Doll 6

dolljiwon

DOLL 6

***

 

 

Rinhyo benar akan peringatannya bahwa gadis itu mungkin saja akan tertidur dibahuku. Ah dan juga, gadis itu benar – benar tukang tidur. Bahkan sebelum jatuh dibahu Kyuhyun, ia terlihat nyaman tertidur dengan kepala menunduk dalam.

Bus berhenti setelah menempuh perjalan sekitar satu jam. Kyuhyun memerhatikan sekitar, ia rasa ini halte yang benar. Sebelum tidur Rinhyo memberi tahu terlebih dahulu apa nama perhentian bus agar mereka sampai ke panti.

Pria itu menepuk punggung tangan Rinhyo yang tergeletak bebas diatas paha tiga kali hingga akhirnya gadis itu menegakkan kepala. Mulanya Rinhyo menatap kesekitar, kemudian beranjak setelah berucap “Ayo turun.” Tanpa beban. Apa lehernya tidak sakit setelah tertidur dengan posisi seperti tadi?

Rinhyo memimpin setelah mereka turun dari bus. Raut wajahnya begitu bebas apalagi kini gadis itu sedang merentangkan tangan. Memasok udara segar khas gunung jiri sebanyak mungkin.

“Hah, sudah lama sekali.” Gadis itu menggumam tanpa melunturkan senyuman kecilnya.

“Kau terlihat damai.” Kyuhyun membalas, tak bisa menyembunyikan senyumannya. Melihat temannya bahagia, tentu Kyuhyun juga ikut bahagia.

Rinhyo menyenggol lengan Kyuhyun iseng, kemudian menggedikkan kepala “Lewat sana! Aku tidak sabar menemui mereka.” Gadis itu berseru riang seperti anak kecil yang tak sabar memasuki kebun binatang. Lalu kembali memimpin langkah. Kyuhyun menyaku kedua tangan, berjalan dibelakang Rinhyo demi melihat punggung kecil gadis itu.

 

***

 

Sekumpulan anak laki – laki yang terlihat masih duduk di bangku TK dan Sekolah dasar tengah sibuk berebut bola dilapangan. Sedangkan gadis – gadis bermain ditaman bermain seberang lapangan kecil itu. Panti sudah sedikit banyak berubah, sebelumnya tidak ada taman bermain. Hanya sepetak tanah kosong.

Senyuman Rinhyo semakin melebar ketika mendapati seorang wanita paruh baya tengah mendorong ayunan dengan pelan. “Dia ibu pantiku, Kim Yeonhee.” Rinhyo berkata pada Kyuhyun yang berdiri disampingnya.

Kyuhyun mengikuti arah telunjuk Rinhyo, lalu mengangguk seraya berucap “Ah, dia cantik.” Rinhyo menarik tangan Kyuhyun agar mereka dapat sampai dengan cepat tanpa sadar. Membuat tubuh Kyuhyun berjengit terkejut, untuk kesekian kalinya ia melihat sisi lain Rinhyo hari ini.

EOMMA!” Seru gadis itu tanpa ragu. Kim Yeonhee membeku sejenak, kemudian menoleh kearah sumber suara.

Kedua mata Yeonhee membesar tak percaya dengan apa yang berada dihadapannya. Bahkan kedua tangannya berhenti mendorong ayunan. “Jung-ie? Apa itu kau?”

Rinhyo mengangguk kuat. Melepas tangan Kyuhyun, gadis itu berlari kearah Yeonhee lalu memeluk wanita itu erat. “Eomma, aku sangat merindukanmu.”

Anak – anak gadis yang sebelumnya asyik bermain kini menghentikkan aktifitasnya. Mereka kompak menatap Kyuhyun dan Rinhyo bergantian dengan tatapan asing.

“Aku juga sangat merindukanmu. Kemana saja kau selama ini, huh?!” Yeonhee memukul pantat Rinhyo begitu keras. Kedua matanya berair sedetik kemudian.

AKH! EOMMA!” Rinhyo melepas pelukannya dengan kesal. Ia mengulas senyuman lembut, menghapus air mata Kim Yeonhee. “Aigoo, apa kau sekarang berubah jadi wanita sentimental, eo?”

“Diam kau!” Rinhyo tertawa kecil, kemudian memeluk tubuh Yeonhee lagi.

“Aku benar – benar merindukan eomma.”

Kyuhyun menikmati pemandangan dihadapannya dengan hati damai. Rasanya seperti terbang ketika melihat ekspresi bahagia yang terpancar dari wajah Rinhyo. Dalam hati ia bersyukur karena membawa Sam Rinhyo kesini.

