Doll 11

dolljiwon

Satu Malam di Rumah Atap Cho Kyuhyun.

“Kalau begitu coba pacaran denganku saja.”

Tubuh Rinhyo sontak berjengit setelah mendengar ucapan itu. Kepalanya dengan cepat menoleh ke arah Kyuhyun yang ternyata tengah menatapnya serius. Ia menatap kedua mata Kyuhyun tanpa kedip, lalu mengumpat. “Kau gila.”

“Aku serius, Hyo. Setelah berjauhan denganmu selama beberapa hari ini, aku baru sadar kalau ternyata kau sangat penting. Aku ingin kita tidak bertengkar lagi, dan… aku juga ingin kau selalu berada di sisiku. Jadi, bagaimana kalau kita berkencan?”

Sam Rinhyo benar-benar terdiam membeku mendengar barisan kalimat itu keluar dari bibir Kyuhyun, apalagi kini tatap mata pria itu terlihat berbeda dari biasanya; dan jujur saja hal itu berhasil membuat Rinhyo lemas sendiri. Gadis itu berpikir keras, tiba-tiba teringat akan jawaban Soojung saat ia menanyai gadis itu perihal bagaimana ia bisa menyadari perasaannya pada Choi Minho. Jawaban Soojung sangat simpel, karena dia merasa membutuhkan Choi Minho. Dan sialnya, hal itu pula yang tengah Rinhyo rasakan pada Cho Kyuhyun. Tidak pada yang lain, hanya pada pria gembul dengan tinggi 180-an itu.

Tapi sayangnya, Rinhyo tahu bagaimana posisinya sekarang. Tidak mungkin ia menerima Kyuhyun ketika ia akan menikah dengan orang lain. Meski ia mencintai Kyuhyun sekalipun, hubungannya dengan Kyuhyun bakal berlangsung rumit nantinya. Dan ia tidak mau pusing akan hal itu. Maka itu, Rinhyo memilih untuk mengubur perasaannya pada Kyuhyun dalam-dalam.

“Hyo?”

Atensi Rinhyo yang sejak tadi hanya lurus ke depan tanpa titik fokus yang jelas, kini kembali pada manik mata Kyuhyun yang masih menatapnya penuh harap. Gadis itu menghela napas panjang, kemudian mulai berucap.

“Kyu, kau yang paling tahu kalau di sisiku sudah ada orang lain.”

“Dan aku juga yang paling tahu kalau kau tidak menaruh perasaan apapun padanya, Hyo.”

Rinhyo memijit pelipis, pergolakan batinnya kini berhasil membuat kepala pusing. Sungguh, awalnya ia hanya ingin menyimpan rasa sepihak ini sendirian. Ia tidak pernah berharap Kyuhyun bakal menyukainya juga. Lebih dari itu, sebenarnya ia berharap Kyuhyun tidak memiliki rasa lebih dari teman padanya; karena dengan begitu, Rinhyo bisa dapat lebih mudah mengatasi perasaannya sendiri.

Kalau Kyuhyun sudah mengungkapkan perasaannya seperti ini, Rinhyo harus bagaimana?

“Jadi… kau mau aku apa, Kyu? Mendua, begitu?”

“Tidak usah dipikirkan terlalu jauh, Hyo. Tinggal katakan saja apa kau punya rasa yang sama sepertiku atau tidak, sederhana bukan?”

“Kalau aku menjawab iya? Kalau sebenarnya memang aku menyukaimu lebih dari teman, bagaimana?”

Kini giliran Kyuhyun yang mengatupkan bibir rapat-rapat. Meski pun pada awalnya ia yang terlihat agresif, meminta Rinhyo segera menjawab perasaan-nya dan telah mempersiapkan diri kalau Rinhyo menolaknya. Tapi entah kenapa ketika Rinhyo menjawabnya dengan ‘iya’, Kyuhyun tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya sontak kosong, bahkan rasanya tidak berpijak di tanah.

“Kalau begitu, ayo kita berkencan.”

“Semudah itu kau mengatakannya?”

“Kau pikir mudah mengungkapkan hal ini pada orang yang sudah punya calon suami?” Kyuhyun menggeleng pelan, “Kau salah kalau berpikir aku bisa dengan mudah mengajakmu berkencan seperti ini. Meskipun sulit, tapi untukku akan lebih sulit lagi jika aku menyimpan perasaan ini sendiri dan melihatmu tersiksa karena hubunganmu itu tanpa bisa melakukan apa-apa. Jadi, kalau kau memang merasakan hal yang sama denganku, ayo kita jalani saja terlebih dahulu. Soal akan kemana hubungan ini berlanjut, biar takdir yang menjawabnya.”

