Doll 7

dolljiwon

 

***

Rinhyo

 

Aku ambil tempat disamping Kyuhyun, Soojung berada dihadapanku. Duduk disisi Ibu sambil menatap segala makanan yang tersaji dengan mulut menganga. Aku pun melakukan hal itu. Pasalnya ada menu kepiting ditengah meja, aku tahu betul bahan makanan semahal itu hanya dikeluarkan ibu saat ada acara penting saja.

“Kepiting? Untuk apa ibu membuat makanan sebanyak ini?” Aku menatap kesal kearah ibu yang hanya membalas dengan senyuman kecil.

“Kau datang setelah tujuh tahun, ini adalah hari penting.”

“Apanya sih yang penting? Ck, aku bahkan tidak bawa apa – apa kesini.”

Kyuhyun menyenggol sikuku dengan cepat, memberiku peringatan untuk diam dari gerak bibirnya. “Mwo?!” aku menyentak dengan kesal. Seharusnya ia tidak ikut campur, masalah ini memang terlihat kecil tapi membuatku sangat tidak enak.

“Jangan banyak bicara, lebih baik makan saja.”

“Dengarkan kata kekasihmu! Ibu sudah susah payah memasak ini semua, lebih baik makan saja. Kau tidak rindu masakan ibu?” Kalau ditanya seperti itu, tentu aku sangat merindukan masakan ibu.

“Kekasih?!” Soojung mengangkat bahu ringan, lebih peduli dengan pergerakan sumpitnya. Aku menoleh kearah Kyuhyun, pria itu juga terlihat tak terganggu sama sekali. Tch, sepertinya nanti Kyuhyun dan Soojung bakal cepat dekat. Kepribadian mereka cenderung sama.

“Sudah, sudah. Berhenti mengobrol, kau cepat makan saja Hyo-ah.” Kini ibu yang menimpali.

“Baiklah, tapi ini yang terakhir ya bu. Lain kali kalau aku kesini tidak usah keluarkan makanan mahal seperti ini.”

Ibu mengangguk mengerti, “Arasseo.

Senyuman kecilku terulas, kuambil sumpit dan mulai mengaduk sup kepiting dengan saliva yang sudah menumpuk didalam mulut. Aku baru ingat kalau belum makan siang tadi. Ah, pasti Kyuhyun lelah sekali. Ia menggendongku dengan keadaan perut kosong.

“Oh ya, bagaimana dengan anak – anak? Yewon dan Jira juga.”

“Yewon dan Jira pergi ke Ganghwan-do, kencan buta.” Soojung menjawab tanpa menghentikkan kegiatan tangannya mengambil side dish.

“Anak – anak pasti sudah makan jajjangmyeon diasrama sekarang. Kyuhyun yang traktir.” Jawaban ibu benar – benar mengejutkan. Spontan kepalaku menoleh kearah Kyuhyun.

“Kau?”

“Hm, kenapa?”

Aku hela napas panjang. Kyuhyun bukanlah pria yang memiliki perekonomian begitu baik, ia harus menghidupi diri sendiri di Seoul. Dan juga, perbuatannya kembali menambah rasa tidak enakku. Insiden jembatan Yanghwa, menemaniku ke panti setelah tujuh tahun, menggendongku sampai rumah bersama, menyiapkan makanan dengan ibu, dan sekarang membelikan anak – anak makanan? Oh Tuhan, berapa banyak sudah hutangku padanya?

“Kenapa? Hei! Kau lupa aku adalah aktor musikal? Kau pikir aku tidak punya banyak uang untuk membelikan mereka makanan, huh?”

“Bukan begitu, hanya saja… sudahlah.” Aku menyerah, gelengkan kepala lalu kembali menyantap makanan.

“Musikal?” aku bisa lihat sekilas tatap berbinar Soojung pada Kyuhyun. Ibu juga menatap Kyuhyun dengan penuh harap. “Kau bekerja di bidang itu?”

Kyuhyun mengangguk sekadar. “Sebenarnya aku mengajar di jurusan seni musik. Sesekali mendapat tawaran teman bermain di teater, ya meski bukanlah panggung yang sangat besar.”

“Mau itu besar atau kecil, tetap saja teater musikal. Woah, keren sekali.”

Mungkin mereka akan bercakap panjang tentang musik. Soojung sangat mencintai musik. Jadi yang bisa kulakukan adalah mendengar obrolan mereka dengan cara menikmati makanan ibu.

“Aku bisa bernyanyi dan main harmonika. Ah, aku juga bisa main piano dan biola sedikit – sedikit. Jadi,” Aku berani bertaruh kalau Soojung pasti ingin minta dimasukkan klub musikal Kyuhyun. “Apa aku bisa ikut main musikal?”

“Soojung sangat pandai bernyanyi. Dia selalu jadi penyanyi terhebat sedesa ini.” Wajah ibu semakin dipenuhi oleh harapan, Soojung pun begitu. Dan aku menanti jawaban Kyuhyun, berdoa  agar Kyuhyun akan  segera menyetujui ucapan Soojung. Membayangkan sering bermain dengan Soojung di Seoul terasa begitu menyenangkan.

Kyuhyun mengangguk dua kali, “Tentu saja!”

Assa!” Soojung spontan melakukan hi-5 dengan ibu. Sedangkan aku hanya bisa mengulum senyum. “Kapan aku bisa mulai?”

“Secepatnya. Tapi, tentunya kau harus pindah ke Seoul. Karena kegiatan kami cukup padat.”