Ahjussi!” Kyuhyun menoleh kebawah ketika mantelnya terasa ditarik oleh seseorang. Alisnya terangkat, menatap gadis kecil berkuncir dua yang memakai rok pendek mengembang warna pink dan baju putih.

“Aku bukan ahjussi. Panggil saja aku oppa, eung?”

Gadis kecil itu mengangguk dengan polos. “Keunde, oppa dan eonnie itu siapa?”

Kyuhyun berjongkok menyamai tinggi gadis kecil itu, lalu menjawab “Aku Cho Kyuhyun, dan dia Sam Rinhyo. Namamu siapa?”

“Namaku Yoon Jia. Umurku lima tahun.”

Kyuhyun tersenyum, mengelus kepala Jia gemas. “Apa oppa dari Seoul?”

“Eung.”

“Woah, daebak. Aku ingin sekali pergi ke Seoul, pasti disana bagus sekali.”

“Percayalah padaku, disini seribu kali lebih baik dari Seoul. Tapi, jika ada waktu oppa akan mengajakmu ke Seoul.”

Binar mata gadis kecil itu terlihat sangat bahagia. Ia menarik tangan kanan Kyuhyun lalu mengaitkan jari kelingking mereka. “Janji, ya? Kalau sudah janji kelingking berarti harus ditepati.”

Kyuhyun tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia mengangguk kuat, “Aku janji.”

Kim Yeonhee sontak melepas pelukannya ketika menemukan seorang pria yang berdiri tak jauh dari mereka. Senyuman wanita itu terulas lebar, menatap Rinyo dengan jahil “Hm, Jung-ie! Kau sudah besar ternyata.”

“Hng?” Alis Rinhyo terangkat bingung. Membiarkan Yeonhee berjalan melewatinya, mendekati Kyuhyun yang masih berjongkok.

“Ternyata Jung-ie ku membawa teman ya. Hahaha.” Yeonhee sengaja mengeraskan suara dan memberi kesan riang didalamnya.

Tubuh Kyuyun segera menegak karena terkejut. Pria itu tersenyum kecil sambil membungkuk sopan. “Cho Kyuhyun imnida.”

“Oh, tampan sekali. Jung—ah, maksudku Rinhyo memang punya selera bagus dalam hal berkencan. Hahaha.” Kyuhyun ikut tertawa, sambil sesekali melirik kearah Rinhyo yang tengah melototi ibu pantinya dengan kesal.

Eomma! Dia hanya teman!”

Ekspresi ibu Rinhyo seketika berubah, “Ah, benarkah? Maaf, kukira kalian—ah, sayang sekali.”

Kyuhyun kembali tertawa, “Tidak apa – apa. Mungkin karena kita terlihat cocok, hahaha.”

Rinhyo menatap Kyuhyun dengan tatapan ‘kau mau mati?’ lalu memutar bola mata tak peduli. “Soojung dimana? Apa dia didalam? Jungin, Yewon dan Jira juga ada didalam? Aku sangat merindukan mereka.”

“Jungin sudah diadopsi sekitar enam tahun yang lalu. Dia biasanya kesini satu bulan sekali.”

“Ah benarkah? Banyak hal terjadi.” Rinhyo menatap Yeonhee merasa bersalah, “Mianhe, eomma. Aku menghilang selama tujuh tahun ini.”

Yeonhee mengangguk mengerti, “Kau tidak perlu minta maaf untuk itu.” Yeonhee menggedikkan kepala, “Ayo masuk kedalam, kau juga Kyuhyun.”

Kim Yeonhee berjalan didepan untuk memberikan petunjuk. Karena ada sekitar tiga bangunan baru dipanti yang dulu tidak ada ketika Rinhyo sering kesini.

“Kenapa dipanggil Jung?” Kyuhyun berbisik disela berjalan.

“Nama asliku Seo Junghee. Jadi eomma sudah kebiasaan memanggilku Jung-ie, Soojung juga dipanggil begitu.” Rinhyo berbisik pula, membuat Kyuhyun mengangguk dua kali tanda mengerti.

Mereka berjalan melewati dua bangunan berhadapan, Rinhyo melangkah pelan sambil mengobservasi sekitar. Bangunan satu lantai sebelah kanan dengan cat lukisan pemandangan segar itu begitu familiar dimatanya, itu adalah asrama untuk putri. Dulu ia juga tinggal disana.

“Bangunan baru ini apa, eomma?” Rinhyo menunjuk bangunan yang berhadapan dengan asrama putri, bentuknya begitu sederhana dipadu padankan dengan cat lukisan mobil – mobil lucu dari film animasi cars.

