Ace-X 04

ace-x 4

ACE-X 4

 

 

***

 

 

RESTRICTED AREA

 

 

Kyuhyun menatap datar, sekaligus membaca tulisan yang tertera di papan depan pintu gerbang hutan. Hutan paling gersang di Jeju ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat merupakan satu – satunya hutan yang memiliki pohon tanpa daun dan kering. Tapi masih belum ada yang tahu apa penyebab kekeringan tiba – tiba didaerah ini.

Annyeong Hasimnika!” suara lantang milik pria paruh baya berlogat jeju mengusik kegiatan Kyuhyun. Pria itu menoleh kearah suara, Jooheon yang sejak tadi berada disisinya sontak berjalan menghampiri pria itu.

Sedangkan Kyuhyun masih berdiri ditempatnya. Tak berniat mendekat.

Annyeong Haseyo, ahjussi!”  Jooheon membungkuk dalam, memamerkan lesung pipitnya sambil menjabat tangan pria tua itu. “Nama saya Jooheon, dan pria itu pimpinan saya. Cho Kyuhyun sajangnim.”

“Aku Gong Il. Biasanya dipanggil Gong ahjussi, penjaga hutan disini.” Gong Il tersenyum begitu ramah. Sedangkan Jooheon hanya membalas dengan senyuman samar, pria muda itu menarik kuat sekali tangan Gong Il hingga pria itu tersentak kaget. Selama dua detik pria tua itu tak berkedip, kemudian tatapannya kosong.

“Baiklah, Gong Il-ssi sekarang dengarkan perkataanku!” Jooheon memerintah. Mengambil alih kuasa alam bawah sadar Gong Il dengan mudah. Terbukti dari cepatnya respon anggukkan Gong Il.

Jooheon menoleh kebelakang, “Cho sajangnim, kita bisa mulai sekarang.” Ujarnya tanpa menanggalkan kesan penuh sopan santun.

Kyuhyun mengangguk sekali sebelum berucap, “Cari tempat aman.”

 

***

            “Kenapa manusia bumi selalu bingung tentang penampilan?”

Rinhyo menatap pantulan diri di cermin almari, bola matanya bergeser kearah Kibum yang ikut terpantul di dalam sana. Pria itu sibuk membuka majalah fashion diatas ranjang. “Karena disini penampilan menggambarkan seseorang. Kalau kau rapi itu artinya kau orang baik, sebaliknya jika penampilanmu acak – acakkan orang akan berpikir kau bukan orang baik. Intinya seperti itu.” Kibum jawab tanpa mengalihkan pandang dari model pakaian milik designer ternama New York yang terpampang dalam majalah.

“Kenapa bisa begitu? Di planet kita, hal seperti itu tidak masuk akal sama sekali.”

Kibum mulai menghembuskan napas frustasi, ia tekan emosinya serendah mungkin agar tidak membentak. Jika Shin Soojung selalu mengocehkan keluhan ini itu, Sam Rinhyo lebih parah. Ia seperti anak berusia lima tahun yang ingin tahu segala hal.

“Karena ini di bumi, bukan di Ace.”

“Oh, begitu ya.” Rinhyo manggut – manggut mengerti, memutar tubuh hingga buat rok selututnya berputar indah. “Sepertinya manusia bumi punya banyak cara untuk mewarnai planetnya dengan hal – hal unik.”

“Ya, mereka punya wadah untuk ber-eksplorasi. Tidak seperti Ace yang selalu terpaku dalam batas aturan.”

Oppa!” Kibum menaikkan pandangan sebentar dari majalah, sedikit terkejut ketika menemukan Rinhyo yang sudah duduk dihadapannya. “Untuk apa manusia bumi membuat sepatu heels? Itu kan tidak nyaman dipakai.”

Kibum mengeratkan giginya, membuang napas kasar lalu beranjak dari ranjang. “Jangan lupa bawa tasmu diatas meja, aku tunggu diluar.” Tanpa lupa bawa majalahnya, Kibum melarikan diri keluar kamar.

Soojung menunggu di ruang tengah. Meskipun wajahnya begitu datar, tapi bisa terlihat jelas kalau gadis itu sedang dirundung perasaan kesal. “Apa kalau mau pergi ke seminar harus pakai sepatu hak tinggi? Aku tidak mau pakai ini.”

