Saladship 1

saladship

“Mau kukenalkan temanku?”

.

.

Sabtu sore.

“Apa?!”

“Gila.”

What?!

Choi Minho menghela napas setelah mendapat tiga teriakan sekaligus. Tak pelak, karena baru saja dia menyatakan bahwa kemarin ditembak oleh gadis jurusan psikologi yang populer memiliki senyum menawan serta tubuh semampai bernama Jo Boah. “Jangan keras-keras, orang-orang jadi melihat kita.” Dia berbisik.

“Terus tanggapanmu bagaimana?” Sementara Kyuhyun dan Rinhyo masih ternganga, Shin Soojung yang sudah hilang kesabaran bertanya sambil mengoyak lengan lelaki bersurai karamel gelap.

“Ya … begitulah.”

“Apa maksudmu begitulah?”

“Kutunda sampai besok.”

“Bagus!” Tak puas hanya mengoyak, gadis pemilik rambut sewarna kakao itu menepuk lengan lelaki di sampingnya tersebut. “Kau mati kalau sampai menerimanya.”

“Aku tahu.”

Soojung memegangi kepalanya yang mendadak pening ketika melihat Minho menyeruput cappuccino setelah meniupnya beberapa kali. Perlahan dia mengerling ke arah depan, tempat raga Kyuhyun ditinggalkan sang jiwa; sorot matanya kosong dan bahkan helai rambut berkelir kayu manisnya tak bergeming barang seayun pun. Soojung berani sumpah, kondisi Kyuhyun sekarang menyedihkan sekali hingga membuatnya ingin memasakkan lelaki pucat itu bubur ayam. “Kau baik-baik saja, Cho?”

“Menurutmu tidak? Demi alasan apa aku tidak harus baik-baik saja?”

Timbul semacam kejanggalan yang menarik Soojung dan Rinhyo bersitatap.

“Kau jadi bertele-tele kalau sedang menyembunyikan sesuatu,” kata Rinhyo.

“Apa, sih, maksudmu?” Sekarang lelaki kayu manis yang tampak salah tingkah buru-buru menenggak vanilla latte yang diliputi kepulan uap di mulut cangkir. Jadilah ketiga pasang mata temannya melotot tajam.

“Hei! Itu ‘kan masih pa—” Belum tuntas Rinhyo menukas, Kyuhyun mengeluh lidahnya terbakar. Gadis pemilik surai kastanye tersebut lantas mengangkat tangan untuk memanggil pelayan kafe dan memesan segelas air mineral.

Soojung memandang penuh simpati sementara Kyuhyun mengipasi bibirnya. “Cho kami yang malang.”

“Jangan pernah bilang begitu lagi, Shin!”

“Kasihan.”

“Hei!”

“Mau kukenalkan temanku?”

“Siapa?” itu sahutan Minho, yang langsung mengaduh kala kepalan jemari Soojung menghantam kulit kepalanya. “Kau ini … kenapa harus keras sekali? Kenapa?! Sakit, tahu!”

“Memangnya kau mau apa? Ingin kukenalkan dengan temanku juga? Urusi dulu Jo Boah-mu itu!”

“Siapa yang bilang begitu? Aku ‘kan cuma bertanya! Dan apa hubungannya dengan Jo Boah?!”

Perkelahian mereka mungkin akan berlangsung dua hari semalam jika saja Rinhyo tidak mendadak memanggil Soojung. Gadis kastanye itu lantas mengedikkan kepala menuju ponsel bergetar di atas meja, memberitahu masuknya panggilan telepon yang membentangi layar.

Soojung mengangkat ponselnya dan menggeser logo terima. “Ada apa, Oh Sehun?”

:::

Setelah kepergian Shin Soojung yang harus menemui Oh Sehun dan Sam Rinhyo yang berpamitan karena sudah ditelepon ayahnya, tinggallah kedua lelaki duduk bersama. Musik keluaran terbaru yang mengalun secara acak semenjak mereka datang tiba-tiba memutar versi piano Moonlight Sonata. Berbeda dengan Minho yang berangsur mengulas senyum, Kyuhyun masih terpaku melamunkan sesuatu sehingga terus menatap kaki meja.