“Ah, itu asrama putra.” Rinhyo mengangguk mengerti. Sebelumnya asrama putra berada dibelakang rumah bersama. Ah, rumah bersama terletak dibagian tengah. Rumah bersama adalah rumah yang digunakan untuk berkumpul bersama, juga makan bersama. Dapur untuk memasak juga berada disana. Televisi, piano dan alat – alat musik juga terletak disana. Maka dari itu, biasanya rumah bersama digunakan untuk perayaan natal atau tahun baru. Pertunjukkannya berada diruang tengah yang cukup luas.

“Lalu yang dibelakang rumah bersama?”

“Sudah diratakan, dibelakang rumah sekarang dibuat bercocok tanam.”

“Ah, bagus sekali kalau begitu.”

Kyuhyun menepuk bahu kanan Rinhyo dua kali ketika mereka hampir sampai pada pintu rumah bersama. Rinhyo menoleh, menunggu Kyuhyun bicara dengan tatapannya “Tidakkah lebih baik aku tunggu diluar saja?”

“Untuk apa? Kau bisa masuk.”

“Apa tidak terasa sedikit… canggung?”

Rinhyo menggeleng dengan senyuman kecil. “Tujuanku membawamu kesini kan untuk menemaniku, jadi akan sia – sia jika kau malah takut suasananya canggung. Tenang saja, mereka punya kemampuan mengobrol dengan baik.” Rinhyo memberi kekuatan dari ucapan dan senyumannya. Gadis itu menepuk lengan Kyuhyun untuk meyakinkan pria itu.

“Mereka sepertinya sedang berada didapur, apa perlu kupanggilkan?” Rinhyo menggeleng kuat.

“Biar aku saja yang kesana, sekalian ingin keliling juga.”

Kim Yeonhee tersenyum tipis, “Baiklah kalau begitu. Aku pergi dulu menjaga anak – anak.”

Arasseo.”

Yeonhee menepuk punggung Kyuhyun. Terlihat jelas jika wanita itu sangat menyukai Kyuhyun. “Nikmati waktumu ya, Kyuhyun-ah.”

Cho Kyuhyun kembali menunduk sopan tanpa melunturkan senyuman kecilnya. Setelah itu menyisir pandangan kesekeliling. “Apa disana tepatnya kau bermain piano dengan Shin Soojung?” Kyuhyun menunjuk sebuah panggung kecil diujung ruang tengah. Disana ada sebuah tongkat mik, juga alat – alat musik yang tertata dibelakangnya. Ruang tamunya memang langsung bergabung dengan ruang tengah. Jadi ketika pertama kali memasuki rumah ini, pasti semua orang dapat melihat panggung kecil yang berada diujung sana.

Rinhyo mengangguk kuat, “Pianonya masih belum berubah.” Gadis itu bergumam dengan bahagia. Rinhyo hanya melihat piano klasik hitam itu dari jauh sebelum berbelok kekiri, menuju dapur yang terletak diujung-dekat ruang makan.

Kyuhyun bisa dengar Rinhyo bersenandung ria, tapi ia tidak bisa menebak lagu apa yang gadis itu senandungkan. Belum sampai kedapur, Rinhyo menghentikkan langkah. Wajahnya berbinar cerah ketika mendapati dua orang gadis yang baru saja muncul dari tikungan kiri.

“Yewon-ah, Jira-ya! Aku datang!” Rinhyo berlari memeluk dua gadis itu dengan erat. “Aku benar – benar merindukan kalian!”

Lagi, Kyuhyun mengulum senyum melihat tingkah Rinhyo yang seperti anak kecil. Namun hanya sebentar, karena ia bisa lihat ekspresi tidak senang yang diperlihatkan Jira dan Yewon dari sini.

Tak mendapat respon apapun, Rinhyo menjauhkan badannya. Selangkah mundur, menatap Jira dan Yewon bergantian dengan asing. “Wae?” hanya itu yang bisa ia tanyakan. Karena mereka begitu berubah. Biasanya mereka berteriakan kegirangan bersama ketika ia datang-sama sepertinya- tapi kini mereka hanya diam.

Yewon tersenyum miring, “Jadi kau masih ingat kami? Tch, kukira kau sudah benar – benar menjadi putri tunggal TJ.”

“Apa yang kau katakan, Yewon-ah?” Rinhyo benar – benar kecewa. Ia tidak menyangka teman – teman baiknya akan bersikap seperti ini, ia belum melakukan persiapan untuk menghadapi hal yang berada diluar ekspektasinya ini.

Jira memandang sinis, “Katanya kau akan ditunangkan dengan seorang calon dokter,”

“Bagaimana bisa—“

“Kau tidak tahu? Kau sangat populer ditelevisi. Tch, siapa sangka seorang anak panti bisa jadi putri idaman.” Sungguh, Rinhyo tidak pernah mengenal Yewon yang seperti ini.