Kibum memutar bola mata, sepertinya keluar kamar juga merupakan pilihan yang tidak tepat. Terpaksa ia harus menutup majalah fashion-nya, berjalan duduk diatas sofa sambil menatap Soojung. “Kau harus biasakan, sepatu hak tinggi disini bisa disama artikan dengan kesopanan. Kalau pergi ke acara formal, setidaknya harus pakai fantovel atau sepatu hak tinggi.”

“Tapi aku ingin pakai slippers.”

“Tidak bisa, Shin Soojung.”

“Bum oppa! Sudah waktunya untuk pergi.” Rinhyo keluar dari kamar, tak lupa bawa tasnya. Menunjuk kearah jam dinding dengan antusias. Soojung berdiri malas, berjalan keluar apartemen dengan setengah hati. Sedangkan Kibum hanya bisa menghela napas panjang. Bagaimana pun beradaptasi adalah hal yang sangat sulit dilakukan untuk Soojung. Ia tahu itu, karena ia juga seperti itu.

 

***

 

Cho Kyuhyun dan Jooheon sudah duduk di bangku baris tengah ruang seminar. Sore tadi urusannya di Jeju selesai, dan malamnya ia berada disini. Menunggu acara seminar tentang ditemukannya dua planet asing dimulai.

Pikiran Kyuhyun kembali melayang pada kejadian tadi. Dimana ia dan Jooheon menggali informasi dari Gong Il ahjussi dibawah pengaruh hipnotis. Dari informasi mata – mata X, hutan rimbun yang kini sudah gersang itu menimbun serenety stone yang sudah bertahun – tahun jadi mangsa kerajaan X. Ia diutus kesini untuk menemukan batu itu, menghancurkannya hingga tidak ada kebaikan di bumi ini. Setelah itu menguasainya, menjadikan manusia budak dan tentunya X bisa dengan mudah menghancurkan Ace yang selalu jadi penghalang keberhasilan X untuk ambil alih bumi.

Kata Gong Il, sekitar sepuluh tahun yang lalu ada seorang ilmuwan tua yang mengerahkan lima buruh bangunan untuk menggali titik pusat hutan. Dari penggalian itu sang ilmuwan menemukan sebuah batu, tanpa pikir dua kali Kyuhyun bisa menebak kalau itu adalah serenity stone. Gong Il tidak tahu seperti apa bentuk detail batu itu, yang ia tahu setelah batu itu diambil hutan jadi gersang secara tiba – tiba. Semuanya terjadi hanya dalam semalam, tanpa kebakaran hutan.

“Ada dua, ah tidak ada tiga penduduk Ace disini.” Jooheon berucap pelan pada Kyuhyun. Selama di bumi, Jooheon yang akan menjadi kaki tangan Kyuhyun. Dia adalah prajurit terbaik di kerajaan X dan punya otak pintar untuk jadi sekertaris utama perusahaan.

“Dimana?”

“Aku tidak bisa temukan tempatnya, tapi aku bisa rasakan.” Jooheon punya sensitifitas sangat tinggi, ia juga merupakan paranormal yang sangat hebat. Jooheon belajar ilmu sihir selama di X, jadi ia bisa melakukan hipnotis atau kegiatan supranatural lainnya. Berbeda dengan Kyuhyun yang punya kekuatan fisik layaknya mutan. Ia adalah pangeran sekaligus pengendali terbaik se-kerajaan X. Jadi bisa dibayangkan bagaimana perpaduan Kyuhyun dan Jooheon untuk pertempuran gerilya ini.

“Segera temukan dan laporkan padaku.”

“Baik.”

 

***

 

Minho berkali – kali menghembuskan napas panjang. Kaki kirinya bergerak tak sabar membentur lantai tak terhitung. Taemin yang baru saja kembali dari mengintip sebentar kearah penonton menepuk punggung Minho, memberi motivasi secara non-verbal.

“Tidak ada orang lagi?”

Taemin menggeleng. “Jauh dari ekspektasi kita, banyak yang datang. Ada sekitar lima baris yang terisi dari sepuluh. Itu berarti sudah lima puluh persen dari kursi yang tersedia.” Bocah yang punya wajah cantik itu tersenyum kecil. “Kau harus semangat, hyeong. Kursi itu tidak kosong lagi. Ada banyak orang yang menunggumu bicara didepan.”

