Saladship 4

saladship

SALADSHIP 4

Soojung menelusuri rak buku di kamar Rinhyo dengan jari telunjuknya. Mencari nama Agatha Christie; novelis terkenal yang handal membuat novel bergenre thriller atau misteri. Gadis itu sangat menggilai novel yang menceritakan tentang pembunuhan berantai atau semacamnya. Bahkan terkadang kalau ia dan Rinhyo kebetulan membaca buku yang sama, Soojung bakal main tebak–tebakan akan siapa pelaku yang masih dirahasiakan dalam cerita. Jika salah satu mereka ada yang salah, maka ia harus menraktir yang menang makanan. Begitulah aturan mainnya.

Setelah menemukan novel yang ia cari di rak nomer dua, Soojung segera menariknya lalu melompat ke atas ranjang untuk mulai membaca. Sam Rinhyo punya banyak novel di rak bukunya, namun sebagian besar itu di belikan ayahnya; yang tentunya belum ia baca sama sekali.

“Aku bawa pulang yang ini, ya!” Tukas Soojung sambil membuka lembar pertama. Sedangkan Rinhyo hanya menggumam sekadar, ia masih sibuk membaca novel keluaran terbaru dari penulis lokal favoritnya; jadi ceritanya, Kyuhyun membawa pulang beberapa sisa tugas Rinhyo untuk dikerjakan di rumah dan kemudian ia kirim melalui e-mail sedangkan Sam Rinhyo, karena sudah merasa bebannya sedikit terkurangi akhirnya ia memutuskan untuk membaca novel sebentar lalu kembali melanjutkan tugasnya (perlu diketahui kalau sebenarnya Rinhyo tipikal gadis yang suka memudahkan segala hal hingga melupakan waktu).

Merasa diacuhkan, Soojung menatap cover novel yang dipegang Rinhyo. Mereka duduk bersandar di dinding ranjang, berdampingan. “Osh?”

Rinhyo menoleh cepat ke arah Soojung, mendengar nama penulis favoritnya disebut. “Kenapa?”

“Sepertinya aku pernah mendengar nama itu entah dimana.” Kepala Soojung miring guna berpikir keras. Namun tak kunjung menemukan jawab.

“Dia penulis lokal yang sengaja menyembunyikan identitasnya. novelnya bagus sekali! Aku sangat menyukai diksi dan alur ceritanya! Tapi sayang sekali, novelnya tidak pernah masuk ke dalam jajaran novel best seller karena penerbitnya tidak terkenal. Jadi, tidak ada promosi apa pun.”

Penjelasan Rinhyo cuma lewat dari telinga kanan ke telinga kiri Soojung. Otaknya masih berusaha mengingat dari mana ia dengar nama osh itu. Selagi Soojung berpikir, Rinhyo kembali menjelaskan dengan semangat siapakah penulis favoritnya itu. Gadis itu membuka lembaran terakhir sebagai penutup ocehannya, ia memperlihatkan satu kalimat tertera di sana. “Lihat ini! Kalimat ini selalu ada di setiap novelnya, tepatnya di halaman belakang. Tidak terlalu besar sih, biasanya muncul di pojokan kertas. Sungguh, aku ingin tahu siapakah SSJ itu.”

“SSJ? Kalimat apa?” Soojung menatap satu kalimat yang ditunjuk Rinhyo penuh penasaran. “Terima kasih sudah mempertemukanku dengan Osh, SSJ.”  Soojung membaca kalimat tersebut tanpa mengurangi sekata pun, dan entah kenapa Soojung merasa SSJ itu adalah dirinya. Shin-Soo-Jung.

“Siapa pun SSJ ini, dia sangat beruntung tahu siapa Osh di dunia nyata.”

Soojung menerawang ke depan dengan tatapannya, tetiba kedua matanya membulat sempurna. “Oh Sehun!”

“Huh? Oh Sehun?” Alis Rinhyo terangkat tak mengerti, tapi lebih dari itu ia sangat terkejut karena tiba–tiba Soojung mengucap nama itu di tengah mereka membicarakan sosok misterius Osh.

