Espresso 11 – END

es

ESPRESSO 11

***

            Kyuhyun menghentikkan langkah didepan sebuah sel tahanan sementara dalam kantor kepolisian pusat kota. Kedua mata dinginnya beradu tatap dengan Park Jaebum yang tengah melayangkan senyuman kecil, melambai sedikit untuk memberi sapaan ringan. Kepal tangan Kyuhyun seperti sedang melempar batu di permainan batu-gunting-kertas disisi tubuh. Rahangnya mengeras bersama dada yang panas dibara emosi.

“Jadi kau?” tanpa harus bertanya terlebih dahulu, Kyuhyun bisa menebak siapa pria ini. Park Jaebum. Pria sialan yang sudah memberi sakit pada istrinya, tidak hanya satu kali melainkan dua kali. Dan sialnya lagi, yang ia beri adalah kesakitan luar biasa.

“Hai, Cho Kyuhyun! Ternyata kau sudah mengenalku. Ah, pasti istrimu tersayang itu kan yang bercerita?” Jaebum terkekeh pelan. “Seharusnya ia tidak perlu memberi tahu tentang cinta pertama pada suaminya.” Lanjutnya tanpa beban.

“Kau masih bisa bicara?” Kyuhyun coba rendahkan emosinya sebisa mungkin. Meskipun rasanya ingin membuka sel itu lalu memukul wajah Jaebum hingga tewas.

Wae? Kenapa kau jadi kaku begini? Sudahlah, sekarang lebih baik kau bilang saja pada polisi kalau aku tidak bersalah. Kau mungkin sudah dengar, aku suruhan Kim Hyera. Dia melakukan ini untuk kembali padamu, kau tahu kan bagaimana dia sangat mencintaimu.” Jaebum tersenyum lagi, seolah menganggap Kyuhyun sebagai rekan.

“Tch, cinta pantatmu!” Umpatan itu akhirnya keluar, hampir saja tangannya melayang jika seorang polisi tidak menepuk pundak. Ia berbalik, wajahnya masih sama seperti tadi. “Wae?

Polisi itu menunduk sekadar, “Apa anda suami nyonya Sam Rinhyo?”

Ne.

“Bisa ikut saya sebentar, anda harus mengisi data sebagai wali.” Kyuhyun melirik Jaebum sebentar, kemudian mengikuti langkah si polisi untuk duduk dihadapan mejanya.

Polisi berambut cepak itu memberi sebuah bolpoin dan secarik kertas. Dengan segera Kyuhyun menyambar bolpoin, namun sebelum menulis ia sempat berucap

“Pria itu, Park Jaebum. Dia adalah seorang pembunuh dan sudah memperkosa istriku sekitar 10 tahun yang lalu. Kau harus memberinya hukuman seberat mungkin. Harus.”

***

“Kau sudah bangun?”

Wajah bulat Song Joongki menyapa penglihatan Rinhyo sesaat setelah ia membuka mata. Baru saja ia mimpi menggendong bayi dibalkon rumah, ada ibu disampingnya, dan ayahnya tersenyum manis. Mimpi itu sangat menyenangkan hingga ia tidak ingin bangun lagi. Namun ia akhirnya bangun, dengan disambut kenyataan pahit bahwa mimpi itu tidaklah terjadi.

“Rinhyo-ah, bisa dengar suaraku?”

Sam Rinhyo tersenyum kecil, “Song Joongki, aku bisa dengar suara temanku paling tampan ini.” Ujarnya disertai sedikit gurauan.

“Syukurlah.” Joongki membalas senyum Rinhyo. Mengusap peluh didahi Rinhyo dengan punggung tangan pelan – pelan. Sedangkan Rinhyo sibuk mengedarkan pandangan, mencari seseorang yang sejak tadi ia panggil didalam hati. “Cho Kyuhyun pergi ke kantor polisi pusat kota.”

Alis Rinhyo bertautan, “Untuk ap—ah, iya. Benar.”

“Kau,” Joongki menghela napas panjang sebelum meneruskan, “Baik – baik saja?”

