menyanggah tubuh dengan kedua tangan dibelakang. Menikmati keramaian Kota Seoul, sungai han, gemerlap lampu, dan juga atap – atap genting pemukiman padat khas ibu kota.

Hembusan angin yang semakin dingin membuat sekujur tubuh Minho bergidik. Merekatkan jaket dengan hati yang masih setia menunggu seseorang yang menjadi alasan mengapa ia langsung melesat pulang dari kantor dengan cepat, alasan mengapa ia selalu menolak ajakan rekan – rekan kerjanya untuk makan malam.

Suara pintu yang terbuka dari arah belakang, samar – samar dimakan kebisingan kota. Minho tak ingin menoleh, lebih memilih mengambil kaleng kopinya. Membuka minuman itu sebelum menyeruputnya sedikit.

“Huh, hari ini sial sekali.” Kaleng susu coklat yang berdiri sendiri disamping Minho terangkat, kini berada ditangan kanan Shin Soojung. Seseorang yang ia tunggu sejak tadi.

Wae?” Minho bertanya ringan, menoleh kearah Soojung yang tengah membuka kaleng susu coklatnya.

Tidak ada jawaban, Soojung masih sibuk menghabiskan susu-nya dengan intens. Minho mendesis, “Kau bisa tersedak jika minum-nya cepat – cepat.” Ujar Minho, tangannya sudah memegang badan kaleng. Memaksa Soojung untuk menghentikkan kegiatan gila –nya.

Minho menaruh kaleng susu disamping kiri. Menjauhkan minuman itu dari jangkauan Soojung, “Kau minum susu coklat seperti minum soju.” Komentar Minho dengan tatapan tak percaya.

Soojung membuang napas panjang. “Aku ditunjuk sebagai ketua pelaksana acara peluncuran produk baru hari ini.”

“Bukankah itu bagus? Jika kau melakukannya dengan baik, kau bisa saja dipromosikan naik pangkat nanti.”

Soojung menatap Minho frustasi. “Kau tahu sendiri kan, aku tidak bisa mengatur acara – acara seperti itu. Terlebih ini acara besar.”

“Tapi tetap saja, ini kesempatan besar.” Balas Minho ringan. Kembali menyanggah tubuhnya dengan kedua tangan. Soojung juga melakukan hal serupa, memandangi langit tanpa bintang dengan kedua mata lelah.

“Ya, bisa jadi kesempatan besar untuk terlihat buruk.”

“Kenapa kau selalu berpikiran negatif? Tidak ada salahnya untuk mencoba hal besar sebagai batu loncatan.”

Soojung menutup kedua mata, merasakan hembusan angin yang menerbangkan helai demi helai rambutnya. “Ya, kau selalu benar.”

“Tentu saja.” Kembali, Minho meneguk kopinya. Ia menaruh kaleng susu coklat Soojung yang sisa setengah disela jarak tempat duduk mereka. “Lebih baik kau menghabiskan minumanmu, dan segera mendapat semangat untuk hari esok.”

Soojung mengambil minumannya tanpa suara. Meminumnya ditengah keheningan. Begitulah, Soojung dan Minho menghabiskan sedikit banyak waktu malamnya. Diatap gedung apartemen mereka yang kebetulan bersebelahan. Membagi cerita tentang hari ini, lalu berakhir dengan menikmati suasana malam dalam diam.

Choi Minho dan Shin Soojung sudah saling mengenal sejak tahun pertama kuliah. Mereka menjadi dekat karena bertetangga dan juga nyaman satu sama lain. Shin Soojung suka dengan orang yang sederhana, santai, dan juga setia. Dan Choi Minho memiliki itu semua. Terlebih, Minho juga tipikal pria yang enak diajak mengobrol.

Sedangkan Choi Minho, ia tidak tahu mengapa ia nyaman dengan Shin Soojung. Karena untuknya, Soojung masih seperti misteri. Terkadang ia tidak tahu apa yang sedang dirasakan gadis itu, atau apa yang diinginkan gadis itu. Tapi itu tak masalah, bahkan ia lebih suka Shin Soojung yang seperti itu.

Hela napas panjang Soojung keluar untuk yang kesekian kali. Raut wajah sendu gadis itu tampak dibalik sikap cueknya. Minho menoleh, bibirnya terkatup rapat seiring dengan kedua mata yang menelisik siluet Shin Soojung. Ia tahu ada hal lain yang mengusik ketenangan gadis ini selain perihal penunjukkannya sebagai ketua pelaksana. Tapi ia tak ingin mengungkitnya lagi, atau sekadar bertanya bagaimana suasana hati Soojung. Karena ia tahu, Soojung masih belum baik – baik saja. Dan tentu, kenyataan itu sangat mengganggunya.

