Ace-X 5

ace-x 4

“I will help you as long as I can do.”

 

 

“Kau pasti mengingatnya, Soojung.” Menepuk-nepuk bahu adik perempuannya, Kibum terus mendesak supaya Soojung mengeluarkan sepatah informasi mengenai pria X lain yang tadi mereka dapati berada di samping Jooheon. Konsekuensinya, saat itu gema suara bas Minho yang tengah menjawab berbagai pertanyaan hadirin tak lagi menjadi acuan atensi mereka. “Mungkin sedikit lupa karena tidak terlalu fokus pada yang satunya, tapi kemampuan visionmu luar biasa, Soojung.”

“Tidak.” Gelengan lemah disertai embus keputus-asaan Soojung membuat kakak dan teman dari klan airnya menghela napas. “Aku tidak tahu benteng apa yang dimiliki pria satunya tapi … sungguh, visionku benar-benar tidak mempan.”

“Benteng?” Rinhyo menautkan alis. “Benteng apa yang kaumaksud?”

“Aku juga tidak mengerti apa.” Kepala Soojung menampakkan gerik negatif lagi, lalu meneguk air mineral dari botol plastik yang telah kehilangan topinya—karena sudah dipersiapkan oleh sang kakak. “Kau tahu? Persis cara kalian melihatku, seperti para manusia melihat sesamanya, hanya fisik tubuh yang bisa kupandang dari pria yang satu itu.”

“Ini sangat aneh.” Rinhyo mendesah, dan mereka bergeming sekian menit berikutnya, bergelut dalam pikiran bancuh masing-masing dalam situasi kemelut sebab presensi mereka yang terdeteksi pihak musuh.

Di situasi yang sama, perdebatan dalam seminar semakin rancu yang secara terang-terangan berusaha menjatuhkan opini sang pembicara. Para penanya tak memberi kesempatan bagi Minho untuk membuka suara, di mana setiap kata yang hendak dilontarkannya selalu terinterupsi oleh pertanyaan diiringi caci-maki—dengan beberapa lemparan bola tisu—lainnya. Moderator Lee yang notabene kurang berpengalaman juga tidak mampu mengendalikan suasana, jadi bisa dibayangkan betapa ricuh ingar-bingar dalam ruangan itu.

“Aku tidak tahan lagi.” Menggumam, Soojung bangkit. “Temui aku di luar jika kalian selesai dengan seminar ampas ini.”

“Keluar bukan solusi terbaik.” Kibum menahan pergelangan tangan adiknya, lantas mengalihkan pandangan kepada Rinhyo. “Ambil alih mikrofon, lalu kendalikan pikiran mereka semua.”

“Aku?” Seraya membulatkan mata, telunjuk Rinhyo mengacung di muka hidungnya sendiri. “Karena belum pernah melakukannya pada banyak orang sekaligus, aku tidak yakin apakah keahlianku bisa—“

“Kau mampu.” Intonasi penuh keyakinan dibalut bumbu kepercayaan sorot mata Kibum menguatkan ucapannya menguar di udara. “Kalian adalah Aceries terpilih yang memiliki penguasaan terbaik. Jangan pernah lupakan itu.”

“Tapi ….” Deru berat Rinhyo lepaskan.

“Kau hebat, Rinhyo.” Kibum menggapai lengan atas milik gadis klan air itu. “Hanya perlu meningkatkan kepercayaan diri sedikit saja, kau bisa melakukan apa pun dalam lingkup keahlianmu.”

“Mudah tidaknya jalan menuju serenity stone ada di tanganmu sekarang.” Notasi berat Soojung terdengar sembari mendaratkan bokongnya kembali ke kursi semula, membuat tatapan sarat tanya gadis klan air terpusat menghadapnya. Jemarinya bergerak menyalurkan isyarat agar Rinhyo menepis jarak mereka dengan mencondongkan tubuh, pun ia—karena keberadaan Kibum yang duduk di antara mereka—lalu dengan jelas ia berbisik, “Kalau kau sukses menyelamatkan mereka dari kekacauan ini, kita akan lebih mudah mendekati dua pria penyelenggara seminar itu. Mereka sudah mengupas banyak fakta tentang Ace dan X, bukankah kemungkinan mereka mengetahui sesuatu tentang serenity stone juga besar?”