Rinhyo diam untuk beberapa saat. “Sekarang, rasanya aku ingin membenci diriku sendiri.” Ia kulum bibir kuat, kedua matanya berair. “Aku… bahkan tidak tahu kehadirannya. Bagaimana jika Kyuhyun tahu?”

Joongki mengulas senyuman kecil. “Ini bukan salahmu, dan Kyuhyun pasti bisa mengerti.” Ia genggam tangan Rinhyo sebagai dorongan positif.

Wajah pucat Rinhyo yang sendu semakin memperlihatkan beban. Ia punya pikiran jika apa yang dikatakan Joongki akan berbanding terbalik dengan kenyataannya nanti. Biasanya orang hanya memberi jawaban yang ingin ia dengar, bukan yang sebenarnya.

“Aku minta maaf tidak memberi tahu tentang Jaebum padamu sejak awal.”

“Maksudmu?”

Joongki menghela napas berat, “sebenarnya Jaebum sudah sering memberiku teror berupa pesan, dan bahkan kami sudah bertemu. Ia memberiku ancaman. Tapi aku tidak memberi tahumu karena aku tidak ingin mengganggu acaramu dengan Kyuhyun. Aku benar – benar tidak ada maksud lain selain itu, bahkan aku tidak tahu rencana Jaebum. Aku baru tahu Jaebum berada di Jeju tadi pagi dan—“

“Tak masalah. Semuanya sudah terjadi. Tapi lain kali tidak usah pikir dua kali untuk memberitahu apapun padaku, eo?”

“Ya, pasti.” Joongki memberi keyakinan pada Rinhyo. Sedikit terkejut karena Rinhyo tidak mempermasalahkan hal ini sama sekali. Ia lebih tenang dari yang ia bayangkan.

“Aku ingin mie kerang.” Rinhyo berceletuk. Tiba – tiba ingat mi kerang yang di sediakan kedai seafood dekat rumah. Kedai yang ia dan Kyuhyun kunjungi ketika selesai mengunjungi gunung Halla. Bukan restoran mewah yang luas, hanya kedai kecil dengan pelayanan seadanya dari nenek pembuat makanan enak.

Alis Joongki terangkat. “Kenapa tiba – tiba?”

“Entahlah, tiba – tiba ingat mi kerang di kedai dekat rumah. Ketika kau meninggalkanku di vila, siangnya aku pergi ke gunung Halla bersama Cho Kyuhyun sampai petang. Malamnya kami makan di kedai itu. kapan – kapan kita harus kesana, Joongki-ah. Disana makanannya enak semua!”

Rinhyo berceloteh layaknya anak kelas satu SD yang sedang menceritakan hari pertama di sekolah. Senyuman kecil Rinhyo yang selalu menghiasi wajah, di tambah binar mata penuh semangat gadis itu mengingatkannya pada Sam Rinhyo bertahun – tahun yang lalu. Sam Rinhyo yang sangat ia rindukan.

“Kita harus kesana bersama setelah kau keluar dari sini. Ucapan gadis pemilih makanan sepertimu pasti tidak akan salah, iya kan?” Kekehan Rinhyo terdengar. Joongki tidak tahu harus bereaksi seperti apa kecuali hanya tersenyum simpul. Meski ia sangat bahagia saat ini, tapi satu hal yang ia khawatirkan adalah sikap tenang Rinhyo.

Decit pintu yang di ekori suara hentakan kaki membuat fokus sepasang sahabat itu beralih pada asal suara. Raut wajah Rinhyo seketika berubah drastis ketika melihat siapa si pembuat suara. Dadanya sesak tak karuan, dan kedua matanya berair tanpa sadar.

Kyuhyun, si pembuat suara gaduh itu. Ia pun membeku di tempatnya. Menatap Rinhyo nanar dengan ekspresi sulit untuk di artikan. Kedua telapak tangannya mengepal berusaha menghancurkan rasa bersalah yang sampai sekarang masih menggantung di hati. Tapi ia gagal, kini ia hanya bisa berharap lantai yang ia pijaki menyedotnya hingga ke perut bumi. Ingin sekali bersembunyi dari hadapan Sam Rinhyo. Ia malu karena kebodohannya.