 

***

 

“Untuk design-nya kurasa sudah sangat cocok untuk remaja saat ini. Tidak terlalu colourful namun juga tidak meninggalkan kesan elegan. Bagaimana menurut kalian?”

Suara pemilik sekaligus direktur utama label KL khusus untuk pakaian travelling itu memecah fokus para kepala manajer bagian yang duduk disana. Salah satunya Shin Soojung yang dengan cepat menatap direkturnya, karena sejak tadi ia dan yang lain memperhatikan katalog untuk produk design – design baru.

Mendapat respon positif meski tanpa ucapan, sang direktur yang berambut pendek dan memiliki fashion taste tinggi itu tersenyum puas. Menutup katalog kemudian mulai memberi perintah pada satu per satu kepala manajer bagian.

Keure, kurasa kalian juga sependapat denganku. Kalau begitu, Shin Ha! Kembali periksa isi katalog dan juga lebih baik ganti warna dasar katalognya menjadi putih agar lebih menonjolkan produk.”

“Jin Ki, Rinhyo dan Soojung mengurus tour show dikota – kota besar. Tentukan tanggal dan buat proposalnya dengan cepat, berikan padaku 3 hari lagi. Ah, peluncuran produk jangan sampai terlambat sampai 2 bulan, karena JJ fashion juga akan meluncurkan produk baru 2 bulan kedepan dan jangan lupa Shin Soojung apa yang kukatakan kemarin bukan hanya omong kosong. Peluncuran kali ini kau yang memimpin.”

Ne, algesseumnida.

Direktur mengangguk, menutup meeting secara singkat sebelum beranjak meninggalkan ruangan itu. Soojung menghela napas panjang, show kejar tayang yang begitu melelahkan dimulai lagi. Gadis itu bersandar pada kursi, kedua matanya terpejam. Tak mempedulikan para kepala manajer bagian lain yang cepat – cepat meninggalkan tempat.

“Ah, pintu penyiksaan sudah berada didepan mata.” Gerutuan Sam Rinhyo, kepala manajer bagian event marketing keluar layaknya mantra menakutkan ditelinga Soojung. Rekan kerja yang paling dekat dengannya ini benar, setelah proposal di ACC disaat itulah penyiksaan yang sebenarnya akan terjadi.

“Rasanya aku ingin melarikan diri saja.” Soojung menimpali, kembali menegakkan tubuh. Banyak sekali hal yang membuatnya ingin melarikan diri, benar – benar melarikan diri ketempat dimana tidak ada orang yang mengenalnya. tempat dimana sebuah masalah itu tidak ada. Tempat dimana semua kehidupan akan berakhir dengan bahagia. Adakah tempat seperti itu?

Tatapan kosong Soojung menimbulkan rasa curiga untuk Rinhyo. Meski pun Soojung termasuk tipikal gadis yang sangat sulit untuk ditebak ekspresinya. Tapi untuk Rinhyo yang gemar mengobservasi ekspresi – ekspresi orang, melihat raut wajah Soojung saat ini membuatnya tak perlu berpikir dua kali untuk memastikan jika Soojung sedang dalam masalah.

“Kau kenapa, huh?” tanya Rinhyo, tak suka berbelit – belit. Lagipula, Soojung juga tidak suka berbelit – belit. Mungkin itu yang membuat mereka jadi cepat dekat.

Soojung menghela napas panjang, tatapannya semakin menyendu lurus kedepan. “Aku tidak ingin bercerita.” Hanya itu yang diucapkan Soojung.

Rinhyo mengangguk mengerti. “Arasseo. Besok Jinki ingin kita kumpul untuk membicarakan proposal. Apapun itu, kuharap tidak sampai merusak konsentrasimu.” Soojung mengangguk dua kali membalas ucapan ringan Rinhyo. “Aku harus pergi, dan kau juga harus cepat pergi dari sini jika tidak ingin direktur memergokimu.” Rinhyo menyentuh pundak Soojung sebentar sebelum keluar dari ruang meeting. Meninggalkan Soojung yang masih tinggal disana bersama suara hela napas berat yang berkali – kali keluar.