“Aku akan kesana secepatnya.” Soojung menjawab tanpa ragu.

“Aku bisa bantu carikan tempat tinggal untukmu. Ah, atau apa kau tinggal dirumahku saja? Aku akan coba bicara pada ibu.” Aku benar – benar ingin tinggal bersama Soojung jika gadis itu di Seoul.

Soojung menatapku datar, “Mending tinggal di kamar sewa daripada bertemu dengan ibumu setiap hari. Kau sudah gila ingin bicara pada ibumu soal ini, huh?”

Hela napasku keluar berat, bagaimana pun Soojung benar. Tapi aku tak habis akal, ada sekelebat pikiran untuk tinggal bersama Soojung disebuah apartemen. Mungkin aku bisa coba bicara untuk tinggal diluar rumah pada ibu. Oh tunggu, bagaimana bisa aku lupa minta izin pada ibu?!

“Ponsel! Ponselku dimana?” Aku menatap panik ibu panti, Soojung dan Kyuhyun bergantian. “Aku lupa belum minta izin pada ibu.”

“Aku sudah izinkan dengan alasan tidur dirumah Park Sunyoung. Aku juga sudah meminta Sunyoung untuk bekerja sama.” Kyuhyun menjawab dengan tenang. Aku mengernyit, bagaimana caranya? Ibu bukan wanita yang mudah percaya.

“Aku tadi berpura – pura jadi ibu Sunyoung. Bilang kalau kau ketiduran saat kalian mengerjakan tugas kelompok. Kyuhyun yang merencanakannya.” Hela napasku kembali keluar dengan penuh rasa lega. Lagi, Kyuhyun menyelamatkanku.

 

***

 

Kyuhyun

 

Rinhyo minta tidur bersama Soojung di asrama. Jadi akulah yang tidur di kamar tamu. Makan malam sudah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Aku baru saja selesai bantu ibu panti membereskan meja dan mencuci piring –tentu bersama Soojung dan Rinhyo. Sudah lama tidak merasakan kehangatan makan malam bersama seperti ini. Ibu panti sudah seperti seorang ibu kandung untukku, pancar aura keibuannya begitu kuat hingga membuatku berpikir untuk memeluknya. Soojung orang yang menyenangkan di balik sikap cueknya,  kami banyak mengobrol tentang musik. Dia tahu banyak tentang musik, jika saja ia mengambil kuliah jurusan musik pasti kemampuannya semakin terlihat dengan menakjubkan. Sedangkan Sam Rinhyo hari ini terlihat sangat berbeda, ia tidak bosan mengulas senyum lebar. Binar matanya begitu cerah, dan ia benar – benar menjadi dirinya hari ini. Usahaku tak sia – sia, mungkin nanti aku akan sering mengunjungi panti bersamanya.

Aku masih duduk bersandar di dinding ranjang. Menoleh kesamping, ada sebuah nakas dimana di atasnya terdapat lipatan baju dan sweeter milik Rinhyo. Celana skinny jeans warna hitam yang tadi basah miliknya ada di tempat jemuran kecil tepat disamping pintu kamar mandi dalam. Senyuman kecilku terulas, mengingat bagaimana kuatnya Rinhyo mencengkeram jaketku tanpa berucap apapun. Ketika kepala kerasnya membuatku menggendongnya dengan cara yang tidak normal , segalanya terasa lucu bagiku.

 

Drrt Drrt

 

            Merogoh saku jaket demi ambil ponsel. Mood –ku langsung turun drastis setelah membaca tulisan ‘Kim Hyera calling’ di layar ponsel. Tanpa pikir panjang aku matikan panggilan. Tak sampai satu menit ponsel kembali bergetar, dan sekali lagi aku ulangi kegiatan sebelumnya. Aku putuskan untuk menunggu, dan benar saja ponselku bergetar lagi. Namun untungnya kali ini dengan nama yang berbeda.

Wae?

Hyeong! Kau dimana? Rumahmu kosong.

            Aku putar bola mata, lama – lama Jonghyun sudah menganggap rumahku seperti rumahnya sendiri. “Sekarang kau sudah berani masuk rumah orang lain seenaknya sendiri, huh?”

Jangan salahkan aku! Salahmu sendiri menaruh kunci dibawah pot bunga. Aku tahu kau pasti sudah menyiapkan itu agar aku bisa masuk kerumahmu ketika kau tidak ada, kan? Hahaha, kau memang hyeong terbaik!

            Untuk pernyataan itu aku tak coba menyangkal. Ia benar, aku terlalu baik sampai sempat memikirkannya. “Ck, kalau begitu sekalian bersihkan rumahku dengan baik ya!”

Tch, arasseo! Hei, kau menghindari pertanyaan ya? Sekarang ada dimana?

            “Menginap di luar. Kau tidak perlu tahu.”

Jangan sok misterius, lagi sama pacar ya? Hahaha

            “Tutup mulutmu!”

Oke, oke. Omong – omong tadi di depan rumahmu ada bingkisan hanwoo dan satu botol wine mahal, dari Hyera nuna. Dia taruh surat didalam bingkisan. Apa harus aku bacakan?

            Kerut dahiku keluar spontan. “Kim Hyera tahu rumahku dari mana?”

Entah. Pokoknya bukan aku yang memberitahu. Tapi menurutku tidak sulit untuk menemukanmu. Sekarang Hyera nuna sudah punya banyak orang dibawahnya, mungkin saja ia menyuruh salah satu dari mereka untuk mencari tempat tinggalmu. Ia pasti cari cara apapun untuk mencari tahu tentangmu, hyeong.

