Doll 8

dolljiwon***

            “Bisakah kemungkinan itu tidak akan pernah terjadi?”

Pertanyaan Kyuhyun sungguh berada diluar ekspektasi Rinhyo. Gadis itu menatap temannya dengan alis terangkat, tatap mata Kyuhyun pun berbeda dari biasanya. “Kau bicara apa?” Rinhyo balik bertanya, ia tak mengerti apa maksud pria ini sama sekali.

Kyuhyun diam untuk beberapa saat, wajahnya masih serius seperti tadi. Namun tiba – tiba ia melepas pandang, menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali. Dalam hati ia mengumpati mulutnya sendiri yang bisa – bisanya menanyakan hal seaneh itu pada Rinhyo.

“Cho Kyuhyun,” Rinhyo masih mencoba melakukan observasi pada raut wajah Kyuhyun. “Kenapa kau bertanya seperti itu tadi?” ia memperjelas pertanyaannya lagi.

Kyuhyun berdehem, otaknya berputar keras mencari alasan logis. “Ya, maksudku, kau dan Ji Changwook kan belum terlalu saling mengenal. Biasanya pria itu selalu berusaha bersikap baik pada orang yang ia sukai. Jadi, aku hanya tidak ingin temanku nanti mencintai orang yang salah. Itu saja.”

Alis Rinhyo terangkat. Ia bersendekap sambil menatap Kyuhyun curiga. Namun yang ditatap malah berusaha menghindar, kedua bola mata Kyuhyun bergerak mencari tempat sembunyi. “Aku jadi curiga. Pertama, kau tidak suka aku berkirim pesan dengan Jonghyun dan sekarang kau menghalangiku untuk mencoba menyukai Changwook oppa.” Rinhyo semakin mendekatkan tubuhnya pada Kyuhyun, memapas jarak mereka dengan tatap penuh curiga. Cho Kyuhyun pasrah, ia hanya bisa mundur hingga membentur jendela bis. Meneguk ludah ketika sadar betapa dekatnya Rinhyo sekarang. “Kau cemburu, ya? Oh, atau jangan – jangan kau menyukaiku.”

Kedua mata Kyuhyun melebar, sontak ia mendorong pelan tubuh Rinhyo agar menjauh. Memberinya ruang untuk bernapas dengan leluasa. “Itu tidak mungkin, bodoh.”

Rinhyo diam sebentar, lalu tertawa keras. Ia memukul lengan Kyuhyun sambil bertukas, “Tolong atur ekspresimu, Tuan Cho Kyuhyun. Oh astaga, ekspresimu lucu sekali!” Kyuhyun mengangkat kedua alis. Diam – diam ia berterima kasih pada Tuhan karena Rinhyo ternyata tidak benar – benar menaruh rasa curiga padanya. “Keep calm, okay? It was just a joke!” Rinhyo mengusap air mata tawanya lalu mulai mengontrol diri agar tidak tertawa lagi.

Kyuhyun memaksakan tawa pendeknya. Ia mengacak rambut Rinhyo gemas, “Ternyata kau punya bakat akting yang terpendam, ya. Tch, kenapa tidak jadi aktris saja!”

Rinhyo tersenyum bocah. Ia menyandarkan diri di kursi dengan mood yang begitu baik, bahkan ia bisa bersenandung riang. Kyuhyun pun hanya bisa tersenyum, ikut menyandarkan diri sambil sedikit menurunkan tubuhnya, siaga jika saja Rinhyo tertidur lagi seperti kemarin.

“Kau tahu,” Rinhyo menoleh ke samping. “Aku merasa sangat beruntung telah mengenalmu. Sebelumnya aku tidak pernah cepat dekat dengan orang asing, tapi kali ini berbeda. Kau seperti bukan orang asing untukku.” Gadis itu berucap tulus meskipun Kyuhyun tak menatapnya. Tapi ia tahu kalau pria itu mendengarkan.

Kyuhyun memejamkan kedua mata, “Jangan terlalu merasa beruntung. Nanti kau malah jatuh cinta pada pesonaku.” Pria itu berucap santai membuat tawa Rinhyo keluar tak tertahankan. Gadis itu menganggukkan kepala dua kali.

“Ya, aku harus hati – hati kalau soal itu.” Kyuhyun tersenyum setelah mengeluarkan decihan. Sedangkan Rinhyo tanpa ragu menempatkan kepalanya di atas bahu Kyuhyun, “Hari ini aku pinjam bahumu lagi.” Ia berucap setelah menutup kedua mata. Merasa sudah menemukan posisi yang paling nyaman.

“Kau tidak perlu minta izin lagi mulai sekarang.” Kyuhyun menjawab, menciptakan seulas senyum tipis di bibir Rinhyo.

 

***

 

Hai!

Aku sudah menunggumu selama tiga puluh menit disini tapi kau tak kunjung datang, bahkan tidak menjawab telepon dariku. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Kau baik – baik saja, kan?

Kenapa tidak datang ke pesta pernikahan? Aku sangat mengkhawatirkanmu. Jadi tolong hubungi aku jika kau sudah memeriksa ini. Maaf hanya menunggumu selama tiga puluh menit, karena ada urusan yang harus ku urus.