“Cho Kyuhyun,” suara Joongki memecah keheningan secara sengaja. Pria berwajah awet muda itu melambai, menyuruh Kyuhyun mendekat. “Kau jaga Rinhyo disini, aku mau beli mi kerang.” Ia melanjutkan sebelum beranjak dari kursi.

Dengan terpaksa Kyuhyun menyeret langkah, diam – diam ia meneguk ludah yang tiba – tiba terasa pahit secara magis. Joongki mendudukannya di atas kursi penuh paksaan, kemudian menatap Rinhyo, “Aku pergi dulu.” Ia berucap.

Kini tinggal Kyuhyun dan Rinhyo di dalam ruangan. Hanya suara napas dan desis mesin AC yang terdengar. Keduanya sulit untuk sekadar merangkai kalimat yang hendak di lontarkan.

“Seharusnya aku menjaganya dengan baik, maaf.” Rinhyo akhirnya berujar. Ia tidak berani menatap Kyuhyun, kepalanya terus tertunduk sementara Kyuhyun menggeleng berkali – kali. Ia ingin berkata ‘kau tidak salah’ saja sangat sulit, otaknya sedang digandrungi pikiran rumit saat ini. Ia tidak bisa benar – benar berpikir dengan baik.

“Jika saja aku benar – benar menantikan kehadirannya, pasti aku sudah menyadari dari awal kalau dia ada. Tuhan pasti marah pada wanita tidak tahu diri sepertiku. Kini aku kehilangannya, dan sungguh, aku sangat sangat menyesal. Aku minta maaf.”

Setiap kalimat yang keluar dari bibir Rinhyo berdampak tidak baik oleh kedua mata Kyuhyun. Mata pria itu semakin berair. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Hyo!” pria itu menahan perasaan kalutnya dengan suara penuh tekanan. Ia menggenggam erat sebelah tangan dingin istrinya sambil berucap dengan irama penuh ketenangan, “Kau tidak salah.”

Tubuh Rinhyo semakin naik turun karena isakan. Kyuhyun sontak memeluk tubuh kecil itu, membawa air mata Rinhyo kedalam dekap dadanya. Tangan kanannya mengelus punggung Rinhyo sebagai bentuk dukungan. “Seharusnya aku tahu kalau itu hanya jebakan Nam Joohyuk, dan seharusnya aku tidak melanggar perintah Joongki yang menyuruhku untuk terus berada di sampingmu apapun yang terjadi. Semuanya terjadi di luar kendali kita. Kau merasa bersalah, dan begitu pun aku. Jadi lebih baik kita lupakan saja semua ini dan mari kita buka lembaran baru.” Kyuhyun berucap hampir berbisik. Ia hanya ingin Rinhyo tahu, kalau apa yang terjadi hari ini sudah terjadi. Ia ingin Rinhyo melupakannya.

Rinhyo tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukan Kyuhyun dengan kedua tangannya. Semakin menyeruakkan kepala kedalam dekap suaminya sambil berujar, “Aku tidak tahu pantas atau tidak mengatakan hal ini di situasi seperti ini. Tapi aku hanya ingin tahu, kalau kau adalah pria yang sangat penting dalam hidupku. Aku mencintaimu, Cho Kyuhyun.”

Degup jantung Kyuhyun berdegup tak terkendali. Ia mengecup puncak kepala Rinhyo kemudian menjawab, “Kau tahu jika aku juga.”