            “Aish, kepalaku pusing. Kututup ya! Jangan lupa bereskan rumah!” Aku putus sambungan telepon sepihak. Kedua mataku terpejam setelah dengan sengaja mematikan ponsel lalu menaruhnya diatas nakas. Kepalaku benar pusing sekarang. Tidak bisakah Kim Hyera berhenti mengganggu hidupku? Aku sudah berhenti darinya, bahkan karena nya aku juga berhenti dari keluargaku sendiri.

“Perlu aku bawakan obat?” Tubuhku hampir melompat terkejut, sontak menoleh kearah Sam Rinhyo yang sedang berdiri tegak di ambang pintu.

“A—apa yang kau lakukan disana? Bagaimana bisa masuk kamar pria tanpa mengetuk pintu, huh?” Satu hal yang berada dipikiranku adalah, apa ia dengar soal Hyera? Rinhyo termasuk orang yang punya rasa ingin tahu cukup tinggi. Bukan aku tidak ingin terbuka soal Hyera jika gadis itu bertanya, hanya saja terlalu malas untuk menceritakan Kim Hyera. Aku juga bingung harus mulai dari mana.

“Aku sudah mengetuk pintu berkali – kali, karena tidak ada jawaban jadi aku masuk saja.”

“Kau, dengar sampai mana? Sejak kapan berdiri disana?”

“Dari kepalamu pusing. Wae? Ada hal yang harusnya tak kudengar?”

Syukurlah, aku bisa menurunkan bahuku dengan santai sekarang. “Tidak ada.”

Rinhyo mengangkat bahu asal, “Aku boleh masuk, kan?” Ia bertanya dengan malas. Oh Tuhan, bahkan aku lupa menyuruhnya masuk.

“Masuklah.”

Ia masuk, menaruh satu setel kaus polos putih dan celana petani ditepi ranjang. “Aku pinjam dari ahjussi samping panti, lebih baik pakai ini saat tidur dari pada pakai kemeja dan celana jeans.” Aku mengangguk dua kali, ternyata dia juga memikirkanku ya. “Kamar mandi itu rusak, jadi kalau butuh pergi ke kamar mandi di dapur saja. Kau tahu, kan?”

“Aku tahu.” Aku kulum senyum, dia terdengar seperti  seorang ibu.

Untuk sejenak, tak ada yang keluarkan suara. Dia masih duduk disamping ranjang, seperti ingin bicara. “Tadi, apa kau benar – benar pusing?” Ia bertanya dengan nada cepat, kedua matanya bergerak ke kanan lalu ke kiri. Tak melihatku sama sekali.

“Oh, ya. Tapi sekarang sudah tidak lagi.”

“Jonghyun menginap dirumahmu lagi, ya?”

Aku mengangkat alis bingung, “Dari mana kau tahu?”

“Hanya menebak, tadi kau bilang ‘jangan lupa bereskan rumah.’ Kau tinggal sendiri dirumah, dan Jonghyun seringkali menginap dirumahmu. Tidak mudah untuk menebak jika tadi kau bicara dengan Jonghyun.”

Rasa curigaku semakin besar pada gadis ini. “Kau saling kirim pesan dengan Jonghyun, ya? Sudah jujur saja! Dia minta nomormu, kan? Aish, bocah itu benar – benar!”

Ia hanya menatapku datar, beranjak dari tempat duduk. “Cepat tidurlah, penghangatnya sudah kunyalakan tadi jadi lebih baik kau lepas jaketmu sebelum kepanasan.”

“Mengalihkan pembicaraan lagi? Tch, padahal kau Cuma butuh jawab ya atau tidak.”

“Baiklah, iya! Dia minta nomorku waktu aku datang ke camp musikal untuk pertama kalinya.”

“Dan kau dengan mudah memberikannya?”

Rinhyo menganggukkan kepala polos. “Dia sudah baik menemaniku yang sendirian menunggumu muncul. Aku sangat berterima kasih padanya waktu itu, karena aku tidak suka menunggu sendirian.”

“Tapi tetap saja, tidak baik langsung memberikan nomor telepon pada orang yang baru dikenal.”

“Aku tahu, aku juga bukan orang yang suka memberi nomor teleponku pada sembarang orang. Memangnya apa sih masalahnya kalau aku saling kirim pesan dengan Jonghyun?”

Apa masalahnya? Aku mengulang pertanyaan Rinhyo dalam hati. Kuputar otakku untuk mencari jawaban terlogis, namun tidak ada jawaban apapun selain ‘karena, aku tidak suka’. Oh, jika saja aku menyuarakan jawaban itu pasti aku akan terlihat bodoh dihadapannya.

“Ini bukan masalah kau yang saling kirim pesan dengan Jonghyun. Aku hanya memberi nasihat kalau tidak baik memberikan nomor telepon pada orang asing, baru – baru ini banyak penyalahgunaan.”

Rinhyo menatapku cukup lama, dari wajahnya terlihat jelas bahwa ia kewalahan beradu cakap denganku. Maaf.

“Baiklah, aku terima nasihatmu dengan baik.” Ia berucap penuh paksaan. Berbalik, kemudian berjalan pergi dari jangkauan. Namun belum sempat ia menutup pintu, gerakannya terhenti. “Terima kasih.”

Aku angkat sebelah alis, “Untuk?”

“Menemaniku minum dirumahmu kemarin, menemaniku datang ke panti, menggendongku, membantu ibu menata makanan, dan membelikan anak – anak jajjangmyeon.” Kepalanya menyembul dari balik pintu, wajahnya terlihat penuh rasa bersalah. Apa perbuatanku malah membuatnya terbebani?