Kyuhyun-ah, Kau tahu aku masih sangat menyayangimu, kan? Kita sudah menjalani hubungan serius selama bertahun – tahun dan harus terpisah karena keadaan. Banyak hal yang ingin kujelaskan padamu, jadi aku mohon hubungi aku atau angkat teleponku untuk sekali saja.

 

With love,

Kim Hyera

 

Kyuhyun membalik sepucuk kertas yang masih menempel di atas bingkisan hanwoo tak peduli. Bukannya ia sudah benar – benar menghilangkan Kim Hyera dari benaknya, tapi ia sudah tidak ingin terlalu lama terjebak dalam perasaan patah hati ini. Kim Hyera masih selalu mengganggu pikirannya memang. Terkadang ia masih mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Tapi bagaimanapun ia masih dalam tahap melupakan, jadi sebesar apapun ia rindu dan khawatir pada gadis itu, ia harus menahannya.

‘Mau diapakan daging sebanyak ini?’ itulah yang ada di pikiran Kyuhyun sekarang. Tidak mungkin ia mengembalikannya ke rumahnya sendiri. Itu sama saja ia menggali lubang kuburannya sendiri. Ia tidak mau ayahnya kembali merecoki hidupnya lagi.

Kyuhyun menoleh kebelakang, menemukan Jonghyun yang sedang tidur tengkurap di atas kasurnya. Bahkan sekarang sudah hampir jam dua belas siang, tapi pria itu masih tertidur pulas disana. Entah apa yang habis dia lakukan tadi malam.

Fokusnya teralih oleh getaran ponsel di saku jaketnya. Senyum kecilnya terulas ketika menatap kotak chat kakao talk yang baru saja ia buka.

 

Rinhyo : Cho Kyuhyun! Kau sudah sampai di rumah?

 

            Kyuhyun duduk di atas kursi terdekat, kemudian mulai menarikan jemari di atas layar.

 

Kyuhyun : Aku sudah sampai, kau?

Rinhyo : Tentu saja! Dan kau tahu? Ibuku tidak marah sama sekali! Hahaha sungguh ini momen yang begitu langka. Ayahku sedang berada di luar negeri, dan untungnya hari ini ibu tidak mengirim mata – mata untukku. Atau sudah lama ia tidak menyuruh orang memata – mataiku, ya? Entahlah, aku tidak mau peduli lagi. Yang penting aku bebas dari ibu!

 

            Kyuhyun tak bisa menahan kekehannya melihat deretan pesan yang dikirim Rinhyo ketika ia hanya bertanya ‘kau?’

 

Kyuhyun : Itu sangat bagus. Lain kali kau harusnya melakukan hal ini, daripada terus – terusan terdiam dirumah tanpa melakukan apa – apa.

Rinhyo : Aku tahu.

Kyuhyun : Ah iya, besok ada showcase kecil di camp musikal. Kalau ada waktu datanglah pukul satu siang. Acaranya hanya 20 – 25 menit.

Rinhyo : Sial. Maaf sekali, aku tidak bisa datang. Besok ada sesuatu seperti pertemuan keluarga yang begitu membosankan di rumah Changwook oppa. Lain kali aku akan menonton.

 

            Semangat Kyuhyun hilang begitu saja tanpa alasan pasti. Ia menatap layar ponselnya dalam diam cukup lama sebelum akhirnya menulis kalimat, ‘tidak masalah.’ Di kotak pesan. Pria itu menggeletakkan ponsel di atas meja, tepat di samping kotak hanwoo dengan malas.

“Kau bertengkar dengan pacarmu, ya?” Kyuhyun menoleh ke asal suara. Menemukan Lee Jonghyun yang masih sibuk menguap di atas kasur. Pria itu menggaruk leher sambil menatap Kyuhyun. Penampilannya begitu berantakan.

Kyuhyun menghela napas frustasi. “Cepat mandilah! Kau tidur sudah seperti hibernasi. Tidak lihat sekarang jam berapa?” Jonghyun melirik jam dinding, kedua matanya melebar ketika menyadari jika sekarang sudah lewat jam dua belas siang. Namun hanya sesaat sebelum ia menghela napas pasrah.

“Sudahlah, lagipula kelasnya akan selesai setengah jam lagi. Sia – sia kalau pergi ke kampus.” Ia menggumam, entah pada siapa. Kyuhyun menggeleng frustasi melihat junior yang tidak ada sopan santunnya sama sekali ini.

“Terserah apa katamu. Pokoknya bereskan tempat tidurku lalu mandi sana!”

Arasseo! Tch, perhatianmu melebihi ibuku sendiri.” Jonghyun terkikik sambil merapikan kasur Kyuhyun. Tak mau terlalu panjang berdebat, Kyuhyun cuma melongos tak peduli. Pria itu kembali memandang hanwoo yang masih belum menghilang di atas meja. Kyuhyun bukanlah tipikal orang yang mudah membuang rezeki seperti ini. Jadi siapapun yang memberinya, tentu ia akan menerimanya dengan senang hati; ia juga tidak masalah meski orang itu adalah Kim Hyera. Tapi kalau daging sebanyak ini, tidak mungkin ia menghabiskannya sendiri.

Alisnya terangkat ketika mendapat ide bagus di dalam otak. “Ya! Lee Jonghyun!” Kyuhyun kembali berbalik menatap Jonghyun yang kini sudah berdiri dengan leher berkalungkan handuk.

“Hm?”