 

***

 

Suara langkah kaki Soojung menggema dilorong apartemen. Kedua matanya sudah terlihat tak begitu fokus seperti biasanya. Kuku – kukunya sesekali menekan tali tas kulitnya, meninggalkan bekas semi-permanen disana. Bersama bekas – bekas tekanan yang lain. Lama – lama hal itu semakin menjadi kebiasaan, secuil usaha untuk menanggalkan rasa berat dihatinya. Meski hanya memberi efek beberapa detik.

Langkah Soojung berhenti beberapa meter dari pintu apartemennya. Tekanan kukunya pada tali tas kini sudah berubah menjadi genggaman erat. Sedangkan tangan lain bersembunyi didalam saku mantel panjangnya, terkepal didalam sana tanpa ada yang tahu. Kedua matanya menatap lurus kearah seorang pria yang berdiri didepan pintu apartemennya, berkali – kali menekan tombol bel dengan raut gusar.

Soojung tak ingin menginterupsi kegiatan pria itu, bahkan untuk mengajak bicara saja tak ada keinginan sama sekali. Namun kehadiran pria itu berhasil membuatnya membeku disini.

Pria berambut coklat tua itu menyerah, memutuskan untuk menyesakkan sepucuk surat berwarna merah maroon diselipan pintu. Hela napas berat pria itu keluar seiring dengan langkahnya yang mundur, kemudian berbalik. Tubuh pria itu ikut membeku ketika kedua matanya beradu tatap dengan tatapan dingin Soojung.

Meneguk ludahnya berat, pria itu mulai melangkah mendekati Soojung. Sedangkan gadis itu semakin mengeratkan genggamannya, dibalik sikap tenangnya. Degupan jantung Soojung terasa begitu keras dan menyakitkan meski wajahnya masih tetap dingin.

“Hai.” Sapa pria itu pelan, ketika tubuhnya sudah berada tepat dihadapan Soojung.

“Untuk apa kau kesini, Lee Kikwang?” nada bicara Soojung benar – benar santai dan ringan. Ia menekan emosinya serendah mungkin untuk menghadapi pria yang sayangnya tidak bisa ia benci 100% ini. Lee Kikwang.

Kikwang menghela napas berat, memasang wajah melankolis yang sangat Soojung benci. “Aku mengantar undangan. Bagaimana kabarmu? Kau baik – baik saja?” suara Kikwang lebih lirih dari sebelumnya. Kepercayaan dirinya sedikit meluntur ketika mendapatkan perlakuan seperti ini dari Soojung. Tapi Soojung sudah tak ingin peduli lagi.

Seringaian Soojung muncul, “Haruskah kau yang mengantarnya?” Mengesampingkan usaha Kikwang yang berusaha bersikap ramah. Soojung lebih memilih menyuarakan pertanyaan yang berada diotaknya. Persetan dengan kebaikan pria ini.

“Soojung-ah.” Kepalan tangan Soojung semakin kuat ketika mendengar suara Kikwang memanggilnya seperti itu. Dadanya terasa begitu sesak hingga sulit untuk sekadar bernapas.

Arasseo. Pulanglah.” Tanpa menatap, Soojung berjalan melewati Kikwang. Ia tak ingin menoleh kebelakang, fokus matanya sudah sedikit buram karena cairan asin yang mengairi pelupuk mata. Cara berjalannya masih terlihat begitu tenang dan elegan meski air mata itu sudah membasahi pipi.

Sampai didepan pintu, Soojung tak bisa menahan kepalanya untuk tidak menoleh kearah Kikwang. Hela napas panjang dan beratnya keluar ketika mendapati Kikwang yang sudah menghilang ditikungan lorong. Kedua matanya beralih pada undangan yang masih terselip dipintu. Jari telunjuk yang sudah berada dipapan tombol password tak bergerak.

Mundur selangkah, Soojung menghadap kekiri. Berjalan menjauhi pintu apartemennya untuk sampai pada tangga darurat. Ia ingin melarikan diri sekarang.

 

***

 

Pintu lift terbuka, Minho berjalan keluar dari ruang sesak lift. Menatap kaleng susu coklat dan kopi yang masih hangat dengan senyuman kecil. Tas kerjanya yang masih menggantung dibahu kanan hampir saja terjatuh saat seorang pria yang berjalan berlawanan arah menyenggol tanpa sengaja.

