Saladship 5

saladship

 

Sebenarnya Kyuhyun melihat sesuatu yang tidak beres sejak Rinhyo mengatakan ‘tempat rekreasi’. Kecurigaan itu semakin besar ketika Rinhyo bersikukuh merahasiakan tempat yang mereka tuju. Alih-alih memberi kepastian tentang tujuan kepadanya, gadis itu hanya melontarkan kompas verbal untuk menuntun arah putar setir lingkaran di tangan Kyuhyun.

Keyakinan tentang ketidakberesan si gadis bertambah ketika mereka sampai di perempatan jalan. Keberadaan taman yang umumnya dijadikan spasi rekreasi dengan segala keindahannya mengalur lurus ke depan. Namun anehnya Rinhyo meminta agar mereka berbelok ke kanan.

“Bukannya tadi kaubilang kita ke tempat rekreasi?” Tak tahan lagi, Kyuhyun bertanya. Kepalanya pun tertoleh menyamping menuju gadis yang mendadak bergumam itu.

“Hm … kita memang sedang menuju ke tempat rekreasi.”

Nyala lampu hijau menahan Kyuhyun yang hendak memastikan ke mana mereka sebenarnya hendak pergi, sebaliknya ia memilih untuk menurut saja dengan memutar setirnya ke arah kanan sebelum riuh klakson di belakang mereka semakin berlebih.

Sekarang Kyuhyun tidak perlu bertanya-tanya lagi. Mereka sudah memasuki area sebuah bangunan besar, yang mengharuskannya mencari lahan kosong bagi kendaraannya di antara mobil-mobil lain yang telah berjajar. Sekarang Kyuhyun sudah tahu maksud Rinhyo yang senyam-senyum sendiri begitu keluar dari mobil. Menjadikan mal sebagai ‘tempat rekreasi’ seorang wanita memang bisa dimaklumi, tapi Kyuhyun tahu benar kedatangan mereka ke mari bukan untuk berbelanja atau sekadar cuci mata.

Melainkan benar-benar rekreasi.

Lebih tepat bila dikatakan kalau hanya Rinhyo yang berekreasi, karena Kyuhyun cuma duduk di kursi tunggu seraya memandang gadis yang kakinya menari-nari di depan mesin Pump It Up sejak satu setengah jam yang lalu itu. Kucuran keringat tidak jadi masalah bagi Rinhyo yang dahi hingga pelipisnya persis seperti tengah terkurung dalam sauna, sebab tidak ada yang lebih penting daripada meningkatkan poin dan lolos ke tahap berikutnya. Seiring terciptanya seulas senyuman menggelitik, Kyuhyun yakin benar apa yang ada di dalam pikiran gadis itu.

 

***

 

Tidak adil namanya bila Rinhyo adalah pihak satu-satunya yang menikmati rekreasi di antara mereka berdua. Maka Rinhyo memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk mengunjungi tempat mana pun yang dia inginkan. Dan di sinilah mereka, duduk bersisian di bawah pohon rimbun yang tampak telah tumbuh sejak puluhan tahun silam, beralaskan rerumputan segar sembari menyeruput es kopi yang lebih dulu mereka beli sebelum memasuki pintu masuk area piknik tadi.

“Ini baru healing namanya,” ucap Kyuhyun mendesah bebas setelah seteguk cairan dingin yang pekat mengaliri tenggorokannya. Rinhyo terkekeh dan menepuk sebelah bahu temannya itu.

“Itu karena kau tidak mau mencoba. Andai saja mau, pasti kau langsung bisa jago.”

“Sudah pasti. Memangnya apa yang aku tidak bisa?”

“Dasar kau.” Sekepal tangan Rinhyo meninju lengan Kyuhyun pelan. Sayangnya kemudian tawa lepas mereka terhenti paksa karena ponsel Kyuhyun bergetar.

“Tunggu sebentar,” kata Kyuhyun nyaris berbisik. Entah sadar atau tidak, kelopak matanya melebar seketika mendapati siapakah seseorang yang meneleponnya itu. Lantas dia bangkit dan mengambil beberapa langkah menjauh dari tempat dimana Rinhyo duduk.