“Ini musik kesukaan Soojung.” Minho bergumam. Gerak tubuhnya semakin rileks ketika meneguk sisa cappuccino yang kini suam-suam kuku. “Sampai sekarang aku tidak mengerti bagaimana bisa dia juga sangat menyukai hip-hop. Padahal ritme keduanya berlawanan sekali.”

Tentu aneh bagi Minho yang tak mendapat respon apapun dari temannya. Maka dia beranjak. Melambaikan sebelah tangannya tepat di depan wajah lelaki kayu manis. “Hei, Cho, kau serius baik-baik saja?”

“Demi tanganmu yang bau kopi susu, memangnya aku terlihat seperti apa? Sudah kubilang aku baik-baik saja!” Kyuhyun menyenggak sambil menghempaskan lengan Minho. Sejemang kemudian mendengus sesaat menyadari wajah terperanjat temannya. Dia tampak menyesali perbuatannya barusan sehingga menurunkan nada ucapan, “Tolong jangan terus menanyakan hal yang sama.”

“Oh, oke.” Dengan canggung Minho kembali duduk. Lalu seraya menjaga suaranya tetap rendah, dia berhati-hati mengatakan, “Tapi kau yakin baik-baik saja—maksudku, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi kau terlihat … agak tidak biasa.”

“Kau cuma mencemaskan sesuatu yang tidak perlu.” Sebelah sisi bibir Kyuhyun menyunggingkan senyuman tipis, yang mana membuat Minho menautkan alis.

“Sepertinya tadi kau tidak sependiam ini sampai …” Minho membelalak pada Kyuhyun seolah baru teringat sesuatu. “Jo Boah?”

“Kalau kau melantur begini lebih baik kita pulang saja.”

“Cho Kyuhyun,” sebut Minho, sontak menghentikan pergerakan lelaki kayu manis yang sedang berdiri mengenakan mantelnya. “Kau salah jika berpikir aku dan Jo Boah bakal bersama. Apa aku sejenis teman makan teman buatmu?”

“Aku bukannya meragukanmu,” aku Kyuhyun yang diam-diam melegakan raut muka lelaki surai karamel. “Tapi percaya atau tidak, aku juga bingung kenapa reaksiku begini. Aku tidak bermaksud padamu tapi … dadaku masih terasa sakit.”

“Kupikir Soojung benar, kau memang butuh dikenalkan dengan gadis lain.”

:::

Saat malam di hari yang sama, Kyuhyun bertandang ke apartemen Soojung di mana gadis itu sudah mengenakan piyama ketika membukakan pintu. Sambil menguap sang gadis menyoalkan kedatangan Kyuhyun yang tak wajar dan seketika membuat lelaki kayu manis baru tersadar.

“Ini ‘kan sudah jam setengah satu.”

“Oh! Benarkah?”

Sleepwalking-mu sedang kumat atau bagaimana?”

“Bukankah kau yang menderita sleepwalking?”

“Oh! Benarkah?” Kekeh hambar Soojung mengudara. “Benar juga.”

Delapan detik setelah itu keduanya terdiam manakala Kyuhyun tetap berdiri tegak sementara Soojung menyandari kosen.

“Omong-omong, kau tidak hendak menyilakan aku masuk?”

Lho, memangnya kau mau berlama-lama di sini?”

“Sebentar, sih, tapi sesuatu yang ingin kubicarakan lumayan serius … agaknya.”

Dahi Soojung mengerut kala tampak menimbang sejenak. “Kau yakin tidak ada yang melihat kita?”

Sehabis menengok kanan dan kiri, Kyuhyun berucap mantap, “Aman.”

:::

“Jadi kaukira aku serius waktu mengatakan itu?” Tawa Soojung begitu kuat hingga perutnya menegang yang mengakibatkan ia merintih sesekali. “Memangnya temanku yang mana yang kauharap kuperkenalkan padamu?”