“Nanti malam ada acara tidak? Hubungi Changmin, kita akan pesta daging bertiga.”

Jonghyun tersenyum riang sambil mengangguk semangat. “Assa! Kebetulan sekali malam ini aku tidak ada acara. Tapi sayang sekali, Changmin hyeong di Jeju hari ini. Kau lupa? Dia kan ada acara kampus disana hari ini.”

Kyuhyun mendesah keras. Padahal ia sudah bisa membayangkan betapa menyenangkannya jika Changmin juga datang kesini. Ditambah, ukuran satu kotak hanwoo ini tidak akan habis kalau dimakan dua orang saja. Jonghyun melirik sebentar ke arah kotak daging itu, kemudian dapat menyimpulkan kalau Kyuhyun tiba – tiba menggelar pesta daging kecil – kecilan ini karena ingin menghabiskan daging itu.

“Bagaimana kalau aku ajak orang lain juga?”

Alis Kyuhyun terangkat, ia menatap Jonghyun bingung. “Siapa?”

“Sunyoung dan Rinhyo. Ya, kau tahu kan, sekali – kali kita harus makan bersama wanita.” Jonghyun mengangkat alis dua kali sambil menampakkan wajah menyebalkannya. Dan sungguh, ingin rasanya Kyuhyun mendorong kepala bocah itu. Tapi tunggu, kalau Sunyoung memang Jonghyun mengenalnya karena mereka Sunyoung juga bagian dari unit musikal. Lalu Rinhyo?

“Sam Rinhyo maksudmu?”

Jonghyun mengangguk semangat. “Ah, ya. Aku belum cerita ya.” Jonghyun berjalan cepat menuju meja makan; tempat dimana Kyuhyun duduk. Ia menarik kursi di dekat Kyuhyun lalu duduk disana, melupakan niat mandinya untuk sementara. “Sebelumnya aku mau berterima kasih padamu.” Sungguh, wajah Jonghyun seperti baru saja mendapat lotre besar – besaran. “Karena waktu itu Rinhyo mencarimu di kamp, dan bertemu denganku. Aku jadi bisa mendapatkan nomor telepon gadis itu, hyeong! Bukankah itu sangat menakjubkan?!” Jonghyun tertawa penuh kegembiraan. Pria itu bahkan tak menyadari bagaimana tatap datar Kyuhyun menghunus padanya tajam. “Lalu sampai sekarang kami masih saling berkirim pesan. Dia sangat baik mau mendengar keluh kesahku dengan sabar. Oh Tuhan, dia benar – benar tipe idealku. Ck, sayang sekali dia sudah punya kekasih. Kalau belum, pasti aku akan mengerahkan tenaga untuk mendapatkannya. Hahaha.”

“Hei,” nada Kyuhyun sudah berubah. Telinganya bising mendengar suara curahan hati seorang Lee Jonghyun. Bisa terlihat jelas kalau pria playboy itu sangat tertarik dengan Sam Rinhyo. Jonghyun seketika melenyapkan senyumannya ketika menyadari bagaimana raut wajah hyeong-nya. “Kau tidak seharusnya mendekati gadis yang sudah punya kekasih, bodoh.” Hanya itu yang dikatakan Kyuhyun. Kalau biasanya Jonghyun akan tertawa keras sambil memukul lengan pria itu penuh canda, tapi kini berbeda. Ia hanya bisa diam menatap betapa seriusnya wajah Kyuhyun sekarang.

Hyeong, kenapa kau seserius ini, huh? Aku kan tidak mendekatinya. Kita hanya berteman.”

“Tapi tetap saja!”

“Memangnya Rinhyo tidak boleh berteman denganku? Dan juga, bukankah kau juga temannya?”

Kyuhyun diam. Menyadari betapa bodohnya kelakuannya tadi. Sial, kenapa akhir – akhir ini ia sering berperilaku tidak seperti biasa? Hanya satu hal yang ia pikirkan. Melarikan diri.

“Sudahlah, terserah kau saja. Undang saja mereka kerumah kalau kau mau, pokoknya daging itu harus habis hari ini. Aku mau tidur!” Kyuhyun berucap sambil berjalan menuju kasur, berbaring disana sambil memejamkan kedua mata. Tak peduli dengan pandang aneh Jonghyun yang menghunus padanya.

 

***

 

Dan disinilah mereka.

Rinhyo duduk di samping Sunyoung; berhadapan dengan Kyuhyun. Jonghyun masih sibuk memanggang daging di atas meja yang jadi penghalang mereka. Rumah atap memang sempurna kalau dijadikan tempat untuk barbeque time seperti ini.

Park Sunyoung menatap Kyuhyun dan Rinhyo bergantian. Rasa penasarannya dua hari yang lalu masih belum terpenuhi oleh jawaban tak memuaskan dari Kyuhyun. Ia masih curiga dengan hubungan kedua manusia itu meskipun keduanya kini tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Mereka sibuk dengan makanannya dan berbicara seperlunya saja.

“Sunyoung-ah, kenapa kau menatap mereka seperti itu? dari awal ku perhatikan tatap matamu tak lepas dari mereka berdua.” Jonghyun membuka percakapan, menatap Sunyoung aneh. Sedangkan yang di tatap masih kekeuh tak menghentikan kegiatannya.