Sepatah kata pun pembicaraan Kyuhyun tak mampu terdengar oleh Rinhyo, terlebih pemuda itu berdiri memunggunginya. Entah ibu, ayah, atau mungkin ada rahasia besar yang tengah dia miliki hingga mengharuskannya bersikap demikian, Rinhyo tak tahu-menahu. Terbesit kecurigaan bahwa Kyuhyun sedang menyembunyikan sesuatu, sebab tak pernah sebelumnya dia memasang gerik seperti itu. Tapi ah, sudahlah, lebih baik ia menyeruput kopinya dan menghilangkan prasangka buruk dalam hatinya.

“Ayo kita pergi sekarang.” Itu yang Rinhyo dapatkan sekembalinya Kyuhyun padanya, dengan tatapan tajam dan raut yang sangat serius terpancar dari wajah pemuda itu.

“Kenapa? Terjadi sesuatu?”

“Aku harus ke suatu tempat, setelah mengantarmu pulang. Lagipula langit sepertinya akan hujan. Ayo bergegas.” Kyuhyun tampak begitu terburu-buru hingga menarik tangan Rinhyo yang masih bersila di atas rumput. Sayangnya si gadis melepas genggaman Kyuhyun serta merta.

“Tapi kau sudah lama menemaniku bermain tadi dan kita masih baru beberapa menit di sini.”

“Kita harus pergi. Sekarang.” Ada gelora api yang tersirat di mata Kyuhyun saat menekankan ucapannya, sehingga Rinhyo cepat-cepat bangkit dengan jantung berdebum yang samar-samar pedih entah mengapa.

 

***

 

Salah satu hal dari daftar kebiasaan Soojung yang mengherankan Minho adalah: minat gadis itu yang mendadak ingin pergi ke toko buku. Sejatinya lumrah apabila itu terjadi saat pergantian semester karena literatur baru dibutuhkan tentunya. Namun sekarang bukan, dan gadis itu enggan mengutarakan alasan. Alih-alih dia hanya membalas, “Kalau tidak mau juga tidak apa-apa,” yang alhasil menimbulkan letupan-letupan mendidih tak tertahankan dalam dada Minho begitu teringat bahwa besar kemungkinan posisinya bisa-jadi tergantikan oleh Sehun.

Setahu Minho, Soojung bukan tipikal kolektor novel mengingat hanya satu novel Ernest Hemingway yang dia punya. Oh! Satu lagi novel sastra lama pemberian ayahnya. Selebihnya paling-paling novel pinjaman dari Sam Rinhyo. Tapi tetiba hari ini dia mengajaknya mengunjungi toko buku dan lekas memeriksa setiap rak novel. Seperti menemukan seseorang memakai jaket tebal di musim panas, bukan tanpa alasan Minho merasa janggal.

“Ketemu!” Berderet novel lainnya seketika terabai setelah Soojung menemukan satu yang diangkatnya dengan tangan kanan. Bibirnya memunculkan presensi senyuman lebar untuk pertama kalinya tertanda hari ini. Itu sekadar sebuah novel berukuran sedang dengan sampul putih yang tebal bergambar merpati dan isi kertasnya berwarna kekuningan. Padahal banyak novel yang lebih menarik penampilannya, tapi kenapa sampai bisa membuat Soojung sebegitu bersemangatnya? Minho tak habis pikir.

“Aku tidak menyangka kau serius melakukan ini.” Senyuman Soojung sama sekali tak luntur tatkala mengucap itu. Seolah berbicara sendiri, seperti berdialog dengan novel di tangannya, atau entahlah dia berkonversasi dengan siapa. Jemari bersama pandangannya mengurut halaman demi halaman, lembar per lembar novel yang sedia kalanya memang tanpa segel sebagai referensi, meski beberapa paragraf atau kalimatnya disensor menggunakan garis hitam demi menimbulkan rasa penasaran bagi calon pembeli.

“Kau berbicara padaku?” Minho menyuarakan sepetak dari segudang perasaan janggalnya yang kian menumpuk. Namun Soojung sebatas menatapnya dan mengulas senyum penuh tanda tanya.

“Kau suka?” tanyanya lagi karena Soojung tak memberikan reaksi lebih, yang disambut anggukan mantap oleh wajah berseri gadis itu. “Sebanyak itukah kau menyukai ini?”