“Soojung benar.” Persetujuan mutlak Kibum ucapkan. “Bila yang terjadi seperti itu, akan sangat banyak membantu.”

“Rinhyo ….” Soojung menangkup sebelah tangan Rinhyo dengan kedua telapaknya. “Pengendali aura dan emosi di antara kita bertiga hanya kau. Tidak mau membuang kesempatan emas, ‘kan? Ayolah.”

Rinhyo memejamkan mata sejemang, menghela dalam napasnya dan meniupkannya beberapa kali. Raut cemas Soojung dan Kibum bersitatap.

“Aku tidak yakin apakah bisa berhasil, tapi … akan kucoba.”

 

::

 

Telinga Rinhyo menangkap dengung pekak keributan ketika tapak kakinya menyentuh panggung seminar. Si moderator mendelik seolah mengisyaratkan ‘apa yang kau lakukan di sini, Nona?’ namun tak ada waktu untuk menghiraukannya. Ia mengambil alih mikrofon dari genggaman lelaki itu.

Tak pelak sampai saat ini pun dilematik belum berhenti menumbuknya, jadi ia memandang sejenak Kibum dan Soojung yang berdiri di sisi panggung. Kakak-beradik itu mengangguk mantap nyaris bersamaan, menyalurkannya kekuatan untuk mengambil napas panjang kemudian meloloskan beberapa patah kata untuk merebut interes para hadirin.

Sayangnya cuma sepersekian sekon ia berhasil mencuri tatapan puluhan pasang mata dalam ruangan itu, sebelum mereka kembali sibuk memperbincangkan topik mereka sendiri—menyudutkan Choi Minho.

Terlanjur memulai perihal yang sudah diputuskannya tentu sia-sia bila berakhir dengan membiarkan situasi seperti ini. Seteguk ludah, sehela udara, dan kemudian Rinhyo melantangkan suaranya di kepala mikrofon. “Mohon perhatiannya, Saudara-Saudara!”

Tibalah saat seluruh manik hadirin terkonsenterasi padanya, Rinhyo lekas mengerahkan kepiawaiannya melalui sorot mata, melabuhkan semua energi positifnya secara bertahap ke dalam tubuh mereka demi mengubah aura beserta emosi di waktu yang sama. Hal itu mendorong sirkulasi darahnya sendiri mendadak bergolak, mengalir dalam kecepatan ganda seiring sekujur badannya membuahkan bulir-bulir keringat; layaknya terserang panas-dingin di kala demam.

Di sisi panggung, air muka Soojung yang sepanjang harinya kaku sebeku es, mengguratkan sepercik raut asing ketika melihat tangan terkepal Rinhyo berguncang. Ada sesuatu yang terasa menendang-nendang dalam dadanya, yang mendesak otaknya memberi perintah supaya tubuhnya bergerak menarik Rinhyo turun dan membiarkannya istirahat. Tapi—

“Rinhyo pasti baik-baik saja, tidak usah khawatir.” Kibum berkata sambil mengusap punggung adiknya.

“Khawatir? Aku?” Menggeleng, Soojung mengulas segaris senyuman tipis yang dingin. “Ya, khawatir rencana ini gagal.”

“Bukan,” balas Kibum dengan gelengan pula, “detak jantungmu mengatakan semuanya, juga ekspresimu,” seulas senyuman, “sedikit demi sedikit kau sudah berubah, dan perasaanmu sekarang sedang mencemaskan Sam Rinhyo.”

“Begitukah?” Soojung mengernyit. Membutuhkan kurang-lebih lima detik selagi mencerna ucapan kakaknya. “Ya, anggap saja begitu.”