Rinhyo berdehem, ia memandang Kyuhyun sebentar untuk memberi kode kemudian berucap, “Aku mau ke kamar mandi sebentar.”

Kyuhyun yang merasa dapat panggilan langsung berdiri. “Aku akan mengantarmu.” Ia berucap, memimpin langkah Rinhyo.

Dahi Sunyoung semakin berkerut menatap Kyuhyun dan Rinhyo yang sudah hilang di balik pintu rumah Kyuhyun. “Kau tidak pernah merasa kalau ada sesuatu diantara mereka?”

Alis Jonghyun terangkat. “Siapa? Kyuhyun hyeong dan Rinhyo?”

Sunyoung mengangguk membenarkan. “Aku merasa ada yang aneh diantara mereka.”

“Tch, kau bicara apa Park Sunyoung?! Tidak mungkin lah! Seharusnya kau curiga padaku, karena aku hampir setiap hari mengobrol dengannya lewat kakao talk.” Jonghyun berucap penuh kebanggaan. Lantas Sunyoung memukul kepala Jonghyun dengan sumpit.

“Hentikan khayalan gilamu! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau yang selalu mengirim pesan terlebih dahulu?! Dan aku tahu dengan baik kalau Rinhyo bukanlah orang yang suka mengabaikan pesan orang lain.”

Jonghyun mengangkat bahunya asal sambil meringis bocah. “Terserah apa katamu. Pokoknya kalau di bandingkan dengan Kyuhyun hyeong, tentu aku yang lebih dekat dengan Sam Rinhyo.”

Sunyoung menatap Jonghyun sambil gelengkan kepala. Kenarsisan temannya yang satu ini sudah keterlaluan. Andai ia tidak berjanji pada Kyuhyun untuk bungkam akan hubungan dekat mereka, pasti sekarang Sunyoung sudah berkoar kalau Rinhyo dan Kyuhyun itu sangat dekat. Tapi sialnya, yang bisa ia lakukan kini hanya diam seraya menatap wajah menyebalkan Lee Jonghyun.

 

***

 

“Ada apa?”

Kyuhyun sontak bertanya ketika ia sudah berada di dalam rumah. Ia tidak mau membuang waktu dan membuat dua orang di luar berpikiran tidak – tidak.

“Apa kau bercerita pada Jonghyun tentangku?”

“Tentu tidak lah.”

Akhirnya napas lega Rinhyo keluar, “Syukurlah. Kalau begitu, apa perlu kita bersikap tidak dekat seperti ini? Rasanya sangat… tidak nyaman. Asal kau tahu.”

“Aku hanya tidak ingin si mulut besar Jonghyun itu nanti menyebarkan rumor tidak enak kalau tahu kita dekat. Maaf, sudah membuatmu tidak nyaman.”

Rinhyo tersenyum bocah, ia memukul lengan Kyuhyun iseng. “Tidakkah kau terlalu manis untuk jadi temanku?” gadis itu mengeluarkan nada menggoda. Sedangkan Kyuhyun hanya mendesis kesal.

“Bisa dibilang aku adalah orang yang sangat baik dan kebetulan jadi temanmu.”

“Baiklah, baiklah. Terserah kau saja, aku tidak bisa membantah kenyataan yang satu itu.” Rinhyo tertawa kecil, kemudian melanjutkan “Setelah ini, bersikaplah seperti biasa saja. Asal tidak menyebutkan hal – hal privasi, kita bisa mengobrol seperti biasa. Seperti ini.”

Kyuhyun mendengus, “Seharusnya kau khawatirkan dirimu sendiri yang mungkin akan membuat pernyataan mengejutkan nanti karena minum soju.”

“Kau tenang saja. Aku tidak akan menyentuh soju malam ini. Setelah waktu itu aku berjanji untuk tidak minum alkohol pada diriku sendiri. Kecuali, jika minum hanya berdua denganmu.”

“Tch, kini aku sudah jadi tempat sampahmu. Kau hanya mengeluarkan keluh kesahmu kalau bersamaku.”

Rinhyo terkekeh pelan. “Itu salahmu sendiri, kau menawarkan diri untuk jadi teman terbaikku. sudah terlambat untuk menyesal, Cho Kyuhyun.”

Kyuhyun memandang lawan bicaranya malas. “Setelah ini aku harus mulai berpikir berkali – kali sebelum membuat penawaran.” Rinhyo semakin melebarkan tawanya mendengar penyesalan Cho Kyuhyun. Sungguh, menggoda pria ini lama – lama jadi sangat menyenangkan.

“Sudah, berhenti merajuk. Lebih baik kau keluar sebelum mereka berpikir aneh – aneh tentang kita.”

“Baiklah, teman terbaikmu ini akan keluar dan memanggangkan beberapa potong daging untukmu.”

Rinhyo mengangguk sambil mengulum tawa, “Dengan kematangan sempurna, ya!” gadis itu menambahkan dengan nada bercanda. Sedangkan yang di ajak bicara malah mengibaskan sebelah tangan lalu hilang di balik pintu.

 

***

 

“Aku mohon seimbanglah.”