Jira menatap Kyuhyun, senyuman miringnya terulas “Dan sang putri membawa pria lain kerumah aslinya. Tidakkah kau terlalu tamak?” Jira menggelengkan kepala kemudian melenggang pergi melewati tubuh Rinhyo dan Kyuhyun sebelum keluar dari rumah bersama.

Kyuhyun menghampiri ketika dirasa Rinhyo tak kunjung beranjak dari tempatnya selama beberapa menit. Tangan kanannya ia buat untuk menyentuh pundak gadis itu, “Kau—“

Belum sempat Kyuhyun menyelesaikan kalimat tanya ‘kau baik – baik saja’ tapi Rinhyo sudah berbalik. Sengaja membuat tangan Kyuhyun kembali berayun bebas disisi tubuh. “Kau suka sungai? Aku ingin kesana, jika kau tidak mau lebih baik keliling saja disini.” Begitu kata Rinhyo seiring dengan langkah cepatnya yang berjalan mendahului Kyuhyun tanpa ingin berbalik badan terlebih dahulu. Bahkan ia berucap dengan memunggungi Kyuhyun.

 

***

 

Kyuhyun

 

Aku tahu merecoki Rinhyo dengan banyak pertanyaan hanya membuat hati gadis itu semakin tidak baik. Rinhyo bukan gadis yang gampang buka diri pada orang lain, ia butuh banyak waktu untuk benar – benar bisa ungkapkan segala isi hati dengan gamblang. Membiarkan aku masuk kedalam kehidupan rumitnya-meski tidak berperan banyak- hanyalah serpihan kecil kepercayaannya padaku karena sudah menyelamatkannya dari maut jembatan Yanghwa. Jika saja bukan aku yang membuatnya turun dari pagar batas jembatan, bisa dipastikan hari ini tidak akan pernah ada. Ah, meskipun aku yang membuatnya turun dari jembatan Yanghwa tapi kemarin ia tidak mabuk dirumah pasti hari ini juga tidak akan pernah ada.

“Hei! Kau berniat masuk ke air?” Rinhyo menoleh sebentar, lalu mengangguk dua kali tanpa ekpresi. “Airnya pasti sangat dingin. Anginnya juga sangat dingin.”

“Aku tahu.” Ia hanya melontarkan jawaban singkat tanpa menjeda kegiatannya melepas sepatu.

“Dasar bodoh.” Umpatku pelan. Melihat pergerakan Rinhyo yang tengah menceburkan kedua kakinya kedalam aliran tenang sungai, ia duduk disalah satu batu yang cukup besar. Tubuhnya langsung bergidik kedinginan, namun wajahnya masih sama datar seperti sebelumnya.

Aku menghampiri, merasakan air dengan ujung tangan. Dingin, sangat. Seperti air es yang menyentuh tangan ketika musim dingin. Omong – omong, sudah hampir memasuki musim dingin, dan gadis bodoh ini malah bermain air disungai.

“Keluarlah, kau pikir tubuhmu terbuat dari batu bisa tahan air dingin seperti ini?!” Ia menarik lengan yang berada digenggamanku dengan kasar.

“Pergi cari udara segar sana!”

Hela napas panjangku keluar, “Aku tahu kepalamu memang batu, tapi tubuhmu tidak bisa menahannya, bodoh.” Aku tidak mau menyerah, bagaimanapun memang harus begini untuk mengalahkan kepala batu Sam Rinhyo.

Tangannya kembali menarik kasar. “Urusi saja urusanmu.” Kini ia berucap tajam seraya menatap kedua mataku.

“Baiklah, kau selalu pilih cara yang tidak mudah untukku ya.” Aku mulai melemaskan tubuhku, memiringkan tubuh kekanan dan kekiri.

“Apa maksudmu?” Setelah terasa cukup, kedua tangan kusisipkan dibalik lutut Rinhyo. Posisiku berada dibelakangnya, berjongkok. “Apa yang kau lakukan, huh? Cari mati ya?”

“Diam saja, jangan bergerak!” Tubuhnya ku angkat sekuat mungkin, kini tangannya mencengkeram kuat rambutku yang berada dibelakangnya. Kepalanya berada tepat disampingku, dan tubuh kecilnya berada didepan dadaku. Gadis ini benar – benar seperti anak sekolah dasar, sangat kecil.

Aku menaruhnya di kursi panjang yang berada dipinggir jalan, butuh menaiki anak – anak tangga untuk sampai disini. “Aish, kau menyusahkan saja.”

“Memang aku menyuruhmu menggendongku, huh?! Dasar idiot!”