“Kita berhasil.”

Klan api bersaudara refleks menoleh ke asal suara Rinhyo yang terdengar lirih, yang entah sejak kapan berjalan tertatih-tatih menghampiri mereka sembari memegangi kepalanya bersama si lelaki moderator. Yeah, jika tidak dipapah oleh lelaki moderator itu mungkin Rinhyo sudah menggelundung di tangga panggung sekarang.

Omong-omong, mereka juga baru menyadari bubarnya peserta seminar yang sedang bergantian melewati pintu keluar.

“O, terima kasih sudah membantu teman kami, Tuan Lee,” ujar Soojung seraya menyorongkan tangan kanannya vertikal, sementara Kibum menggantikan posisi lelaki moderator di sisi Rinhyo.

Lelaki itu membungkuk singkat sebelum menyambut jabat tangan Soojung dan tersenyum simpul. “Dengan senang hati, Nona ….”

“Shin Soojung. Dia Sam Rinhyo, dan ini kakakku: Kim Kibum.”

 

::

 

“Tolong kaupindahkan mobilmu, Tuan. Kuperingatkan lagi, di sini area bebas parkir! Kau tidak bisa melihat kode rambu-rambu?!”

“Biar kuperjelas lagi, kami tidak berniat parkir, Tuan. Kami hanya sedang menunggu kenalan kami keluar dari restoran itu!” Jooheon balas menyalak pada pria yang tampak berusia dua-puluhan itu. Ditelaah dari pakaiannya yang mengenakan seragam, pria itu rupanya penjaga keamanan restoran yang tengah menjadi sasaran Kyuhyun—semenjak ketiga pribumi Ace masuk ke sana, juga karena pria itu telah berulang kali bolak-balik dari bangunan resto menghampiri mobil mereka.

“Kalau menunggu seseorang lebih baik masuk saja! Gara-gara ulah kalian, sudah enam kali aku mendapat teguran dari atasanku! Cepat pergi dari sini!” kata Pria Penjaga, membentak seraya membelalakkan matanya.

Jooheon menengok ke belakang, bertanya pada Kyuhyun yang tetap bergeming mengamati pintu utama gedung restoran seolah situasi sedang berlangsung damai-damai saja, “Bagaimana, Kyu? Kurasa bukan ide yang buruk. Mengintai dari dalam bisa memperkecil kecurigaan.”

“Tidak.”

Sebilah penekanan Kyuhyun membuat Jooheon mendesah. Frustrasi menghadapi gangguan Pria Penjaga Restoran namun ragu hendak membantah titahan atasannya. “Tapi—“

“Kita tetap di sini.” Lagi, Kyuhyun melafalkan kalimat diktatorialnya.

Rona wajah Jooheon seperti hampir meledak ketika mengulum kuat bibirnya, sebelum kembali berbicara ke arah luar jendela. “Sebaiknya kau pergi.“

“Jangan-jangan kalian sekumpulan penculik, ya?” tanya Pria Penjaga itu, yang sontak merapatkan mulut ketika Jooheon menarik lima lembar bernominal terbesar dari dalam dompet.

Seraya menggeretakkan gigi, Jooheon bergumam, “Ambil ini dan jangan kembali.”

“Tapi kau benar-benar harus menyingkir dari jalan ini, Tuan.“

Dan Pria Penjaga itu berubah pikiran kala Jooheon menambah lima lembar lagi.

 

::

 

“Sejak kembali ke Korea dan tinggal bersamanya, ini adalah pertama kali aku melihat wajah Minho begitu cerah.” Taemin mengulas senyum ketika empat orang lainnya di sisi meja lingkaran itu menjeda kegiatan mereka untuk menatapnya. “Terima kasih sudah mempercayainya sekaligus menyelamatkan kami dari kericuhan acara tadi.”