Ekspresi Rinhyo tambah bingung lagi kala Soojung tersenyum sumringah, ia mengambil novel yang berada di tangan Rinhyo dengan gembira. “Dulu—aku lupa kapan—Oh Sehun pernah meminta saran padaku tentang nama pena yang akan ia gunakan. Lalu akhirnya aku mencoba mencari nama yang tepat hingga menemukan nama Osh; sebenarnya cuma sekadar menyingkat namanya saja. Woah, ternyata dia sudah menerbitkan novel sendiri ya! Kenapa dia tidak bilang?” Soojung membuka lembar novel, tertawa sendiri saat membaca untaian kalimat yang benar–benar menggambarkan Oh Sehun. Soojung hapal bagaimana gaya penulisan Sehun, karena pria itu sering meminta saran tentang tulisannya pada Soojung.

“Tunggu! Ja—jadi Osh itu Oh Sehun?!”

“Entahlah, meski aku sudah bisa menebak kalau ini Oh Sehun tentu aku harus menanyai pria itu langsung untuk sekadar memastikan.”

“Shin Soojung!”

“Hm?”

“Kalau itu benar Oh Sehun, jangan lupa katakan padaku ya! Sungguh, aku adalah penggemar beratnya! Aku ingin—setidaknya—mendapat tanda tangan darinya, Shin!”

“Jangan kuatir, kau bahkan bisa mengenalnya. Kapan–kapan aku akan mengenalkanmu padanya.”

Senyuman bocah Rinhyo terulas lebar, ia bertepuk tangan saking bahagianya. “Kau benar–benar yang terbaik, Shin!”

 

***

            Rinhyo tersenyum kecil setelah melakukan serangkaian tanya-jawab seusai presentasi materi semenit yang lalu. Segalanya jadi lancar tanpa cela, diam-diam ia bersyukur punya teman sepintar dan sebaik Cho Kyuhyun yang rela tidak tidur semalaman hanya demi membantunya mengerjakan. Namun entah kenapa, sudah berjalan hampir dua menit dosen wanita yang sudah memasuki kepala empat dan berkacamata itu tak kunjung membubarkan kelompok mereka.

“Ketua kelompok?”

Tubuh Sam Rinhyo langsung menegak. Ia langkahkan tungkainya kedepan sekali sambil mengacungkan tangan. “Iya, bu?”

Dosen itu membenarkan kacamatanya, memandang Rinhyo tajam tanpa maksud yang jelas. Seingatnya ia sudah merampungkan tugas itu sebaik mungkin, ia juga sudah memeriksa hasil pekerjaan Kyuhyun sebelum merangkumnya jadi satu. Apa mungkin ada yang ia lewatkan?

“Katakan padaku dengan jujur,” Ibu Dosen kini berdiri dari tempatnya sambil mengangkat makalah materi yang sejak tadi ia genggam. “Tugas ini dikerjakan oleh mahasiswa bukan dari jurusan psikologi ‘kan?”

Ne?” Demi apapun, Rinhyo bingung harus bersikap seperti apa. “Ka—kami yang mengerjakan sendiri kok, bu. Mana mungkin ada campur tangan dari mahasiswa selain kelompok kami?”

“Kamu jangan bohong pada saya. Sudah jelas di dalam sini banyak istilah yang salah kok. Dan juga, saya yakin pekerjaan ini tidak dilakukan dengan dibarengi diskusi kelompok ‘kan?”

Kini Rinhyo diam. Jantungnya berdegup kencang selagi telapak tangannya keluar keringat dingin padahal pendingin ruangan sudah hidup sejak awal perkuliahan tadi. Kepalanya hanya bisa menunduk. Terlalu malu dan takut untuk mendengar ucapan dosen yang selanjutnya.

Dosen itu melepas kacamata sambil menghela napas panjang. Ia taruh makalah kelompok Sam Rinhyo dengan kasar di atas meja. “Kesalahan seperti ini sebetulnya tidak bisa dimaafkan, tapi karena presentasi kalian tadi lumayan bagus jadi saya bisa kasih nilai C untuk anggota kelompok. Dan untuk ketua kelompok, saya tidak punya pilihan lain selain memberimu nilai D karena kau yang mempertanggung jawabkan kelompokmu.”

Rinhyo bisa dengar Tsuyu dan Joon berkali-kali meghela napas kesal dalam perjalanan mereka menuju tempat duduk. Sedangkan Rinhyo? Gadis itu cuma bisa menahan emosinya ke titik dasar. Ia sudah bekerja keras semalaman namun yang ia dapatkan adalah nilai D? Ingin sekali menangis rasanya.