“Itu bukan apa – apa. Tapi, aku terima ucapan ‘terima kasih’ mu.” Senyuman lebarku kutunjukkan.

“Bagaimana caranya aku membalasmu? Kurasa hanya ‘terima kasih’ saja tidak akan cukup.” Sepertinya Rinhyo sangat terbebani olehku. Sungguh, aku hanya ingin membantu. Tidak punya niat sedikit pun untuk mendapatkan hal lain.

“Tidak perlu, aku melakukan semuanya tanpa minta balasan apapun.”

“Tapi aku yang tidak enak.”

“Kalau begitu,” aku mengulum tawa, sebenarnya jawaban ini mungkin akan terdengar sangat menggelikan. Tapi masa bodoh, hanya ini yang terpikirkan di benak. “Aku ingin kau tetap jadi teman terbaik untukku, dan begitu pun aku untukmu.”

Seperti dugaan, Rinhyo tertawa kecil kemudian mengulum tawanya cepat. Ia mengangguk dua kali dengan mantap, “Permintaan diterima.” Ia jawab tanpa ragu, lalu melambai sebelum menutup pintu.

Aku tersenyum kecil, sepertinya mulai dari malam ini aku dan Rinhyo akan lebih sering mengisi waktu bersama sebagai sepasang teman terbaik. Aku menantikannya.

 

***

 

Rinhyo

 

Minggu pagi di panti sungguh menakjubkan. Aku tak sabar segera menghirup udara segar diluar asrama. Baru saja selesai cuci muka, langsung aku berlari kecil keluar gedung. Di sambut oleh pemandangan indah gunung Jiri dan kabut khas lereng. Napas bumi yang kaya akan oksigen memasuki lubang hidung, menampar tubuh hingga beri reaksi segar. Hah, hidup begini terus pasti aku akan jauh dari penyakit.

Mengikat erat tali sepatu, aku mulai lakukan pemanasan didepan pintu asrama. Masih jam enam pagi, jadi aku tidak berharap banyak anak yang sudah berkumpul untuk bermain. Satu pun saja tidak ada, hanya aku seorang.

Selepas pemanasan, aku langsung berlari kecil keluar dari gerbang utama panti. Belok ke kanan, menyusuri jalan lurus dengan iringan persawahan tempo lariku semakin kupercepat. Mungkin aku hanya berputar sekali hingga melewati pos desa kemudian kembali lagi ke panti. Setidaknya jam tujuh pagi aku harus sudah sampai di panti, mandi, lalu membantu ibu siapkan sarapan.

“Oh!” senyum lebarku terulas ketika menemukan Yewon dan Jira didepan, mereka juga sedang berlari santai. Tak kusangka ada yang lebih pagi dariku. Tentang Yewon dan Jira, mereka sudah menghapus kesalah pahamannya. Semuanya sudah selesai tadi malam ketika mereka baru pulang dari kencan buta di Gwanghan-do. Dua gadis itu sudah tahu kebenarannya, dan kami bukanlah gadis abg yang suka lama bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini.

Good morning!” Aku mengisi sisi tengah yang kosong. Mereka terlihat terkejut dan mulai turunkan tempo berlarinya. Kami sudah ubah kegiatan berlari dengan berjalan sekarang.

Ya!” Jira menepuk lengan, tak terima karena kubuat kaget.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kalian suka berlari pagi bersama seperti ini. Biasanya masih tertidur di kamar.”

“Sebenarnya cuma aku yang suka lari pagi. Tapi hari ini tiba – tiba gadis ini ikut – ikutan.” Yewon menunjuk kesal Jira yang tengah meringis bocah. Aku mencium keanehan disini.

“Ada apa dengan ekspresimu, Han Jira!”

Decihan Yewon terdengar cukup keras, buat kepalaku spontan menoleh. Ia melirik Jira tak suka, “Pasangan kencan butanya yang menyuruh olahraga. Tch, sepertinya berhasil sampai di chat pagi sekali.”

“Kau tidak usah iri, Jang Yewon. Nanti pasti ada waktu untukmu.” Tawa Jira keluar. Aku bisa tebak kalau telinga Yewon semakin panas mendengar tawa Jira.

“Tenang saja, masih banyak pria di Korea Selatan. Kalau mau, aku bisa kenalkan temanku padamu.” Aku menawari dengan iseng.

Call! Aku tunggu janjimu.” Yewon berseru gembira, tak bisa sembunyikan senyum.

 

***

            Tubuhku seperti hidup kembali setelah diguyur oleh air dingin. Aku baru saja ganti baju, dengan terpaksa memakai gaun pendek selutut berwarna peach yang dikasih Changwook. Kemarin sebelum datang ke camp untuk menjemput Kyuhyun, sengaja aku mampir ke tempat penjual baju untuk beli celana skinny jeans dan kemeja polos warna abu – abu tua. Tidak ada alasan signifikan, hanya terasa aneh jika menemui Kyuhyun dengan seutas sweet dress.

“Dapat dari mana baju itu? Kau sudah punya niatan tidur sini sampai bawa baju ganti?” Soojung muncul dari balik pintu kamar. Satu kamar diisi dengan dua orang, karena dulu aku sekamar dengan Soojung jadi sekarang gadis itu hanya menempati kamar ini seorang diri.

“Tidak seperti itu, kebetulan saja ada kemarin aku bawa ditas. Ya, sepertinya tadi malam aku sudah ditakdirkan menginap disini.”