***

SEOUL

Sudah sejak dua hari yang lalu Rinhyo akhirnya keluar dari kamar rawat inap setelah dirawat disana selama dua minggu. Mereka bersepakat untuk tidak membuat orang tua khawatir dengan cara menyimpan berita ini rapat – rapat. Tapi apa daya ketika media sudah bermain di dalamnya. Perseteruan antara perusahaan milik ayah Kyuhyun dan Taesan sudah layak jadi berita utama di koran dan televisi. Mereka menganggap masalah orang sangat menarik sampai rela memajang berita hingga tiga hari berturut – turut. Tentu setelah mendengar itu, baik orang tua Kyuhyun mau pun Rinhyo datang ke Jeju. Mereka mengeluarkan ultimatum agar Kyuhyun dan Rinhyo pulang ke Seoul setelah Rinhyo keluar dari rumah sakit.

Tangan Kyuhyun tak mau melepaskan tangan Rinhyo barang sebentar saja. Seperti sekarang, kedua tangan mereka masih bertautan satu sama lain meski berada di dalam mobil pribadi yang menjemput di bandara Gimpo tadi.

“Sebelumnya aku tidak pernah peduli dengan pandangan orang tuamu padaku. Tapi entah kenapa sekarang rasanya mendebarkan sekali.” Rinhyo berkomentar. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Kyuhyun sekarang.

Senyum tipis milik Kyuhyun terulas, ibu jarinya sesekali mengelus punggung tangan Rinhyo penuh cinta. “Ibu dan ayahku selalu menyukaimu. Dari awal sampai sekarang pun pasti akan selalu menyukaimu.”

Rinhyo akhirnya bisa mengulas senyum setelah mendengar kalimat Kyuhyun. Gadis itu merenggangkan genggaman Kyuhyun dengan sengaja, kemudian menautkan jemari mereka menjadi satu. Tanpa ragu kini ia bisa menaruh kepalanya di atas bahu suaminya, dan Kyuhyun pun akan selalu siap sedia menurunkan sedikit tubuhnya agar kepala Rinhyo bisa mendarat disana. Meskipun melelahkan, tapi sungguh, Kyuhyun bahagia. Mereka bahagia.

***

            Rinhyo dikejutkan oleh kedatangan orang tuanya di kediaman keluarga Kyuhyun. Kakak perempuan Kyuhyun yang jarang pulang dari Eropa pun datang bersama suaminya. Mereka berkumpul di ruang tengah menunggu kedatangan anak dan menantunya. Suasananya begitu dingin tanpa ada satu pun yang bicara. Bahkan mereka baru bergerak setelah mendengar suara langkah kaki Kyuhyun dan Rinhyo.

Ibu Rinhyo yang punya ekspresi paling khawatir segera beranjak dari tempat duduknya. Berjalan cepat menghampiri Rinhyo kemudian menyentuh rupa putri satu – satunya itu dengan senyum getir, “Aku sudah tidak apa – apa, bu.” Rinhyo membalas senyum ibunya dengan ucapan santai. Ia tidak suka melihat ibunya khawatir berlebihan seperti ini.

“Kalian duduklah disini.” Kini suara tegas Tuan Sam kembali memecahkan keheningan. Kyuhyun dan Rinhyo duduk di tempat yang sengaja sudah di kosongkan sejak awal.

Tuan Sam melirik pada taut tangan Kyuhyun dan Rinhyo yang begitu erat. Sementara Kyuhyun mengumpulkan banyak oksigen dalam paru – paru, bersiap untuk bicara. “Ayah, ibu, abonim dan eomonim, aku sangat menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Masalah Taesan, Nam Joohyuk dan Kim Hyera, aku akan menjelaskan semuanya dari awal.”

“Tidak perlu.” Tuan Cho bertukas. Pria berwajah tegas itu menghela napas pelan, “Kami semua sudah tahu apa masalahnya dari dokter Song.”

Rinhyo mengangkat alis ketika mendengar nama sahabatnya di sebut – sebut. Diam – diam ia bisa bernapas lega, tak salah ia memilih sahabat sebaik Song Joongki. Rasa sayang Rinhyo pada pria itu kini semakin bertambah.

“Dokter Song juga mengatakan kalau sekarang kalian sudah benar – benar saling mencintai satu sama lain. Apa itu benar? Tidak usah dipaksakan kalau kalian tidak merasakan sesuatu yang demikian. Kami tidak mau ada masalah yang sama terjadi lagi.” Ibu Kyuhyun berucap dengan tenang. Ia menatap lamat – lamat ke arah Kyuhyun dan Rinhyo bergantian.