Bagaimana pun Choi Minho adalah hyeong kesayangannya. Jujur saja, ia tidak percaya dengan teori Minho yang menurutnya kurang akurat itu. Tapi ia tidak bisa meremehkan usaha keras Minho. Ia tahu Choi Minho bukan orang yang punya tekad tinggi untuk sesuatu yang tidak beralasan.

Minho keluarkan napas panjang, berharap rasa gugupnya hilang. Ia mengepalkan kedua tangan di depan dada, memberi kekuatan pada dirinya sendiri sebelum akhirnya keluar dari belakang panggung. Berjalan dengan langkah yang sudah ia tata serapi mungkin menuju podium.

Mulanya ia menatap ke arah para peserta seminar, meskipun tidak penuh tapi ini sudah lebih dari ekspektasinya. Taemin benar, kursi nya sudah tidak kosong lagi.

Lee Taemin yang bertugas sebagai moderator sekaligus pembawa acara seminar kali ini mulai memperkenalkan profil Choi Minho pada para peserta, sekaligus memberi tahu materi apa yang akan disampaikan Minho.

Minho menghela napas dalam – dalam, lalu mengeluarkannya panjang. Kedua tangannya berkeringat ketika Taemin selesai membacakan profilnya. Kini gilirannya untuk bicara. Layar LCD di belakang tubuhnya pun sudah menampakkan judul materinya. tentang dua planet misterius yang tersembunyi di galaksi bimasakti.

 

***

 

Soojung, Rinhyo dan Kibum duduk di antara penonton sambil menatap ke arah panggung. Disana ada Minho, pria yang sudah memberinya brosur tempo hari dan juga seorang pria yang tak mereka kenal. Wajahnya tidak begitu cocok untuk jadi pemandu acara formal seperti ini.

 

“Tch, bodoh sekali. Di lihat dari sisi mana pun, penemuan pria ini tidak akurat.”

            “Aku mengikuti seminar ini hanya untuk mengetes saja sudah sejauh mana. Tapi tertanya masih sama saja.”

            “Tujuan kita untuk menjatuhkan pria ini nanti pasti akan berhasil, lihat saja. Dasar, tidak masuk akal!”

 

            Samar – samar Soojung bisa dengar suara orang – orang yang duduk di depannya. Hampir seratus persen dari mereka hanya memberi olokan pada Choi Minho meski dengan cara berbisik.

“Hei!” Tanpa tunggu apapun, Soojung mengetuk pundak pria yang duduk tepat di hadapannya. Menjangkau orang yang terdekat terlebih dahulu. Pria itu menoleh sambil menampakan wajah kesal, namun senyum genitnya keluar kala menatap wajah Soojung.

“Anda memanggilku? Ah, nama saya Kim Pil. Anda?”

“Aku memanggilmu bukan untuk berkenalan!” Alis Pria Kim Pil itu naik ke atas. Ekspresinya kecewa bercampur terkejut karena gadis di hadapannya ini tidak memakai bahasa formal sama sekali. “Kalau kau niat datang kesini cuma untuk memberi kritikan, lebih baik keluar saja sana!”

“A—apa?” Kim Pil tersenyum miring, “Nona, sepertinya kau tidak tahu siapa aku, ya?”

“Kau Kim Pil. Lupa sudah memperkenalkan diri tadi?” Wajah Soojung masih begitu datar ketika melanjutkan, “Pak, tolong bilangkan juga pada orang – orang di sebelah anda untuk menutup mulutnya ketika acara berlangsung. Apa orang – orang disini tidak punya sopan santun?” Soojung menggeleng sambil kembali menyandarkan tubuh.

Kim Pil kembali mendecih, ia menatap Soojung tajam lalu membuang muka ke arah depan lagi. Tanpa sadar pria itu menutup mulutnya seperti apa yang sudah Soojung perintahkan.

Senyum miring Soojung terulas, lega karena pria itu akhirnya diam. Senggolan siku dari sebelah kanannya membuat ia menoleh. “Selamat, kemampuan ber-ekspresimu semakin berkembang sekarang.” Kibum berbisik tanpa menatap Soojung.

“Huh? Maksudmu?”