Aku tersenyum kecil. “Begitu caranya, tidak perlu menyiksa diri dari dinginnya air untuk meluapkan amarah. Jika kau merasa terluka katakan saja, tidak usah mengalihkan rasa sakitnya pada anggota tubuh yang lain.” Rinhyo tak berucap apa – apa, ia menatap lurus kedepan. Ia gigit bagian bawah bibirnya dengan raut wajah gelisah. Kedua tangan yang tadinya ia buat memeluk kedua kaki, kini sudah bergulat tanpa tuju. “Aku ambil sepatumu dulu, tunggu disini.”

Berbalik, berjalan menuruni anak – anak tangga yang membawaku ketepi sungai jernih itu untuk mengambil sepatu hitam milik Rinhyo. Tawa kecilku keluar, satu lagi yang aku pelajari darinya. Rinhyo hanyalah gadis yang berusaha dewasa, namun pada kenyataannya Sam Rinhyo adalah seorang gadis awal 20-an yang masih belum cukup baik untuk menjadi orang dewasa.

 

***

 

Kami dalam perjalanan kembali ke panti, Rinhyo sudah terlihat tenang dari sebelumnya. Namun tak ada sepatah kata pun yang gadis itu ucapkan. Tiba – tiba ia jadi dingin dan tidak banyak bicara.

“Ah, kita belum bertemu dengan Soojung. Dia tidak ada di panti?”

“Mungkin pergi sebentar ke pasar atau pergi kerja. Sore begini pasti sudah ada di panti.”

“Jangan khawatir, mungkin Jira dan Yewon bersikap seperti itu. Tapi Soojung pasti bisa menerimamu dengan baik.”

“Jangan sok tahu, aku tidak mengkhawatirkan apapun.”

Aku menarik alis keatas, lalu mengangkat bahu ringan. “Yasudah kalau begitu.” Ya, aku yakin kali ini ia tidak berbohong. Bisa dilihat dari ketenangannya.

“Soojung bukan orang yang berpikiran pendek dan melihat temannya dengan pandangan negatif secepat itu. Namun, mungkin akan sedikit canggung nantinya.”

“Kalau Soojung begitu, itu artinya bagus. Tidak perlu untuk canggung, kalian kan sudah berteman lama.”

“Aku mungkin bisa coba cairkan suasana nanti. Tapi Soojung, gadis itu suka canggung sama orang yang sudah tidak ia temui lama sekali tanpa komunikasi lain. Sudah tujuh tahun, asal kau tahu.”

“Kau sangat mengenalnya. Sepertinya kalian sangat dekat.” Aku tersenyum kecil, menyenggol pelan lengannya. “Sudah! Kau jangan takut kalau canggung, karena hal itu tak akan terjadi untuk teman dekat seperti kalian. Percaya padaku!”

Rinhyo melirik datar kemudian kembali menatap kedepan tanpa merendahkan tempo berjalan kami. Aku mendecih kecil, ingin tertawa tapi kutahan. “Hei, kau masih marah karena tadi?”

“Jangan ungkit lagi. Itu pertama kalinya aku diangkat oleh seorang pria, apalgi dengan posisi memalukan seperti itu.”

Tawaku keluar tanpa bisa ditahan. “Itu karena tubuhmu yang sangat pendek dan kecil. Jadi mudah saja menggendongmu seperti itu, ah, kalau kau mau aku mengangkatmu dengan satu tangan sepertinya aku bisa. Akan kupastikan kedua kakimu tidak menyentuh tanah.”

“Kubilang ‘jangan ungkit lagi’. Bukan menyuruhmu mengatakan alasan detailmu mengangkatku seperti itu, asisten dosen cho.”

“Oh, kau tahu aku asisten dosen?”

Rinhyo mengangguk sekali, “Jonghyun yang cerita.”

“Lee Jonghyun?”

“Hm.”

“Jadi dia tahu nomormu? Kalian saling berkirim pesan?”

“Hari ini kau banyak bicara, ya.”

“Aku Cuma tanya dua pertanyaan, kenapa dikaitkan dengan banyak bicara? Sudahlah, jawab saja!”

Rinhyo menghentikkan langkahnya, menghadapkan tubuh kearahku dengan kedua mata menatap tajam. “Kau—oh, tidak.” Kedua mataku melebar ketika tangan kanannya mencengkeram jaketku.

Wae? Ada yang sakit?”

“Ka—kaki.” Keringatnya mengucur dari pelipis, wajahnya pucat. Secepat mungkin aku berjongkok, menaruhnya diatas punggungku lalu berlari secepat mungkin kearah panti.