“Joongki benar. Kami sudah saling mencintai, kejadian yang sudah terjadi telah membuat kami tersadar. Kami akan buat itu sebagai pelajaran untuk masa depan.” Rinhyo berucap, semakin mengeratkan genggam tangannya.

“Apa benar, Kyuhyun-ah?” kini giliran ibu Rinhyo yang menatap Kyuhyun penuh fokus. Mencari keyakinan dari kedua mata itu.

Kyuhyun menangguk mantap. “Aku tidak akan meninggalkan Rinhyo apapun yang terjadi. Sam Rinhyo sudah jadi satu bagian terpenting dalam hidupku.” Napas pria itu terdengar berat. Kemudian melanjutkan setelah menatap ayah dan ibu Rinhyo penuh keyakinan, “Eomonim, abonim, izinkan aku untuk menjaga Rinhyo sepanjang usiaku. Kalian bisa percaya padaku.” Kyuhyun berdiri dari tempat duduk, kemudian membungkuk dalam. Membuat semua orang disana tersentak kaget, begitu pun Rinhyo yang kini melebarkan kedua mata.

Cho Ahra tersenyum kecil. Tak menyesal harus terbang jauh – jauh dari Eropa demi melihat kebahagiaan adik kandungnya itu. Ia yakin, setelah ini kehidupan adiknya akan berubah bersama Sam Rinhyo yang selalu ada di sampingnya.

***

            Sam Rinhyo membuka buku bersampul kayu coklatnya yang sudah lama tidak ia sapa. Kini ia sudah sampai di rumah mereka, rumah Kyuhyun dan Rinhyo. Cho Kyuhyun masih mandi, sedangkan ia duduk di balkon rumah seraya menarikan jemari di atas lembar kosong itu.

Hidup memang sepahit espresso.

            Semua orang selalu berusaha bertahan hidup di dalam satu kubangan kecil yang di sebut bumi. Berusaha sekuat mungkin agar dapat bertahan di dalam sana meskipun terpaksa harus menelan rasa pahit setiap hari. Seperti espresso yang selalu di hidangkan di dalam cangkir kecil dengan rasa pahit yang kuat. Entah kenapa banyak orang yang menyukai minuman itu.

            Sama halnya denganku. Meski aku selalu merasa tak membutuhkan apapun di dalam hidup ini. Meski aku selalu tenggelam dalam duniaku sendiri dan percaya bahwa tidak ada yang lebih penting dari diriku sendiri. Tapi kini aku sadar, bahwa semua orang tidak bisa hidup tanpa apapun dan siapapun. Tidak ada orang yang tidak pernah berusaha untuk bertahan dalam kubangan pahit itu.

            Meski dulu aku selalu berusaha keluar dari kubangan pahit itu dengan caraku sendiri. Menghindari kepahitan cinta, uang, dan keluarga. Bekerja seperti gila hanya demi melarikan diri bersama ibuku dari ayah (si pria yang menceburkanku kedalam kubangan pahit ini).

            Namun usahaku sepenuhnya sia – sia. Ibu memilih tetap tinggal di dalam kubangan, dan aku? Semakin terseret jauh kedalamnya. Sungguh, awalnya begitu mengerikan. Berada di dasar cangkir kepahitan espresso membuatku sesak dan tak tahu harus berpegang pada siapa.

            Kemudian datanglah Cho Kyuhyun. Pria yang awalnya ku samakan seperti sendok cangkir espresso yang memutar – mutar cairan itu hingga membuatku semakin pusing di dalam sana. Namun aku salah, Kyuhyun bukanlah sendok cangkir. Melainkan gula yang menambah rasa pada cangkir pahit espresso. Gula yang membuatku bisa menikmati rasa pahit itu bersamanya.