Minho membenarkan tas, berbalik untuk sekadar memberi senyuman kecil pada pria yang terlebih dahulu meminta maaf dengan sopan itu. Namun dengan cepat senyumannya luntur kala menyadari jika pria yang menyenggol lengannya adalah Lee Kikwang. Meski pria itu tak tahu Minho, tapi Minho sangat tahu siapa Lee Kikwang. Pria yang menjadi alasan keluarnya hela napas berat Shin Soojung, pria dibalik wajah sendu Shin Soojung. Tak ingin membuang waktu lama, Minho segera mempercepat langkah kakinya berbelok kearah lorong. Kembali, langkahnya berhenti saat mendapati Soojung yang membeku didepan pintu. Menatap undangan yang berada diselipan pintunya dengan ekspresi hancur. Sungguh, Minho kesal ketika menatap ekspresi itu tanpa bisa berbuat apa – apa.

Sejenak, ia hanya diam disini seraya memandangi gerak – gerik Soojung. Hingga tiba – tiba gadis itu mengurungkan diri untuk memasuki apartemen. Hela napas Minho menghela dalam dan berat, kini Soojung sedang melarikan diri. Lagi.

Langkahnya kembali bergerak, berhenti didepan pintu apartemen Soojung. Menatap undangan itu dengan kesal, ia yakin undangan inilah yang menjadi satu – satunya tersangka air mata itu jatuh. Helaan napas panjangnya keluar lagi, tanpa ragu mengambil undangan itu kemudian memasukkannya kedalam saku mantel dalamnya sebelum kembali berjalan mengekori Soojung.

 

***

 

Angin musim dingin pada malam hari menampar permukaan wajah Soojung. Air matanya sudah mengering setelah ia mengeluarkan isakan yang begitu menyesakkan. Ia tidak pernah memakan waktu lama untuk kegiatan picisan yang disebut menangis. Namun meski sebentar, ia selalu mengeluarkan isakan yang kuat hingga membuat dadanya sesak.

Mendudukkan diri diatas kursi persegi. Menatap kedepan dengan ingatan yang berputar kebelakang. Kembali pada masa dimana ia merasakan apa itu kebahagiaan yang sebenarnya. Menjalani hubungan selama hampir 2 tahun dengan Kikwang bukanlah waktu yang sebentar. Bahkan ia sempat berpikir jika hubungan mereka bisa berlanjut kejenjang yang lebih suci. Namun semua itu berakhir secepat membalikkan tangan, segala kenangan manis itu diterpa angin musim dingin. Segalanya berubah ketika ia mengenalkan Jun Hyosung, teman satu SMAnya dulu.

Ia tidak tahu sejak kapan dan bagaimana semua itu mulai terjadi. Hubungannya terasa baik – baik saja dan sangat normal hingga ia menemukan Kikwang dan Hyosung bergandengan mesra di zebra cross. Tepat dihadapannya yang berada didalam mobil. Saat itu, ia tidak bisa berpikir dengan benar. Apa yang ia lihat malam itu seperti delusi semata. Segalanya seperti tidak nyata. Namun, semuanya benar – benar hancur ketika Kikwang mengakui tanpa rasa malu dan tanpa penyesalan sama sekali.

 

“Mianhe, Soojung-ah. Aku tidak bermaksud bersembunyi seperti ini, hanya menunggu waktu yang tepat. Tapi tak kusangka kau mengetahui ini lebih dulu sebelum aku mengatakannya. Sekali lagi aku minta maaf, kuharap kau bisa menerima hubungan kami dengan hati lapang.”

 

Sialan, pria sialan.

Kenangan pahit itu seperti tumpukan beton yang memukulnya dengan sekali pukulan. Ia mendapat dua pukulan saat itu, kenyataan bahwa ia telah berpisah dengan Lee Kikwang. Dan juga kenyataan bahwa ia sudah dikhianati oleh teman dekatnya sendiri. Apalagi fakta bahwa minggu depan mereka akan menikah, setelah menjalani hubungan selama 6 bulan. Adakah hal yang lebih sial dari ini semua?

Tawa miris Soojung keluar. Menertawakan kehidupan cintanya yang benar – benar seperti alur drama. Sejak saat itu, ia sulit untuk mempercayai orang. Namun ia tak bisa menampik, jika nama Kikwang masih mendominasi ruangan hatinya sampai sekarang. Sungguh, ia benci Lee Kikwang yang sudah menyakitinya hingga sebanyak ini. Tapi hal yang paling mengesalkan adalah ia tidak bisa mengusir kenangan – kenangan manisnya begitu saja. Kenangan – kenangan dimana ia begitu bahagia.