Rinhyo menggigiti bibir bagian bawahnya sambil berpikir keras. Kedua tangannya pun bergulat di depan perut ketika kedua kakinya mengetuk-ketuk lantai kebingungan. Di satu sisi ia ingin keluar dari persembunyiannya dengan cara menggenggam tangan Kyuhyun, tapi di lain sisi ia masih memikirkan nasib rencana pernikahannya dengan Ji Changwook.

“Kalau memang garis takdir tidak berpihak pada kita, tentu Tuhan pasti punya cara sendiri untuk membuat kita berpisah bukan? Jadi, kenapa tidak kita coba saja?”

Tatap mata serta untaian kata Kyuhyun seolah menjadi jawaban bagi Rinhyo. Gadis itu akhirnya mengulas senyuman kecil, “Di saat seperti ini kau jadi pintar sekali bicara.”

“Kau lupa kalau aku anak seni?”

Rinhyo tertawa kecil, bersyukur dapat mengembalikan suasana seperti sedia kala. “Baiklah, tapi aku punya satu syarat.”

“Apa?”

“Bisa ‘kah hubungan kita ini, hanya kau dan aku saja yang mengetahuinya?”

***

            “Tch, dia bersikap seperti mau memancing perkelahian saja.”

Rinhyo menoleh sebentar pada Changwook yang menyetir mobil untuk pergi ke sebuah restoran—yang Rinhyo tak tahu dimana—setelah mengunjungi kamp musikal tadi. Gadis itu hanya memutar bola mata malas, lalu menoleh ke arah jendela sambil berucap ringan, “Bukannya kau yang tadi memancing perkelahian?”

“Apa?”

“Seharusnya tadi kau tidak memotong pembicaraanku dan tidak bersikap seperti itu.”

“Jadi ini salahku? Katakan padaku dimana letak kesalahanku?”

Otak Rinhyo berputar ke belakang, mencoba mencari kesalahan Changwook meski sulit untuk menemukannya. Butuh waktu sampai hampir tiga menit ia terdiam  buat mencari alasan. Hingga tawa pendek Changwook terdengar, membuyarkan konsentrasi Rinhyo. “Kau tidak punya pembelaan apapun ‘kan? Hyo, jujur padaku, apa ada hubungan lebih antara kau dan Kyuhyun?”

“Bukan aku tidak punya pembelaan apapun, oppa. Aku hanya tidak ingin menyakitimu dengan jawaban yang akan kuberikan.”

“Tidak usah berbelit-belit, jawab saja! Aku tidak apa-apa.”

“Meskipun secara resmi memang kita adalah sepasang kekasih, tapi oppa juga tahu bagaimana perasaanku padamu. Jadi tidak ‘kah pelukan di depan orang lain tadi tidak cukup perlu dilakukan?” Sungguh, Rinhyo merasa seperti gadis terjahat ketika mengucapkan hal itu. Tapi emosinya yang sejak tadi sudah ia tekan kuat-kuat tetiba muncul karena Changwook terus mendesaknya, jadilah lidah pedas itu yang bicara.

Sam Rinhyo mengulum bibirnya sambil menatap ke arah jalan dari balik jendela mobil, lalu melanjutkan dengan lirih, “Maaf.”

***

            Satu hal yang selalu Rinhyo ingat sejak berteman dengan Cho Kyuhyun adalah, kau bisa melakukan apa yang kau mau tanpa harus berpikir berulang kali. Ia selalu mengingat hal itu, namun sialnya ia masih belum bisa mengaplikasikan hal itu barang sedikit saja. Rinhyo akui kalau ia pengecut, seperti halnya malam ini.

“Changwook sudah menunggu antrian sidang skripsi. Sebentar lagi sudah mulai magang di rumah sakit ayahnya, lalu akhirnya dapat kerja. Rinhyo-ah, kau mengerti ‘kan kemana arah pembicaraan kami?” Ibu Ji Changwook yang punya nama Lee Byul itu tersenyum manis ke arah Rinhyo. Diikuti dengan Tuan Ji Hoshin yang malah menambah-nambahi candaan garing seperti, “Ya tentu tahulah, Rinhyo pasti juga menunggu-nunggu hal ini.”

Sam Rinhyo tersenyum kaku sambil mengangguk dua kali. Sesekali ia melirik Ji Changwook yang masih tenang meminum teh hijau di sampingnya. “Saya sangat mengerti, kok.”

Sesuai janjinya tadi pagi, Rinhyo menepati janji perginya bersama Changwook seusai mereka pergi ke kamp musikal siang tadi. Dan sungguh, option rumah Ji Changwook tak pernah ada dalam catat prediksinya sama sekali. Pria itu tetiba membawanya ke sini setelah menunggunya mandi sekaligus ganti baju sore tadi. Dan mengejutkannya lagi, tanpa persiapan apapun ia digeret ke ruang makan guna berhadapan dengan orang tua Ji Changwook.