            Meski pun ayahku masih belum bisa berubah, tapi aku tahu ibuku akan selalu bahagia karena tetap memilih tinggal bersama pria yang ia cintai. Karena begitulah hidup, layaknya tenggelam dalam kubangan espresso dan mengikuti alirannya.

            Dan aku? Meskipun dulu aku selalu mencoba melawan arus espresso, kini aku bisa mengikuti alurnya bersama gulaku. Cho Kyuhyun. Pria yang sudah hampir menguasai relung hati kosongku.

 

            “Apa yang kau lakukan?”

Rinhyo menghentikkan pergerakkan bolpoinnya. Dengan cepat menutup buku itu kemudian melempar senyuman kecil pada suaminya yang hanya memakai balutan handuk. Tak malu mengekspos bentuk badan pas – pasannya di hadapan Rinhyo.

Decak Rinhyo terdengar berkali – kali, gadis itu menggeleng iba sambil menatap tubuh Kyuhyun. “Kau harus sering berolahraga. Tubuhmu benar – benar… hah, pokoknya kau harus sering berolahraga.”

“Tch, memangnya tubuhmu itu bagus, huh? Orang pendek sepertimu yang seharusnya berolahraga agar cepat tinggi!” Kyuhyun berucap sambil cepat – cepat memakai pakaiannya. Rinhyo hanya tertawa melihat wajah kesal Kyuhyun yang seperti anak kecil. Ia memasuki kamar, menutup pintu balkon kemudian melompat ke atas ranjang setelah menyimpan bukunya di dalam laci meja rias.

Kyuhyun sudah berbalut kaus putih tipis dan celana sependek lutut. Pria itu naik ke atas ranjang tanpa menyingkirkan raut wajah malasnya. Ia kesal, baru kali ini ada wanita yang berani mengomentari tubuhnya secara blak – blakan seperti itu. Apalagi wanita itu Sam Rinhyo.

Rinhyo memiringkan tubuhnya ke arah Cho Kyuhyun. Berusaha mengulum senyum gelinya sambil bertanya, “Kau marah?” Alih – alih menjawab, Kyuhyun malah bersendekap sambil memejamkan kedua mata. Pura – pura tak mendengar. “Ck, kau tidak mungkin marah hanya karena kejujuranku, bukan?”

Kedua mata Kyuhyun terbuka lebar, kepalanya menoleh cepat ke arah Rinhyo tak percaya. “Apa? Kejujuran? Oh, Tuhan. Kau serius mengatai tubuhku jelek?”

Tawa kecil Rinhyo terdengar, tanpa mau repot menjawab, wanita itu malah melingkarkan tangannya pada perut Kyuhyun. Menyembunyikan wajahnya di dalam dada Kyuhyun. Senyuman kecilnya terulas, rasanya begitu aman berada di pelukan pria ini.

“Tch, sekarang kau malah memeluk tubuh jelek ini, huh?”

“Sht. Diamlah. Hari ini sangat melelahkan. Lebih baik kau diam atau aku akan tidur di kamar lain malam ini.”

Kyuhyun mengulas senyumannya. Membalas pelukan Rinhyo kemudian semakin mengeratkannya. Ia mengecup kening Rinhyo sebelum berucap, “Tidurlah, besok akan jadi hari yang sangat panjang.”

Alis Rinhyo terangkat, kedua mata yang tadinya terpejam kini sudah terbuka. “Ada apa memangnya?”

“Kita pergi ke Budapest.”

Mwo?” Rinhyo mendongak, menatap Kyuhyun tak percaya. “Maksudmu, Budapest, Hungaria itu? Benar kita akan pergi kesana?” Wajah Rinhyo berubah jadi penuh binar.

Kyuhyun terkekeh, menampakkan wajah sombongnya. “Mm-hm. Bukankah kau sangat ingin pergi ke sana?”

“Cho Kyuhyun, kau benar – benar yang terbaik!” Rinhyo semakin semangat memeluk tubuh Kyuhyun penuh riang. “Tapi, bagaimana bisa kau tahu kalau aku sangat ingin pergi kesana?”

Kyuhyun mengangkat bahu iseng. “Mudah saja, semuanya sudah tertulis didalam buku bersampul kayu itu.”