Soojung hanya mengangguk sekadar. Ia sibuk mematut diri dicermin, mengumpulkan rambutnya jadi satu lalu menggeleng. Mengurainya lagi sambil merapikan gaun santai selutut warna merah maroon. Tidak terlalu terlihat feminin sih kalau yang pakai Shin Soojung. Oh tunggu, seorang Shin Soojung pakai gaun?

“Ah ya! Tentang kekasihmu itu, dia datang hari ini kan?” Kemarin malam sebelum tidur aku ingat bertanya pada Soojung tentang kekasihnya. Dia bilang aku akan terkejut setengah mati saat bertemu dengan kekasihnya, gadis ini suka beri spoiler yang berhasil membuat orang penasaran.

Senyum misterius Soojung terulas, “Sudah satu bulan aku tidak bertemu, kau bersiaplah.”

“Tch, tak heran kau jadi pakai gaun di hari minggu. Tapi, tidak bisakah katakan saja siapa dia? Aku penasaran, sungguh.”

Jari telunjuk Soojung bergerak ke kanan dan ke kiri. “Nanti jadi tidak seru.”

“Memang aku mengenalnya?”

“Tentu saja.”

“Aish, jawabanmu semakin membuatku penasaran.”

“Salahmu sendiri bertanya.” Jawabannya selalu mengesalkan, tapi sialnya juga tidak pernah salah. Ia pintar buat orang diam tak bisa bicara lagi.

Suara deru mobil yang di ikuti dengan klakson terdengar dari luar asrama. Senyum Soojung semakin merekah lebar, “Sepertinya dia sudah datang. Ayo keluar.”

Tanpa menunggu Soojung keluar duluan, aku sudah ambil gerak cepat. Tak sabar melihat seperti apa paras pacar Soojung, apalagi kata gadis itu dia adalah orang yang ku kenal juga.

Satu hal yang jadi pusat perhatianku adalah, sebuah mobil hitam yang terparkir di depan rumah bersama. Mobil itu dikelilingi oleh anak – anak kecil. Seorang pria keluar dari sana, ia pakai kemeja hitam dan celana coklat muda. Pawainya terlihat begitu elegan. Seperti dari keluarga kaya.

Dari sini tidak terlalu terlihat jelas, pria itu kini buka bagasi mobil. Mengeluarkan mainan – mainan baru untuk anak – anak.

“Untuk apa berdiri disini?” Aku menoleh kearah Soojung, gadis itu menarik lenganku agar segera mendekat kearah sang pemilik mobil alias kekasih Shin Soojung.

Ekspresi pertama yang kutunjukkan hanyalah kernyitan dahi. Namun ketika jarak kami sudah sangat dekat, ditambah senyuman pria itu yang terlihat begitu familiar. Bibir dan kedua mataku sontak melebar tak percaya, “Choi Minho? Mi—minho oppa?”

Soojung melepas genggamannya. Berdiri disampingku dengan anggukan kuat, “Terkejut, kan? Aku juga terkejut dulu bisa memulai hubungan dengan pria ini.”

Choi Minho bisa digambarkan hanya dengan dua kata untukku, yaitu First Love. Dia adalah laki – laki yang selalu datang saat malam natal dan malam tahun baru dengan banyak hadiah. Laki – laki yang sudah seperti pangeran tanpa kuda putih dalam hidupku. Laki – laki yang selalu duduk di baris paling depan ketika aku dan Soojung tampil. Laki – laki yang kini sudah jadi pria sejati, prianya Soojung.

“Shin Soojung! Kau hutang cerita padaku.” Aku bisa lihat Soojung mengulum tawa melihat ekspresiku. Bukannya aku tidak senang, ekspresiku pasti seperti orang bodoh sekarang. Apa rasanya tidak sangat aneh ketika temanmu berpacaran dengan cinta pertamamu?

Anak – anak sudah masuk kedalam rumah bersama untuk sarapan, karena ibu panti sudah berteriak dari dalam sana. Aku lihat di ambang pintu rumah bersama, disana juga ada Kyuhyun yang pakai baju kemarin. Sepertinya ia sudah terjaga sejak pagi tadi terlihat kalau ia juga sudah membersihkan diri. Oh, apa dia bantu ibu lagi?

“Aku akan cerita. Ayo kita sarapan bersama, ajak Kyuhyun juga. Kami tunggu di joglo dekat kebun belakang.” Aku alihkan pandang pada Soojung, mengangguk sekali. Baru sadar kalau aku melupakan rasa tercengangku akan kedatangan Choi Minho.

 

***

Kyuhyun

 

Pagi ini aku bangun jam tujuh pagi. Langsung mandi kemudian membantu ibu panti menyiapkan sarapan. Tak kusangka hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk siapkan semuanya. Sisanya aku pilih menyiapkan meja, begitu pun ibu panti.

“Hari ini hari spesial, jadi tidak usah masak banyak – banyak. Ada orang lain yang bawa makanan.” Ibu panti membuka pembicaraan disela menatap mangkuk diatas meja makan.

“Hari spesial apa memangnya?”

“Kekasih Soojung akan datang. Dia adalah penyumbang tetap di panti ini, sejak kecil selalu main kesini. Sudah seperti keluarga.”

Aku tersenyum kecil, “Soojung pintar mencari kekasih.”

Ibu panti balas dengan kekehan, membenarkan ucapanku. “Tapi, kau dan Rinhyo. Apa benar tidak ada apa – apa?”