“Kau datang lebih awal.” Soojung menengadahkan kepala, menatap Minho dengan alis terangkat. Cepat – cepat ia mengusap kasar wajahnya yang basah, menggedikkan kepala ketempat kosong disampingnya.

“Duduklah.” Singkat Soojung, kembali menatap kedepan.

Minho duduk disamping Soojung, lalu mengulurkan susu coklat kaleng yang masih hangat pada gadis itu. Namun Soojung tak bergeming, seperti tak menyadari perlakuan Minho. Terlalu fokus pada lamunannya. “Kali ini masih hangat, minumlah pelan – pelan.” Ucap Minho memecah keheningan. Soojung menoleh, menatap Minho cukup lama sebelum akhirnya mengambil susu coklat itu dengan canggung. Sedikit lega, karena Minho tak membahas wajah kacaunya saat ini.

“Setahuku minuman hangat dan juga coklat dapat memperbaiki suasana hati yang buruk. Meski aku tidak bisa membawakanmu coklat hangat, tapi kurasa susu coklat hangat sudah cukup.” Lanjut Minho.

Soojung tersenyum samar, Minho selalu tahu bagaimana cara yang tepat untuk menghibur suasana hatinya. “Hangat.” Ucap Soojung pelan, merasakan aliran hangat dari telapak tangannya.

“Jika dipikir – pikir,” Minho menggantung kalimatnya, menunggu sampai Soojung menatapnya lalu melanjutkan “Atap apartemen sudah seperti tempat yang tepat untukmu melarikan diri.”

Soojung tersenyum kecil mendengar pernyataan Minho. “Kau benar, bisa dibilang tempat ini adalah tempat yang paling tepat untuk melarikan diri. Sejenak, aku bisa lari dari masalah dan omong kosong dunia.”

Kini Minho yang mengalihkan pandangan. Jujur saja, ia lelah melihat Soojung yang terus menerus tersiksa karena seorang pria. Tapi ia tahu, melepas seseorang yang pernah singgah cukup lama dalam hati bukanlah perkara mudah. Buktinya sampai sekarang, ia tidak bisa menghilangkan nama Shin Soojung dari hatinya meski 2 tahun kebelakang Soojung sudah memiliki kekasih.

Yang ia lakukan selama ini hanyalah mendengar tutur kata Shin Soojung. Ikut bahagia jika Soojung bahagia, dan ikut hancur jika Soojung hancur. Awalnya ia baik – baik saja, sekali pun Soojung sering bercerita tentang Lee Kikwang padanya. Ia tidak apa. Namun kali ini berbeda. Soojung terluka, tameng pertahanannya sudah lapuk. Ia sudah lelah untuk selalu baik – baik saja.

“Tidak usah melarikan diri.” Minho berucap, logikanya telah hilang. Kesakitan batinnya melihat kondisi Soojung lah yang mendominasi. “Jangan berlari.” Lanjutnya, menatap Soojung dengan penuh penekanan.

Soojung membalas tatapan Minho dengan bingung. Untuk pertama kalinya ia menemukan raut wajah Choi Minho yang seserius ini, tidak ada senyuman manis yang menghiasi wajah itu. Membuat bibirnya kelu untuk sekadar bereaksi akan ucapan ambigu Minho.

“Jika kau terus mencoba untuk berlindung ditempat ini. Maka kau tidak akan bisa melupakannya, Shin Soojung.”

“ Minho-ya.”

“Jika kau terus bersembunyi. Perasaan itu akan semakin menggerogotimu seperti parasit. Jadi, jangan lakukan.”

Waktu seperti berhenti, kedua mata Soojung memerah. Ucapan Minho membuatnya terpaku. Untuk kesekian kalinya, Soojung merasa Minho benar. Bersembunyi bukanlah hal yang tepat untuk mengusir perasaannya pada Lee Kikwang. Tapi, ia tidak bisa. Kegiatan bersembunyi sudah seperti candu baginya.

Soojung tersenyum patah. “Aku tahu.” Ujarnya pelan, mengalihkan pandangan kedepan. Menghela napas dalam – dalam sebelum menghembuskannya panjang, “Tapi, kurasa perasaan ini… akan selalu ada. Dan aku selalu butuh bersembunyi meski aku tahu itu salah.”

Tangan kanan Minho yang melingkari kaleng kopi menguat. Ucapan Soojung seperti belati yang menggores paksa hatinya. Harapan kecilnya untuk memasuki ruangan Shin Soojung tersapu dalam sekali tebasan oleh kalimat Soojung.

Shin Soojung-lah yang masih memenjarakan ruangannya.