Dosen angker itu seketika memberikan ceramah dadakan mengenai kerjasama kelompok dan lain-lain, kemudian pergi setelah berkata kalau ia sudah tidak mood mengajar lagi karena sudah dibuat kesal. Sebagian mahasiswa terlihat begitu senang dan tak sabar keluar kelas meski tak sedikit pula yang menatap kelompoknya kesal karena kehilangan kesempatan waktu belajar.

“Hyo hoobae, kau meminta bantuan orang lain untuk mengerjakan ini?” itu Joon. Pria itu langsung menepuk bahu Rinhyo dari belakang sambil bertanya seperti itu dengan nada remeh.

“Ck, padahal aku sudah mengerahkan segala tenaga untuk melakukan presentasi di depan. Tapi apa? Kita dapat C? bukankah ini sangat tidak adil, Joon sunbae?” Yang ini Tsuyu, yang duduk di samping Rinhyo seraya melirik-lirik gadis itu tak suka. “Lihatlah, salah siapa ini?”

Kedua mata Rinhyo terpejam kuat. Tak ingin mencari masalah, ia cepat-cepat memasukkan buku dan laptopnya sebelum pergi keluar dari kelas.

 

***

            “Bagaimana tadi?”

Rinhyo meletakkan tas selempangnya di atas kursi kosong sampingnya dengan lemas. Lalu menaruh kepalanya di atas meja tanpa mengindahkan pertanyaan Kyuhyun. Mood gadis itu hancur sudah karena pernyataan dosen tadi, lebih tepatnya karena perolehan nilai D yang baru saja ia terima. Kalau mata kuliahnya hanya mata kuliah umum, mungkin Rinhyo tak masalah meski harus mengulangi di semester selanjutnya. Tapi mata kuliah tadi adalah Psikologi Abnormal—salah satu mata kuliah yang harus dapat nilai A agar nanti waktu penjurusan bisa masuk ke Psikologi Klinis—ditambah kenyataan bahwa dosen itu tidak memberlakukan semester pendek. Sial sekali, bukan?

Kyuhyun yang sepertinya sudah bisa mengerti akhirnya cuma bisa beranjak dari tempat duduk lalu pergi ke kasir guna memesan satu gelas coklat hangat. Tak butuh waktu sampai sepuluh menit, pria itu sudah kembali dengan segelas coklat hangat berbau harum dan kelihatan kelewatan nikmat di retina Rinhyo; karena si Kyuhyun menaruh gelas coklat hangat itu tepat di depan wajahnya.

Seketika Rinhyo mengangkat kepalanya. Memandang coklat hangat yang asapnya sedikit mengepul di udara itu sedikit membuat ia lupa akan rasa frustasi gegara nilai D tadi. “Ini untukku, kan?” tunjuk Rinhyo pada gelas lucu bergambar panda itu.

“Untuk siapa lagi memangnya?”

Rinhyo mengulas senyuman tipisnya, “Thanks.” Tak butuh waktu lama ia menyesap coklat hangat itu pelan-pelan. Merasakan rasa manis khas cokelat di indera kecapnya penuh hikmat.

“Minho dan Soojung mana?”

“Kencan, mungkin? Katanya tadi Minho cuma mengantar Soojung ke toko buku tapi sudah berjam-jam mereka tidak kembali.”

Tangan Rinhyo yang semula memegang badan gelas kini harus merogoh saku jaket parkanya, mengambil ponsel yang baru saja terasa bergetar. “Oh, katanya Soojung, dia tidak kembali ke sini.” Rinhyo memperlihatkan pesan singkat Soojung di akun line-nya pada Kyuhyun santai.

“Sudah kuduga. Tch, untuk apa aku menunggu di sini berjam-jam?”

“Untukku. Kalau kau pulang duluan aku pasti sendirian sekarang, hehe.”

Kyuhyun hanya mendecih sekadar, lalu ingat sesuatu. “Ah ya, tadi kau mengacangi pertanyaanku. Bagaimana presentasinya?”

Pertanyaan sederhana Kyuhyun itu berhasil membuat ekspresi Rinhyo berubah 180 derajat. Kini gadis itu bersandar pada kursinya dengan lemas. “Aku dapat D.”