 

***

Rinhyo

 

Sial. Kenapa kakiku bisa kambuh ketika berkunjung ke panti. Dan juga, sudah mulai petang. Jika sampai malam kakiku masih sakit, bis sudah tidak ada. Apa yang harus kukatakan pada ibu?

Tubuhku bergerak keatas-kebawah dibalik punggung Kyuhyun. Pria ini lari dengan cepat tanpa berucap apapun, lidah cerewetnya itu akhirnya berhenti berucap. Aku pegangan erat, kedua tangan melingkari lehernya erat. Napasnya terdengar tak beraturan, aku bisa rasakan keringatnya keluar dari leher.

Kyuhyun berhenti ketika sudah sampai di dalam rumah bersama. Ibu panti menyambut dengan wajah penuh gurat rasa khawatir. “Mwoya? Kenapa dengan Rinhyo?”

“Kamar, tolong.” Kyuhyun berusaha berucap disela mengatur napas. Ibu panti segera memberikan arahan dimana ada kamar kosong. Aku tidak bisa berucap apapun karena sibuk menahan sakit dikaki dengan cara mengeratkan gigi.

Kyuhyun menurunkan tubuhku diatas ranjang kamar tamu. Kedua kakiku masih terasa kaku dan sangat sakit. “Aigoo, apa kau habis bermain di sungai? Ck, kalau sudah berjalan cukup jauh tidak usah main di sungai yang dingin. Lihat kakimu sekarang!” Ibu panti berceramah sambil memijit kedua kakiku, kemudian mengangkatnya secara vertikal.

“Kakinya selalu sakit kalau kena dingin, apalagi jika habis dipakai berjalan lama.” Ibu panti menjelaskan pada Kyuhyun yang masih mengatur napas disamping ranjang. Berdiri menatapku dengan bibir tertutup rapat.

“Dasar bodoh.” Ia mengumpat, menatap kedua mataku serius.

“Kyuhyun-ah, bisa ambilkan air hangat untuk minum Rinhyo di dapur? Kau tahu tempat dapurnya, kan? Termos air panas dan air dinginnya ada di samping lemari es.”

Kyuhyun mengangguk sambil menjawab ‘iya’ dengan sopan, lalu menghilang dari dalam kamar. Aku memejamkan kedua mata frustasi, lagi – lagi aku dibuat punya hutang pada pria itu. Kualihkan pandang pada ibu, wanita itu masih saja berusaha keras membuat kakiku baikan dengan pijitannya. Sebenarnya ada cara yang ampuh untuk mengobati kakiku, tapi hanya satu orang yang tahu.

“Ibu, sudah berhenti memijitnya. Biar aku saja!” Aku menatap kearah pintu, disana ada Soojung yang membawa sebuah ember berisi air panas-sedikit hangat- dan dua handuk di tangan lainnya.

“Tidak apa – apa, Jung. Kau belajar saja di kamar.”

Soojung tak mendengar. Malah berjalan masuk kamar, menaruh ember disamping ranjang lalu memasukkan satu handuk kedalamnya lalu melingkari kakiku dengan handuk panas itu satu per satu. “Ck, baru datang sudah merepoti orang.” Gerutu gadis itu tanpa menghentikkan kegiatannya.

Senyumanku terulas, Soojung tidak berubah. Dan itu membuatku lega. “Apa yang kau lakukan?” ibu panti bertanya, terpaksa menghentikkan pijitannya karena ulah Soojung.

“Sekeras apapun ibu memijitnya, tidak akan ampuh selain dengan cara ini.” Soojung menjawab, mengangkat kedua kakiku hingga lurus vertikal. Menahannya selama satu menit, menurunkannya lalu kembali ia naikkan sampai tiga kali. Ia masih ingat bagaimana caranya. Setiap kali kakiku kambuh, Soojung memang sudah seperti dokter pribadi untukku.

“Kau sudah bisa berhenti mengeratkan gigimu sekarang.” Aku meringis, men-ekspresikan perasaan bahagiaku.

Ibu panti tersenyum puas, “Baiklah, kalian mengobrol saja. Aku akan ke dapur bantu Kyuhyun, dia lama sekali buat air hangat.”

Soojung dan aku hanya mengangguk sekali sebagai jawaban. “Kau dari mana saja tadi? Aku hanya bertemu Yewon dan Jira.”

“Ke rumah Joohyun eonnie.” Ia menarik sebuah kursi agar duduk disamping ranjang, sedangkan aku mengubah posisi jadi duduk bersandar di dinding ranjang. Kakiku sudah lumayan tidak sakit setelah treatment khusus dari Soojung. “Belajar biola.”

“Bintangnya gunung jiri? Bae Joohyun?”