Doa Lee Jonghyun berkali – kali keluar seperti mantra dari bibirnya. Ia menarik pelan – pelan sepotong balok kayu kecil yang tersusun rapi, berharap tidak meruntuhkan bangunan balok itu. Hela napasnya keluar panjang ketika bangun itu tak runtuh. Sedangkan Kyuhyun, Sunyoung dan Rinhyo menghela napas kasar, mereka frustasi karena bangunan yang sudah rapuh itu tak runtuh juga. Kini mereka sedang bermain puzzle balok susun setelah pesta daging selesai; meski masih ada sisa daging yang rencananya akan mereka makan nanti setelah permainan selesai.

Sunyoung yang harus memainkan gilirannya sontak menyatukan kedua tangan, berdoa pada Tuhan se-khusuk mungkin agar tidak merobohkan bangunan itu. Bagaimana pun ia tidak mau kalah dan mendapat hukuman yang akan di berikan oleh pemain sebelumnya. Kalau Sunyoung kalah, ia benar – benar akan mati. Lee Jonghyun termasuk pria super licik yang pernah ia temui, pasti hukuman yang akan diberikan pria itu tidak main – main.

“Tuhan, kumohon, Tuhan.” Sunyoung menarik sepotong balok yang berada di bagian tengah pelan – pelan. Jonghyun tertawa pendek.

“Tidak usah sampai berkeringat dingin seperti itu, Sunyoung-ah.”

“Diam kau!”

“Lihatlah tangan gemetarmu, kau tidak akan mungkin lolos jika pakai tangan yang seperti itu.” Lagi – lagi Jonghyun mengeluarkan ejekannya. Sunyoung tetap menekan fokusnya pada balok itu, ia tidak akan membiarkan Jonghyun menghancurkan fokusnya.

Diam – diam Jonghyun tersenyum miring, pria itu menatap jemari Sunyoung yang hampir menarik lepas potongan balok itu. Ketika sudah sampai ujung, dengan sengaja ia berteriak, “TIKUS!” sambil menunjuk kaki Sunyoung. Sontak gadis itu terkejut, fokusnya buyar dan bangunan itu runtuh seketika.

Jonghyun tertawa keras. Pria itu melakukan tos dengan Kyuhyun dan Rinhyo yang ikut tertawa bersamanya. Kyuhyun dan Rinhyo bahagia asalkan bukan mereka yang kena hukuman. “YA! AISH, SINI KAU SIALAN!” Sunyoung membentak, sebelah tangannya membawa sepotong balok kecil untuk di lemparkan pada kepala Jonghyun. Kedua matanya membelalak penuh amarah.

Rinhyo dan Kyuhyun hanya berperan sebagai penonton dalam pertengkaran tikus dan kucing itu. Sesekali Rinhyo meminum cola-nya ketika merasa tenggorokannya kering.

“Pesta dagingnya sudah selesai, ya?” Suara lain. Sunyoung dan Jonghyun yang masih dalam peperangan itu menghentikkan pergerakannya, menoleh ke arah asal suara asing itu. Begitu pun Cho Kyuhyun.

Tapi tidak untuk Rinhyo. Gadis itu membeku di tempat tak bisa bergerak. Ia bisa mengenali suara itu sekali dengar. Suara yang tak pernah ia sangka bisa terdengar di tempat ini.

“Changwook sunbaenim?” semua orang disana berubah jadi hening selagi Changwook mengulas senyuman tipis.

“Apa aku mengganggu pesta kalian?” pria itu bertanya, melirik ke arah Rinhyo kemudian menghampiri gadis itu.

Kyuhyun pun ikut menatap Rinhyo, membaca ekspresi gadis itu lamat – lamat. Dan ia bisa simpulkan, kalau Sam Rinhyo merasa-sangat- tidak nyaman.

“Cho Kyuhyun-ssi?” Changwook menyapa ketika menyadari keberadaan Kyuhyun disana. Sedangkan yang di sapa hanya mengangkat kedua alis bingung. Seingatnya ia tidak pernah mengenal Changwook; meski dari awal ia sedikit familiar dengan nama itu.

“Kau mengenalnya, hyeong?” Jonghyun ikut menimpali, ia dan Sunyoung segera mendekat. Duduk di kursi persegi sambil memperhatikan ketiga orang yang juga duduk disana dalam diam.

Rinhyo ikut menatap Kyuhyun bingung. Sungguh, ia juga tak pernah menyangka Changwook mengenal Kyuhyun. “Benar Cho Kyuhyun, bukan? Putra dari Presdir Cho. Oh astaga, aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi disini.” Kini bukan hanya Rinhyo yang terkejut. Sunyoung juga terlihat begitu terkejut, kecuali Jonghyun yang sudah tahu segalanya.

Kyuhyun hanya diam. Ia melirik sebentar ke arah Rinhyo yang masih bungkam di tempatnya. Menatapnya dengan tatap menuntut jawaban. “Kau tidak ingat aku? Aku putra Dokter Ji, kita bertemu ketika peresmian resort beberapa bulan yang lalu.”

Kini Kyuhyun ingat. Pria itu sontak mengulas senyuman kecil sambil menjawab, “Ya, aku ingat.”

Changwook tersenyum puas. “Benar, kan. Aku tidak salah lagi. Tapi apa yang kau lakukan disini? Aku tidak menyangka kau mengenal kekasihku, Sam Rinhyo.” Pria itu melingkarkan sebelah tangan pada pundak Rinhyo. Menarik gadis itu mendekat padanya.