Tak terima, Kyuhyun mengelak dan bermuka masam, “Mengapa ucapanmu membuatku terdengar seolah kelewat murahan, sih? Padahal ‘kan kau sendiri yang menyarankan itu tadi.”

“Oke, oke.” Masih belum muncul pertanda gelak Soojung segera berhenti, tangan gadis berambut kakao tersebut membungkam mulutnya sendiri—setidaknya dia berusaha menahan tawa demi Kyuhyun yang merengut dua senti. “Jadi sehabis kita pulang dari kafe tadi, kau terus memikirkan ucapanku lalu—tanpa sadar waktu—kau langsung datang ke sini?”

“Barangkali tidak sepenuhnya salah,” kemam lelaki kayu manis ogah-ogahan mengakui, “kalau Minho tidak meyakinkanku tadi, aku juga tidak mungkin sampai di sini,” tambahnya membuat Soojung memanggut-manggutkan kepala.

“Oh, jadi Maruko juga setuju denganku? Tak kusangka ternyata ideku bagus juga, ya?”

Bukannya bagus, hanya tidak buruk.”

“Buktinya sampai membuatmu tidak bisa tidur dan malah ke sini dini hari.”

“Sudahlah, lupakan! Aku pulang saja!”

“Kenapa kau jadi menyalak padaku, sih, Cho?”

“Aku pulang!” Kyuhyun bangkit dan melangkah lebar dengan agak menghentak menuju pintu keluar. “Kau memang tidak bisa diharapkan, Shin.”

“Hati-hati langkahmu, Cho! Tahu sendiri ‘kan penghuni samping flatku ini cerewetnya minta ampun?” Soojung berbisik tajam namun gedebuk jangkah Kyuhyun makin menjadi. “Kenapa kau sulit diberitahu, sih?!”

“Biar sekalian saja kau perang dunia ke-tiga dengan bibi sebelah!”

“Berani, ya, kau berkata begitu?!” pekik Soojung tertahan sambil berlari kecil menyusul Kyuhyun dan memukul bokong lelaki itu. “Awas saja, bakal kubuat kau menangis haru karena berhutang budi padaku!”

Lantas Kyuhyun menghilang dari balik pintu setelah meninggalkan lirikan sebal pada Shin Soojung.

-tbc-


(spoiler chapter 2)

“Bagaimana menurutmu? Namanya Jung Eunji, dia cantik, senyumannya manis, ramah sekali, vokalis band rock jurusan sastra, just put your trust in me that she’s been amazingly perfect! Kau pasti langsung jatuh cinta setelah bertemu langsung dengannya. Maruko, jangan tertawa! Aku serius!”


A/N:

  1. Maruko = Minho’s nickname that Soojung has given.
  2. Chapter dua akan dilanjutkan oleh Tsalza (kutunggu, yha).
  3. Chapter dua akan dipassword supaya beranda blog tidak dipenuhi judul cerita yang sama.
  4. Untuk yang berminat, bisa klik page Need Password.
  5. It’s hurt to be treated like newspaper (just saying).
Advertisements

6 thoughts on “Saladship 1

  1. ff baru ni wkwk
    aku tertarik sii sm cerita 4 sahabat ini, tp part rinhyo dikit banget padahal aku suka karakter dia 😦
    semoga part selanjutnya rinhyo dpt bagian ya wkwk
    semangat ya 😍😍😍

    • Tenang aja ya, di cerita ini perannya udah dibagi masing-masing kok. Tiap orangnya kita usahakan punya karakteristik yg kuat, jadi karakternya pasti muncul menurut alur biar nggak gonjang-ganjing kea ff series kemarin-kemarin huft. Jadi kalau pengen tahu part rinhyo lebih banyak, pastikan baca selanjutnya yaaa HAHAHA.

      Terima kasih sudah mengutarakan kritik-sarannya mengingat kita nggak bisa baca pikiran orang sekaligus tidak memperlakukan kami seperti koran (((apasihbel))) ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s