“MWO?! Hei, kau seharusnya tidak boleh membuka buku orang lain seperti itu! aish, dasar sialan!”

FIN

Hello!

Tsalza is here! Haha, its been a long time ^^

Pertama – tama saya mau mengulangi apa yang sudah di katakan bella di postingan sebelumnya. Maaf karena kami jadi jarang men-update fanfictions kami, *deep bow*

Dan yang kedua, saya juga minta maaf kalau part terakhir dari ff ini –mungkin- lebih pendek dan tidak sesuai dengan yang kalian harapkan.

So, Hope y’all would like this fanfic and still keep rooting on us!!

BIG THANKS FOR YAAA!!!! BYE!

Advertisements

24 thoughts on “Espresso 11 – END

  1. Dunno why am i keep smiling whenever i read jay’s name on here just bcs i couldnt even once forgetting abt how adorable he is in real 😂😂 salah fokus akut sumpah aku 😂😂 btw “This isnt fanfic” nya udah kuhapus soalnya itu cuma postingan sementara sih ehehe. Keep fight tsal!

      • Oh rlly? I just found that jaebum’s role was perfectly matched with jay’s image but ok i got it now 😂😂 tp emang iya sih sama aja kaya kim kibum bisa jadi key or suju’s even u-kiss had a member named kim kibum as well 😂

  2. Waaa happy ending. Tapi butih sequel dong. Bagaimana kelanjutan jae bum dan hyera belum tau nasibnya. Dan bulan madu pasangan indah itu juga perlu dibagi…😉
    Trimakasih buat semua episodenya…

  3. Akhir’a happy ending, mau ngapain tuh ke budapest? Mau honeymoon yah? udh bahagia nih pasangan, tpi akhir’a masih kurang greget, butuh sequel nih, keep writing!

  4. Oke, ini wow banget gila. Aku reader baru #ehem maaf sebelumnya engga komen dari part awal dan cuma bisa komen dipart akhir. Tapi aku udah janji akan numpahin semuanya disini wkwk *aye

    Gila gila gila! Bacax puas abis☺️ Sempet mikir kalo jae bum berusaha buat ketemu sama rin hyo lagi karena dia pingin minta maaf sama rin hyo, tapi.. Ternyata gak gitu-_- okelah dia sama aja engga berubah. Kyuhyun ajib abis bisa ngebuat rin hyo berubah salut dee sama abang kyu(((:
    Aku bacanya maraton lo thor, habisnya penasaran sama kelanjutannya^^ udah lah pokoknya keren deh, next baca yg lainnya(((:

    *hug*

  5. Akhir nya kelar yak wkwkkw .. Map
    Apin bru smpet baca inu 😀 seneng akhir nya smua nya baik2 aja dan bahagia cieh :v .. Berkarya terus ya salsa dan bella :*:*:*:* karya kalian tim. Bagus kok 😉 selalu suka

  6. apa ini apa iniiiii
    aaaakkk menyesal lama tidak kesini
    terakhir kesini espresso baru part part hmm part berapa yaa
    aaaaa part 8 kayaknya
    omo omooo

    aku baca dulu yyaaaaa
    nanti aku komen ulang hahaha

    aku lupa jalan ceritanyaaa
    sangkin lamanya nunggu update-an dulunya huhuhu

  7. Aaaaaah happy ending ternyataaaa
    bisakah dilanjutkan ?
    pengen ada sequelnyaaaa
    ini kereen tapi kuraaang
    masih kuraaang
    mereka baru2 ini menikmati sebagai suami istri
    jadi blm nampak bahagia2nyaa
    aaaa mau lagiii

    ayolah tambah hahahaha
    belum kelar rasanya

    hm jae bum
    kalau didepan aku udah aku tonjok diaaa

    aaaaa Joong Ki oppaaaa
    saranghae hkhkhk

    aduuh si oppa ini baik sekali
    sayang banget sama sahabatnya
    sahabat terbaik

    semangat terus ya ^^~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s