Shin Soojung-lah yang dengan pasrah membiarkan perasaan itu menggerogoti batinnya sendiri.

Karena itu, Soojung memutuskan untuk bersembunyi daripada mencari cinta lain.

Mencoba menekan lukanya sekuat mungkin. Minho menghela napas berat, dadanya terasa lebih berat dari sebelumnya. “Ada seseorang yang tidak bisa kau miliki meski kau sangat mencintainya. Kau harus ingat itu.” Minho bersuara, lebih pada dirinya sendiri. Menciptakan keheningan diantara mereka. Hanya hembusan angin dingin yang semakin menusuk tulang yang terdengar.

 

***

 

Alis Soojung terangkat bingung saat mendapati keadaan pintu apartemennya yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Tak ada sepucuk undangan yang terselip disana. Apa ada yang mengambilnya?

“Aku yang mengambilnya.” Seolah mengerti isi pikiran Soojung, Minho bertukas. Sontak Soojung berbalik, menatap Minho yang berada didepan pintu apartemennya. Perlu diingat jika tempat tinggal mereka bersebelahan.

“Huh?”

Minho menepuk saku mantelnya sembari mengulas senyuman kecil. “Ada disini. Kau bisa mengambilnya ketika benar – benar siap.”

Soojung mengernyit, kemudian tertawa kecil menyadari tingkah Minho yang menurutnya menggemaskan. “Mengapa kau mengambilnya?”

“Kau terlihat tidak baik karena itu.”

Tawa kecil Soojung berubah menjadi senyuman tipis. Ia tahu, bahkan sangat tahu jika Minho memang memiliki sifat yang begitu baik dan tulus. Tapi ia merasa sikap Minho sudah berlebihan, meskipun ia tahu niat Minho hanya untuk menghiburnya. “Kau tidak perlu mengambilnya, Minho-ya.”

“Anggap saja ini salah satu metode untuk melepaskannya dan menghentikkan kebiasaan melarikan dirimu.” Minho hanya ingin Soojung segera melupakannya. Ia bukanlah orang yang gemar memendam perasaan dan menyakiti diri sendiri seperti ini, ia bukanlah orang yang begitu sabar menanti seseorang. Tapi entah apa yang dimiliki Soojung, ia bisa berubah menjadi selemah ini.

Soojung terlihat berpikir sejenak, kemudian mengangguk kuat. Mengikuti permainan konyol Choi Minho mungkin bisa membantu. “Baiklah, akan kuambil ketika benar – benar siap.”

Minho melebarkan senyumannya, “Aku masuk dulu.” Ucapnya, melambai sebentar sebelum benar – benar memasuki apartemennya. Meninggalkan Soojung yang masih tersenyum kecil. Ada pikulan beban yang bertambah hari ini, tapi juga ada sedikit pikulan beban yang sudah ia turunkan. Meski belum sepenuhnya ringan, tapi ia merasa lebih baik dari sebelumnya. Berkat Choi Minho.

 

***

 

Choi Minho memainkan sepucuk undangan pernikahan manis berwarna merah maroon dalam kedua telapak tangan. Memutar – mutar benda tipis itu, lalu melemparnya dan menangkapnya kembali. Begitu secara terus menerus tanpa tuju yang pasti.

Tanggal yang tertera dalam undangan itu sudah tiba. Seharusnya hari ini Shin Soojung datang padanya, lalu berucap bahwa ia akan menghadiri acara pernikahan Lee Kikwang dengan penuh percaya diri. Bahkan ia sudah berniat menawarkan diri untuk menemani Soojung jika segalanya berjalan sesuai ekspektasi. Namun pada realitanya tidak seperti itu, sudah lewat jam acara pernikahan yang sudah ditetapkan dan Soojung  tak kunjung muncul. Memberi pesan singkat pun tidak.

Suatu kebohongan besar jika Minho tidak menaruh rasa bahagia sesaat setelah Soojung cerita jika ia sudah putus dengan Lee Kikwang. Tepat pada 5 bulan yang lalu, ia masih ingat bagaimana Soojung menangis tanpa suara didalam pelukannya setelah mengetahui fakta mengejutkan bahwa Kikwang dan Hyosung menjalani hubungan selama 1 bulan tanpa sepengetahuannya.