Soojung mengangguk, “Kami dekat sejak dia selalu mengiringi piano disini tiap malam natal dan tahun baru. Kapan – kapan ayo kerumahnya bersama, dia sangat baik. Karena dulu sering belajar dirumah, jadi tidak pernah keluar.”

“Hm, kapan lagi bisa ketemu bintang gunung jiri dirumahnya.”

Suara hela napas Soojung terdengar panjang, wajah gadis itu sejak tadi tidak nyaman oleh sesuatu. “Ucapan Yewon dan Jira jangan terlalu dipikirkan. Kau tahu sendiri kan, mereka suka percaya dengan apa yang ia lihat begitu saja. Lama – lama juga akan kembali seperti biasa.”

Aku tertawa kecil, “Arasseo. Memang tahu dari mana soal sikap mereka padaku?”

“Aku hanya menebaknya. Sejak kau selalu muncul di televisi tanpa mengunjungi kami, mereka sudah sibuk membicarakanmu.”

Kepalaku manggut – manggut, “Jika dipikir – pikir, mereka pantas marah padaku. Tiba – tiba menghilang tujuh tahun tanpa kabar.”

YA!” Soojung menatapku kesal, “Sudah jangan terlalu melankolis. Tidak bisa ganti pembicaraan lain, huh? Aku lihat tadi kau datang bersama seorang pria, siapa? Kekasih?”

“Bukan, dia hanya seorang teman.”

“Seangkatan? Teman apa? Aneh sekali melihatmu membawa teman ke panti, ibumu tidak marah?”

Aku tersenyum kecil. “Dia teman yang memberiku keberanian hingga sampai disini. Aku tidak bilang ibu. Bisa dikatakan, dia teman yang paling kupercaya. Dan… teman untuk melarikan diri? Begitulah.”

“Teman dekat, ya? Jaman sekarang tidak ada pria dan wanita berteman.”

“Tutup mulutmu! Dan kata siapa pria dan wanita tidak bisa berteman, huh? Tidak ada hubungan seperti itu diantara kami. Dia seorang asisten dosen untuk mahasiswa tahun pertama, seniorku.”

“Tch, santailah sedikit. Aku hanya bercanda.”

 

Tok Tok

 

Decitan pintu menyusul, buyarkan obrolan kami. Kepala Kyuhyun muncul dari balik pintu, “Ahjumma sudah siapkan makan malam. Semuanya disuruh berkumpul diruang makan.” Kyuhyun menatap Soojung lalu menundukkan kepala sebentar, “Annyeong haseyo.

“Soojung-ah, dia Cho Kyuhyun. Dan ini Shin Soojung, yang biasa kuceritakan.” aku menengahi dengan memberi perkenalan singkat. Soojung hanya membalas sapaan Kyuhyun dengan satu tundukkan kecil sebagai formalitas.

“Kakimu baikkan? Makanannya dibawa kesini?”

“Jangan, aku akan menyusul kesana sama Soojung. Kau tunggu disana saja.”

Tatap mata Kyuhyun terpaku pada kakiku sejenak, “Baiklah kalau begitu. Cepat keluarlah!” Begitu kata Kyuhyun sebelum menutup pintu.

Belum sempat aku menggerakkan tubuh untuk beranjak dari ranjang, pintu kembali terbuka. Kepala Kyuhyun kembali menyembul dari sana, “Benar tidak apa? Jangan memaksakan diri.”

“Aku tidak apa – apa. Tidak usah berlebihan.” Kyuhyun terdiam lama, menatap wajahku dengan pandangan mencari. Setelah puas ia mengangguk mantap, lalu menutup pintu. “Ada apa dengan pria itu?” aku menggerutu, menyingkap selimut yang tadi menutupi kaki lalu mencoba turun kelantai. Tersenyum kecil ketika merasa tidak ada reaksi signifikan dari kedua kakiku.

“Tch, apa pria itu menyukaimu?”

“Siapa?”

“Cho Kyuhyun. Wajahnya begitu kacau setengah mati tadi ketika menggendongmu kesini.”

Aku tertawa pendek, “Tidak seperti itu.” Aku tahu apa pandangan Kyuhyun padaku. Setelah menyelamatkanku dari insiden jembatan Yanghwa, aku bisa yakin jika ia punya suatu dorongan untuk tanggung jawab padaku sebagai orang yang pernah ia selamatkan dari maut. Dan kini kami berteman. Jadi tidak aneh jika rasa khawatir Kyuhyun semakin naik ketimbang sebelumnya.

“Kalau tidak seperti itu, seperti apa? Dari kedua matanya terlihat sangat jelas.”

