Pure Love 5

Pure Love

.

.

Sore itu Soojung telentang dengan menyandarkan tengkuk pada lengan sofa seraya menyantap sekaleng es krim cokelat. Terdapat kotak tisu di atas meja yang sesekali ia tarik sehelai untuk menyeka air mata berlinang di pipinya. Pandangan tak beranjak dari drama televisi yang berlatar tahun 1988, dimana sang pemeran laki-laki sedang menyetir mobil jeep dalam kecepatan melebihi batas rata-rata demi menemui sahabat gadisnya yang menggigil sendirian di beranda bioskop.

Stupid Jungpal! Idiot!” teriaknya ketika pemeran Junghwan malah berbalik kembali begitu mendapati Taek telah sampai lebih dulu menemani Deoksun. Tangisan Junghwan sederas air mata Soojung, ditambah isakan gadis itu yang membuatnya tampak seolah menjadi korban paling terluka dari ironi cinta sepihak Junghwan. Empat tisu ia tarik sekaligus lalu mengusap wajahnya yang sembap dan memerah.

Bunyi bel apartemen menginterupsi, Soojung membiarkannya berdering lima kali sebelum  menjeda jalannya tayangan drama menggunakan remote, lantas berjalan dengan kaki menyeret ke arah pintu depan. Manik mata sewarna karamelnya terbuka maksimal begitu menemukan wajah Choi Minho pada layar interkom. Ia bergegas dengan agak berlari untuk memastikan arah jarum jam dinding di ruang tengah. Seharusnya masih ada waktu tiga jam lagi, batinnya.

Ia segera teringat bahwa Minho menunggunya di depan kala bunyi bel semakin gencar. Dibukanya pintu apartemen dan disambut oleh Minho yang berkata:

“Kenapa lama sekali?”

“Seharusnya aku yang heran, kenapa kau di sini?”

Minho mendengus seraya menunjuk arloji yang melingkari pergelangan tangan kirinya ke depan wajah Soojung. “Apa kau lupa kalau kita punya janji?”

“Sekarang masih jam berapa? Sepertinya kau yang lupa.”

Minho menggeleng. “Aku memang sengaja.”

“Lalu buat apa kau bertanya begitu padaku?” Soojung mengernyit.

“Biasanya gadis-gadis selalu menyiapkan diri berjam-jam sebelum keluar bersama pria tapi kau bahkan belum bersiap apa-apa. Waktu tidak tersisa banyak lagi untukmu berdandan.”

“Aku memang tidak berniat melakukan itu.”

“A-apa?”

“Sebenarnya untuk apa kau ke sini awal sekali? Lagipula masih tiga jam lagi, kan? Aku tidak akan lupa, tenang saja. Kau bisa pergi kalau kedatanganmu cuma ingin mengingatkanku saja, atau mau bergabung denganku menonton Reply 1988?”

“Apa?! Kau tidak lihat bagaimana penampilanku, huh? Dan kau masih berpikir sekarang punya waktu melanjutkan drama? Keterlaluan!”

“Oh!” Soojung membelalak setelah menyadari setelan tuksedo sewarna lautan yang membungkus tubuh pria berperawakan 181 senti tersebut. “Aku benar tentang hari ini adalah hari Sabtu, kan? Apa di perusahaanmu hari Sabtu termasuk hari efektif juga? Tidak mungkin, itu keterlaluan, Choi Minho­-ssi.

“Kau yang bodohnya keterlaluan, Shin Soojung-ssi! Sekarang juga ayo ikut aku!” Minho menggiring gadis berkaus hitam dengan celana sebatas lutut itu keluar dari gedung apartemen dan memasuki mobilnya setelah mematikan televisi juga mengunci pintu.

“Kita mau ke mana?”

“Nanti kau akan tahu.”

“Terserah saja,” balas Soojung, kemudian ia menghirup udara panjang, lekas bibirnya mengulas senyuman. “Aku suka aromanya.”

“Apa?”

“Di sini.”

“Benarkah?”

Mint?”

Minho terkekeh. “Hidungmu cukup tajam.”

“Sebelumnya kau memakai aroma lavender, kan?”

“Kau… wah! Hebat!” Minho membeliak.

“Kenapa diganti?”

“Aku hanya sedang ingin sesuatu yang lebih segar. Omong-omong, bagaimana bisa kau tahu?”

“Aku memang sangat sensitif tentang aroma.”

***

“Hei, kau berniat mendandaniku? Berlebihan sekali!” protes Soojung. Matanya menyipit dengan bibir mengatup, sedangkan pria berpakaian formal itu hanya menggeleng seraya menyodorkan setelan gaun biru, kemudian mendorongnya memasuki bilik ganti. Namun ia tetap menahan tubuhnya berada di luar tirai bilik, malah ia berbalik menatap Minho lagi. “Seharusnya aku mempertahankan harga diriku, tapi… kau pikir aku punya uang untuk membayar baju di butik mahal begini? Asal kau tahu, tidak ada gunanya kau membawaku ke sini.”