Kyuhyun seketika menatap Rinhyo, gadis itu kini tengah menatapnya penuh dengan rasa kecewa. Sungguh, Kyuhyun tidak suka tatapan itu.

“Ya, kami saling mengenal. Bagaimana bisa kau datang kesini?”

“Ibu Rinhyo menyuruhku menyusul Rinhyo, mengingat beberapa hari yang lalu ia sempat mabuk berat bersama Sunyoung. Jadi aku meminta nomor Sunyoung pada temanku dan menanyakan dimana tempat pestanya.”

“Ah, begitu.” Kyuhyun menjawab sekadar. Tatap matanya sesekali melirik pada Rinhyo yang sedari tadi menolak pandangannya. Ekspresi gadis itu begitu datar, sulit ditebak.

Changwook menatap ke arah Sunyoung dan Jonghyun tak enak. “Sebelumnya maaf telah merusak pesta karena datang tiba – tiba.”

Sunyoung sontak mengayunkan kedua tangan ke kanan lalu ke kiri. “Tidak, tidak sama sekali. Kami sudah selesai makan, kok. Permainannya juga baru saja selesai.”

“Syukurlah. Kalau begitu, bisakah aku membawa Rinhyo pulang? Ibunya sangat mengkhawatirkannya.” Changwook berucap sambil mengelus rambut Rinhyo. Tapi gadis itu masih diam sambil memaksakan seulas senyum. Tak menghiraukan tatap mata Kyuhyun yang tak lepas darinya.

“Oh, tentu saja.” Sunyoung menjawab cepat.

Changwook beranjak dari tempatnya, begitu pun Rinhyo yang masih berada di rangkulannya. Pria itu tersenyum sambil berseru, “Kami pulang dulu.” Kemudian menatap Kyuhyun, “Kyuhyun-ssi, kuharap kita bisa bertemu lagi lain kali.”

Kyuhyun hanya tersenyum kecil lalu menatap Rinhyo lagi. Menunggu apa yang akan di katakan gadis itu. “Aku pulang dulu.” Rinhyo melambaikan sebelah tangan pada Sunyoung dan Jonghyun masih dengan senyum paksa. Kemudian berbalik bersama Ji Changwook yang menuntunnya pergi dari tempat itu. Tanpa menatap Kyuhyun sama sekali.

Cho Kyuhyun membeku di tempatnya. Ia tahu Rinhyo pasti kecewa padanya karena sebagai seorang teman, ia tidak pernah memberi tahu Rinhyo tentang ini selagi Rinhyo sudah membuka diri selebar mungkin padanya. Memikirkannya saja membuat tubuh Kyuhyun seperti ditimpuk batu. Ia tidak ingin hubungannya dengan Rinhyo akan renggang karena masalah ini. Bagaimana pun ia harus memikirkan bagaimana cara untuk meminta maaf pada gadis itu.

 

***

 

“Rinhyo-ah, bagaimana bisa kau mengenal Cho Kyuhyun? Sungguh, aku tidak pernah sangka kalau kalian saling mengenal.”

Changwook bertanya dalam perjalanan mereka menuju rumah Rinhyo. “Dia anggota unit musikal, sama seperti Sunyoung. Aku mengenalnya karena Sunyoung, dia pemeran utama dalam pertunjukan musikal yang kita lihat tempo hari.”

“Benarkah? Waktu itu aku tidak menyadari sama sekali. Apa karena kostumnya, ya?” Changwook jatuh ke dalam pikirannya sendiri. Sedangkan Rinhyo masih diam, menatap ke arah jendela.

Entah kenapa, rasanya sangat kecewa setelah mengetahui jika ternyata Cho Kyuhyun adalah putra seorang presdir. Apalagi itu presdir Cho. Meski ia tak pernah bertemu dengan presdir Cho, tapi ia tahu bagaimana pentingnya peran presdir Cho dalam perkembangan ekonomi Korea Selatan. Dibandingkan perusahaan ayahnya, Cho group berada di atas perusahaan ayahnya; meski dengan jarak yang tidak cukup jauh. Dan dengan bodohnya, ia tidak tahu tentang fakta itu. Apa benar Kyuhyun menganggapnya sebagai teman? Rasanya seperti hanya Rinhyo yang menganggap hubungan mereka layak di sebut teman dekat.

Sam Rinhyo menyandarkan tubuh pada kursi. Memejamkan kedua mata, berusaha untuk tidak memikirkan Cho Kyuhyun lagi.

 

***

 

Kyuhyun berkutat bersama naskah musikal yang berada di kedua tangan. Hari ini ia kembali mengasingkan diri di dalam theater sederhana kamp musikal. Hanya ditemani alunan musik klasik dari speaker ponsel, dan juga satu bendel kertas yang harus ia hapalkan sebelum tanggal 15 tiba. Dimana ia hanya punya waktu kurang dari dua minggu.

Kedua mata yang harusnya fokus pada deretan dialog itu sesekali melirik ke arah layar ponsel. Berharap layar itu tiba – tiba menyala dan menampakan satu balasan pesan kakao talk dari Sam Rinhyo. Tadi pagi ia mengirim pesan, mengajak Rinhyo bertemu di waktu senggangnya. Tapi sampai menjelang senja, gadis itu tak kunjung menjawab ajakannya.