“Oh, manis sekali. Memang tidak salah ya, kami pilih calon menantu.”

Lagi-lagi Rinhyo hanya bisa tersenyum sekenanya. Kini ia menyesap teh hijaunya, berharap rasa tegangnya hilang meski hasilnya tetap sia-sia. “Kalian harus siap-siap mental saja. Sisanya biar diurus Wedding EO. Ah, kami harus pergi ke Jeju untuk menghadiri pesta pembukaan kebun anggur. Kami tinggal tidak apa, ya? Kalau kemalaman kau bisa menginap di sini, Hyo.”

Tuan Ji beranjak dari tempat duduknya, diikuti istrinya yang langsung menggapai tas bermerek-nya untuk digantungkan di pergelangan tangan. Rinhyo dan Changwook juga ikut berdiri dari tempat duduk, sekadar memberi anggukkan sekaligus bungkukkan sopan untuk mengantar kepergian orang tua Ji Changwook.

“Hati-hati di jalan.” Ujar Rinhyo, kalau yang ini memang sudah kebiasaannya.

“Iya, iya. Kami selalu berhati-hati, kok. Nikmati waktu kalian, ya!” Lee Byul melambaikan tangan penuh kesan ramah sebelum benar-benar tak terlihat di balik pintu ruang makan. Bahu tegap Rinhyo seketika turun sudah, ia tatap Changwook tak suka.

“Kenapa kau membawaku ke sini?”

“Badanku gerah sekali hari ini, Hyo. Aku mau mandi dulu, kau tunggu di ruang tengah saja sambil menonton acara televisi.”

Bola mata Rinhyo berputar malas, “Tapi opp—“

            “Aku tidak akan lama.” Itulah kalimat yang mengakhiri perdebatan ringan mereka. Karena Changwook buru-buru keluar dari ruang makan untuk pergi ke kamarnya di lantai dua. Rinhyo menghela napas pendek, bagaimanapun sepertinya lebih baik ia pergi ke ruang tengah untuk sekadar memaksakan diri menikmati tontonan televisi.

 

***

            Melupakan acara menonton televisinya tadi yang ternyata merupakan ide paling buruk. Tidak ada tontonan yang bagus menurutnya, ia sedang tidak dalam mood baik untuk menonton acara televisi. Jadi ia pilih untuk mengunjungi taman belakang rumah Changwook. Duduk di kursi ayun yang berada di antara dua pohon palem. Memandangi kolam renang tenang serta taburan bintang apik di atas langit. Sudah terhitung hampir setengah jam ia melakukan hal ini.

“Kukira kau pulang, ternyata di sini.” Rinhyo menoleh ke arah seorang pria yang baru saja membuka pintu geser yang merupakan satu-satunya akses jalan untuk memasuki taman belakang.

“Bagaimana aku bisa pulang? Aku baru ingat dompetku tertinggal di rumah, jadi aku minta tolong antarkan pulang ya. Atau aku pinjam ponselmu untuk telepon Pak Jang di rumah.” Sejujurnya, Rinhyo lupa membawa tas kecilnya yang ia yakini masih tergeletak manis di atas kasur.

“Aku saja yang mengantar. Tapi besok.”

Kedua mata Rinhyo melebar kesal, “Kenapa besok? Kau tahu ‘kan, orang tuaku itu kuno. Mereka pasti tidak setuju kalau aku menginap di sini!”

“Aku sudah minta ijin, dan katanya boleh.”

Rinhyo memejamkan kedua mata frustasi, lupa kalau orang tuanya memang kuno tapi bertransformasi menjadi sangat modern kalau menyangkut Ji Changwook. Tak mau melanjutkan obrolan yang hanya membuatnya semakin kesal, Rinhyo menarik kedua kaki yang menggantung ke atas. Duduk bersila tanpa bicara apapun.

Ji Changwook menahan senyuman tipisnya. Meski ia tahu memenangkan hati Rinhyo itu susahnya minta ampun, tapi yang buat ia tak pernah menyerah adalah, gadis seperti Sam Rinhyo sungguh sulit ditemukan. Rinhyo cantik, baik, walaupun keluarganya sangat berada tapi ia tak pernah sombong, tulus, perhatian, dan terkadang suka bertingkah seperti anak kecil. Mana bisa ia dapatkan porsi wanita yang seperti itu di dunia jaman sekarang ini?

Kedua kaki panjang Changwook melangkah mendekati Rinhyo, duduk di samping gadis itu tanpa kata lalu ikut memandangi langit. “Akhirnya kita bisa menikmati waktu berdua seperti ini setelah sekian lama.”

“Kau tidak ingat dulu kita seringkali makan malam bersama?”

“Maksudku waktu berdua ketika kita sudah saling jujur akan diri masing-masing seperti ini. Aku jadi merasa yang dulu itu palsu, dan ini yang nyata.”