Minho mendengus. “Tidak bisakah kau diam saja dan melakukan perintahku?”

“Tapi bagaimanapun aku tidak mau memaksakan diri untuk membeli sesuatu di luar batas kemampuanku, Minho-ssi!”

“Siapa yang menyuruhmu membayar?”

“Jadi kau berniat membelikan semua ini?”

“Itu bukan hal yang sulit.”

“Ringan sekali kau bicara.”

“Memang apa masalahnya, sih?!”

Soojung mengembalikan gaun di tangannya pada gadis karyawan butik yang berdiri di samping Minho.

“Berapa harga gaun itu? Akan kubayar,” kata Minho, kemudian mengikuti gadis butik menuju kasir.

“Hei!”

Minho berhenti dan menoleh ketika Soojung menarik tangannya.

“Kalau kau mau membeli baju itu lalu memberikannya padaku, batalkan saja, gaun-gaun perempuan sama sekali bukan style-ku.”

“Memangnya kau siapa? Aku decision maker di sini, ucapanmu tidak berpengaruh apa-apa.”

“Tapi kau membuatku berutang padamu, mungkin harganya sampai sepertujuh gajiku.”

Minho melengos, meninggalkan Soojung untuk berjalan semakin mendekati kasir.

“Choi Minho-ssi! Jebal.”

Minho sengaja berpura-pura tidak mendengar, ia mengeluarkan selembar kartu dari dalam dompet dan memberikannya pada gadis di balik meja kasir. “Tidak perlu dibungkus, akan langsung dipakai sekarang,” ucapnya. Gadis berseragam abu-abu pada bagian atas dan rok span hitam di depannya tersebut mengangguk. Lantas Minho mengambil gaun biru yang telah ia bayar sekaligus kartunya kembali, berbalik dan menyerahkan gaunnya pada Soojung yang menatapnya seperti anak anjing. “Pakai ini.”

“Kau tidak-akan-pernah-bisa memahami posisiku.”

“Aku membeli ini bukan untukmu, tapi demi diriku sendiri.”

“Kedengarannya tidak nyambung.”

“Sudahlah jangan bicara saja, cepat pakai!”

***

Soojung menghela napas ketika menjejakkan sneakers putihnya turun dari mobil Minho. Wajahnya sudah dilapisi riasan tipis dengan surai dikepang longgar menjadi satu ke samping. Ketika ia menatap Minho yang baru saja menyerahkan kunci mobil kepada penjaga restoran, pemuda itu tersenyum, membuatnya memutar bola mata. “Sebenarnya apa maksudmu membawaku ke sini?”

“Kau akan tahu sendiri.”

“Sok misterius lagi? Cih!”

“Kau semakin berani tidak sopan, ya?!” Minho menggertak.

Soojung mendecak, tetapi langsung menelan ludah saat Minho memelototinya.

Mereka telah sampai di sebuah ruang privasi berisi satu meja dengan dua pasang kursi yang berhadapan. Minho mendaratkan pinggulnya di salah satu kursi, dan kala Soojung hendak mengambil tempat di hadapannya, ia berkata, “Kau duduk di sampingku.”

“Apa?”

“Jangan duduk di situ, tempatmu di sini.” Minho menepuk permukaan kursi sebelah kanannya.

“Sebenarnya siapa yang kau ingin kita temui?”

“Sebentar lagi kau tahu sendiri.”

“Sejak tadi aku sudah menahan emosi.”

“Kau tidak perlu marah, aku tidak berniat menempatkanmu dalam bahaya.”

Soojung hanya bergeming, menyelami sorot kedua mata Minho hingga pemuda itu mengangguk sekali. “Kupegang ucapanmu.”

Berselang lima belas menit setelah Soojung berpindah ke samping Minho, pintu berdaun dua terbuka. Seorang gadis berpakaian gaun merah pas badan yang panjangnya dua puluh senti di atas lutut memasuki ruangan, sembari menenteng tas tangan berlapis berlian berwarna cokelat terang yang serasi dengan warna gerai rambut bergelombangnya.

“Lama tidak bertemu, Minho.”

Pemuda yang disebut namanya itu terperanjat di tempat. Dengan mata membelalak dan jakun yang diam di tenggorokan, presensinya sekarang tak berbeda dari seonggok karang.

“Apa kedatanganku terlalu mengagetkanmu?” Gadis yang baru datang itu tersenyum, menyeret mundur kursi di hadapan Minho, lantas mendudukinya. “Kau tahu? Aku sangat merindukanmu.”

Sukar bagi seonggok karang untuk mempertahankan diri seusai dihantam ombak samudera.