“D? Kok bisa? Pekerjaanku ada yang salah ya?”

“Tidak, bukan begitu. Kurasa pekerjaanmu sudah lebih dari cukup, Kyu. Aku sangat berterima kasih. Tapi ya, dosennya terlalu teliti jadi ia sadar kalau ada campur tangan mahasiswa non-psikologi di bahan presentasinya.” Rinhyo menghela napas panjang. Ia menegakkan badan sebelum menenggak coklat hangat yang sudah mau dingin itu sampai setengah gelas. Setelah itu memandang Kyuhyun tanpa ekspresi, “Bagaimana perasaanmu?”

Alis Kyuhyun naik sebelah, “Perasaanku bagaimana?”

“Kudengar dari Soojung, kau tidak jadi bersama Eunji.”

“Ah, itu.” Kyuhyun mengangkat bahunya sekadar. “Meski awalnya sedikit kecewa, tapi sekarang sudah sangat baik-baik saja.”

“Jangan kuatir, Kyu. Aku yakin nanti kau bakal bertemu dengan gadis yang sangat baik.” Rinhyo menepuk-nepuk bahu Kyuhyun, namun yang ditepuki malah kebingungan. Pasalnya ia tidak dalam perasaan kecewa yang mendalam sampai harus ditepuki seperti ini. “Karena kita sama-sama frustasi,”

“Aku tidak frustasi.” Potong Kyuhyun cepat.

“Pokoknya kurasa lebih baik kita pergi saja dari sini. Aku mau membolos kuliah jam satu siang. Kau tidak ada kuliah ‘kan nanti?”

“Ada, tapi ayo pergi saja. Kau ingin kemana?”

Rinhyo mengulas ringisan bocahnya, “Tempat rekreasi.”

 

TBC-

 

  • Maaf karena late update soalnya pas bagian saya ngaretnya selalu kelamaan :”)
  • Maaf juga buat Mas Minho yang disini cuma setor nama karena saya nggak ngerti harus masukin Minho di bagian mananya :”)
  • Semangat buat belle yang dapet bagian selanjutnya, semoga nggak susah ya gegara lanjutan yang aku buat kek gini wkwk
  • And the last, maaf-lagi-buat yang-mungkin- nunggu ff ini dan ff-ff lainnya :”) soalnya saya ga tentu updatenya *bow*
  • Semoga kalian suka part ini ya 🙂

 

 

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Saladship 4

  1. Aku kaget tetiba udah dipublish 😂
    Soojung-minho ke toko buku? Mendadak ke tempat rekreasi? Hah??? Aku penasaran kelanjutannya bakal gimana :”) lol

  2. aku curiga authornya anak psikologi wkwk sama sm reader-nya jg sii wkwkwk
    aku nunggu ini, nunggu doll, nunggu pagenya update :’)
    semangat author-nim
    pengen momen kyuhyun sm rinhyo yg bener2 😍😍😍

    • wkwkwk kok tahu? aku psikologi kalo belle anak akuntansi /malah cerita/

      bytheway, terima kasih banyak yaaaaaa sudah setia sama kitaaa :”) /terharu ternyata masih ada yg baca/

      Tunggu yang doll ya, masih otw aku lanjutin kok 🙂 uda dapet seribu lebih word/spoiler/ semoga kamu nggak lelah menunggu ya 🙂 lavyuuu

  3. Hmmm apa ya
    kurang panjang #plak

    aduuuuh
    benci kali sama anggota kelompoknya ituu
    udah gak ngapa2in malah nyudutin
    muak ihhhh

    aduuuh juga
    sebenarnya Kyu-Hyo ini apaan siiih
    aku curiga uhuk

    hahahaha

    masa iya mereka hanya sebatas sahabat saja ahahaha
    nanti lama2 lain tu

    ntahlah hanya berspekulasi(?)

    semangat terus yaaa ^^~~~

    • wkwkwkwk emang aku juga merasa seperti kependekan :3 tapi alhamdulillah kamunya kalo komen panjang /ganyambung/

      Kyu-Hyo cuma SAHABAT kok hehe untuk kelanjutannya biar waktu yang menjawab 🙂

      makasih banyak ya sudah setia sama ff kita hehe lavyuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s