“Bukan masalah,” kata Kibum sambil mengayunkan tangan. “Sekarang justru kami yang harus berterima kasih karena sudah ditraktir makanan mahal begini. Ya, kan?” Kedua gadis yang menjadi sasaran sikut Kibum menganggukkan kepala nyaris bersamaan. Puas akan senyuman lebar Rinhyo, Kibum mengacungkan ibu jarinya diam-diam. Namun tidak pada adiknya; alih-alih menunjukkan reaksi menyenangkan, kurva bibir gadis itu bagaikan baru mencicipi jeruk kepalang masam.

Minho dan pemuda di sampingnya tampak menyadari kejanggalan ekspresi Soojung.

“Tidak bermaksud apa-apa, kok, dia memang begini.” Kibum bergegas menumpahkan penjelasan. “It’s because she has something kind of expression-less syndrome or similar like that, so please be understand.” Lirikan ganas adiknya berusaha tak Kibum hiraukan. “Ah, kau seorang psikolog ‘kan, Minho? Kuharap kalian bisa memaklumi.”

Menjauhkan garpu beserta pisaunya dari hidangan steak, Minho menaruh atensi yang dalamnya tak main-main pada klan api bersaudara. “If that is the case, feel free to call me whenever you need.”

“Pardon me?” Soojung masih meragukan pendengarannya, saat Kibum dan Rinhyo sudah terlihat menahan kegirangan seolah berhasil mendapatkan jackpot.

“I mean, after your priceless help which all of you have done, I think it will be the best way for me to pay back.” Selembar kartu nama dari saku Minho digesernya ke depan sorot kebingungan milik Soojung. “I will help you as long as I can do.”

“Tentunya kami sangat berterima kasih,” ujar Kibum yang bersemangat meraih kartu nama dan memasukkannya ke dalam kantung mantel Soojung. “Kau tahu, adikku ini memang sangat membutuhkan psikolog, Minho. Coba bayangkan, di dunia ini siapa lagi yang mau berdekatan dengannya—karena wajah itu selalu garang—kalau bukan aku dan Rinhyo.”

Tegukan ludah paksa di tenggorokan Soojung terekam oleh Rinhyo sehingga gadis klan air itu terkikik—ia telah sepenuhnya menguasai teknik berekspresi rupanya. Hendak  kembali melahap potongan steak, tatapannya tak sengaja bertemu pandang dengan Taemin yang sarat tengah menyelisik.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Taemin menyadari akibat dari geriknya, yang kemudian tersenyum canggung. “Maaf, sepertinya aku sudah membuatmu tidak nyaman.”

“Tidak terlalu.” Rinhyo membalas tipis senyuman itu. “Apa ada yang ingin kautahu dariku?”

“Ada.” Lantas pemuda Lee itu mengangguk. “Tentang caramu membuat orang-orang membubarkan diri dengan tenang tadi, aku penasaran apa yang kaulakukan sampai itu bisa terjadi.”

Seusai Taemin menyelesaikan kalimatnya, ketiga pribumi Ace saling melempar pandang satu sama lain, membuat dua manusia bumi pun mengerutkan dahi. Setelah belasan detik berlalu, salah satu gadis akhirnya memecah kecanggungan yang menggantung itu.

“Ilusionis? Sebut saja begitu.” Alibi Soojung.

 

::

 

“Mereka sudah keluar, Tuan.”

“Kau ingin kupenggal kepalamu?”

“Maksudku, mereka sudah keluar, Kyu.”

“Ikuti terus dan lacak kediamannya.”

 

 

-tbc-

 


 

A/N:

  1. Kalau masih ada yang ngikutin, maaf lama sekali. :”
  2. Thanks for reading. ^^
Advertisements

5 thoughts on “Ace-X 5

  1. aku ngikuti blog ini wkwk
    jgn lama2 update nya yaa aku penasaran sm konflik mereka, udh part 5 tp menurutku ini masih intronya
    semangat nulis thor…
    aku selalu menunggu karyamu ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s