Pria itu menutup naskahnya kasar. Sadar bahwa tak bisa masuk ke dalam peran itu seberapa besar ia berusaha. Jiwanya masih tersangkut di awan milik Sam Rinhyo. Ia tidak bisa membiarkan hubungan mereka renggang seperti ini. Bagaimana pun ia tidak menyukai sikap Rinhyo yang semakin sulit untuk ia gapai.

Pria itu diam. Memikirkan berbagai cara A, B, hingga D untuk meminta maaf pada Sam Rinhyo. Tapi sayangnya tidak ada satu pun rencana di dalam otak yang masuk akal. Sungguh, Kyuhyun sudah kehabisan akal.

Layar ponsel Kyuhyun menyala. Tatap penuh semangatnya spontan melekuk ketika menemukan nama Kim Hyera disana. Sejenak ia melupakan masalah Sam Rinhyo, kedua matanya masih menatap ke arah ponselnya. Menunggu gadis itu memutus panggilan, seperti biasa.

“Tidak bisakah kau mengangkat teleponku untuk sekali saja?” Seperti hantu. Kim Hyera tiba – tiba berdiri di ambang pintu teater. Menatap Kyuhyun dengan kedua mata lelah miliknya. Terlepas dari perhiasan mahal dan mantel bulu mewah, gadis itu berdiri disana dengan pakaian sederhana. Rok polos berwarna biru sepanjang lutut dengan dipadu kemeja putih lengan panjang. Rambutnya terurai dan make-up nya begitu tipis. Degup jantung Kyuhyun tanpa sadar berfungsi tak sama. Rasa rindu menyeruak hingga ke dalam tulang. Sosok Kim Hyera yang selama ini ia rindukan kini berada di dalam retinanya.

Hyera mematikan telepon, menghentikkan dering nyaring ponsel Kyuhyun yang sejak tadi tak kunjung berhenti. Gadis itu berjalan menuju kursi penonton, dimana Kyuhyun duduk sambil berpangku satu bendel naskah. Ia duduk di samping pria itu lalu menghela napas panjang.

“Aku datang sebagai Kim Hyera hari ini. Jadi, tidak bisakah kau mendengarku untuk sekali ini saja?” Kyuhyun berkedip, masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kau, bagaimana bisa tahu aku ada disini?” Hyera terkekeh mendengar pertanyaan Kyuhyun.

“Oh, ayolah, Kyu. Kau pikir kita baru saja mengenal? Aku tahu segala tempat yang biasa kau singgahi jika sendiri.”

Untuk sesaat otak kosong Kyuhyun baru saja mengingat kalau Kim Hyera adalah mantan kekasihnya. Pria itu hanya diam, menatap lurus kedepan tanpa mau menoleh untuk menatap Kim Hyera. “Kalau mau bicara, lebih baik cepat bicarakan sebelum aku berubah pikiran.” Tukasnya. Berusaha mati – matian untuk tidak melampiaskan kerinduannya pada gadis ini.

Kim Hyera tersenyum masam. Seberapa besar keinginannya untuk menjalin hubungan baik lagi bersama Kyuhyun sepertinya hanya akan jadi harapan kosong. Bagaimana pun mereka sudah tidak bisa kembali seperti dulu, dan bersikap biasa layaknya tak ada masalah. Kenyataan itu terkadang menampar Kim Hyera yang sebenarnya masih menyimpan rasa pada Kyuhyun.

“Aku ingin minta maaf. Sebelumnya aku tidak pernah mengatakan hal ini padamu, tapi aku melakukan semua ini demi keluargaku, Kyu. Kau tahu sendiri ibuku kena kanker liver sejak dua tahun yang lalu. Ayahku yang seringkali pulang dengan tak sadarkan diri dan di temani botol soju tidak mungkin mampu membiayai pengobatan ibu. Kau juga tahu, bagaimana aku berjuang mati – matian untuk mencari uang demi membayar segala pengobatan ibu.” Kelopak mata Kyuhyun bergerak. Pria itu perlahan menatap Hyera tanpa ekspresi; meski sebenarnya ia sangat terkejut dengan pengakuan Kim Hyera. “Maka itu, demi melunasi segala hutang dan demi kesehatan ibu. Aku melakukan hal ini. Kau tahu, rasanya seperti menemukan jalan buntu. Kemudian seseorang mengulurkan tangan dari atas. Jika kau jadi aku, apa kau mengabaikan uluran tangan itu begitu saja?”

Cho Kyuhyun masih diam. Kedua matanya memanas karena marah. Dadanya juga sesak oleh emosi. Sungguh, kalau dari awal ia tahu alasan dari pilihan tidak masuk akal Kim Hyera adalah ini, pasti ia tidak akan tinggal diam. Jika saja Hyera mengatakan hal ini jauh sebelum hal itu terjadi, masih ada kemungkinan untuk mereka bersama sampai sekarang.

“Kalau aku jadi kau, aku akan berusaha mencari jalan lain lalu menunggu tangan lain untuk menuntun ke jalan keluar. Bukannya dengan instan menarikmu keluar dari jalan itu dan kemudian membawamu ke jalan yang tidak ingin kau pilih. Oh, atau kau memang sejak awal sudah mendambakan jalan itu?” Alis Kyuhyun terangkat sebelah. Pria itu tak bisa menahan senyum miringnya. Sedangkan Hyera menggeleng berkali – kali. “Dari awal kau memang tidak pernah benar – benar berusaha, Kim Hyera. Kau mengumpulkan uang untuk ibumu, namun sebagian besar malah kau pakai mempercantik diri dan membeli pakaian – pakaian aneh.”