Minho mendengus lalu berpaling ke kanan, mendapati Soojung yang memperhatikan mereka berdua bergantian seperti anak hilang. Setelah menarik napas panjang, ia mengembalikan kerlingan pada gadis yang baru datang. “Buat apa kau ke sini?”

“Pikirmu kau sedang menunggu siapa?” Gadis bergaun merah itu memajukan tubuhnya. “Aku datang untuk menghadiri kencan buta, kau juga?”

“Konyol.”

“Kalau begitu, kau datang untuk apa?”

“Sejak kapan kau mau mendatangi acara macam ini?”

“Kenapa? Kau cemburu?”

“Apa?” Minho membuang muka sambil tersenyum separuh. “Ya.”

Soojung mengernyit, tangannya meremas gaun biru yang menutupi lutut sementara pandangannya masih terfokus pada gadis di depan Minho yang kini menyunggingkan senyum. “Saya…” Ia menahan ucapannya, sebab Minho dan gadis bergaun merah menatap dirinya sontak, “lebih baik pergi saja. Selamat malam.” Lantas ia berdiri dan membungkuk sekali pada gadis bergaun merah, sebelum beranjak keluar dari ruangan.

“S-Shin Soojung-ssi!” Minho pun bangkit, namun spontan membeku begitu mendengar suara gadis menyusupi telinganya.

“Siapa dia? Jadi kau lebih mementingkan gadis lain dari pada aku sekarang?”

***

Langkah Soojung tergesa-gesa. Setelah dijemput tanpa persiapan lalu dijebak dalam situasi yang tak menganggap eksistensinya, ia merasa dipermainkan.

Lebih dari itu, ia merasa dipermalukan.

Ketika ia sampai di trotoar jalan, ketika tangannya hendak melambai untuk menghentikan taksi, ia baru teringat; ia tidak sempat membawa dompet dan ponsel sebelum berangkat.

Ia menyisir pandangan, mencari petunjuk tentang lokasi keberadaannya sekarang. Plakat sebuah toko kue menandakan bahwa tempat itu adalah Gangnam, tetapi tetap saja ia bukanlah warga asli Seoul yang dapat dengan mudah mengetahui arah jalan pulang.

Soojung menapak trotoar mengikuti arus jalan, melintasi beberapa kafe dan toko pakaian yang menyetel musik dari dalam; namun terdengar sampai luar, bahkan sudah tujuh kali ia menjumpai pasangan kencan.

Tonight is Saturday night indeed.

Soojung berharap ia menggenggam ponselnya sekarang; sehingga bisa menyalakan GPS dan segera sampai rumah, atau setidaknya mengantongi sedikit uang untuk membayar tumpangan bus. Ia khawatir akan menginap di jalan hingga esok pagi, lalu bolos bekerja, kemudian dipecat oleh Choi Minho.

Ia mencengkeram gaunnya ketika mengingat nama pria itu.

Pelupuk matanya mendadak meneteskan cairan. Ia menangis namun sorot matanya tetap tajam, kakinya terus melangkah meskipun tak tahu arah.

“Hei, Shin Soojung! Gadis gila!”

Soojung berpaling ke kiri dimana teriakan seseorang memanggilnya berasal. Ia mendapati sebuah mobil sport merah dengan kaca mobil bagian depan terbuka, dan seorang pria berwajah mirip dinosaurus cengengesan di balik gagang kemudinya.

“Mau ke mana kau jalan-jalan sambil memakai pakaian bagus begitu?”

“Kim Woobin!” Soojung bergegas turun dari trotoar dan menghampiri pintu mobil yang terbuka itu. “Apa kau sedang terburu-buru?”

“Tidak juga, aku masih punya waktu satu jam. Kenapa?”

“Bisa aku meminta bantuanmu?”

“Bantuan apa?”

“Apa aku boleh menumpang? Aku benar-benar tidak tahu bagaimana cara untuk bisa pulang sekarang.”

“Kau benar-benar gila, ya?” Woobin tergelak. “Bilang saja kalau ingin menumpang, tidak perlu ditambah alibi konyol begitu.”

“Aku serius, Woobin-ssi.”

Woobin tersenyum misterius kala menyadari mobil hitam milik Minho yang berhenti di belakangnya dari pantulan cermin spion, kemudian membuka kunci pintu mobilnya. “Masuklah.”

“Terima kasih!”

.

.

-TBC, perhaps-


Apa masih ada yang berminat dengan cerita ini? Ehe.

Advertisements

6 thoughts on “Pure Love 5

  1. ADUHHH DIA BKN KEK OBAT NYAMUK DIANTRA PASANGAN
    TP MIRIP ANAK ILANG
    BALIK AJA KERUMAH
    CARIIN PASANGAN
    KASIHAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s