“Sangat,” jawab Soojung menukas, seiring menutup novel di tangan kanannya lalu bergegas menelusuri jajaran novel dalam rak lagi. “Aku harus mendapatkan dua edisi sebelumnya. Novel ini benar-benar style-ku.”

“Tapi kau baru membacanya sekilas. Bagaimana kalau membeli satu dulu saja? Nanti kalau memang suka, baru kita ke sini lagi.” Tapi gadis itu tak menunjukkan atensi sekilas pun pada ucapan Minho. “Aku hanya tidak mau kau menyesal, Jung. Dengarkan aku, kau tidak suka buang-buang uang, kan?”

“Aku tidak akan menyesal. Aku sudah mengenalnya. Tenang saja.”

Bagaimana bisa? Siapa dia? Namun Minho berakhir menelan segala pertanyaannya bulat-bulat.

 

***

 

O, ya,  sekarang sudah masuk musim panas.

Sesuatu yang menyambut Minho dan Soojung ketika keluar dari toko buku adalah sesosok kilat diiringi gemuruh guntur beserta milyaran saudara mereka yang kita sebut hujan. Langit yang terakhir tadi mereka lihat masih biru meski berawan kini sepenuhnya kelabu dan menghitam. Paving yang memenuhi halaman toko ini untungnya menyelamatkan aspal sehingga tak tergenang. Namun sepertinya mereka akan tetap kuyup jika berlari menuju mobil Minho yang terparkir di lahan terujung sana.

“Kau tunggu di sini saja,” kata Minho lalu memasang kuda-kuda, tetapi tidak jadi karena genggaman Soojung yang menahannya.

“Tidak. Kalau kau pergi, aku juga.” Gelengan kuat menyertai tolakan Soojung.

“Biar mobilnya kuambil dulu, nanti kau masuk setelah aku sampai di depan sini.”

“Kalau kau nekat lari ke sana, aku juga.”

“Kau mau novelmu kebasahan? Lagipula hujan bukan masalah besar kalau punya kecepatan tinggi dalam berlari sepertiku.” Kali ini membutuhkan waktu sejemang bagi Soojung merespons, dan Minho memanfaatkannya untuk bersiap melarikan diri lagi.

Tapi ….

“Kalau begitu pulang saja sendiri.” Alih-alih menahan Minho supaya tetap di sisinya, Soojung melempar tangan pemuda itu dan mengambil jarak dua langkah. Tentu saja, mengalahkan keras kepala Minho tidak termasuk dalam daftar ‘kesulitan’ Soojung selama ini. “Di sini saja dulu. Tempat parkirnya cukup jauh. Kau mau membeku terkena AC karena badanmu kuyup?”

Akhirnya Minho menepis egonya dan tetap tinggal. Memutar badan sedikit, terlihat kafetaria yang hanya dibatasi selapis tembok tepat di samping toko buku. Minho menyarankan untuk singgah, dan Soojung menyetujui tanpa pertimbangan.

Tiga puluh menit berlalu, sebuah mug berisi cokelat panas yang berdiri sendirian di atas meja tinggal separuh—oh, sudah tidak panas lagi rupanya, karena asap mengepul yang tadinya mengitari bibir cangkir kini tak lagi ada. Berawal hendak memesan dua, Soojung menolak dengan alasan supaya bisa lekas pergi begitu hujan berhenti, maka jadilah secangkir berdua.

Selama setengah jam itu Minho mengamati Soojung tanpa meluputkan sedetik pun. Menatap arloji, memeriksa ponsel, memandang gusar deras hujan di luar, lalu kembali menyalakan layar telepon genggam yang tak memiliki notifikasi apa-apa. Begitu siklus yang terus si gadis lakukan seolah tak sedang bersama siapa-siapa.

“Ada masalah?” Tanpa memberikan aba-aba, Minho bertanya. Berjingkatlah bahu sang gadis mendengarnya.

“Ap-apa? Tidak ada.” Spontan Soojung menjawab.

“Kau terlihat tidak nyaman.” Unsur penekanan dapat jelas dirasakan dari nada rendah suara Minho.

“Tidak. Tidak begitu.” Seiring tiga potong kata yang Soojung ucapkan, kepala gadis itu tertoleh pelan ke arah yang tak diketahui muasalnya. Minho mengikuti, lalu terkejutlah ia mendapati Kyuhyun memasuki kafetaria yang sama.