Awalnya sangat menyenangkan, ia merasa diberi harapan baru oleh Tuhan. Kehidupannya terasa sangat ringan kala itu. Tapi kenyataan bahwa Soojung tak kunjung baik – baik saja selama 5 bulan ini hanya karena seorang Lee Kikwang, membuat segala rasa senangnya berubah menjadi kesal dan sakit. Bahkan ia baru sadar, sakitnya lebih perih dari sebelumnya.

 

Drrt Drrt

 

Getaran ponsel membuyarkan lamunan Minho. Ia menaruh undangan itu disisi kosong sofa samping tubuh, lalu mengambil ponsel yang layarnya menyala diatas meja. Seseorang yang sejak tadi ia tunggu kabarnya kini menelepon, tanpa menunggu lama Minho mengangkat telepon.

 

Aku menunggu diatap sekarang. Bisa datang?

 

            Tanpa sadar hela napas berat dan panjang Minho keluar, dengan suara tanpa minat pria itu membalas “Iya.” Sebagai jawaban lalu menutup telepon. Memasukkan ponsel kedalam saku celana lalu menyambar undangan merah maroon sebelum keluar dari apartemen.

 

***

 

“Aku tidak bawa susu cokelat.”

Minho duduk disamping Soojung yang tengah asyik menatap pemandangan atap – atap gedung. Sudah dua minggu ini, sejak percakapan seriusnya dengan Soojung terakhir kali. Gadis ini sudah jarang mengunjungi atap apartemen. Mereka lebih banyak meluangkan waktu dikafe dan apartemen masing – masing. Entah itu sekadar makan ramyun bersama atau Minho yang sesekali membantu pekerjaan berat dirumah Soojung. Satu minggu yang lalu Soojung melakukan perombakan interior apartemennya besar – besaran.

“Apa aku memintamu kesini hanya untuk sekaleng susu cokelat?” Soojung membalas tanpa menatap Minho.

“Sebagai gantinya aku bawa suatu yang lain.” Minho menaruh undangan itu diantara tubuhnya dan Soojung. Mengisi kekosongan kecil disana.

Soojung melirik sebentar kearah undangan merah maroon itu lalu menghela napas kasar, “Apa hari ini?” nada bicara gadis itu tak memiliki ganjalan sama sekali. Begitu tenang dan ringan tanpa beban.

“Hm. Kurasa kau belum siap, maka itu kau tidak mengambil undangan ini dan malah duduk di tempat ini lagi.” Minho sengaja memperjelas apa yang ia kesalkan. Berharap Soojung bisa mengerti meski ia tidak bisa mengucapkannya secara gamblang.

Senyum kecut Soojung terulas. “Kurasa aku tak akan pernah siap menghadapi Lee Kikwang.”

Minho menoleh cepat kearah Soojung, ia sudah menduga jika Soojung belum bisa siap. Tapi ia tak menyangka Soojung akan semenyerah ini. Untuk sesaat, ia tidak mengenal Shin Soojung yang duduk disampingnya sekarang.

“Sudah lima bulan, Soojung-ah.”

Soojung membuang napas, “Waktu berjalan begitu cepat, ya.” seru gadis itu sekadar tanpa menyadari raut wajah Minho yang lebih gelap dari sebelumnya.

“Aku lelah, Shin.” Alis Soojung terangkat, perlahan ia menatap Minho. Membalas tatapan pria itu dengan raut penuh dengan tanda tanya.

“Kau bicara apa?”

Minho mengepalkan kedua tangan diatas paha erat. Mungkin ini saat baginya melepas ribuan batu kerikil yang menganggu jalan hatinya, ia sudah lelah menyimpan segalanya.

“Selama lima bulan ini, tidak, bahkan sudah berjalan dua tahun aku selalu berdiri diambang pintu tanpa tahu harus melakukan apa selain diam disana. Menunggumu keluar dari ruang hatimu sendiri dan kemudian datang padaku.” Minho memang orang yang bisa dengan suka cita mengutarakan apa yang ia rasakan segamblang mungkin. Tapi ia tidak bisa ketika dihadapkan oleh gadis yang ia sukai. Apalagi itu Shin Soojung, temannya sendiri. Dan ditambah fakta bahwa ia sudah hampir terbiasa menyimpan ini sendirian selama dua tahun.

Soojung menutup bibirnya rapat – rapat. Takut mengeluarkan suara yang mungkin bisa berarti salah. Ia lebih memilih menunggu kalimat selanjutnya dari Choi Minho.