Nde?” Aku menghentikkan kegiatan sejenak. Menatap ibu yang tengah tersenyum tipis.

“Sam Rinhyo, meski dia diadopsi oleh keluarga kaya raya tapi hidupnya tidak sebahagia itu. Ia sering menutup diri dari orang lain, sejak dulu ia tak punya teman dekat selain Shin Soojung, Yewon, Jira dan Jungin. Apalagi teman pria.”

Ibu panti sepertinya sangat menyayangi Rinhyo seperti anak sendiri. Terlihat jelas dari bagaimana raut wajahnya yang sedikit cemas karena sikap Sam Rinhyo. “Ibu tidak usah khawatir. Sam Rinhyo sekarang sudah bisa bersosialisasi dengan baik, kok. Bahkan ia adalah ketua badan eksekutif mahasiswa di kampus.”

“Benarkah? Baguslah kalau begitu.” Senyum ibu terulas penuh dengan rasa lega. “Kuharap kau jaga dia baik – baik, sepertinya ia sangat nyaman berada disekitarmu.”

Aku mengangguk, “Aku tidak akan mengecewakan ibu. Dia orang yang sangat penting untukku, jadi akan kujaga baik – baik.”

“Rinhyo beruntung punya teman sebaik dirimu.” Aku hanya balas dengan senyuman kecil, kembali melanjutkan kegiatanku yang hampir selesai. Deru mobil dan klakson yang bunyi dua kali buat ibu menoleh kearah pintu. Gerakannya semakin ia percepat, “Ayo keluar. Sepertinya ia sudah datang.”

Kedua kaki ibu panti melangkah tak sabar keluar melewati pintu utama rumah bersama. Aku tersenyum kecil, dalam hati membayangkan bahwa Soojung dan pacarnya itu pasti akan menikah nanti. Aku menyelesaikan satu tatanan piring terakhir, lalu beranjak menghampiri ibu yang masih berdiri diambang pintu tanpa berucap apapun.

Sebuah mobil sedan hitam dengan segudang mainan di bagasi menyambut. Satu orang pria bertubuh tinggi semampai, terlihat penuh suka cita membagikan mainan. Sekitar beberapa detik berlalu, ia menoleh kearah ibu. Tersenyum lebar sambil melambaikan tangan ceria. Kemudian menunduk sopan ketika tatap matanya beralih padaku.

Aigoo, lihat bocah itu.” Aku bisa dengar gumaman ibu, kepalaku menoleh padanya. Dan saat itu pula, bisa kulihat Sam Rinhyo dan Shin Soojung yang sedang bercakap sebentar. Tunggu, apa gadis itu pakai gaun? Dari mana ia dapatkan itu?

Apa gaun peach itu punya kekuatan magis? Sejak awal kulihat, aku tidak bisa mengalihkan pandang dari mana pun lagi. Aku tak tahu seberapa lama tatap mataku memaku sosok Rinhyo yang berdiri disamping mobil hitam. Suara ibu yang menyuruh anak – anak masuk untuk sarapan terdengar samar, segala fokusku hanya tertumpuk pada Sam Rinhyo.

Tubuhku semakin beku ketika ia menatapku, itu artinya yang punya kekuatan magis bukanlah gaunnya. Gaun itu hanya memperindah sosok Sam Rinhyo yang punya tubuh kecil, mata besar dan bibir kecil. Tak sadar akan jalannya waktu, tetiba ia sudah berada dihadapanku. Melambaikan telapak tangan tepat didepan wajah, kedua matanya menatapku bingung. “Hei, kau tak apa?”

Aku tersadar. Rasanya seperti ada orang yang bunyikan gong tepat disamping telinga. Tak bisa kutampik kalau jantungku berdetak cepat, segera aku menguasai kontrol diri. Meneguk ludah pun sungguh sulit. Oh, ada apa denganmu Cho Kyuhyun!

“Uh? Apa? Aku kenapa?” Rinhyo kernyitkan dahi, dilihat dari mana pun pasti tingkah laku ku tak normal sama sekali.

“Kau tadi diam seperti patung bodoh.”

“Apa iya?”

“Kau masih belum benar – benar bangun tidur, ya?”

“Hm, ya begitulah. Hanya sedikit lelah.”

Rinhyo mengibaskan sebelah tangan santai, “Sudahlah. Ayo pergi ke joglo. Soojung ajak kita sarapan bersama kekasihnya.”

Aku mengangguk sekali, ikuti langkah kaki Rinhyo yang bawa ke arah belakang rumah bersama. Dalam tiap langkah, berkali – kali aku coba menenangkan detak jantung dan kembalikan fokus otak agar bisa berfungsi seperti biasa.

 

***

 

“Woah, sudah lama sekali ya.”

Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan situasi ini. Tapi sungguh, rasanya aneh sekali. Sejak tadi Sam Rinhyo seperti bingung merangkai kata dalam otak, Shin Soojung tersenyum aneh, sedangkan pria disamping Soojung menatap Rinhyo layaknya baru menemukan adik kandungnya setelah beberapa tahun hilang.

Sam Rinhyo hanya tersenyum kecil, terlihat sekali kalau dipaksakan. “Ya, sudah lama sekali.” Suara Rinhyo nyaris seperti suara kucing yang minta keluar dari kandang.

“Ah ya, dia Cho Kyuhyun. Teman Rinhyo.” Aku menunduk ke arah pria itu ketika Soojung menyebut namaku. Pria itu tersenyum manis, sungguh pria ini sangat ramah. Berbeda jauh dari kesan pertamaku ketika bertemu Soojung.