Sahabat mereka itu tak tampak memedulikan pakaiannya yang setengah kuyup. Rambutnya jangan ditanya. Helai bagian atasnya telah basah sampai berkilau tertimpa benderang lampu. Di setiap kesempatan ketika hari hujan, hampir pasti Kyuhyun selalu bersedia payung demi kesehatan. Tapi jika tidak, sampai larut pun dia akan sanggup menanti langit reda.

Tapi sekarang ….

“Ini aneh,” bisik Minho. Seketika Soojung mengangguk tanpa mengalihkan atensi pada Kyuhyun yang tengah melepas jaket dan membentangkannya di sandaran kursi kafetaria yang baru saja dia tempati. “Bukankah tadi kaubilang Rinhyo bersamanya?”

“Memang, saat kutelepon. Tapi tidak tahu lagi.” Lantas tiba-tiba sekilas jengkel merambah wajah Soojung dengan cepat. Tampak terselip ucapan Minho yang menyentil emosinya. “Kenapa kau malah menanyaiku? Kau kira aku ada di mana sejak tadi?”

“Hei,” ujar lembut suara Minho. Berdasarkan pengalamannya selama ini, mudah saja baginya menilik suasana hati gadis yang satu itu. “Hujannya pasti reda sebentar lagi. Sebenarnya apa kaucemaskan? Sedang terburu-buru?”

Bentang langit yang belum kunjung terang menambah tekanan desah napas Shin Soojung. Mug cokelat yang tidak mampu lagi menghangatkan diri berasa sia-sia diteguknya. Menggunakan tangan kiri untuk menyanggah dagu, dia melayangkan sorot lelahnya pada Choi Minho. “Aku capai. Aku kesal. Aku muak merasakan diriku.”

Minho turut mengikuti gestur yang sama seperti Soojung. Menyelami kornea cokelat sang gadis sehingga dapat melihat jelas keletihannya di sana, yang sesekali tertutup sedetik oleh kelopak matanya yang berkedip. Di titik ini, Minho baru menyadari, bahwa ada suatu dekorasi yang memperindah sepasang mata gadis itu yang tak mesti ia lihat setiap hari. Bisa dibilang, terlampau jarang Soojung melakukan ini.

“Kau sengaja melentikkan bulu matamu?” tanyanya, dan Soojung mengiakan segera.

“Aku memang punya alatnya sejak lama, tapi sering kali lupa. Daripada dia terus menganggur lebih baik kupakai selagi ingat.” Jawaban itu sepertinya bukan yang Minho inginkan jika dilihat dari kerutan yang timbul di keningnya. “Ada yang salah?” Soojung pun menyadarinya.

“Kau sedang menutupi sesuatu?”

Dahi mengernyit dalam wajah kemerahan Soojung yang menjadi jawabannya. Pandangannya sempat menjauhi sosok Minho ketika hendak membalas, “Sesuatu apa maksudmu?”

“Kemampuanku membaca ekspresi memang tidak sehebat Rinhyo. Tapi bukan berarti aku tidak bisa sama sekali.”

“Oh! Itu Jo Boah, kan?” Sehela napas dibebaskan Soojung selepas si pemuda mengikuti arah telunjuknya. Sesosok gadis bersurai panjang cokelat terang dengan rok span denim setengah paha dan blus putih yang bagian bahunya terbuka kini sempurna duduk di hadapan sahabat mereka. Ketegangan pada gurat wajah Soojung yang semula ada, perlahan sirna. Terlebih saat perhatian Minho sepenuhnya teralihkan.

“Buat apa Kyuhyun menemui gadis itu?” Minho menajamkan mata bulatnya hingga sepasang alis yang menaunginya nyaris menyatu. “Ini tidak benar. Ada yang tidak beres.”

“Bagaimana perasaanmu? Apa terlalu panas?” Nada cemas yang sarat dalam ucapan Soojung dipenuhi ketulusan. Decakkan kuat menyertainya kala menatap tempat duduk Kyuhyun dan gadis yang dia ketahui tengah dekat dengan Minho itu. Lalu dia berdiri, mengangkat dompetnya dan tegas berkata, “Ayo pergi. Kondisi psikologismu bisa-bisa terganggu kalau tetap di sini.”