Kedua mata Hyera melebar tak percaya. “Apa yang kau bicarakan, Cho Kyuhyun?! Kau jelas tahu, aku membeli itu semua demi pekerjaanku bukan karena—“

“Dan pekerjaan itu!” Kyuhyun menyentak. Kedua matanya dipenuhi bara emosi. “Pekerjaan hina itu! kenapa kau pilih pekerjaan itu disaat banyak pekerjaan yang lebih terhormat lagi? Itu karena kau memang tidak benar – benar ingin bekerja keras, Kim Hyera.”

“Cho Kyuhyun! Kau tahu aku melakukan itu karena aku butuh banyak uang!”

Kyuhyun menggeleng. “Tidak, Hye. Kau hanya mencari cara instan untuk cepat mencari uang tanpa berusaha keras dengan menjadi seorang wanita penghibur yang kerjanya hanya duduk bersama orang – orang hidung belang dan membiarkan mereka menyentuh tubuhmu dengan leluasa.” Kedua mata Hyera berkaca – kaca, ia tidak menyangka Kyuhyun akan mengatakan semua ini tepat di hadapannya. “Sebenarnya kau bisa mencari uang dengan cara lain dengan menggunakan ijasah sarjanamu itu. Meski mungkin awalnya sulit, tapi itu lebih terhormat daripada duduk di dalam klab bersama orang mesum. Tapi apa? Kau malah memilih cara instan yang sangat menjijikan.”

“Kyu, dulu kau tak pernah mengomentari ini. Dulu kau mengerti kenapa aku melakukan pekerjaan itu. Tapi kenapa sekarang—“

“Kini aku sangat menyesal pernah menyebutmu pekerja keras dulu. Kau tidak pantas di sebut sebagai wanita pekerja keras.” Kyuhyun beranjak, ia menyaku ponsel sambil menggenggam naskah musikalnya erat. Sebelum berjalan keluar dari ruang teater, ia menyempatkan berucap. Menambah perih di hati Kim Hyera lagi.

“Tapi sungguh, aku lebih lega kau memilih uluran tangan orang itu dan meninggalkan pekerjaan hinamu. Selamat atas pernikahanmu bersama Presdir Cho. Dan juga selamat, kini kau sudah berjalan di jalan yang sejak dulu kau impikan. Aku mohon, berhentilah mencariku dengan penampilan seperti ini. Sekeras apapun kau berusaha untuk jadi dirimu yang dulu, pasti akan berakhir sia – sia. Karena kini aku tahu, kau yang dulu dan sekarang, itu sama saja.”

 

TBC-

Kecepetan nggak sih ini update-nya? kkk

Maafkan karena saya cuma ikutin flow otak saya aja ._.

Dan maaf juga kalo akhir – akhir ini doll jadi kepanjangan soalnya yang kemarin uda hampir 5k words, dan yang ini 4500+ words; sumpah biasanya ga doyan bikin ff panjang – panjang ._.

Leeave your comment below, guys! haha

 

Advertisements

13 thoughts on “Doll 8

  1. dari semua jalan cerita……….. entar dulu. jd kim hyera nikah sama ayahnya kyuhyun? dari awal kan emg gada diceritain taunya tiba2 nikah aja dan ternyata? omg mantan kekasih jadi ibu tiri? omg omg pantes kyuhyun sebegitunya sama hyera………. dan yh kyuhyun rinhyoooo makin2 aja nihhh hahahaha senenggg gimana rinhyo keliatan bgt nyaman sama kyuhyun, kyuhyun jg udah mulai2 nih kayanya hahaha dan yah rinhyo gatau kalo kyuhyun anaknya presdir cho jd aja kecewa.. btw seneng bgttt updatemya cepettt semoga next cepet lagi hihi

    • hihihi sebenernya uda aku kasih kode tipis2 kalo hyera sama ayahnya Kyu nikah di part2 sebelumnya ._. tapi mungkin ga sampek hahaha. iyapss aku juga suka banget loh Rinhyo-Kyuhyun yang disini:3 hehe tunggu aja yaa, doain ide ngalirnya cepet ^^

  2. Wow
    Kaget aku
    Ternyata hyera nkkah sm bpanya kyu
    Pantes kyu gamau plg sm gamau ladenin hyera
    Keren nih skrg jg si identitasnya kyi kebongkar deh rinhyo nya jd kecewa
    Ditunggu klnjtnnya eonni
    Makasi ud dipost^^

  3. YA AMPUN GA KEBAYANG SUMPAH
    GAK ADA ORANG LAIN APA
    ITU OM2 DINIKAHIN AMA HYERA

    ADUHH KYU JGANGAN PERNAH MAU AMA JANDA BEKAS APPA SENDIRI
    GADIS LAIN BNYAKKK

  4. Pantesan kyu sampe sgitu’a sma hye ra ternyata dia jdi kupu” malam, trus nikah sma ayah’a kyuhyun, pantesan kyu jga gk mau pulang krmh’a, baru ngeh, changwook kacauin suasana nih, lebih suka rin hyo sma kyuhyun, next chap ditunggu, Fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s