“Saya Choi Minho.” Entah mengapa nama itu seperti familiar di telinga. Tidak mau pikirkan lagi, aku hanya melempar senyum. Kembali ku lirik Rinhyo, gadis itu terlihat masih begitu bingung. Ada apa sih dengan gadis ini?

“Tidak usah pakai bahasa formal. Bicara dengan nyaman saja.”

Minho tersenyum lebar, menerima permintaanku. “Baiklah, kalau begitu.”

“Sepertinya kalian teman yang sangat dekat ya. Ini pertama kalinya sejak tujuh tahun yang lalu Rinhyo datang kesini, apalagi membawa seorang teman. Oh, apa tidak hanya seorang teman?” Minho menatap curiga padaku dan Rinhyo bergantian. Ia mengulum tawa ketika sebelah tangan Rinhyo terangkat menyuruhnya diam.

“Kami hanya teman.” Aku menjawab sekadar. Berapa kali aku harus men-konfirmasi hubungan ini, huh? Apa aku dan Rinhyo memang terlihat seperti lebih dari teman? Oh Tuhan.

“Mereka hanya teman. Ya, teman yang… bagaimana ya? Pokoknya teman yang seperti bukan teman. Kau tahu lah,” Soojung menambahi jawabanku pada Minho dengan tatap jahil yang sesekali melirik padaku. Sedangkan Minho terlihat semakin mengerahkan segala cara untuk menahan tawanya. Dia terlihat bahagia kalau aku dan Rinhyo benar – benar menjalin hubungan yang seperti itu, sama seperti Shin Soojung.

“Shin Soojung!” Rinhyo membantah.

“Oke, oke. Kalian bukanlah sepasang kekasih. Lebih baik sekarang kita makan, ya.” Minho menengahi, mulai buka kotak – kotak makanan yang sudah siap diatas alas joglo. Hanya sarapan sederhana, seperti sandwich dan salad. Kami sudah layak disebut sebagai sekelompok orang yang gelar piknik. Pemandangan dan udara disini sangat cocok, serta kebun belakang yang sangat mendukung.

“Dia siapa? Kau kenal dekat dengannya?” Ku buat kesempatan untuk berbisik pada Rinhyo ketika Minho dan Soojung sedang mengobrol bersama. Rinhyo yang masih asik dengan makanannya tak terlalu tertarik untuk menjawab, ia memasukkan potongan sandwich kedalam mulut kasar.

“Laki – laki yang suka bawa hadiah saat malam natal dan tahun baru.”

Alisku terangkat, berpikir sejenak kemudian melebarkan kedua mata ketika menyadari sesuatu. “Pangeran kiriman Tuhan dari langit?”

“Kalian bicara apa? Pangeran kiriman Tuhan?” Tubuhku tersentak, segera menoleh ke arah Minho yang tengah menatapku dan Rinhyo bergantian. Sesekali kulirik Rinhyo, wajah gadis itu benar – benar memerah dan tegang.

Aku tertawa kecil, “Kami hanya bicara tentang film kartun barbie yang kemarin kami lihat. Bukankah kemarin itu sangat menyenangkan?” Siku ku sengaja menyenggol lengan Rinhyo. Gadis itu tersenyum lebar sambil mengangguk sebagai jawaban.

“Oh! Ada apa ini?” Soojung berceletuk, “Kau dan Kyuhyun sudah  sampai menonoton film bersama? Apalagi film barbie, kau kan tidak suka film barbie sejak sekolah menengah pertama.”

Kepalaku sontak menoleh ke arah Rinhyo, gadis itu mengeratkan gigi menahan kesal. Sungguh, setelah sarapan ini selesai pasti ia akan marah besar padaku. “Minho-ssi, ngomong – ngomong apa kau seorang mahasiswa?” aku melontarkan pertanyaan tiba – tiba demi mengalihkan obrolan.

“Ah, aku sudah lulus sekitar satu setengah tahun yang lalu. Belum meneruskan sampai magister sih.” Diam – diam ku hela napas lega, pagi ini akan jadi pagi ku dan Choi Minho untuk saling mengenal satu sama lain. Senyum samarku terulas, temanku kembali bertambah satu lagi.

 

***

 

Author

 

Rinhyo dan Kyuhyun kini berada di dalam bus. Mereka sudah selesai berpamitan pada ibu panti dan Soojung. Rinhyo hanya bisa titip salam pada Yewon dan Jira, karena mereka masih sibuk pergi les. Choi Minho masih tinggal di panti, mungkin pria itu akan menginap sampai esok hari. Sedangkan Soojung, katanya ia akan pergi ke Seoul minggu depan. Rinhyo benar – benar menantikan hari itu akan datang.

“Kau masih menyukai Choi Minho?” pertanyaan tiba – tiba dari Kyuhyun membuat Rinhyo menatap pria itu dengan alis mengerut.

“Kenapa tanya seperti itu? tentu tidak lah.”

Kyuhyun mengangkat bahu asal, “Cara melihatmu pada Soojung dan Minho berbeda. Jadi kupikir kau masih menyukainya.”

“Ya, kau tahu lah, bayangkan saja jika sahabatmu yang sudah kau kenal bertahun – tahun sekarang berpacaran dengan cinta pertamamu. Tidakkah itu sedikit aneh? Tadi aku hanya tidak bisa percaya, tapi sekarang sudah biasa. Mereka sangat cocok bersama.”