“Hei, kau kira aku cemburu?” Minho belum kunjung menghentikan observasinya pada kegiatan Kyuhyun. “Kita tidak boleh pergi. Jika tidak, kita tak akan tahu apa tujuan mereka di sini.”

“Mungkin sekadar basa-basi, atau Boah ingin mengembalikan barang yang dihadiahkan Kyuhyun sewaktu masih berkencan?” kata Soojung dengan nada meremehkan yang dibuat-buat.

“Yang benar saja. Kau ingat semahal apa barang-barang yang Kyuhyun berikan padanya, kan? Aku yakin, gadis semacam dia tidak akan mau merugi.”

“Sumpah, aku tidak tahan melihat Kyuhyun selalu mendadak bodoh kalau sudah menyangkut Boah. Pantas dia mau basah-basahan begitu. Cih.” Tanpa ragu, Soojung menghempaskan tubuhnya kembali ke atas kursi. “Omong-omong, kau tahu Song Qian, tidak? Gadis yang berdomisili Cina itu. Kalau aku mengenalkan Kyuhyun padanya, menurutmu bagaimana?”

 

***

 

Tidak ada hal berarti yang Rinhyo lakukan ketika berjalan-jalan sore di tepian Sungai Han bersama Brownie. Sepulang Kyuhyun dari rumahnya, ia merasa bosan seorang diri. Ayahnya selalu disibukkan perusahaan dan ibunya menghadiri acara pertemuan-entah-apa hampir setiap hari. Satu-satunya hal yang tersisa untuk dijadikan pelarian suasana hati adalah dengan mengajak pergi Brownie. Bermain bersama kucing cokelat terpandai yang pernah ia temui itu sungguh mampu mengusir rasa sepi. Lihat saja, bahkan Brownie bisa mengerti begitu ia menyerukan kata ‘Duduk!’ dan langsung menuruti. Betapa manis sekali.

Tapi bukan hanya karena itu Rinhyo memilih Sungai Han untuk acara jalan-jalannya sore ini. Tadi Minho sempat mendadak menghubunginya, mengajaknya bertemu di mana saja yang ia bisa. Biasanya pemuda itu bukan tipikal lelet tapi—

—oh! Itu dia!

“Sudah menunggu lama?” Begitu Minho menyapanya.

“Tidak juga. Tumben sekali kau mengajakku bertemu berdua saja seperti ini?”

“Apa cuma Kyuhyun yang boleh?” Normalnya itu serupa candaan, tapi Minho tak sedikit pun mengangkat tarikan menyenangkan di bibirnya. Wajah murungnya terus menempel sampai dirinya duduk di samping Rinhyo.

“O, ya, bukannya tadi kau bersama Soojung?” tanya Rinhyo. Namun tak lama kemudian ia melanjutkan. “Oh! Aku lupa kalau Soojung mau menemui Sehun.”

“Siapa? Sehun?!”

 

-TBC-

 


A/N:

  1. Maafkan ceritanya yang mesti makin enggak jelas di tanganku ㅠㅠ
  2. Terima kasih sudah membaca ^^

 

Advertisements

4 thoughts on “Saladship 5

  1. tepatnya, semakin ga jelas di tangan kita wkwkwk

    Kangen Browniee :”””) kenapa kok kudu brownie namanyaaaa

    Minho emang temen yg paling dabest lah yaaa pgn punya temen kek diaaa

    tbh, aku penasaran sehun-soojung lagi ngapain berdua terus si kyuhyun-boah lagi ngomongin apa di kafe (bingung harus melanjutkannya seperti apa)

  2. Ada yang kurang
    ada yang kuraaaaaang

    kurang panjang sist
    apa2an si kyunyuk itu
    main cepat2 pergi aja demi si Boah itu
    dan rela basah2an gtu isssh

    ada apalagi sama si soojung hmmm
    si minho juga
    ahahaha
    novel iitu pasti novel osh itu kan ? wkwkwk

    aku bingung mau komen apa lagi hihi

    semangat aja terus ya ^^~~

    • Percayalah part ini lebih panjang dari biasanya wkwkwkwk xD KYUNYUK ASTAGAAA ada lagi nicknamenya hahahaha tau tuh susah moveon kayanya dia heu ._. Ayo sama-sama nungguin lanjutannya dari tsalza wkwkwkw makasih yaa udah baca dan komen^^ much love❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s