Diam-diam Rinhyo menoleh ke arah Changwook. Sampai kapan ia harus menyakiti hati pria yang tak bersalah apapun padanya ini? Sungguh, sejujurnya Rinyo tidak tega. Namun di lain sisi Rinhyo juga tak punya solusi tepat untuk mendorong Changwook dari kehidupannya. Seandainya Changwook tidak menyukainya, pasti masalah ini tidak akan terlalu rumit. Ia bisa saja buat Changwook muak padanya hingga akhirnya ia yang dibuang. Itu lebih mudah daripada harus mendorong pria yang nyatanya tengah menyimpan perasaan padamu.

“Tapi, kenapa malah membawaku ke sini? Biasanya kau membawaku ke restoran dengan lilin-lilin yang sangat romantis.”

“Setelah kuingat-ingat, ternyata banyak yang baru kutahu tentang dirimu. Termasuk ketidak-sukaanmu dengan hal-hal picisan seperti itu. Maaf, sudah membuatmu tak nyaman selama ini.” Sesal Changwook tulus, menciptakan tawa pendek dari Rinhyo yang semakin merasa tak enak.

“Aku suka kok, dulu.”

“Sudahlah, Hyo. Tidak usah pura-pura lagi. Jujur saja padaku.”

Rinhyo memiringkan kepalanya lalu memberi cengiran polos, “Maksudku aku dulu sangat suka dengan makanannya yang super enak. Tapi ya, rasanya sedikit tidak nyaman dengan suasana seperti itu, hehe.” Changwook tertawa pelan, dengan natural ia mengusak rambut Rinhyo gemas. “Tapi, kenapa akhirnya memilih ke sini? Aku masih tidak mengerti.”

“Daripada ke taman sungai han untuk menonton kembang api yang pastinya ramai orang lebih baik memandangi bintang berdua dari sini karena lebih tenang. Aku tahu kau tidak suka keramaian. Daripada aku mengajakmu memutari departemen store atau tempat festival yang bakal membuat kakimu sakit, lebih baik duduk di kursi ini karena aku tahu kakimu mudah sakit.Juga daripada mengajakmu ke bioskop dan pada akhirnya kau ketiduran, lebih baik menonton film di ruang tengah berdua karena aku tahu kau tidak bisa seratus persen menghayati film kalau menonton dengan banyak orang.” Penjelasan Changwook keluar begitu saja seiring dengan kedua mata mereka yang bertubrukan seolah tak mau lepas. Pria itu tersenyum manis, menimbulkan rasa hangat di hati Rinhyo. “Jadi aku pilih rumah. Apalagi aku tahu orang tuaku akan pergi malam ini, jadi kita bisa lebih tenang menikmati waktu di sini. Bukan begitu?”

Ji Changwook terlalu memahami dirinya, dan tak dapat dipungkiri kalau Rinhyo merasa tersentuh karena pemikiran pria itu. padahal ia hanya bertanya ‘kenapa membawaku kesini?’ , ia tak pernah menyangka jawabannya akan sepanjang dan sedalam itu. Sungguh, Changwook sangat baik dan manis. Tapi kenapa rasanya masih tetap berbeda kalau ia bersama Cho Kyuhyun? dengan Changwook memang ia bisa merasakan hangat dan nyaman. Namun ia tidak bisa merasakan debaran asing yang sangat aneh sekaligus adiktif.

Setelah diam cukup lama, akhirnya Rinhyo ikut balas senyuman Changwook. “Terima kasih karena sudah mengertiku sampai sebegitu jauhnya.” Ia tarik napas dalam-dalam, “Jadi sekarang apa? Kita mulai menonton film bersama atau masak ramyun dulu? Jujur saja aku lebih suka menonton film sambil makan ramyun atau sekadar makan snack.”

Changwook tertawa, tak menyangka reaksi Rinhyo akan semenyenangkan ini. “Kita akan mulai pergi ke minimarket terdekat untuk beli snack dan ramyun. Aku tak punya dua-duanya di rumah ini.”

 

Setidaknya aku juga harus membuka diri pada Changwook ‘kan?

Meski itu cuma sekadar membentuk tali persahabatan.

 

TBC

 

Advertisements

8 thoughts on “Doll 11

  1. kok aku sedih sih ih kyuhyun sangking sukanya apa gimana… ya gapapalah kali2 rinhyonya yg jadi playgirl gitu ada di antara 2 cowo wakakak mana dia lemah bgt lagi ke changwook eventho dia gasuka itu gegara tuntutan keluarga juga sih ya… kesian ini kyuhyun bisa jd pihak yg tersakiti ini mah hahaha btw yah… lama bgt lanjutin dollnyaaa haha tp gapapa selalu ditungguuuu lanjutannyaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s