“Hm, ya, kau benar. Bagaimana pun Choi Minho adalah cinta pertamamu.” Kyuhyun menjawab acuh tak acuh, ia sempat lupa kalau Choi Minho adalah cinta pertama Sam Rinhyo. Sejak tadi ia hanya berpikir tentang perasaan Rinhyo pada Minho yang sebenarnya. Entah karena apa ia jadi sangat penasaran dengan hal itu.

Kyuhyun merogoh saku jaket ketika mengingat sesuatu. Ia memberikan ponsel warna hitam milik Rinhyo yang sejak kemarin ia bawa pada sang pemilik. “Seharusnya kemarin langsung ku berikan. Tadi pagi sekali Ji Changwook telepon.”

Rinhyo mengambil ponselnya, memeriksa panggilan tak terjawab dari Changwook dan pesan – pesan belum terbaca sambil berucap “Tidak apa. Lagipula aku benar – benar lupa kalau tidak bawa ponsel.”

Hanya satu anggukkan yang Kyuhyun lakukan sebagai jawaban. Diam – diam ia bisa lihat pesan yang ditinggalkan Ji Changwook di kotak masuk, intinya pria itu menanyakan kabar Rinhyo karena ini pertama kalinya Rinhyo menginap di luar rumah. “Jawab saja yang sejujurnya, bilang pada Changwook kalau kau tidak menginap di rumah Sunyoung.”

Rinhyo menoleh sinis, “Tidak sopan melihat privasi orang lain.”

Kyuhyun mengangkat bahu iseng, “Sayangnya aku sudah terlanjur masuk terlalu jauh ke dalam privasimu.” Rinhyo menghela napas panjang, kalau di pikir – pikir Kyuhyun benar juga.

“Changwook oppa adalah pria yang sangat baik. Aku sudah jujur kalau aku tidak menyukainya, tapi ia tetap tulus dan menunggu. Sebenarnya, terkadang aku merasa berat kalau harus bohong pada Changwook oppa.”

“Kalau memang ingin jujur, jelaskan saja padanya. Untuk apa terus menerus bohong dan menyiksa diri?”

“Tidak bisa. Jika aku mengatakan yang sebenarnya, bagaimana reaksi Changwook oppa nanti? Ia pasti langsung tidak akan mau menerimaku.”

Sesaat, Kyuhyun tersentak dengan ucapan Rinhyo. Entah kenapa ada bagian dari hatinya yang terasa sangat berat. “Jadi, kau berharap dia akan menerimamu?”

Rinhyo sontak menatap Kyuhyun, kedua pasang mata mereka bertemu. Kyuhyun benar – benar menanti jawaban tidak dari bibir Rinhyo. “Aku tidak tahu. Tapi, yang aku tahu, bagaimana pun aku tidak bisa menghindari sebuah pernikahan yang sudah dirancang oleh orang tua kami. Jadi tentu aku harus berusaha agar ia dapat menerimaku.”

Dada Kyuhyun semakin di penuhi oleh rasa sesak ketika kata Rinhyo mengungkit masalah pernikahan, ia juga tidak tahu mengapa. Yang jelas ia sangat tidak suka dengan kalimat Sam Rinhyo. “Sebuah pernikahan, bagaimana pun akan sempurna jika diisi dengan cinta. Kalau kau tidak menyukainya, untuk apa kau berusaha?”

“Pernikahan kami masih lama. Hingga waktunya tiba, aku tidak akan pernah tahu akan seperti apa perasaanku nantinya. Tidak menutup kemungkinan aku bisa mencintainya nanti.”

Lidah Kyuhyun kelu. Ia hanya bisa menatap kedua mata Rinhyo tanpa kata. Perasaan takutnya tiba – tiba menggerogoti, entah kenapa ia takut kalau ucapan Rinhyo benar – benar terjadi. Tanpa sadar lidah kelunya mengucapkan satu kalimat tanya, “Bisakah kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi?”

 

TBC-

Advertisements

10 thoughts on “Doll 7

  1. Dapat terbayang betapa sesaknya hidup rinhyo..
    Benar benar hidup dalam sangkar emas. Hidup mewah tapi tidak bebas pergerakannya.
    Oh tadi diulas soal kyuhyun berhenti dari keluarganya. Artinya kyu keluar dari garis keluarga besar kan. Waah dia pasti dari keluarga caebol juga, makanya di paham dengan hidup rinhyo.

  2. entahlah ini kyuhyun rinhyo…. udah terlanjur nyaman satu sama lain jd serba salah begini tapiiii rinhyo gada ngasih tanda2 kalo dia tertarik sama kyuhyun kaya kyuhyyn gitu huhu itu endingnya kaya gitu lagi duh bakal gimana rinhyo pasti bingung kenapa kyuhyun ngomong kaya gitu hahaha

  3. Aku kok ngakak yha 😂 banyak sekali momen LOL di sini wkwkwk opo meneh sing pas Shin Soojung nggawe gaun dan menata rambut hanya untuk Choi Minho aigo debak sagon maksimal sampai aku ngakak temenan aigo nuguya jinja 😂 lalu pas cho kyuhyun terpesona melihat sam rinhyo memakai dress sehingga telinganya hampir tuli itu aigo aku ngakak juga membayangkan dia terpaku dengan rambut berkibar tertiup angin ala india begitu 😂 btw terimakasih di sini banyak sekali tulisan shin soojung-choi minho nya saya jadi senang dan btw, Hyo, semoga kamu terhibur dan enggak gilo ya sama komen panjang nan aLAY ini kekekekeke ROTFL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s