“Ada banyak hal yang terjadi. Informasi untukmu, kesan pertama kali kami bertemu tidaklah sangat baik.” Kedua mata Soojung memancarkan rasa penasaran, aku tersenyum kecil “Aku akan ceritakan nanti.”

Soojung mengangguk, “Celanamu basah, aku sudah ambilkan celana dan baju. Malam ini tidur sini saja, bis sudah tidak ada.”

“Memang sekarang jam berapa? Kenapa waktu berlalu cepat sekali.” Aku memejam frustasi, apa yang harus kukatakan pada ibu?

 

***

 

Kyuhyun

 

Aku bantu ibu panti menata peralatan makan diatas meja. Tadi ibu panti datang ke dapur ketika aku sedang bekerja keras membuat air hangat. Aku tidak tahu membuat air yang hangatnya sempurna tidak mudah sama sekali. Ibu panti menyuruhku untuk tidak memasuki kamar karena Soojung dan Rinhyo sedang mengobrol, jadi aku bantu membersihkan rumah selagi ibu panti memasak.

“Woah, harumnya sangat menggoda ahjumma.”

Ibu panti menyendok sedikit masakannya, kemudian mengarahkannya pada mulutku setelah meniupinya berkali – kali. “Enak?”

Aku mengangguk semangat, mengacungkan dua ibu jari sebagai nilai sempurna. Ibu panti tersenyum, “Kalau begitu, tolong panggilkan Soojung dan Rinhyo agar makan.”

Ne.” Aku segera berjalan menuju kamar tamu. Sejujurnya, sejak tadi aku sangat penasaran bagaimana kabar Rinhyo. Apa dia baik – baik saja? Kakinya sudah tidak apa – apa? Mengingat wajah pucatnya tadi membuat perasaanku terus menerus tidak enak.

            “Aku lihat tadi kau datang bersama seorang pria, siapa? Kekasih?”

            Tanganku terhenti diudara, kembali berada disisi tubuh. Mendengar percakapan dua orang gadis didalam kamar dengan seksama.

“Bukan, dia hanya seorang teman.”

            Aku tersenyum kecil. Masih terdiam disana tanpa ingin langsung mengetuk pintu kamar tamu. Terus mendengarkan percakapan mereka hingga keinginanku terbayarkan.

“Seangkatan? Teman apa? Aneh sekali melihatmu membawa teman ke panti, ibumu tidak marah?”

            Aku juga penasaran dengan pertanyaan ini. Teman apa? Aku ingin tahu seberapa besar penting bagi Rinhyo hingga memberiku title sebagai teman. Aku merasa Rinhyo adalah orang yang penting dan orang yang selalu ingin kujaga. Aku bisa dengan jelas menyadari keberadaan Rinhyo, tapi bagaimana dengan gadis itu? sesekali aku menanyakan hal itu dalam hati.

“Dia teman yang memberiku keberanian hingga sampai disini. Aku tidak bilang ibu. Bisa dikatakan, dia teman yang paling kupercaya. Dan… teman untuk melarikan diri? Begitulah.”

            Senyumanku kembali terulas lebar. Sam Rinhyo ternyata menyadari keberadaanku, ia mempercaiku itu sudah cukup membuatku sangat lega. Setidaknya ia punya niatan tulus untuk menjadikanku sebagai seorang teman.

“Kyuhyun-ah, apa yang kau lakukan disana?” tempat depan kamar tamu adalah lorong yang langsung menyambung dengan ruang makan, jadi sangat mudah untuk ibu panti melihatku berdiri disini tanpa melakukan apapun. “Kau tidak memanggil mereka?”

Aku mengangguk berkali – kali, “Aku baru saja mau mengetuk pintu.”

 

TBC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

12 thoughts on “Doll 6

  1. hubungan mereka dh meningkat y……..rinhyo dah mulai percaya sama kyuhyun walaupun sebatas teman. ditunggu lanjutannya……….

  2. duuuuhh akhirnyaaa dilanjutinnnn huhu sudah lama sekaliii dan berhubung emg cuma nunggu doll jd berasa lama bgt kalo ff ini ga update2 huhu eeehh kyuhyun rinhyo tulus amat temenannya itu bakal jd cinta ga nih hahah iyasih ya rinhyo semenjak kenal kyuhyun ya jadi lebih berani dan berekspresi lebih gitu, jd lebih hiduplah kesannya gitu, yakan hmmm penasaran siapa yg bakal punya rasa duluan heheh ditunggu selalu lanjutannyaaaa

  3. Teman? TTM yeh? 😀 siap siaga bgt kyuhyun, kira” ibu’a rin hyo tau gk yah dia pergi ke panti, bisa gawat klo ibu’a tau, biasa’a kan org kya bnyk mata”a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s