“Aku ingin sekali masuk keruang hatimu, tapi aku tidak bisa melakukan apa – apa selain berdiri disana selama dua tahun ini. Aku tahu segalanya tentangmu, tentang apa yang terjadi dalam ruangan itu, aku tahu semuanya tapi aku tetap diam disana. Asal kau tahu, rasanya sangat memuakkan.” Minho berucap dengan caranya. Ia yakin orang seperti Shin Soojung dapat langsung tahu tanpa ia harus menjelaskannya dua kali. “Tapi sekarang aku tidak ingin berdiri disana lagi. Aku ingin masuk kedalam sana. Apa bisa?” Minho memberi jeda pada setiap kalimatnya. Kedua mata itu masih menatap Soojung tanpa mau beralih sedikit pun.

Shin Soojung masih membalas tatapan Minho dalam diam. Wajahnya tak berubah sama sekali, tetap mempertahankan ekspresi tak terbaca yang berhasil membuat Minho berteriak frustasi dalam hati. Segala resiko seperti hubungan mereka yang mungkin dapat berlanjut dengan canggung dan berbeda setelah ini sudah melayang dibenak. Tapi super ego-nya mengatakan bahwa ia akan lebih menyesal jika tidak mengutarakan semua ini sekarang juga. Ia sudah muak dengan kalimat ‘Kau akan baik – baik saja selama dia masih berada disampingmu.’. Omong kosong, sejauh ini ia tidak pernah merasa baik – baik saja meskipun Soojung selalu berada disampingnya.

“Kau..,” Soojung mengulum bibir, masih menata kalimat tepat dalam otak. Lalu melanjutkan, “Kenapa menungguku untuk keluar dari sana? kau bisa masuk sedalam yang kau mau.”

Minho menatap Soojung dengan tubuh kaku. Otaknya tiba – tiba bekerja lamban karena jawaban mengejutkan Shin Soojung. “Kenapa kau—ah, maksudku… aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Soojung mendecih, tersenyum kecil kearah Minho. “Seharusnya kau mengambil kursi daripada harus berdiri diambang pintu seperti itu.”

“Itu karena aku takut waktunya akan lebih lama jika aku menunggu dengan nyaman.” Minho merespon dengan cepat meski otaknya masih dalam proses mencerna segala apa yang telah terjadi satu menit yang lalu.

“Selama dua minggu ini, aku menyadari sesuatu. Rasa sakit yang kurasakan ketika menatap Kikwang, bukan karena aku masih mencintainya. Itu semua karena aku sangat marah, tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Aku tidak suka dikhianati, dan Kikwang melakukan itu.” Soojung menghela napas panjang, “Maka itu aku mungkin tidak akan pernah siap berhadapan dengan Lee Kikwang.”

Dalam diam Minho meneguk ludahnya sendiri. Ia yang memulai terlebih dahulu, tapi ia pula yang bingung bagaimana harus melanjutkannya. “Jadi, sudah tidak ada Lee Kikwang disana?” Minho menanyakan sesuatu yang sebetulnya sudah jelas dengan ekspresi bodoh. Masa bodoh jika kini Soojung tengah tertawa dalam hati, ia hanya ingin mendapatkan kepastian. Itu saja.

Soojung mengulum senyum. Merutuki kebodohan tiba – tiba yang diderita Choi Minho dalam hati. “Sepertinya kau perlu susu cokelat agar bisa tenang dan berpikir dengan baik.” Soojung berbicara dengan segaris senyuman. Gadis itu mengambil secarik undangan yang berada disamping tubuh, “Sesuatu seperti ini, harusnya tidak usah kau berikan padaku lagi. Melihatnya membuatku kesal.”

Minho hanya bisa menatap pergerakan Soojung yang tengah menaruh jauh – jauh undangan itu dibelakang tubuh. Otaknya sudah bisa mulai merespon dengan baik. Tanpa sadar senyumannya merekah kecil, tak ia sangka dua tahun cinta sepihaknya akan terbalas dengan cara seperti ini. Bibir yang pintar sekali bicara kini hanya bisa bungkam, ia takut gagap ketika bersuara nanti.

“Kau masih belum fokus, ya?” Soojung kembali bertanya, kedua matanya menelisik raut wajah Minho seraya sesekali tertawa kecil.

Choi Minho menarik napas kuat – kuat, lalu berucap

“Itu… aku… terima kasih.”

 

Terima kasih telah memberi kekuatan untuk melangkah masuk kedalam ruanganmu.

 

 

 

 

 

FIN

 

 

Sudah selesai setelah terambang sekian lama ._.

Sorry for Keyl who always waiting this fic until months. Pardon me*bow*

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “In My Room

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s