Remedy

00ea0149a36d3c945c05a2b103e24b67_620x374

::

Pria yang tengah terpukul itu akhirnya datang, setelah Rinhyo duduk selama dua sampai tiga jam di kursi panjang Sungai Han. Wajahnya kusut dan matanya tak bersinar, kabut mengelilingi sekitar tubuhnya yang terus menunduk, seolah terdapat awan hitam yang menyertainya sehingga Rinhyo tak perlu berpikir dua kali untuk memastikan kesenduan pria itu. Ia tampak begitu kacau, dengan surai berantakan dan tubuh kurusnya yang hanya terbalut selapis kaus putih yang tipis, ia terombang-ambing di tengah pengunjung lainnya yang bermantel hangat warna-warni.

“Cho Kyuhyun, di sini!” Rinhyo berteriak, lalu melambaikan tangannya; karena jika tidak, mungkin saja Kyuhyun akan benar-benar tersesat di dalam jiwanya yang sakit, pikirnya.

Langkah Kyuhyun yang gontai menghampirinya, dan senyuman tipisnya terlihat menyedihkan. Dada Rinhyo mencelus ketika pria itu duduk di sampingnya dengan sebuah deru napas yang menyiratkan luka.

“Kau baik-baik saja?” Rinhyo bertanya, semata-mata untuk membuka kata, sebab ia tahu bahwa dikhianati bukanlah alasan yang tepat untuk baik-baik saja.

Senyuman patah Kyuhyun diselingi ringisan perih, seperti tengah menahan sesuatu yang tercabik-cabik.

“Kau kemanakan mantelmu?” Rinhyo memulai lagi, respons pria itu sekadar menggeleng lemah. Lalu ia meraih kedua tangannya yang dingin, mengusap-usapnya dengan pelan. Kelegaan sedikit menyembur ketika senyuman yang lebih cerah muncul di bibir pria itu.

“Terakhir kali, kau sangat membenciku,” kata Kyuhyun, sementara tatapannya terpusat penuh menuju tangannya yang diselimuti genggaman Rinhyo.

“Kau baru saja dikhianati,” ucap Rinhyo, “menyakitkan sekali, bukan?”

“Maaf.” Kyuhyun menunduk semakin dalam.

“Bukan itu yang ingin kudengar,” Rinhyo menghela napas, “pengkhianatan terlalu menyakitkan, dan aku tahu kau pasti membutuhkan seseorang.”

“Terima kasih,” suara Kyuhyun yang putus asa, “aku tidak tahu dia akan menusukku dari belakang. Dia sahabatku, jadi kukira kita memang bisa menjadi rekan perusahaan yang benar-benar sempurna.”

“Terkadang memang, musuh yang paling berbahaya adalah orang-orang terdekatmu sendiri,” berselang jeda sejemang, Kyuhyun menatapnya, lalu ia melanjutkan lagi, “kau pasti bisa melaluinya. Hanya butuh waktu, percayalah pada dirimu sendiri.”

“Terima kasih,” dan pria itu menitikkan air mata, “terima kasih sudah menghubungiku untuk bertemu di sini.”

“Kau pasti sangat kedinginan.” Kemudian Rinhyo memeluk pria di sampingnya itu demi menyalurkan seluruh kehangatan yang ia punya.

.

.

-end-


A/N:

  1. Hei, hei, halo bella di sini hahaha.
  2. Sebenarnya hanya ingin menyapa dan kalau datang tapi enggak bawa apa-apa kan agak gimana gitu ya maka jadilah ini wkwk.
  3. Sebenarnya lagi, ini bisa dibilang sequel dari When I Was When You Were kalau masih inget.
  4. Selamat tahun baru lebih lima belas hari, semuanya!
Advertisements

4 thoughts on “Remedy

    • Hahaha ini cuma drabble sih jadi slice of life gitu dan alur ceritanya tersirat di percakapan mereka. Anyway makasih udah mampir dan baca dan komen yaa

  1. DUH AKU KOK JADI KANGEN KYU-HYO YA? WKWKWK

    Jadi ini Kyuhyun ada masalah di perusahaannya, dikhianatin sama temen deket sendiri itu emang sakit. ofc. dan Rinhyo masih perhatian, padahal mereka uda nggak ada apa-apa. Oke, its better than they have to act like strangers.

    Aku suka sequel secuil yang slice of life-nya dapet banget kayak ginii :”) thanks sudah meramaikan samshin lagi Bel, semoga selanjutnya aku haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s