“Aku heran kenapa kau cepat berkembang kalau menampakan ekspresi – ekspresi sinis seperti itu. sampai sekarang saja tersenyum masih harus disuruh, tapi menampakan seringaian sudah begitu lihai.”

Soojung memutar bola mata malas, pernyataan Kibum sangat tidak penting menurutnya. Ia membuang pandang ke kiri, kedua matanya membesar ketika menatap simbol infiniti warna biru milik Rinhyo jadi lebih gelap dari sebelumnya. Memang tidak sepenuhnya hitam, tapi kalau di lihat terus menerus simbol itu hampir berwarna hitam. Hari ini Rinhyo memakai gaun tanpa lengan yang menampakan pundak hingga sedikit bagian atas punggungnya. Kemarin Kibum yang belikan.

“Hyo, punggungmu.”

Rinhyo menoleh, “Kenapa punggungku?” gadis itu berusaha menengok kebelakang mesti sulit dengan ruang gerak se sempit ini.

“Simbol itu berubah  warna. Aku yakin ada kaum X disini.”

“Benarkah? Ah, pasti itu yang jadi alasan kenapa punggungku terasa sedikit aneh.” Rinhyo berucap sambil mengusap punggungnya pelan – pelan.

Sedangkan Soojung menelisik pandangan ke segala arah. Kepalanya berhenti ketika pandang matanya menemukan seorang pria berjaket kulit hitam yang juga tengah memutari ruang seminar dengan kedua mata.

“Auranya sangat hitam. Begitu pekat.” Celetuk Rinhyo, gadis itu mengikuti kemana arah Soojung memandang.

Kedua mata Soojung membesar ketika tatap matanya dan pria itu bertemu. “Sialan.” Umpat Soojung ketika pria itu mengulas senyuman kecilnya.

“Kenapa?”

“Aku… ini… sulit sekali.” Rinhyo menoleh pada Soojung, otot – otot leher gadis itu keluar saking kerasnya berusaha.

“Kau bisa.”

Soojung mengumpulkan segala fokusnya, menumpuknya pada sosok pria berjaket hitam itu tanpa suara. Hingga ketika senyuman miring licik pria itu terulas, ia bisa menurunkan bahu. “Jooheon. X. Aku menemukannya.”

 

***

 

Sajangnim, aku menemukannya.”

Jooheon berucap sambil menoleh pada Kyuhyun. Senyum sang pangeran merekah tipis. Ia menoleh ke arah tatap mata Jooheon. Memandangi dua gadis yang tengah menatap mereka dengan tajam.

“Sepertinya salah satu mereka ada yang punya kemampuan vision.”

“Ya, namanya Shin Soojung dan gadis di sampingnya bernama Sam Rinhyo, dia pengendali aura dan punya mind control yang sangat baik.”

Tatap mata Kyuhyun bertemu dengan kedua mata teduh milik Rinhyo. Ia sangat yakin, Rinhyo tahu kalau mereka adalah X. Tapi ekspresi gadis itu masih saja tenang, tak seperti gadis satunya yang seperti mau berlari ke arahnya lalu memukul wajahnya keras – keras.

“Kurasa akan lebih mudah kalau menjadikan mereka keledai kita.”

“Maksud anda, sajangnim?”

Kyuhyun kembali duduk di tempatnya dengan nyaman. Kedua matanya juga masih lurus ke arah Choi Minho yang sibuk menjelaskan ini itu. “Aku merasa, mereka bisa membantu kita untuk menemukan batu serenety sialan itu.”

 

TBC-

Ada yang masih ingat ff ini?

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Ace-X 04

  1. crita anti-mainstream nih
    aku suka sm karakter rinhyo yg tenang dan cool, sukak bgt :v
    tp karakter sojung jg bikin ngakak sii
    aku nunggu mereka ketemu dan konflik bareng
    semangat nulis thor!LOVE!

  2. Akhirnya ada lanjutannya yaa… aku hampir lupa klo ada ff ini hehehhehe… akhirnya mereka ketemu juga. Apakah akan ada pertengjaran? Ato ada yg akan saling jatuh cinta?? D tunggu lanjutannya

  3. Ciye karakter rin hyo yang tenang disukai sama kyuhun… Bagus nih
    Lama2 nanti mereka dekat..
    Gak sabar dengan next chapternya.. Semangat kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s